FB

FB

Ads

Kamis, 19 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 145

Perawatan yang penuh ketekunan dan kemesraan dari Syanti Dewi membuat hati Tek Hoat menjadi terharu sekali. Berkat pengobatan dari Gak Bun Beng dan Puteri Milana yang pandai, dalam waktu tiga hari saja sembuhlah Tek Hoat.

“Dewi.... aku.... sungguh berhutang budi padamu....”

Pagi hari itu Tek Hoat yang sudah duduk di atas pembaringan, berkata dengan suara tergetar karena terharu. Pagi-pagi sekali dia sudah mandi dan merasa tubuhnya segar, kesehatannya sudah pulih kembali, dan sepagi itu, Syanti Dewi sudah memasuki kamarnya membawa sarapan dan minuman panas.

“Jangan berkata demikian, Tek Hoat. Engkau tahu bahwa aku melakukan semua ini dengan hati tulus ikhlas, dengan rela dan tidak ada budi di antara kita....”

“Dewi, baru memperbolehkan aku menyebut namamu saja sudah merupakan kehormatan tiada taranya bagiku. Engkau seorang puteri raja, sedangkan aku.... aku....”

“Engkau seorang pahlawan Bhutan! Semua perajurit dan rakyat menyanjungmu atas pembelaanmu terhadap Bhutan, Tek Hoat. Dan aku belum mengucapkan terima kasih atas jasamu.” Syanti Dewi tersenyum dan Tek Hoat memandang silau.

“Tidak, Dewi...., ketahuilah bahwa dahulu aku....”

“Sudah kauceritakan padaku, Tek Hoat. Engkau penjahat keji katamu. Akan tetapi aku tidak peduli apa adanya engkau dahulu.... yang penting bagiku adalah apa adanya engkau sekarang ini, Tek Hoat. Bagiku.... engkaulah satu-satunya pria yang paling mulia, paling gagah, paling rendah hati.... dan di kereta itu.... kalau saja semua yang kudengar dari mulutmu itu benar....”

“Tentu saja benar! Aku cinta padamu, demi Tuhan.... aku cinta padamu, akan tetapi aku pun tahu akan keadaan diriku. Tidak! Kau terlalu agung dan aku terlalu rendah.... mencium ujung sepatumu pun masih terlalu terhormat bagiku....”

“Ihh, jangan berkata demikian, Tek Hoat.... perih hatiku mendengarnya. Aku tidak ingin melihat engkau merendah, karena.... engkaulah satu-satunya pria....” Syanti Dewi menundukkan mukanya dan kedua pipinya menjadi merah sekali.

Tek Hoat membelalakkan matanya. Dia sudah merasakan kemesraan dan getaran cinta kasih puteri ini, akan tetapi selalu dibantahnya sendiri karena dianggapnya tidak masuk akal.

“....ya....? Lalu bagaimana...., Dewi?” Suara Tek Hoat gemetar dan jantungnya berdebar seperti akan meledak.

“....engkau satu-satunya pria yang.... kucinta, Tek Hoat....”

“Ahhh....!”

Tek Hoat meloncat ke dekat jendela, membelakangi Syanti Dewi dan menutupi muka dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua butir air mata yang meloncat keluar.

“Tek Hoat....! Ada apakah....?” Syanti Dewi mengejar dan memegang lengan pemuda itu.

Tek Hoat membalik, mereka saling berpegang tangan, saling pandang dan melihat dua butir air mata di bawah mata pemuda itu, Syanti Dewi tersenyum lalu tertarik menangis!

“Kau.... kau menangis....?” bisiknya di antara isaknya.

Tek Hoat mengangguk, menggigit bibir sendiri lalu berbisik,
“Tangis bahagia.... akan tetapi mungkinkah ini....?”

Syanti Dewi tidak menjawab melainkan kedua lengannya lalu merangkul leher Tek Hoat dan dia membenamkan mukanya di dada pemuda itu yang memeluknya, memeluknya dengan ketat seolah-olah dia hendak menanamkan tubuh puteri itu di dalam dadanya dan mereka tidak akan terpisah lagi, agar tubuh puteri itu menjadi satu dengan tubuhnya.

Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, saling peluk dan tidak bergerak, dengan seluruh tubuh mengalirkan getaran-getaran kasih yang hanya dapat dirasakan oleh mereka berdua. Mereka lupa akan segala hal, bahkan Tek Hoat yang mempunyai pendengaran terlatih itu tidak mendengar ketika ada orang memasuki kamar itu. Suara berdehem dari Sri Baginda mengejutkan mereka. Tek Hoat melepaskan rangkulannya, lalu menjatuhkan diri berlutut sambil memejamkan mata, sadar akan dosanya, sedangkan Syanti Dewi berlari dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya.

“Ayah.... kami.... kami saling mencinta....” bisik Syanti Dewi seolah-olah hendak melindungi kekasihnya.

Sri Baginda mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
“Aku sudah menduganya dan aku girang mendengar ini, Anakku. Dia memang pantas menjadi pelindungmu selama hidup dan engkau, Tek Hoat. Sadarkah engkau betapa engkau telah kejatuhan bulan, menerima kurnia yang tak terbilang besarnya karena telah menjadi pilihan hati Syanti Dewi?”

“Hamba.... hamba.... akan mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya dan membikin dia bahagia....” kata Tek Hoat lirih.

Sri Baginda mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.
“Engkau telah memperlihatkan pembelaanmu terhadap kerajaan, akan tetapi hendaknya engkau ingat bahwa kini kota raja kita masih terkurung musuh, dan selama bahaya ini belum dapat dihalau, pantaskah kalau kita memikirkan tentang urusan dan kesenangan pribadi?”

Tek Hoat terkejut bukan main, dan mukanya menjadi merah sekali. Dia menyadari sepenuhnya betapa marah sebetulnya hati orang tua ini melihat puterinya bermain asmara sedangkan negara masih terancam bahaya.

“Harap paduka mengampunkan hamba.... sekarang juga hamba akan menyerbu ke luar!” Tek Hoat memberi hormat dan cepat bangkit lalu berlari keluar dari kamarnya.

“Tek Hoat...!” Syanti Dewi menjerit.

“Orang muda, rundingkan segalanya dengan Puteri Milana!” Sri Baginda juga berteriak kemudian dia merangkul puterinya dan berbisik, “Dia gagah perkasa, kita lihat saja apakah dia patut menjadi mantu Kerajaan Bhutan, Anakku.”

Sementara itu, Tek Hoat sudah berlari ke dalam ruangan besar di mana Milana, Gak Bun Beng dan panglima lainnya telah hadir dan sedang mengadakan perundingan. Kedatangan Tek Hoat diterima gembira oleh Milana dan Bun Beng.

“Ah, kau sudah sehat kembali, Tek Hoat? Bagus! Memang kami amat membutuhkan bantuanmu, dan malam nanti kita harus bergerak.”

Tek Hoat lalu duduk dan ikut mendengarkan rencana siasat yang diatur oleh Puteri Milana. Diam-diam dia merasa makin kagum kepada puteri ini dan berdebar jantungnya kalau dia teringat akan cerita tentang dirinya. Ayahnya, manusia iblis yang memperkosa ibunya, adalah kakak tiri dari puteri ini!

“Panglima Jayin sudah mengatur pasukan yang berhasil menerobos keluar itu, mengambil kedudukan di empat penjuru dan sudah mempelajari kedudukan musuh. Dengan penyergapan dari empat penjuru, musuh tentu dapat dibikin kacau dan biarpun jumlah kita kalah banyak, akan tetapi kita menang semangat dan menang perhitungan. Malam nanti cuaca amat gelap dan dingin, sedangkan bala bantuan dari para musuh belum tiba. Gak-suheng akan membawa pasukan, menyerbu keluar melalui pintu gerbang timur, dan Tek Hoat memimpin pasukan menyerbu keluar melalui pintu gerbang selatan. Aku sendiri akan memimpin pasukan inti kemudian menyerbu keluar melalui pintu gerbang utara yang menjadi pusat barisan musuh. Serbuan kalian harus diarahkan ke utara dan selagi perang berlangsung, kita akan memberi tanda kepada pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Panglima Jayin agar bergerak dari luar dan menyerang bagian belakang pihak musuh.”

Setelah membagi-bagi tugas, maka bersiaplah mereka dengan pasukan masing-masing, dibantu oleh para perwira tinggi dan para pendeta Buddha yang memiliki kepandaian silat. Memang sudah diperhitungkan oleh Puteri Milana. Malam itu gelap karena tidak ada bulan, bahkan bintang-bintang di langit hanya nampak sedikit karena tertutup oleh awan. Hawa udara amat dinginnya sehingga para penjaga pihak musuh terkantuk-kantuk di udara terbuka.

Lewat tengah malam, menjelang pagi di waktu hawa sedang dingin-dinginnya dan semua orang sedang mengantuk-ngantuknya, tiba-tiba terdengar bunyi terompet melengking nyaring di pintu gerbang selatan. Pintu gerbang terbuka dan menyerbulah pasukan yang dipimpin oleh Tek Hoat, menyerbu ke tempat pihak musuh yang sudah diketahui sebelumnya.

Tentu saja pihak musuh menjadi panik karena baru saja terbangun dari tidur dan tahu-tahu perkemahan mereka dibakar lawan. Dengan pakaian tidak karuan, bahkan ada yang masih telanjang dan setengah telanjang, mereka berlarian keluar dari perkemahan, untuk menghadapi amukan pasukan Bhutan yang berada dalam keadaan segar dan bersemangat. Pula, pertempuran yang terjadi di tempat gelap itu dilakukan dengan baik sekali oleh pasukan Bhutan. Mereka mengenal teman-teman sendiri melalui isyarat bentakan “houw” yang berarti “harimau” sehingga biarpun bertanding di dalam gelap, mereka dapat saling mengenal kawan sendiri dan dapat bekerja sama dengan baik.

Teriakan-teriakan “houw” terdengar di mana-mana disusul pekik kebingungan dan robohnya para anggauta tentara musuh yang tentu saja menjadi panik dan ada yang saling serang di antara kawan sendiri di dalam gelap.

Pada saat yang hampir bersamaan, di pintu gerbang timur, pasukan yang dipimpin oleh Gak Bun Beng juga mengadakan penyerbuan yang sama, dan pasukan ini menggunakan isyarat bentakan “liong” (naga) untuk saling mengenal kawan sendiri dalam pertempuran keroyokan dalam gelap itu. Seperti juga Tek Hoat yang memimpin pasukannya dengan penuh keberanian dan yang sepak-terjangnya menggiriskan hati musuh, demikian juga Gak Bun Beng mengamuk seperti seekor naga sakti.

Selagi pihak musuh yang panik mulai dapat diatur oleh Tambolon dan para pembantunya, tiba-tiba di udara yang gelap kelihatan sinar merah meluncur di angkasa. Empat kali sinar merah itu meluncur dan tiba-tiba terdengar bunyi terompet, tambur dan sorak-sorai dari mana-mana, dari empat penjuru dan menyerbulah pasukan-pasukan yang bersembunyi di dalam hutan-hutan, yaitu pasukan-pasukan yang tiga hari yang lalu telah menyelundup keluar di bawah pimpinan Panglima Jayin. Kejadian ini benar-benar mengejutkan hati Tambolon karena tahu-tahu barisannya diserang dari belakang dan di empat penjuru pula!

Pelepas anak panah api merah sebagai isyarat itu adalah Puteri Milana sendiri yang kini memimpin pasukan inti yang paling besar jumlahnya, keluar dari pintu gerbang utara disertai bunyi terompet, tambur dan sorak-sorai bergemuruh, lalu menyerbu keluar. Maka kacau-balaulah pasukan musuh karena seolah-olah mereka menghadapi lawan dari depan, belakang, kanan dan kiri! Apalagi pihak Bhutan menyerang di malam gelap, dengan gerakan begitu teratur sehingga pihak Tambolon menyangka bahwa bala bantuan untuk Bhutan datang dari empat penjuru.

Memang siasat yang dilaksanakan oleh Puteri Milana itu hebat sekali. Semacam perang gerilya yang diperhitungkan dengan masak-masak sehingga biarpun jumlah tentara Bhutan jauh lebih kecil, namun sekali pukul ini membuat pasukan-pasukan Tambolon yang jauh lebih banyak itu menjadi kacau-balau dan kocar-kacir. Hal ini adalah karena Tambolon terlalu mengandalkan jumlah besar pasukannya, akan tetapi pasukan-pasukan itu terdiri dari bermacam suku bangsa sehingga tentu saja tidak ada persatuan yang kompak. Mereka ini hanya mengandalkan keberanian dan tenaga kasar saja, maka menghadapi siasat yang cerdik itu mereka menjadi panik dan banyak di antara mereka yang menjadi korban dalam perang yang terjadi di malam gelap, hanya diterangi oleh berkobarnya api yang membakar perkemahan-perkemahan mereka.

Akan tetapi, Tambolon dan para pembantunya dengan nekat melakukan perlawanan mati-matian sehingga pertempuran itu berlangsung sampai hari menjadi terang. Kini nampaklah pertempuran itu dan di mana-mana mayat anggauta pasukan-pasukan Tambolon berserakan, api masih berkobar dan pihak musuh yang tadinya mengepung di selatan telah dapat didesak oleh Tek Hoat sehingga mereka mundur ke arah timur kota raja di mana mereka menggabungkan diri dengan pasukan di timur yang juga mengalami hantaman dahsyat dari pasukan yang dipimpin oleh Gak Bun Beng dan pasukan yang menyerbu dari luar.

Kini pasukan “harimau” yang dipimpin Tek Hoat, bergabung dengan sisa pasukan yang menyerbu dari belakang musuh, bersatu dengan pasukan timur dan terjadilah perang yang amat besar di mana Tek Hoat dan Gak Bun Beng berkelahi bahu-membahu dan sepak-terjang dua orang ini memang hebat sekali, menggiriskan pihak lawan. Biarpun mereka tidak memegang senjata, namun kedua tangan dan kaki mereka merupakan senjata-senjata yang amat ampuhnya.

Pada saat perang sedang hebat-hebatnya, tiba-tiba saja udara menjadi gelap, makin lama makin gelap sehingga menggelisahkan pasukan Bhutan, apalagi karena agaknya pihak musuh tidak merasakan kegelapan itu.

“Ini tidak wajar! Perbuatan sihir....!”

Beberapa orang pendeta Buddha yang membantu pasukan Kerajaan Bhutan berseru dan mereka itu segera duduk bersila untuk melawan pengaruh sihir itu. Namun, pengaruh itu terlampau kuat sehingga mereka tidak mampu menandinginya dan kini bahkan banyak anak buah pasukan Bhutan yang merasa ngeri karena mereka melihat awan hitam bergulung-gulung dan dari awan itu muncul naga-naga yang menyemburkan api! Tentu saja perasaan ngeri dan takut itu membuat mereka kurang waspada dan banyak di antara mereka yang roboh oleh babatan senjata lawan.

Gak Bun Beng dan Tek Hoat juga merasakan pengaruh mujijat ini.
“Celaka, agaknya musuh menggunakan ilmu hitam!” kata Bun Beng yang sudah berpengalaman, namun dia merasa tidak berdaya karena dia tidak menguasai ilmu itu.

“Tentu nenek iblis Durganini!” Tek Hoat berseru. “Gak-taihiap, biar aku mencari nenek iblis itu. Kalau dia dapat dibinasakan, tentu lenyap pengaruh mujijat ini!”

Sebelum Bun Beng menjawab, pemuda yang perkasa ini sudah melompat dan merobohkan setiap orang penghalang. Bun Beng merasa khawatir karena maklum betapa lihainya nenek yang kabarnya adalah guru dari Tambolon dan memiliki kepandaian yang amat hebat itu, maka dia pun lalu mengejar bayangan Tek Hoat yang mengamuk dan menuju ke utara.

Dugaan Tek Hoat memang tepat. Melihat keadaan pasukannya kocar-kacir dan terancam kemusnahan, Tambolon menjadi bingung dan jengkel karena tidak melihat gurunya. Maka dia lalu mencari sendiri dan melihat nenek yang pikun itu masih enak-enak tidur mendengkur di dalam perkemahan, dia setengah menyeret gurunya itu untuk disuruh membantu.

Nenek yang terganggu tidurnya itu mengomel, akan tetapi dia memenuhi permintaan muridnya, mengerahkan kekuatan ilmu hitamnya dan menciptakan awan hitam yang mengandung banyak naga siluman sehingga pihak musuh menjadi panik dan ketakutan.

Akan tetapi, selagi nenek ini berdiri dengan kedua lengan bersilang di depan dada, di depannya mengepul seikat dupa yang dibakar, mulutnya berkemak-kemik dan asap hio membubung tinggi menciptakan pemandangan yang aneh itu, tiba-tiba muncul seorang kakek berkaki satu.

Kakek ini bukan lain adalah Pendekar Super Sakti Suma Han yang datang bersama Ceng Ceng dan rombongan penggembala liar yang hendak membantu “perjuangan” Raja Tambolon. Kebetulan sekali begitu memasuki daerah pertempuran, Pendekar Super Sakti melihat gejala yang tidak wajar yang ditimbulkan oleh ilmu sihir Nenek Durganini. Tentu saja Suma Han terkejut bukan main.

“Nona, kautunggu dulu di sini....” katanya dan sebelum Ceng Ceng sempat menjawab kakek berkaki satu itu sudah berkelebat dan lenyap di antara banyak orang yang sedang bertanding.

Ceng Ceng berdiri bengong dan tentu saja dia segera membantu pasukan Bhutan yang dikenalnya dari pakaiannya. Melihat gadis asing ini tahu-tahu mengamuk dan membantu mereka para perajurit Bhutan menjadi girang dan mereka bertanding dengan penuh semangat.

Dengan kecepatan kilat karena gerak Ilmu Soan-hong-lui-kun, Pendekar Super Sakti kini tiba di depan Nenek Durganini yang masih mengerahkan ilmunya. Pendekar Super Sakti mengerutkan alisnya, tidak senang melihat nenek itu menggunakan ilmu hitam dalam perang. Maka dia lalu menggerakkan tangan kirinya, didorongkan ke depan, ke arah dupa yang mengepulkan asap itu.

“Blaaarrr....!”

Tampak sinar kilat dan tempat dupa itu hancur berantakan, apinya berhamburan dan seketika itu juga lenyaplah awan gelap yang mengandung naga-naga siluman.

Nenek Durganini terkejut bukan main dan cepat dia memandang ke depan. Ketika dia melihat seorang laki-laki berusia kurang dari enam puluh tahun, berkaki satu, berdiri tegak bersandar pada tongkat bututnya, laki-laki yang memiliki sepasang mata yang tajam dan seperti dua buah bintang amat berwibawa, dia menjadi marah.

“Heh-heh, manusia lancang. Berani engkau menentang Durganini? Lihat betapa api neraka membasmi orang-orang Bhutan!”

Nenek itu menudingkan telunjuknya ke atas dan dari telunjuknya itu menyambar kilat ke atas yang berubah menjadi api berkobar dan api ini mengejar orang-orang Bhutan yang tentu saja lari ketakutan karena ada lidah-lidah api yang “hidup” mengejar-ngejar mereka.

“Hemm, mengapa engkau begitu kejam?” Suma Han berseru dan menggerakkan tangannya ke atas. “Apa artinya api menghadapi air?”

Tiba-tiba saja dari atas turun hujan lebat dan padamlah lidah-lidah api itu! Orang-orang Bhutan tidak melihat mengapa awan gelap yang mengandung naga-naga siluman tadi lenyap, tidak mengerti pula mengapa ada hujan turun memadamkan lidah-lidah api, akan tetapi hal ini membuat mereka bergembira dan bersorak-sorailah mereka. Suara sorak-sorai yang menggegap-gempita itu membuat Nenek Durganini menjadi makin marah karena dia merasa seolah-olah dia yang ditertawai!

“Keparat, siapa kau?” tanyanya kepada Suma Han sambil mengerahkan tenaga di dalam pandang matanya untuk menguasai orang yang kakinya buntung sebelah itu.

“Namaku Suma Han,” jawab Pendekar Super Sakti dengan tenang dan dia pun menentang pandang mata itu dengan sikap tenang dan penuh kesabaran.

Nenek yang berpakaian serba hitam itu mengeluarkan suara melengking tinggi.
“Engkau berani menentang Durganini, berarti engkau sudah bosan hidup!”

Sambil berkata demikian, dia melontarkan tongkat hitamnya ke atas dan tongkat itu berubah menjadi Nenek Durganini ke dua yang menerjang ke depan dengan kedua tangan membentuk cakar harimau. Suma Han memandang tajam lalu melontarkan tongkatnya pula yang juga berubah menjadi bayangan dirinya. Maka bertempurlah dua bayangan itu dengan hebatnya di udara!

Orang-orang yang sedang bertanding di tempat itu, baik anak buah Tambolon maupun orang-orang Bhutan, berhenti bertempur karena mereka melihat peristiwa yang amat luar biasa itu. Mereka melihat nenek berpakaian hitam itu berdiri berhadapan dalam jarak enam tujuh meter dari seorang kakek berkaki satu.

Keduanya berdiri tidak bergerak, akan tetapi di atas.... udara, di antara mereka, nampak dua batang tongkat bergerak sendiri dan saling serang seolah-olah kedua batang tongkat itu bernyawa!

Suma Han menjadi terkejut dan kagum. Tahulah dia bahwa dia bertemu dengan seorang ahli sihir yang amat kuat tenaga batinnya, maka maklumlah dia bahwa kalau hanya mengandalkan kekuatan sihir, mungkin dia akan kalah. Akan tetapi sebelum dia bergerak untuk menggunakan kepandaian silatnya, tiba-tiba muncul See-thian Hoat-su dan gadis remaja yang menjadi muridnya itu.

“Pendekar Siluman, dia itu isteriku, harap kau maafkan dia!” kata kakek ini yang sudah meloncat ke dekat Nenek Durganini.

Nenek itu memang kalah dalam hal ilmu silat terhadap bekas suaminya ini, dan karena dia sedang mencurahkan seluruh tenaga sihirnya untuk menghadapi kakek berkaki tunggal yang ternyata merupakan lawan yang tangguh dalam ilmu sihir, maka dia tidak mampu melawan lagi ketika bekas suaminya itu menotoknya dan dia roboh lalu dipanggul oleh bekas suaminya itu.

Suma Han sudah menarik kembali tongkatnya. See-thian Hoat-su tertawa dan berkata kepadanya,

“Kalau tidak ada engkau yang membantu, sukar aku menundukkan isteriku yang binal. Terima kasih dan sampai jumpa, Pendekar Siluman!” See-thian Hoat-su lalu memegang tangan muridnya. “Hayo kita pergi, Siang In.”

“Ouhhh.... Suhu, aku ingin ikut main-main dalam keramaian ini. Bukkk!” kakinya menyambar dan tepat menendang pantat seorang anak buah Tambolon sehingga orang itu berjingkrak-jingkrak dan mengaduh-aduh karena tulang di antara pinggulnya remuk terkena tendangan Siang In.

Kemudian dara ini meloncat dengan elakan manis, ketika seorang lawan menusuknya dengan tombak, lalu membalik dan menuding ke arah orang itu.

“Eihhh, mengapa engkau memegang ular?”

Orang itu tiba-tiba terbelalak karena tombak di tangannya itu tiba-tiba saja berubah menjadi seekor ular! Sebelum dia sadar bahwa dia menjadi permainan seorang gadis yang baru saja mempelajari ilmu sihir, Siang In sambil tertawa sudah menampar kepalanya. Dia berusaha mengelak, akan tetapi tetap saja jari-jari tangan yang kecil halus itu mengenai pelipisnya, membuat dia berputaran tujuh keliling dan dunia menjadi gelap baginya.

Seorang lain dengan golok di tangan menyerangnya marah sekali.
“Hei, lihat, siapa aku? Aku adalah ibumu!”

Siang In berteriak dan orang itu menahan goloknya, terbelalak memandangnya karena bagi pandang matanya, gadis remaja cantik itu tiba-tiba berubah menjadi ibunya yang telah mati beberapa tahun yang lalu.

“Dukkk!”

Orang yang sedang bengong terlongong itu tentu saja tidak dapat mengelak lagi ketika kepalan tangan Siang In menonjok lambungnya. Dia terpelanting dan memegangi perutnya yang menjadi mulas, agaknya usus buntunya yang terkena hantaman kepalan tangan yang kecil namun kuat itu. Melihat hasil ilmu sihir yang baru saja dipelajari dari gurunya itu, Siang In menjadi gembira bukan main sehingga dia menjadi kurang waspada.

“Bocah setan, mau lari ke mana kau?”

Tiba-tiba ada dua buah lengan yang panjang, kuat dan berbulu meringkusnya dari belakang. Siang In berusaha meronta, namun orang itu kuat sekali sehingga usahanya sia-sia belaka. Rasa takut membuat dia kehilangan kekuatan sihir yang baru saja dilatihnya itu. Akan tetapi dasar Siang In seorang yang cerdik, biarpun dia tahu bahwa ilmu sihirnya takkan dapat menolongnya, dia tidak menjadi khawatir, bahkan dia lalu tersenyum manis sekali dan mengangkat mukanya sehingga mukanya dapat terlihat oleh orang tinggi besar yang meringkusnya. Orang itu menunduk dan terpesona oleh kecantikan wajah yang tersenyum luar biasa manisnya itu.

“Aihh.... kamu benar jantan dan kuat sekali.... akan tetapi pelukanmu terlalu kuat.... menyakitkan....” kata Siang In dengan lagak yang amat genit karena dia telah meniru lagak Si Siluman Kucing atau Mauw Siauw Mo-li seperti yang pernah dia demonstrasikan kepada Suma Kian Bu.

Mulutnya tersenyum agak terbuka, matanya mengerling tajam penuh daya pikat dan biarpun dia menyandarkan kepalanya di dada orang itu, diam-diam dia melangkah maju. Laki-laki itu benar-benar terpesona dan otomatis dia melonggarkan ringkusannya. Daya tarik yang keluar dari sikap dan kecantikan wajah Siang In kiranya tidak kalah hebat dan kuatnya daripada ilmu sihirnya, maka orang itu seperti kehilangan kewaspadaannya, tidak tahu betapa tiba-tiba kaki Siang In yang kecil itu membuat gerakan menyepak seperti seekor kuda ke belakang.

“Bukkk.... aughhhh.... adouuuuhhh....”

Laki-laki itu mendekap bawah perutnya yang kena dihantam tumit kaki Siang In dan mengaduh-aduh setengah berjongkok. Siang In mengayun kakinya lagi menendang, mengenai dagunya dan orang itu roboh terjengkang, akan tetapi masih memegangi alat kelaminnya yang kena disepak dan yang rasanya kiut-miut menusuk tulang, terasa sampai ke ubun-ubun!

“Bocah nakal, hayo kita pergi!”

See-thian Hoat-su kini berhasil memegang pergelangan tangan muridnya dan membawanya loncat berkelebat dan lenyap dari situ membawa murid dan bekas isterinya.

Pendekar Super Sakti menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum menyaksikan keadaan kakek, bekas isterinya, dan muridnya itu. Dia tidak lagi bergerak, akan tetapi mereka yang bertempur di sekelilingnya tidak ada yang berani mengganggunya.

Sementara itu, Ceng Ceng yang tentu saja mempunyai rasa setia kawan dengan Bhutan, sudah mengamuk sampai terpisah agak jauh dari Pendekar Super Sakti, dan dia pun tidak tahu apa yang telah terjadi antara Pendekar Super Sakti dengan Nenek Durganini, karena pihak musuh sudah mengepungnya ketika melihat betapa lihainya dara ini yang telah merobohkan banyak lawan.

Tiba-tiba terjadi keributan tak jauh dari situ. Ketika Ceng Ceng menengok, dia melihat Tek Hoat yang juga mengamuk dan merobohkan setiap orang anak buah Tambolon yang berdekatan dengannya. Begitu melihat pemuda ini, timbul kemarahan hebat di hati Ceng Ceng. Teringat dia betapa dia oleh pemuda ini diserahkan kepada Tambolon sebagai penukar Syanti Dewi, betapa dia telah ditipu oleh Tek Hoat.

“Jahanam keparat!” Dia memaki dan meninggalkan musuh-musuhnya, lalu lari dan tiba-tiba saja dia menyerang Tek Hoat.

Serangan itu demikian dahsyatnya karena kemarahan di hati Ceng Ceng secara otomatis menggerakkan tenaga sin-kang mujijat di dalam tubuhnya yang timbul dari khasiat anak ular naga. Angin pukulan yang amat hebat menyambar dan Tek Hoat menjadi terkejut bukan main karena ketika dia menangkis, dia masih terhuyung ke belakang! Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya adalah Ceng Ceng, dia memandang rendah dan juga menjadi marah.

“Hemm, kiranya engkau telah diperalat oleh Si Keparat Tambolon pula?” teriaknya dan melihat Ceng Ceng menyerang lagi, dia cepat mengelak dan balas menyerang!

Diam-diam Tek Hoat terkejut melihat kemajuan hebat dalam gerakan Ceng Ceng. Dia tidak tahu bahwa selama ini Ceng Ceng telah menerima petunjuk-petunjuk dari Topeng Setan dan telah memiliki sin-kang mujijat dari anak ular naga. Maka terjadilah pertandingan yang amat seru dan para perajurit kedua pihak tidak ada yang berani mendekati karena gerakan dua orang itu mendatangkan hawa pukulan yang bersiutan dan dari jauh saja mereka hampir tidak dapat menahan.

Betapapun juga, tingkat kepandaian Tek Hoat masih jauh di atas tingkat Ceng Ceng, dan mulailah Tek Hoat mendesaknya. Akan tetapi, semenjak dahulu, ada perasaan aneh di dalam hati pemuda ini terhadap Ceng Ceng, rasa suka yang aneh, maka sekarang pun dia merasa tidak tega untuk merobohkan Ceng Ceng.