FB

FB

Ads

Jumat, 13 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 133

Tiba-tiba Ceng Ceng terisak, menutupi mukanya dan berbisik,
“Kau benar.... dia itu.... senasib dengan aku.... hanya aku berhasil menjadi manusia dan dia tidak, gara-gara anak ular naga....”

“Sudahlah, Ceng Ceng. Aku bersumpah akan mengajak engkau mencari si jahanam itu sampai dapat. Akan tetapi lebih dulu mari kuperjumpakan engkau dengan.... keluargamu.”

“Apa....? Siapa....?” Ceng Ceng tentu saja terkejut sekali mendengar ini.

“Pendekar Super Sakti, kakekmu, dan.... nenek tadi adalah isterinya. Mereka berada di luar....”

“Nenek tadi....? Dia.... dia.... nenekku sendiri....?”

“Kautanyalah sendiri kepada mereka, Ceng Ceng. Kau berhak bertemu dengan keluargamu.”

“Tidak....! Tidak, Paman. Aku malu bertemu dengan keluargaku, atau dengan siapa pun, sebelum.... sebelum aku bertemu dengan si laknat itu....”

“Kalau begitu, mari kau ikut aku bersamaku, akan kubawa engkau bertemu dengan dia, agar engkau puas dan dapat membunuhnya sesuka hatimu!”

Setelah berkata demikian, Topeng Setan memondong tubuh Ceng Ceng yang masih lemah itu dan melesat keluar melalui jendela kamar itu.

Bagaikan seekor burung garuda, Topeng Setan sudah melesat ke atas genteng, akan tetapi begitu dia berada di atas genteng warung itu, tahu-tahu di depannya telah berdiri Pendekar Super Sakti dengan sikap tenang dan sinar mata tajam!




“Hemmm, beginikah caranya orang baik-baik pergi, seperti pencuri-pencuri saja atau seperti orang-orang yang telah melakukan perbuatan jahat?” Dengan suara halus Pendekar Super Sakti menegur.

Topeng Setan kaget bukan main. Dia tahu bahwa memang cara mereka pergi tanpa pamit ini amat tidak patut, dan hal ini dia lakukan hanya untuk menghindarkan pertemuan dan pembicaraan yang berkepanjangan. Siapa kira, Pendekar Super Sakti itu demikian hebatnya sehingga tahu-tahu telah menghadang di atas genteng.

“Harap.... harap Locianpwe maafkan kami.... eh, maafkan saya, sesungguhnya sama sekali saya tidak bermaksud buruk....”

Ceng Ceng melorot turun dari pondongan Topeng Setan lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar kaki satu itu.

“Harap Locianpwe sudi mengampuni kami kalau-kalau dianggap bersalah. Akan tetapi, karena tergesa-gesa dengan suatu urusan pribadi yang amat penting, kami mengambil jalan ini, karena tidak ingin mengganggu Locianpwe sekalian. Saya.... saya berterima kasih kepada Nenek.... kepada Locianpwe yang menolong saya tadi....”

Pendekar Super Sakti tersenyum. Kalau dia tadi menghadang adalah karena dia merasa curiga dan dia mengira bahwa Topeng Setan manusia aneh penuh rahasia itu hendak memaksa si gadis yang baru keguguran itu lari, khawatir kalau-kalau manusia aneh itu menggunakan kekerasan terhadap si wanita muda. Kini melihat bahwa wanita muda itu sendiri yang bicara dia menjadi lega dan maklum bahwa pelarian mereka berdua itu adalah kehendak mereka berdua. Dia mengelus jenggotnya dan tersenyum lebar. Tertarik sekali hatinya terhadap dua orang ini yang merupakan sepasang manusia aneh penuh rahasia!

“Sudahlah, kalau kalian tidak ingin bertemu dan bicara dengan kami pun tidak mengapa. Akan tetapi karena aku sudah menghadang di sini dan bertemu kalian, aku ingin bertanya apakah kalian pernah bertemu dengan puteraku yang bernama Suma Kian Lee?”

Topeng Setan dan Ceng Ceng tentu saja tahu siapa pemuda yang dimaksudkan itu. Topeng Setan tidak menjawab, akan tetapi Ceng Ceng yang menjawab,

“Saya sudah mengenalnya dengan baik, Locianpwe. Bahkan dia telah pernah menolong saya.”

“Bagus! Tahukah engkau di mana dia sekarang? Dan meninggalkan pulau dengan adiknya, Suma Kian Bu. Aku sudah mendengar bahwa Suma Kian Bu pergi ke barat menyusul dan melindungi Syanti Dewi, akan tetapi tidak ada yang tahu ke mana perginya Kian Lee.”

“Maaf, Locianpwe. Saya sendiri pun tidak tahu ke mana dia. Pertemuan kami yang terakhir adalah di kota raja.”

“Hemm...., sayang....”

“Ceng Ceng, mari kita pergi.”

Topeng Setan menjura dengan hormat kepada Si Pendekar Super Sakti, kemudian menggandeng tangan gadis itu dan diajak meloncat turun lalu pergi dari situ dengan cepatnya. Sampai lama Pendekar Super Sakti berdiri di atas genteng, termangu-mangu, bukan hanya kecewa bahwa dia tidak dapat mendengar tentang Kian Lee, akan tetapi juga terheran-heran melihat dua orang muda itu.

Ceng Ceng memandang dengan terharu dan juga terheran-heran ketika dia melihat saja Topeng Setan mengubur bungkusan gumpalan darah itu dan menimbunnya dengan tanah. Dia melihat betapa Topeng Setan termenung di depan gundukan tanah kecil itu, kemudian Topeng Setan kelihatan beringas dan dengan kepalan tangannya dia menghantam batu karang di sebelah kanannya.

“Darrr....!” Batu karang itu hancur lebur dan debu mengepul tinggi.

“Paman....! Ada apakah, Paman?”

“Si keparat! Si jahanam keji! Aku akan menunjukkan dia kepadamu, Ceng Ceng. Kau benar, dia harus disiksa sepuas hatimu!”

“Paman, ke mana kita akan mencari dia? Sudah sekian lamanya, berbulan-bulan semenjak peristiwa itu aku mencarinya, namun sia-sia belaka.”

“Satu-satunya tempat untuk kita mencarinya adalah di utara, di Istana Gurun Pasir, di tempat gurunya. Bukankah kau menceritakan bahwa dia itu murid Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir? Nah, kita ke sana!”

Sebetulnya, hati Ceng Ceng sudah mulai reda untuk mencari pemuda itu. Hatinya sudah mulai tawar dan ingin dia beristirahat, ingin dia hidup tenang tenteram bersama Topeng Setan, satu-satunya sahabatnya yang setia dan dapat dipercaya itu. Akan tetapi dia pun tahu bahwa sebelum dia bertemu dengan pemuda laknat itu, hidupnya akan selalu diselimuti mendung dan kegelapan, dia akan selalu merasa menjadi orang yang kotor dan hina dan ternoda. Noda ini hanya dapat ditebus dengan darah pemuda laknat itu, dengan nyawa pemuda jahanam itu!

Mulailah mereka dengan perjalanan jauh itu. Akan tetapi karena kini setelah kandungan Ceng Ceng yang diam-diam tak diketahuinya selalu merupakan gangguan itu telah keguguran, kesehatannya cepat pulih kembali. Diam-diam gadis ini merasa girang juga bahwa kandungannya yang sama sekali tidak dikehendakinya itu telah keguguran. Andaikata dia tahu bahwa dia mengandung, tentu dia akan merasa makin tersiksa!

Keparat! Benar Topeng Setan, pemuda laknat itu benar-benar harus disiksa sampai mampus! Kesehatannya telah pulih dan semua racun yang mengeram di tubuhnya akibat latihan dari Ban-tok Mo-li telah bersih dari tubuhnya, berkat khasiat anak ular naga, akan tetapi khasiat itu pun selain menggugurkan kandungannya, juga mendatangkan kekuatan sin-kang yang cukup dahsyat, yang takkan dapat diperolehnya dalam latihan selama sepuluh tahun!

Maka perjalanan itu dapat dilakukan dengan cepat dan setelah mereka tiba di sebelah utara kota raja, mulailah Ceng Ceng bertemu dengan tempat-tempat yang membuat dia terkenang akan semua pengalamannya ketika mencari Syanti Dewi dahulu itu.

“Paman, apakah engkau tahu, di mana adanya Istana Gurun Pasir?”

Topeng Setan mengangguk.
“Perjalanan itu sukar sekali, melalui gurun pasir selama tiga hari tiga malam. Paling sukar adalah kalau bertemu dengan badai, oleh karena itu, kita harus membawa perbekalan cukup.”

Membayangkan kesukaran perjalanan itu, Ceng Ceng bergidik. Entah bagaimana, kini berkurang banyak gairahnya untuk mencari pemuda laknat itu. Kalau dulu, dia tidak akan berpikir dua kali, biar harus menyeberangi lautan api umpamanya, akan ditempuhnya juga asal dia dapat menemukan musuh besarnya itu. Sekarang dia agak ragu-ragu, apalagi mengingat bahwa si pemuda laknat itu saja sudah demikian lihainya, apalagi di sana ada gurunya dan mungkin orang-orang lain!

“Sebelum kita menyeberangi gurun pasir, aku ingin melihat-lihat tempat-tempat yang pernah kukunjungi dulu, Paman. Lebih dulu, aku ingin pergi menengok sumur maut di mana aku dulu ketika menolong Jenderal Kao terjungkal, kemudian menjadi murid mendiang Ban-tok Mo-li di neraka bawah tanah. Setelah itu, aku ingin pergi dulu ke tempat-tempat lain, antaranya mengunjungi benteng di mana dulu Jenderal Kao tinggal.”

Topeng Setan tidak menjawab, hanya mengangguk. Agaknya bagi orang aneh ini, perintah Ceng Ceng merupakan pegangan hidupnya! Tidak pernah dia membantah kehendak gadis itu!

Agaknya Topeng Setan mengenal betul daerah ini, lebih kenal daripada Ceng Ceng yang baru satu kali berkunjung ke situ. Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di sumur maut yang berada di tengah lautan pasir itu. Sunyi senyap tempat itu dan seperti dahulu, banyak tulang berserakan di sekitar tempat itu. Ceng Ceng mendekati sumur itu dan melongok ke bawah. Gelap dan hitam pekat. Dia bergidik. Pantas saja dia dianggap mati oleh Jenderal Kao setelah terjungkal ke dalam tempat seperti itu. Bulu kuduknya berdiri ketika dia mengenangkan betapa dia terjungkal ke dalam sumur dan diselamatkan oleh seekor ular besar.

Ceng Ceng duduk di dekat sumur, mengenangkan segala peristiwa masa lalu. Tempat ini merupakan tempat yang bersejarah baginya. Sunyi senyap melengang, tidak ada kehidupan tampak di sekitar mereka berdua. Hanya pasir-pasir yang bergerak seperti berlumba lari berhembus angin semilir.

Topeng Setan juga duduk agak jauh dari Ceng Ceng, kelihatannya termenung seolah-olah tempat itu merupakan tempat yang mempunyai kenangan tersendiri baginya. Ceng Ceng bangkit dan mengitari sumur di mana terdapat tumpukan batu-batu besar. Tiba-tiba dia melihat sesuatu.

“Heiii, apa ini? Ada tulisan orang!”

Mendengar ini, Topeng Setan mengangkat mukanya dan bangkit lalu menghampiri. Bersama-sama mereka lalu membaca tulisan-tulisan yang agaknya belum lama dibuat orang itu.

“Kenyataan lebih pahit daripada bayangan,
lebih kejam daripada kenangan,
cinta hanya mendatangkan penderitaan!”

“Ohhh....!” Ceng Ceng berseru ketika membaca tulisan itu.

“Hemm, ada orang laki-laki yang pernah datang di sini, mungkin tinggal beberapa hari di sini dan menuliskan sajak-sajak ini....” Topeng Setan berkata perlahan.

Ketika mereka memeriksa lebih teliti, kiranya banyak diantara batu-batu yang berserakan itu bekas ditulisi yang semua bernada keluh-kesah tentang cinta tak sampai.

“Heiii.... ini.... seperti gambarmu, Ceng Ceng!” Tiba-tiba Topeng Setan berteriak heran.

Ceng Ceng melompat mendekat dan mereka berdua memandang coretan wajah seorang wanita di atas permukaan batu kapur putih yang rata itu. Coretan itu menggunakan batu kemerahan dan biarpun hanya merupakan coretan kasar, akan tetapi mudah dilihat dan dikenal sebagai bentuk wajah Ceng Ceng.

“Benarkah gambar ini seperti aku?” Ceng Ceng bertanya ragu.

“Tak salah lagi, dan dia pandai benar melukis!”

“Kalau begitu engkau mendapat saingan, Paman!” Ceng Ceng menggoda.

“Aku....? Ah, banyak benar dia menulis....” Topeng Setan meneliti semua tulisan yang semua membayangkan kegagalan cinta itu.

Akan tetapi Ceng Ceng sudah duduk termenung di depan sajak pertama. Lama ia termenung, kemudian dia berseru.

“Ah, ini tentu dia....!”

Topeng Setan kaget, menengok.

“Dia?”

“Ya, siapa lagi kalau bukan dia yang kita cari-cari!”

“Ohhh....! Tapi.... tapi....”

Topeng Setan tidak melanjutkan kata-katanya dan Ceng Ceng kembali membaca sajak itu. Mukanya berubah merah sendiri. Kalau begitu, dia.... dia cinta padaku? Demikian pikirnya dengan bingung dan dia membayangkan kembali, mengenangkan kembali peristiwa di dalam guha itu. Pemuda yang gagah dan tampan itu mukanya beringas, jelas bahwa tidak sewajarnya, seperti keracunan hebat. Pemuda itu menubruknya di luar kesadarannya! Dan pemuda itu jatuh cinta kepadanya? Mana mungkin!

Dugaan Ceng Ceng itu membuat dia merasa makin bingung. Dia membenci pemuda itu dan pemuda itu mencintanya? Akan tetapi benarkah dia membenci pemuda itu? Setiap kali mengenang peristiwa di guha itu, dia seperti terlena, seperti terbuai, seperti.... seperti timbul perasaan rindu ingin bertemu dengan pemuda itu! Akan tetapi perasaan halus yang samar-samar ini segera ditutupnya dengan kemarahan dan kebencian, dengan dendam dan sakit hati.

“Kalau begitu, kita sudah memperoleh jejaknya, Paman! Dia tentu tidak jauh lagi dan berada di sekitar tempat ini. Dugaan Paman benar bahwa kita harus mencari ke sini!”

Ceng Ceng berteriak, jantungnya berdebar. Aneh, debar jantungnya itu menunjukkan kegirangan! Girang bahwa dia akan dapat membalas dendam, ataukah girang karena dia akan dapat berjumpa dengan pemuda itu?

Mereka lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke benteng di mana dahulu Jenderal Kao Liang tinggal dan di mana dahulu Ceng Ceng tinggal pula. Ketika mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, mereka mendengar berita bahwa baru setengah bulan yang lalu ketika para suku liar merampok desa itu, datang seorang bintang penolong yang amat lihai, seorang pemuda yang tidak dapat dilihat jelas mukanya karena pemuda itu datang mengamuk, membasmi para perampok liar dan lenyap lagi. Akan tetapi, di waktu malam orang melihat pemuda itu sebagai sesosok bayangan yang berjalan sendirian di luar dusun sambil meniup suling, atau kadang-kadang juga suka bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu yang bernada sedih.

Mendengar ini, Ceng Ceng lalu bertanya kepada kampung terpencil itu di mana pemuda itu tinggal.

“Mengapa Ji-wi (Anda Berdua) mencari in-kong (tuan penolong) itu?”

“Kami adalah sahabatnya,” jawab Ceng Ceng.

Jawaban ini membuat Kepala Kampung cepat menghormat mereka dan dia sendiri lalu mengantarkan mereka berdua keluar kampung di mana terdapat sebuah gubuk di tepi sungai yang membelah padang rumput itu. Akan tetapi pemuda itu tidak ada lagi. Yang ada hanya bekas-bekasnya, coret-coretan yang sama dengan di sumur maut, akan tetapi di sini terdapat juga bekas-bekas pemuda itu berlatih silat yang amat hebatnya. Beberapa batang pohon tumbang dan hangus, dan batu-batu besar pecah berantakan. Tempat sekitar gubuk itu seperti bekas diamuk gajah.

“Hebat.... dia hebat....” Topeng Setan mengangguk-angguk.

Ceng Ceng memegang tangan Topeng Setan.
“Sudah kukatakan dia berilmu tinggi, Paman. Apakah kiranya engkau akan mampu melawannya? Membantuku menghadapinya?”

“Dia siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan pemuda laknat itu!”

“Hemm.... kita lihat sajalah nanti.”

Karena jelas bahwa pemuda yang mereka cari itu sudah pergi dari situ dan tidak ada orang tahu ke mana perginya, Ceng Ceng dan Topeng Setan berpamit dari orang-orang dusun itu kemudian melanjutkan perjalanan ke benteng pertahanan terakhir dari tentara kerajaan di perbatasan itu.

Ketika Topeng Setan dan Ceng Ceng muncul di pintu gerbang, beberapa orang penjaga yang ternyata adalah bekas anak buah Jenderal Kao, terkejut bukan main. Mereka memandang dengan mata terbelalak ketika gadis cantik yang muncul itu tersenyum dan berkata,

“Apakah paman-paman masih ingat kepadaku? Aku Ceng Ceng!”

Mereka yang ingat kepadanya tentu saja terkejut sekali dan bahkan ketakutan, mengira bahwa yang datang adalah setan atau roh gadis yang telah mati di dalam sumur maut itu. Apalagi kedatangannya bersama dengan seorang manusia berwajah setan!

“Nona.... Nona.... bukankah dahulu sudah.... eh.... tewas di sumur maut?”

Seorang penjaga tua memberanikan diri bertanya, telunjuknya yang menuding kepada gadis itu menggigil.

Ceng Ceng tertawa.
“Memang aku disangka mati, akan tetapi untung Thian masih melindungiku dan aku tidak mati, Paman. Aku masih hidup. Dan aku ingin mampir ke benteng ini. Siapakah yang menjadi komandan di sini sekarang?”

“Bukan Jenderal Kao lagi, Nona....”

“Aku tahu, belum lama ini aku berjumpa dengan Jenderal Kao di barat. Siapa yang menjadi komandan di sini?”

“Thio-goanswe (Jenderal Thio),” jawab penjaga itu.

“Hemm, siapakah dia?”

“Dia adalah Panglima Thio Luk Cong yang kini menggantikan kedudukan Jenderal Kao.”

“Ah, Panglima Thio Luk Cong yang dulu menjadi komandan di Ang-kiok-teng? Aku sudah mengenalnya pula!”

Ceng Ceng berseru dan mereka berdua lalu disambut, dibawa menghadap kepada komandan benteng itu dan Jenderal Thio yang tahu bahwa gadis ini dan pembantunya telah membantu Jenderal Kao ketika membasmi pemberontak, segera menyambut dan menjamu mereka.

Dengan gembira mereka makan minum dan Ceng Ceng menceritakan pengalaman-pengalamannya dahulu ketika dia menolong Jenderal Kao dan terjerumus ke dalam sumur maut sehingga disangka mati. Dia dengan terus terang menceritakan betapa dia ditolong oleh seekor ular besar dan oleh Ban-tok Mo-li diangkat menjadi murid, dan betapa akhirnya dia berhasil keluar dari neraka di bawah tanah itu. Jenderal Thio dan beberapa orang perwira tinggi yang menemani mereka makan minum mendengarkan dengan penuh kagum.

“Sungguh aneh sekali ceritamu itu, Lihiap (Pendekar Wanita)!” Seorang perwira muda berseru kagum. “Dan di sini juga baru-baru ini terjadi hal yang lebih aneh lagi.... eh....”

Tiba-tiba dia menoleh kepada Jenderal Thio dengan gugup karena merasa bahwa dia telah kelepasan bicara.

Jenderal Thio tertawa sambil mengangguk-angguk.
“Ciong-ciangkun, kita berhadapan dengan sahabat-sahabat baik, tidak ada halangannya menceritakan keanehan itu kepada mereka ini.”

Perwira itu lalu bercerita dengan hati gembira. Dia masih muda dan tentu saja dia amat kagum akan kecantikan dan kegagahan Ceng Ceng dan sebagai seorang pemuda yang normal, tentu saja ingin dia beraksi dan ingin menarik perhatian. Dan ceritanya memang aneh sekali.

Kurang lebih seminggu yang lalu, terjadi hal yang amat mengherankan dan juga menakutkan hati para perajurit dan para perwira di benteng itu. Di benteng itu terdapat sebuah menara yang amat tinggi, akan tetapi menara ini sudah tua dan tidak dipergunakan lagi setelah menara-menara baru yang lebih baik dan berada di pojok-pojok benteng dibangun, dan tidak ada yang berani naik ke menara tua itu karena anak tangganya sudah banyak yang runtuh dan sudah tua, berbahaya sekali naik ke sana, bahkan tidak mungkin sampai di puncaknya karena anak tangga ke puncak itupun sudah runtuh semua.

Akan tetapi pada suatu malam terdengar suara orang meniup suling di puncak menara itu dan kadang-kadang terdengar suara laki-laki bernyanyi dengan nada sedih! Biarpun para perajurit adalah orang-orang yang tidak mengenal takut dan sudah biasa menghadapi maut di medan perang, akan tetapi menghadapi keanehan ini mereka merasa ngeri dan takut! Apalagi karena menara ini terkenal sebagai tempat angker yang ada setannya karena dahulu pernah ada seorang perajurit yang tewas ketika sedang berjaga di puncak menara, tewas tanpa diketahui sebabnya. Kadang-kadang di tengah malam tampak ada bayangan berkelebat ke atas puncak atau turun dari puncak, bayangan yang demikian cepat gerakannya, sehingga tidak mungkin kalau bayangan manusia. Semua perajurit di benteng itu mengira bahwa itu tentulah bayangan hantu, bayangan roh penasaran dari perajurit yang mati berjaga itu.

“Keanehan itu terjadi setiap malam sampai tiga hari yang lalu,” demikian perwira muda itu melanjutkan ceritanya, tersenyum gembira penuh lagak ketika dia melihat betapa Ceng Ceng amat tertarik dan tanpa berkedip memandang kepadanya!

Tentu saja Ceng Ceng tertarik sekali oleh cerita itu karena dia menyangka tentu bayangan itu adalah pemuda yang dicarinya.

“Apakah sekarang dia masih berada di atas menara?” otomatis dia bertanya.

Perwira muda itu menggeleng kepala.
“Sayang, hal itu berakhir tiga hari yang lalu. Pada tiga hari yang lalu, di benteng ini muncul seorang kakek yang luar biasa anehnya, punggungnya bongkok sekali....”

“Ahhh....!”

Ceng Ceng dan Topeng Setan berbareng mengeluarkan seruan kaget ini karena mereka sudah menduga siapa adanya kakek bongkok itu.

“Dia datang dan bertanya kepada kami apakah kami melihat muridnya, seorang pemuda tinggi besar yang tampan.... dia datang di waktu lewat senja dan pada saat itu terdengar suara melengking dari atas menara, suara orang meniup suling dengan nada yang merawankan hati. Kami semua ketakutan, akan tetapi kami hendak mempermainkan kakek bongkok itu. Kami mengatakan bahwa murid yang dicarinya itu berada di atas menara!”

“Hemmm....” Topeng Setan menggeram.

“Kami tadinya hanya ingin main-main saja, akan tetapi siapa kira. Kakek yang kelihatannya bongkok dan lemah itu tiba-tiba menggerakkan lengan bajunya yang lebar dan.... dia terbang ke atas!”

“Terbang....?” Ceng Ceng juga tertarik sekali dan tak disadarinya dia bertanya.

“Ya, terbang! Dia terbang ke atas puncak menara yang amat tinggi itu! Tentu saja kami semua menjadi bengong dan ketakutan. Kiranya kakek itu pun adalah seorang hantu yang mencari kawannya! Suara suling itu berhenti dan tidak lama kemudian tampak dua sosok bayangan berkelebat, melayang turun dari puncak menara itu dan lenyap entah ke mana. Nah, sejak saat itu, tiga hari yang lalu, hantu-hantu itu tidak pernah muncul lagi.” Perwira itu bergidik, merasa ngeri sendiri menceritakan peristiwa itu.

Keadaan menjadi sunyi senyap. Jenderal Thio yang sudah berpengalaman luas lalu berkata,

“Tentu saja cerita itu mungkin berlebihan, Nona. Menurut pendapatku, yang berada di menara itu adalah seorang kang-ouw yang aneh dan berilmu tinggi, dan bukan tidak mungkin bahwa kakek yang datang itu adalah gurunya.”

Ceng Ceng mengangguk-angguk.
“Mungkin sekali.... bahkan, kuyakin begitulah!”

Topeng Setan menoleh kepadanya dan Ceng Ceng juga memandangnya.
“Bagaimana pendapatmu, Paman?” Tiba-tiba Ceng Ceng bertanya kepada orang bertopeng itu.

“Huh? Oh, mungkin sekali begitulah,” akhirnya dia berkata seperti orang baru sadar dari lamunannya.

Setelah mendengar cerita itu, Ceng Ceng melamun. Agaknya tidak keliru lagi, tentu pemuda laknat itulah pemuda yang bersuling, bernyanyi dan menulis sajak-sajak cinta gagal itu! Siapa lagi kalau bukan dia? Akan tetapi sekarang pemuda itu telah berkumpul dengan gurunya, Si Dewa Bongkok yang lihai dan tentu diajak pulang ke Istana Gurun Pasir.

Jadi tepat dugaan Topeng Setan bahwa mencari pemuda itu harus di tempat tinggal gurunya. Akan tetapi, pemuda itu sendiri sudah begitu lihai. Apalagi kini ditambah gurunya dan mungkin tokoh-tokoh lain di Istana Gurun Pasir. Ceng Ceng melirik ke arah “pembantunya” yang duduk melamun sambil memegang cawan arak karena mereka semua sudah selesai makan. Jagonya inilah yang diharapkannya, karena kalau dia seorang diri yang harus membalas dendam, baru menghadapi pemuda laknat itu saja tidak mungkin dia menang. Jagoannya ini makin lihai saja. Entah bagaimana agaknya tiap hari tambah maju saja ilmu kepandaian orang ini.

Dapatkah Si Buruk Rupa ini menandingi Dewa Bongkok dan muridnya? Dapatkah Si Buruk Rupa ini diandalkannya? Si Buruk Rupa.... ah, buruk? Belum tentu! Pamannya ini belum tentu buruk, kalau bentuk tubuhnya sih gagah perkasa melebihi semua pria yang pernah dilihatnya! Ah, apa pula yang dipikirkannya ini? Ceng Ceng diam-diam memaki dirinya sendiri. Paman Topeng Setan ini sudah seperti ayahnya sendiri, gurunya sendiri, pelindungnya yang amat setia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar