FB

FB

Ads

Selasa, 10 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 130

“Maaf, akan tetapi kau.... kau sungguh tidak tahu siapa aku?”

“Siapa bilang aku tidak tahu siapa engkau, Tek Hoat? Aku malah mengetahui lebih banyak tentang dirimu daripada engkau sendiri! Dulu ketika engkau hendak meninggalkan aku di istana Perdana Menteri Su, aku tidak sempat lagi menceritakan hal ini. Sesungguhnyalah, aku lebih tahu daripada engkau sendiri tentang dirimu.”

Tek Hoat memandang terbelalak heran.
“Apa yang kaumaksudkan, Dewi?”

Hati Syanti Dewi terharu. Pemuda itu kini menyebutnya Dewi dan satu-satunya orang yang menyebutnya demikian hanyalah Gak Bun Beng. Ada persamaan baginya antara pemuda ini dengan Gak Bun Beng!

“Maksudku, aku telah bertemu dengan ibumu yang bernama Ang Siok Bi! Dan aku telah mendengar ibumu bicara dengan Bibi Puteri Milana sehingga terbukalah rahasia yang agaknya belum kauketahui sendiri tentang dirimu.”

Tentu saja Tek Hoat terkejut bukan main dan bagaikan diserang ular dia bangkit duduk, tidak peduli akan tubuhnya yang lemas sehingga hampir dia terguling.

“Kau berjumpa dengan ibuku? Di mana? Kapan? Dan apa yang dibicarakannya dengan Puteri Milana?”

Syanti Dewi tersenyum. Dia melihat gairah dan kerinduan membayang di mata pemuda itu ketika menyebut ibunya dan giranglah hatinya menyaksikan ini karena dia tahu bahwa pemuda ini mencinta ibunya.

“Sebelum aku menceritakan semua itu, aku ingin tahu lebih dulu apakah engkau mengenal nama Gak Bun Beng?”

Tiba-tiba wajah pemuda itu menjadi muram.
“Tentu saja! Sampai mati pun aku tidak akan melupakan nama itu!”

“Dan engkau tadinya mengira dia sudah mati, bukan?”




“Benar, akan tetapi aku girang bahwa dari Puteri Milana aku mendengar bahwa dia masih hidup. Aku harus dapat mencarinya dan bertemu muka dengan dia!” Kata-kata ini dikeluarkan dengan nada keras.

“Aku tahu, engkau masih menganggap dia musuh besarmu. Untung terbuka rahasia itu sehingga aku mengetahui, karena kalau tidak, dan engkau masih terus menganggap dia musuh besarmu.... hal itu.... akan amat mendukakan hatiku, Tek Hoat. Ketahuilah bahwa dia itu sesungguhnya bukanlah musuh besarmu, bahwa Gak Bun Beng adalah semulia-mulianya manusia, seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang patut dihormati dan dikagumi....”

“Dewi! Apa maksudmu?”

“Dengarlah baik-baik apa yang kudengar dari pembicaraan antara ibumu dan Bibi Milana. Sebelum bertemu dengan Bibi Milana, Ibumu sendiri, Bibi Ang Siok Bi itu, juga menganggap Gak Bun Beng sebagai musuh besarnya yang sudah mati. Akan tetapi ternyata Gak Bun Beng belum mati, bahkan sama sekali bukan musuh besarnya. Katakanlah dulu, Tek Hoat, apa yang diceritakan oleh ibumu tentang ayahmu dan tentang Gak Bun Beng?”

“Ibu menyatakan bahwa ayahku bernama Ang Thian Pa dan bahwa ayahku itu dibunuh oleh penjahat Gak Bun Beng yang juga telah berhasil dibunuh oleh Ibu. Dan ternyata sekarang bahwa Gak Bun Beng masih hidup....”

“Dia sama sekali bukan penjahat, melainkan seorang pendekar besar berhati mulia! Ibumu dahulu salah duga, Tek Hoat, dan beginilah menurut percakapan antara ibumu dan Puteri Milana. Dahulu di waktu masih gadis, ibumu telah diperkosa oleh seorang penjahat muda yang dilakukan dalam gelap dan penjahat muda itu mengaku bernama Gak Bun Beng karena Gak Bun Beng adalah musuh besarnya.... eh, kenapa kau?” Syanti Dewi terkejut melihat pemuda itu memegangi kepalanya.

“Tidak, tidak apa-apa, teruskan!”

Tek Hoat berkata. Kepalanya seperti dihantam palu godam mendengar permulaan cerita itu, karena dia seolah-olah diejek dan disindir, teringat akan perbuatannya sendiri yang melakukan segala kejahatan menggunakan nama Gak Bun Beng pula!

“Nah, tentu saja ibumu menganggap Gak Bun Beng sebagai musuh besarnya dan pada suatu hari, bersama wanita-wanita lain yang menjadi korban pemuda jahat yang menyamar sebagai Gak Bun Beng, ibumu dan beberapa orang wanita berhasil mengeroyok Gak Bun Beng sampai pendekar itu terjerumus ke dalam jurang yang dalam dan disangka mati. Ibumu lalu pergi dan tak pernah muncul kembali sehingga dia tidak tahu bahwa Gak Bun Beng belum tewas. Di antara para pengeroyok itu terdapat Bibi Milana. Bibi Milana akhirnya tahu bahwa Gak Bun Beng tidak berdosa, dan penjahat yang sesungguhnya, telah tewas menebus dosanya. Akan tetapi ibumu agaknya tidak atau belum tahu sehingga ketika melahirkan engkau, dia hendak menanam bibit kebencian di hatimu terhadap Gak Bun Beng yang disangka pemerkosanya.”

Dengan wajah pucat sekali Tek Hoat memandang Syanti Dewi. Andaikata bukan puteri itu yang bercerita seperti ini, bukan wanita yang dipujanya, dicintanya dan tentu saja dipercayanya, tentu dia akan marah dan akan membunuh yang bercerita itu.

“Dewi.... Dewi.... demi Tuhan....! Benarkah itu....?”

“Aku mendengar sendiri, dan perlu apa aku membohongimu?”

“Lalu.... lalu bagaimana....? Lalu siapa orang itu? Siapa.... pemerkosa Ibu dan.... ayahku itu....?”

“Dia bernama Wan Keng In, putera tiri dari Pendekar Super Sakti sendiri. Jadi engkau masih cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan engkau bukan she Ang, karena itu she Ibumu melainkan she Wan.”

“Dan.... dan Ang Thian Pa.... ah, bisa jadi dialah kakekku.... bekas ketua Bu-tong-pai.... ahh, Ibuuu...!”

Tek Hoat menjerit lalu terguling dan pingsan. Tentu saja Syanti Dewi menjadi sibuk sekali, mengguncang-guncang tubuh pemuda itu dan memanggil-manggil.

**** 130 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar