FB

FB


Ads

Selasa, 10 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 127

Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda itu berjalan dengan tenang melalui lembah pegunungan, dikawal oleh tiga puluh enam orang yang kelihatan gagah perkasa, kesemuanya menunggang kuda dan biarpun mereka berpakaian seperti orang-orang biasa, bukan pakaian seragam piauwsu (pengawal barang), namun dari cara mereka menunggang kuda, duduk dengan tegak dan kuda mereka teratur rapi di belakang dan di depan kereta, dapat diduga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang biasa berbaris dengan kuda dan mengenal disiplin.

Pemimpinnya, seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis dan jenggot pendek rapi, kelihatan gagah sekali dan mereka melanjutkan perjalanan berkuda itu menuju ke barat tanpa banyak kata-kata.

Kereta itu sendiri amat besar, tidak seperti kereta biasa, agaknya kereta yang khusus dibuat untuk keperluan itu. Panjang kereta dua kali panjang kereta biasa, maka penariknya adalah empat ekor kuda, tidak dua ekor seperti biasa kalau hanya menarik penumpang. Di bagian paling belakang dari rombongan itu terdapat seekor kuda menarik sebuah kereta kecil yang terisi barang-barang perbekalan mereka.

Orang-orang yang kelihatan gagah itu ternyata dapat bekerja sama dengan cepat dan setiap kali jalan terlalu mendaki sehingga empat ekor kuda yang menarik kereta besar itu kelihatan payah, mereka lalu langsung meloncat turun dan beberapa orang ikut mendorong roda kereta sehingga kereta itu dapat mendaki dengan lancar dan perjalanan tidak perlu dihentikan. Biarpun mereka tidak tergesa-gesa, namun perjalanan itu tidak pernah berhenti kecuali kalau hendak makan atau bermalam di tengah perjalanan.

Pagi hari itu amat cerah. Jalan yang dilalui rombongan itu pun datar sehingga kuda mereka berlari congklang dan kereta bergerak lancar. Suara derap kaki kuda menimbulkan bunyi irama yang lucu dan menggembirakan, dan barisan kuda itu akhirnya memasuki sebuah hutan kecil yang mulai diterobos sinar matahari pagi yang membangunkan semua binatang penghuni hutan.

Beberapa ekor kelinci dan tikus lari berserabutan melintasi jalan dan menyelinap ke balik semak-semak ketika rombongan itu tiba. Burung-burung terbang ketakutan dari pohon-pohon di kanan kiri jalan. Kuda-kuda mereka agaknya merasa gembira pula tiba di dalam hutan di antara pohon-pohon dan daun-daun segar.

Beberapa diantara mereka meringkik dan mendengus, agaknya bau daun-daunan dan tanah yang sedap menimbulkan gairah dan kegembiraan mereka. Tentu saja jauh bedanya dengan bau pengap di kota-kota dan dusun-dusun yang penuh manusia.

Akan tetapi, selagi rombongan yang terdiri dari tiga puluh enam orang termasuk kusir kereta dan komandan rombongan itu menjalankan kuda dengan hati tenang gembira, tiba-tiba terdengar bunyi berdesing dan tahu-tahu tiga batang tombak menancap di tengah jalan di depan Si Pemimpin.

Cepat pemimpin rombongan ini menahan kudanya, mengangkat tangan kiri memberi tanda agar rombongan itu berhenti. Kemudian beberapa orang pembantunya melarikan kuda dari belakang ke depan dan lima orang pemimpin rombongan yang berkuda itu berjajar memenuhi jalan sambil memandang ke arah tiga batang tombak yang masih menggetar di atas tanah itu.

Mereka menyangka bahwa tentu ada perampok-perampok yang “bosan hidup” berani menghadang mereka. Akan tetapi ketika dari balik pohon-pohon besar muncul seorang kakek tinggi besar bersama seorang wanita cantik dan di belakang mereka terdapat belasan orang yang dipimpin oleh seorang kakek gendut tinggi besar, rombongan berkuda ini menjadi terkejut sekali.

Andaikata benar mereka itu perampok, tentu bukan perampok-perampok sembarangan. Orang-orang yang datang bersama kakek tinggi besar itu adalah orang-orang yang berwajah menyeramkan sekali, seperti setan-setan karena wajah mereka itu samar-samar masih membayangkan warna-warna bermacam-macam, ada yang kehijauan dan ada yang kemerahan!

“Haii, rombongan yang melakukan perjalanan, jangan kalian takut, kami bukan perampok. Ketahuilah, kami adalah orang-orang Pulau Neraka dan aku adalah Hek-tiauw Lo-mo. Hayo kalian turun dari kuda, berikan kereta itu untukku dan berikan kepada anak buahku masing-masing seekor kuda dan kami tidak akan membunuh kalian.”

Rombongan itu belum pernah mendengar tentang Pulau Neraka atau Hek-tiauw Lo-mo maka tentu saja mereka menjadi marah mendengar ucapan yang bernada sombong itu. Apalagi harus menyerahkan kereta yang dikawalnya dengan rapi, tentu saja mereka tidak sudi melaksanakan permintaan ini.

Pemimpin rombongan lalu berkata, suaranya tegas dan bernada keras,
“Hek-tiauw Lo-mo, kami serombongan pelancong tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, maka harap kalian jangan mengganggu kami. Kuda dan kereta ini kami butuhkan sekali untuk melanjutkan perjalanan kami. Akan tetapi penolakan kami bukan berarti bahwa kami pelit. Nah, sedikit emas dan perak ini kiranya cukup bagi kalian untuk membeli kuda!”

Setelah berkata demikian, pemimpin rombongan itu melemparkan sebuah kantung kecil ke arah Hek-tiauw Lo-mo! Kakek ini menerimanya dan merobeknya, sehingga isinya yang berupa potongan-potongan emas dan perak berhamburan ke atas tanah.

“Ha-ha-ha, ada orang berani memberi sedekah kepada Hek-tiauw Lo-mo. Penghinaan ini selama hidupku belum pernah kuterima. Ji Song, hajar mereka!”

Perintahnya kepada pembantunya yang selama ini tidak pernah ketinggalan memimpin para anak buahnya. Ji Song, kakek gendut tinggi besar, segera berteriak memberi aba-aba dan majulah belasan orang anak buah Pulau Neraka itu menyerbu.

Akan tetapi pemimpin rombongan itu pun memberi aba-aba dan bagaikan perajurit-perajurit yang terlatih baik, para anak buahnya juga meloncat dari atas kuda dan menyambut serbuan itu sehingga terjadilah pertempuran yang seru.

Akan tetapi betapa kaget hati pemimpin itu menyaksikan kehebatan pihak lawan, terutama kakek gendut tinggi besar. Maka dia sendiri bersama empat orang pembantunya lalu meloncat turun dan disambut oleh wanita cantik itu sambil tertawa-tawa.

Wanita cantik itu bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw Lo-mo yang telah kehilangan Ceng Ceng, menggunakan siasat adu domba ketika dia diserbu oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Milana dan Gak Bun Beng, dan menggunakan kesempatan selagi Topeng Setan melayani mereka, dia mengajak sumoinya itu dan semua anak buahnya untuk meloloskan diri.

Mauw Siauw Mo-li penasaran sekali karena kehilangan Kian Bu, pemuda yang amat memuaskan hatinya itu, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo penasaran karena kehilangan Ceng Ceng. Mereka terus mencari ke barat dan di hutan itu mereka bertemu dengan rombongan berkuda itu yang hendak mereka rampas kereta dan kudanya agar perjalanan mereka lebih lancar dan cepat.






Biarpun dikeroyok oleh lima orang pimpinan rombongan itu, Mauw Siauw Mo-li masih melayani seenaknya saja. Untung bahwa lima orang pemimpin rombongan itu adalah laki-laki yang gagah perkasa dan rata-rata berwajah tampan menarik.

Laki-laki muda tampan dan menarik merupakan kelemahan Mauw Siauw Mo-li sehingga hati wanita ini tidak tega untuk membunuh mereka. Dia hanya mempermainkan mereka, menangkis senjata mereka dengan pedangnya yang bersinar hijau, sedangkan jari-jari tangan kirinya tidak hentinya mencolek sana-sini di tubuh kelima orang lawannya itu sambil mengeluarkan kata-kata pujian yang membuat lima orang itu terkejut, terheran, akan tetapi juga menjadi muak.

“Hemm, Sumoi, apakah pada saat begini sudah kumat lagi penyakitmu gila laki-laki? Hayo kau bunuh mereka agar lebih cepat urusan ini beres!” teriak Hek-tiauw Lo-mo yang duduk di bawah pohon menonton pertempuran.

Dia sendiri merasa terlalu tinggi untuk melayani orang-orang yang kepandaiannya tidak berapa tinggi itu dan dia mendongkol menyaksikan sumoinya yang mempermainkan lima orang lawannya.

“Hi-hi-hik, baiklah, Suheng. Wah, sayang sekali, aku terpaksa harus merobohkan kalian, orang-orang ganteng!”

Mauw Siauw Mo-li tertawa dan pedangnya lalu berubah berkelebatan menjadi gulungan sinar hijau yang amat cepat. Lima orang lawannya terkejut sekali dan mereka pun menggerakkan senjata mereka untuk membela diri, akan tetapi biarpun mereka sama sekali tidak dapat menyerang dan hanya mempertahankan diri, tetap saja mereka terhimpit dan terdesak hebat oleh sinar hijau itu dan agaknya pertahanan mereka tidak akan berlangsung lama.

Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat terjun ke medan pertempuran ini, didahului sinar yang seperti halilintar menyilaukan mata.

“Cringgg.... trakkkk!”

Mauw Siauw Mo-li mengeluarkan pekik kaget ketika pedangnya yang bersinar hijau itu disambar oleh sinar kilat itu dan ternyata ujung pedangnya yang merupakan pedang pusaka ampuh itu telah patah!

Ketika dia yang telah meloncat mundur memandang ke depan, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan gagah yang dikenalnya baik karena pemuda ini bukan lain adalah Tek Hoat!

Setelah pemuda itu menyerahkan Syanti Dewi kepada Perdana Menteri Su, hatinya lega bukan main karena kekasih hatinya itu telah berada dalam keadaan aman. Barulah dia teringat akan Ceng Ceng dan Topeng Setan. Dia suka sekali kepada Ceng Ceng dan agaknya akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada gadis itu andaikata tidak ada Syanti Dewi di dunia ini.

Maka setelah meninggalkan istana Perdana Menteri, dia bergegas keluar dari kota raja dan kembali ke tempat Tambolon di sebelah selatan untuk menolong gadis itu. Diam-diam dia merasa khawatir juga kalau-kalau dia akan terlambat. Dan ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Tambolon dan kawan-kawannya telah pergi dan demikian pula Ceng Ceng, entah pergi kemana, entah lolos ataukah dibawa pergi oleh Tambolon. Maka ia menjadi gelisah juga dan dia cepat pergi ke dusun Nam-lim untuk menolong Topeng Setan. Akan tetapi dusun bekas sarang kaum sesat ini pun telah kosong!

Terpaksa dia lalu meninggalkan tempat itu dan secepatnya dia menuju ke barat, karena dia dapat menduga bahwa tentu Syanti Dewi akan dikawal dan dipulangkan ke Bhutan maka sebaiknya kalau dia mengamat-amati dari jauh.

Demikianlah, pada pagi hari itu dia melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li mencegat rombongan berkuda, dan melihat orang-orang yang menjadi musuhnya ini sekarang, orang-orang yang telah menangkap Topeng Setan dan Ceng Ceng, dia menjadi marah dan tanpa mengetahui siapa mereka yang didesak oleh Mauw Siauw Mo-li, dia sudah mencabut Cui-beng-kiam dan sekali tangkis dia telah mematahkan ujung pedang sinar hijau di tangan Siluman Kucing itu.

“Eh, kau.... bocah tampan? Kau disini....? Kenapa kau melawan aku?”

Mauw Siauw Mo-li menegur, setengah marah karena kerusakan pedangnya, akan tetapi juga girang karena sejak dahulu dia ada hati terhadap pemuda tampan itu yang dahulu merupakan tangan kanan dari Pangeran Liong Khi Ong.

Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat ke depan dan menghadapi Tek Hoat dengan alis berkerut.

“Bocah lancang! Kenapa engkau mencampuri urusanku? Hayo minggat, sebelum aku marah dan membunuhmu!”

Kalau saja Hek-tiauw Lo-mo tidak bersikap kasar dan bicara dengan baik, agaknya Tek Hoat yang tidak mengenal rombongan itu akan merasa sungkan untuk mencampuri dan akan pergi. Akan tetapi entah mengapa, semenjak dia bertemu dengan Syanti Dewi dan orang-orang seperti Milana dan lain-lain, dia merasa betapa dirinya amat rendah dan hina, betapa dia adalah seorang pemuda yang tersesat dan jahat, betapa dia karena semua perbuatannya yang jahat, sama sekali tidak berharga untuk berdekatan dengan Syanti Dewi.

Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main akan perbuatan-perbuatannya yang sudah-sudah. Dia bukan anak penjahat, mengapa dia telah tersesat sedemikiah jauhnya? Penyesalan inilah, terutama sekali bayangan wajah Syanti Dewi yang lembut dan penuh welas asih, yang membuat dia merasa tidak senang dengan orang-orang dari golongan sesat karena dia menganggap bahwa mereka itulah yang menyeretnya ke lembah kesesatan. Kini, Hek-tiauw Lo-mo bersikap kasar, maka dia menjadi makin marah dan mengambil keputusan untuk melawannya dan membela rombongan yang tak dikenalnya ini.

“Hek-tiauw Lo-mo, engkau manusia sombong dan jahat! Kau kira aku takut kepadamu?” bentaknya dan pedang Cui-beng-kiam yang menggiriskan itu melintang di depan dadanya.

Hek-tiauw Lo-mo memang benar telah menjadi Ketua Pulau Neraka, akan tetapi dia bukanlah asli penghuni Pulau Neraka. Dia adalah pendatang baru yang menggunakan ilmunya untuk menaklukkan orang-orang Pulau Neraka, maka dia tidak mengenal pedang di tangan Tek Hoat itu. Akan tetapi Kakek Ji Song, kakek gendut gundul yang memang merupakan tokoh Pulau Neraka asli, begitu melihat pedang di tangan Tek Hoat, seketika dia menjadi ketakutan, gemetar dan berseru,

“Cui-beng-kiam....!” Lalu dia menjauhkan diri dari situ.

Hal ini adalah tidak aneh. Cui-beng-kiam ini dahulunya adalah pedang milik Cui-beng Koai-ong, yaitu tokoh nomor satu dari Pulau Neraka, yang merupakan iblis Pulau Neraka, orangnya mengerikan seperti mayat hidup, kepandaiannya tidak lumrah manusia. Seperti kita ketahui, pedang pusaka ini berikut kitab-kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin terjatuh ke tangan seorang tokoh Pulau Neraka lainnya, yaitu Kong To Tek dan akhirnya terjatuh ke tangan Tek Hoat.

Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak mengenal pedang ini lalu bergerak menerjang pemuda itu dari kanan kiri. Hek-tiauw Lo-mo yang dapat menduga akan kelihaian pemuda yang pernah menjadi tangan kanan pemberontak ini, langsung mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok besar tajam yang punggungnya berbentuk gergaji! Senjata ini terbuat dari baja pilihan sehingga mengkilap dan amat tajam, ketika digerakkan menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara berdesing.

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui juga marah sekali karena kerusakan pedangnya, akan tetapi karena yang patah hanya ujungnya sedikit, dia masih dapat menyerang dengan ganas. Dia merasa menyesal sekali bahwa obat peledaknya yaitu senjatanya yang paling diandalkan, telah habis dan belum memperoleh kesempatan untuk membuat lagi, maka kini dia hanya dapat menyerang dengan pedang buntung dibantu oleh cakaran tangan kirinya yang juga amat berbahaya.

Tek Hoat mengamuk. Kadang-kadang dia menyeringai menahan rasa sakit. Luka-lukanya akibat pertempuran membela Syanti Dewi di dalam hutan melawan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo masih belum sembuh sama sekali. Dan kini dua orang lihai yang mengeroyoknya itu pun mengeluarkan seluruh daya upaya mereka untuk membunuhnya.

Sebetulnya suheng dan sumoi itu sama sekali tidak merasa sakit hati atas kematian Hek-wan Kui-bo karena diantara mereka bertiga biarpun terhitung suheng dan sumoi, akan tetapi tidak mempunyai hubungan akrab, bahkan saling mengiri dan saling mencurigai.

Kematian Hek-wan Kui-bo di tangan pemuda ini tidak mendatangkan perasaan dendam. Akan tetapi, karena kini Tek Hoat berani menentang mereka, maka mereka teringat akan hal itu yang sedikitnya merupakan pukulan bagi nama mereka, maka tanpa berunding lebih dulu, keduanya kini berusaha sekuat tenaga untuk membunuh Tek Hoat.

Tek Hoat juga maklum akan kelihaian lawan, maka dia memutar pedangnya yang ampuh itu dan mengeluarkan semua kepandaiannya. Ilmu yang diwarisinya dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin memang hebat sekali.

Dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah memperoleh ilmu menghimpun tenaga sakti, sedangkan dari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dia memperoleh ilmu-ilmu pukulan beracun, ilmu pedang yang dinamakan Cui-beng Kiam-sut dan obat perampas ingatan. Kini dia menggerakkan pedangnya berdasarkan sin-kang yang sesungguhnya berpusat pada ilmu mujijat atau Ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi dan dia memainkan Cui-beng Kiam-sut yang luar biasa gerakannya itu.

Hebat bukan main pertandingan antara tiga orang ini. Sinar pedang Cui-beng-kiam berubah menjadi gulungan sinar kilat menyambar-nyambar menyilaukan mata, dan sinar ini dikeroyok oleh gulungan sinar hijau dan biru!

Adapun lima orang pemimpin rombongan itu kini sudah saling gempur melawan kakek gundul Ji Song yang lihai dan teman-temannya. Akan tetapi karena jumlah para anak buah Pulau Neraka ini kalah jauh dan karena ternyata anggauta rombongan berkuda itu pun rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka pertandingan antara mereka itu berjalan seru dan akhirnya pihak Pulau Neraka mulai terdesak.

Mauw Siauw Mo-li yang sudah marah kini tidak lagi memperlihatkan sikapnya yang gila laki-laki, apalagi dia teringat akan sucinya yang tewas oleh pemuda ini dan pedangnya yang menjadi buntung. Lebih-lebih lagi karena dia yang mengeroyok dengan suhengnya yang dia tahu amat lihai, selama hampir seratus jurus masih belum juga dapat mengalahkan pemuda ini. Dia gemas dan penasaran sekali.

“Ang Tek Hoat, kau manusia khianat! Engkau yang sudah banyak makan uang pemberontak, pada saat terakhir malah berkhianat. Manusia tak tahu malu! Sekarang engkau agaknya hendak bermuka-muka dan menjilat-jilat pantat Kaisar agaknya! Hi-hik, manusia rendah, pemuda yang hina!”

Bukan main marahnya hati Tek Hoat mendengar ini. Diingatkan akan penyelewengan dan kejahatannya adalah hal yang amat dibencinya karena hal itu mengingatkan dia lagi akan ketidak pantasannya untuk berdekatan dengan Syanti Dewi!

Tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya. Biarpun Cui-beng Kiam-sut adalah ilmu pedang iblis yang amat hebat, akan tetapi pertahanan kedua orang itu amat ketat dan mereka mulai dapat mengikuti gerakan dari ilmu pedang ini. Maka secara tiba-tiba dia merubah ilmu pedangnya dan mainkan Pat-mo Kiam-sut yang pernah dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo, bekas tokoh Thian-liong-pang.

Pat-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Iblis) juga merupakan ilmu pedang golongan sesat yang amat hebat sekali, dahulu menjadi satu diantara ilmu-ilmu yang paling hebat dari ketuanya, yaitu Puteri Nirahai yang kini menjadi nyonya Pendekar Super Sakti. Dan perubahan mendadak ini membuat kedua orang lawan itu terkejut, terutama sekali Lauw Hong Kui yang memang didesak hebat oleh Tek Hoat yang marah mendengar ejekannya tadi.

Sinar kilat menyambar ke arah ulu hati Lauw Hong Kui. Wanita hamba nafsu berahi ini memekik, cepat dia miringkan tubuhnya dan menangkis.

“Cringgg.... trekk.... aughhh....!”

Tangkisan itu memang tepat, akan tetapi saking kuatnya Tek Hoat menggerakkan pedangnya, kembali pedang sinar hijau dari wanita itu terbabat putus dan Cui-beng-kiam masih sempat melukai pangkal lengan kanan wanita itu sehingga kulit dan dagingnya terobek lebar dan darah bercucuran, pedangnya yang buntung tinggal pendek saja itu terlepas!

Akan tetapi pada saat itu, sinar hitam menyambar dari atas ke arah kepala Tek Hoat. Pemuda ini terkejut dan cepat menangkis dengan Cui-beng-kiam.

“Plakkkk....!”

Makin kagetlah hati Tek Hoat karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah sehelai jala tipis yang tadi dikepal di tangan kiri Ketua Pulau Neraka dan jala ini terbuat dari bahan yang amat kuat, tidak dapat diputus oleh pedang pusaka. Pedang itu telah tertangkap oleh jala! Dan golok berpunggung gergaji itu menyambar ganas ke arah lehernya!

Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li yang juga marah sekali karena lengannya terluka parah dan pedangnya rusak, menerjang ke depan dengan hantaman tangan kirinya dengan pengerahan sin-kang dan dia telah mempergunakan pukulan beracun ke arah kepala Tek Hoat.

Pemuda ini maklum akan datangnya bahaya besar. Pedangnya tak dapat digerakkan lagi karena telah tertangkap dan terbelit jala tipis, dan andaikata dia hanya mementingkan pedangnya, tentu dia akan terkena sambaran golok dan hantaman wanita itu.

Dia teringat akan Tenaga Sakti Inti Bumi yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin. Tiba-tiba dia melepaskan pedangnya, melempar diri ke bawah dan menelungkup, kemudian dengan pengerahan sin-kang sakti Inti Bumi, kedua kakinya menghantam ke atas seperti seekor jengkerik menendang. Tendangannya yang tak tersangka-sangka dan mengandung tenaga dahsyat itu memapaki golok.

“Dessss.... crakkk....!”

Hek-tiauw Lo-mo berteriak keras karena goloknya itu membalik sedemikian hebatnya sehingga dia tidak mampu mempertahankan lagi dan goloknya telah menghantam pundaknya sendiri sehingga tulang pundaknya retak dan bahunya terluka! Dengan kemarahan meluap, dia mengayun kakinya.

“Bukkk! Plakkk!”

Tek Hoat terkena tendangan pada perutnya dan terkena hantaman tangan kiri Mauw Siauw Mo-li pada punggungnya. Tubuhnya terlempar dan terbanting lalu bergulingan. Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali, matanya terbelalak marah dan tangan kirinya mengusap mulutnya yang berdarah.

Hek-tiauw Lo-mo menyumpah-nyumpah. Dia telah terluka, juga Mauw Siauw Mo-li telah terluka. Celakanya, anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang sudah terluka. Maka dia lalu bersuit nyaring dan meloncat pergi bersama sumoinya. Anak buahnya maklum bahwa pimpinan mereka juga terdesak, maka mereka lalu melarikan diri meninggalkan medan pertempuran sambil memapah teman-teman yang terluka.

Tek Hoat memandang dengan mata terbelalak, tidak dapat mengejar karena dia maklum bahwa dia sendiri pun terluka parah. Setelah melihat bahwa musuh-musuhnya lari pergi membawa pedang Cui-beng-kiam yang terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo, dia mengeluh, memejamkan matanya dan terguling pingsan di dekat kereta rombongan itu.

Tek Hoat, yang memang luka-lukanya akibat pertandingan melawan para pengawal lihai dari Pangeran Liong Khi Ong itu belum sembuh benar, kini mengalami pukulan dan tendangan yang hebat, tentu saja menjadi makin parah luka-luka di sebelah dalam tubuhnya.

Dia tidak tahu bahwa selama sehari semalam dia tidak sadar. Ketika dia akhirnya siuman kembali, dia merasa dirinya terguncang-guncang perlahan dan telinganya mendengar suara bergemuruh. Dia membuka matanya. Kiranya tubuhnya memang sedang terguncang-guncang di dalam bilik kereta yang berjalan perlahan, dan suara gemuruh itu adalah suara roda-roda kereta melindas jalan yang tidak rata.

Cuping hidungnya kembang-kempis karena dia mencium bau harum semerbak dan matanya mencari-cari. Kiranya di dalam bilik kecil kereta itu terdapat peralatan rias dari wanita di atas sebuah meja kecil. Sisir, cermin, bedak dan lain-lain. Dia bergerak hendak bangkit duduk dan mengeluh. Kiranya tubuhnya sakit-sakit semua, terutama di dada dan punggungnya. Dia melihat betapa luka-luka luar di lengan dan dahinya telah dibalut orang dan diobati.

Tek Hoat menjadi terheran-heran dan menduga-duga. Tak salah lagi, tentu dia ditolong oleh rombongan itu, karena dia juga melihat ada sebuah kereta besar dari rombongan yang diserbu oleh Hek-tiauw Lo-mo itu. Akan tetapi siapakah orang-orang ini dan kereta siapa ini yang penuh dengan peralatan rias seorang wanita?

Tiba-tiba kereta itu berhenti dan Tek Hoat menyingkap tirai di jendela kereta. Kiranya mereka berhenti di dalam hutan dan waktu itu adalah tengah hari. Dia mengira bahwa belum lama dia berada di situ, karena pertempuran itu terjadi di pagi hari. Baru setengah hari.

Seorang yang berjenggot dan berkumis pendek, yang dikenalnya sebagai seorang diantara para pemimpin yang mengeroyok Mauw Siauw Mo-li, datang menjenguk dan diikuti seorang anggauta rombongan yang membawa makanan untuk Tek Hoat.

“Aih, syukurlah bahwa engkau telah siuman kembali, orang muda yang perkasa! Hati kami sudah gelisah melihat kau pingsan selama sehari semalam.”

“Sehari semalam?” Tek Hoat berseru kaget. “Bukankah baru pagi tadi aku jatuh pingsan?”

“Bukan pagi tadi, melainkan kemarin pagi,” orang itu berkata sambil tersenyum dan memandang kagum. “Sungguh hebat engkau, dapat menandingi orang-orang iblis itu! Terpaksa kami membawamu ke dalam kereta karena engkau pingsan dan tentu saja kami tidak tega meninggalkan engkau di dalam hutan itu.”

“Ah, terima kasih....!” Tek Hoat mencoba untuk bangkit duduk lagi, akan tetapi dia menyeringai kesakitan.

“Tak usah duduk. Mengasolah dulu, orang muda.”

“Akan tetapi.... akan tetapi, siapakah kalian ini.?”

“Kami adalah pelancong-pelancong, rombongan pelancong.”

“Dan kemana kalian hendak pergi?”

“Engkau sendiri hendak kemana, orang muda? Kalau tidak satu tujuan dengan kami, biarlah kami mencarikan tempat di sebuah kota atau dusun untuk kau tinggal dan beristirahat. Jangan khawatir, kami akan meninggalkan biaya secukupnya sampai kau sembuh.”

“Terima kasih, kau baik sekali, Paman. Aku.... aku akan ke barat....”

“Ahhh! Kalau begitu kita setujuan. Kami pun serombongan sedang menuju ke barat. Kalau begitu, biarlah engkau mengaso di kereta itu dan kami akan berusaha mengobatimu.”

Tek Hoat merasa girang sekali dan amat berterima kasih. Karena dia belum kuat bangkit duduk, maka dia mengangkat kedua tangan ke dada sambil rebah telentang, lalu berkata,

“Engkau sungguh baik sekali, Paman dan banyak terima kasih atas pertolonganmu ini.”

Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
“Orang muda perkasa yang rendah hati! Jangan bicara tentang terima kasih dan pertolongan, karena kalau bukan engkau yang datang menolong, agaknya saat ini kami telah menjadi mayat-mayat yang diperebutkan binatang-binatang hutan! Mengasolah dan biar anak buahku ini melayanimu.”

Pemimpin rombongan itu lalu pergi dan kiranya mereka semua berhenti di hutan itu untuk makan siang.

Orang yang membawa bubur dan asinan itu lalu hendak menyuapkan makanan, akan tetapi Tek Hoat mengucapkan terima kasih dan makan sendiri sambil rebah miring. Dia merasa berhutang budi kepada mereka ini dan diam-diam dia harus mengakui bahwa di dunia kaum sesat kiranya tidak berlaku hukum tolong-menolong seperti ini.

Baru terbuka matanya bahwa manusia harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, bukan saling bermusuhan seperti di dunia kaum sesat. Betapa tenteramnya dunia ini kalau kehidupan manusia tidak dikotori oleh permusuhan dan kebencian!

Seorang diantara anggauta rombongan, seorang kakek, ternyata pandai dengan ilmu pengobatan dan setiap hari Tek Hoat diperiksa dan diberi obat minum yang pahit namun manjur juga karena dia merasa makin tenang dan makin ringan luka-lukanya di dalam tubuh. Tentu saja setelah dapat duduk dia pun bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya sendiri.

Setiap hari, bahkan setiap saat Tek Hoat tidak pernah dapat melupakan Syanti Dewi. Makin dikenang, makin sakitlah hatinya, karena dia makin melihat kenyataan bahwa dia sama sekali tidak berharga berdekatan dengan puteri itu. Jangankan menjadi.... kekasih seperti yang selalu mengganggu hatinya, bahkan menjadi sahabat pun tidak pantas, menjadi pelayannya pun tidak patut.

Pendeknya dia hanya akan mengotorkan puteri itu kalau berdekatan, karena hawa di sekitar dirinya adalah kotor, hina dan jahat! Teringat akan itu semua, dia mengeluh panjang pendek di dalam bilik itu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar