FB

FB

Ads

Rabu, 04 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 119

Syanti Dewi makin gelisah dan akhirnya dia turun dari pembaringan, membuka pintu samping dan berkata kepada pengawal yang berjaga di luar pintu bahwa dia ingin berjalan-jalan ke dalam taman bunga kecil di samping rumah penginapan itu. Pengawal itu mengangguk dan menjaga serta mengawasi dari jauh.

Taman itu menembus ke samping rumah dan depan rumah penginapan itu telah terjaga oleh lima orang temannya. Puteri itu selalu dalam pengawasan dan tidak akan ada sesuatu dapat menimpanya. Angin malam semilir lembut mengusap wajah Syanti Dewi, mengusir kegelisahannya yang tadi terselimut oleh kenangan yang mendatangkan rasa gelisah di hati. Kewaspadaan membuat dara ini dapat melihat dan mendengar dengan jelas keadaan di sekelilingnya dan telinganya menangkap suara tidak wajar yang arahnya datang dari depan. Dia lalu melangkah perlahan menuju ke depan sehingga akhirnya dia dapat menyelinap di belakang serumpun pohon kembang dan mengintai keluar.

Dia terheran-heran melihat lima orang pengawalnya itu semua berlutut di depan seorang nenek tua renta berpakaian hitam yang datang bersama lima orang wanita setengah tua yang sikapnya galak. Lebih lagi heran dan kagetnya ketika dia melihat berturut-turut semua pengawalnya yang keseluruhannya berjumlah dua losin orang itu berdatangan dan terdengar nenek itu berkata, suaranya agak pelo karena mulutnya sudah tidak bergigi lagi, nadanya tinggi dan mendesis setengah berbisik, akan tetapi terdengar jelas memasuki telinga bahkan sampai menyusup ke dalam jantung.

“Aku adalah permaisuri, kalian para pengawal tidak cepat berlutut memberi hormat? Aku adalah Thaihouw yang sengaja datang untuk memeriksa apakah kalian benar-benar baik dalam pengawalanmu terhadap Puteri Bhutan.” Nenek berkulit hitam berpakaian hitam itu berkata.

Syanti Dewi sendiri belum pernah bertemu atau melihat permaisuri Kaisar, karena ketika dia dihadapkan Kaisar, dia sama sekali sebagai seorang puteri bangsawan yang tahu akan tata susila tidak berani mengangkat muka dan meliarkan pandang mata, maka sekarang pun dia tidak akan mengenal permaisuri. Akan tetapi, betapapun juga, sampai mati dia tidak akan mau percaya bahwa nenek tua renta yang berwajah bengis menyeramkan, yang berpakaian hitam berkulit hitam dan lebih menyerupai iblis betina daripada manusia ini adalah permaisuri Kaisar dengan lima orang pengawalnya! Akan tetapi, yang membuat dia terheran-heran adalah ketika dia melihat Can Siok, komandan pasukan pengawalnya yang baru datang berlari keluar, menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu dan berseru hormat,

“Thaihouw....!” Juga semua pengawal kini telah berlutut di depan nenek itu!

Syanti Dewi mengerutkan alisnya. Dia adalah seorang puteri Bhutan. Kerajaan Bhutan adalah sebuah kerajaan di antara Pegunungan Himalaya dan di sana banyak terdapat pertapa-pertapa dan ahli-ahli ilmu kebatinan termasuk ahli-ahli sihir. Maka puteri ini tidak asing dengan segala peristiwa yang tidak wajar dan berbau ilmu sihir. Begitu dia menyaksikan keadaan di depan rumah penginapan itu, di mana dua losin orang pengawalnya berlutut di depan seorang nenek hitam dan menganggap nenek itu permaisuri, dia sudah dapat menduga bahwa tentu ada permainan sihir di sini.

“Heh-heh-heh, bagus sekali para pengawal yang setia!” Nenek hitam itu terdengar berkata, suaranya berbisik mendesis seperti suara ular. “Sekarang lekas kauambil Puteri Bhutan itu, Kaisar menghendaki agar dia ikut dengan aku sekarang juga.”




Begitu mendengar kata-kata ini, Syanti Dewi terkejut sekali dan maklumlah dia bahwa nenek iblis itu sengaja datang hendak menangkapnya secara halus, menggunakan ilmu sihir. Maka dia cepat pergi meninggalkan tempat persembunyiannya itu, menyelinap di antara pohon-pohon dan kembang di dalam taman, lalu dengan jantung berdebar dia menggunakan kepandaiannya untuk meloncati pagar taman yang tidak begitu tinggi, kemudian dia lari menyelinap di antara rumah-rumah penghuni dusun itu. Karena tidak mengenal jalan, dia tidak berani lari di tempat terbuka, dan dia hanya bersembunyi di balik-balik rumah, dan berpindah ke tempat lain kalau mendengar suara orang-orang mencarinya di tempat yang berdekatan.

Di sudut dusun itu, Syanti Dewi melihat sebuah rumah rusak yang kosong, maka dimasukinya rumah kosong ini dan dia bersembunyi di situ, mengintai dari balik pintu rumah yang terbuka karena daun pintunya tinggal sebelah. Jantungnya berdebar dan kakinya menggigil. Dia tidak lagi berani keluar dari rumah rusak itu karena takut terlihat orang dan tertangkap.

Pagi cepat datang dan sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam. Syanti Dewi masih berdiri mengintai di balik daun pintu yang tinggal sebelah. Dusun itu masih sunyi dan Syanti Dewi ingin minta tolong penduduk dusun kalau dia melihat mereka keluar. Di antara orang banyak, tentu nenek iblis itu tidak berani berlagak, pikirnya. Akan tetapi tiba-tiba dia menahan napas melihat munculnya seorang wanita, yaitu seorang di antara lima wanita pengawal nenek itu malam tadi, dan wanita ini datang menuju ke rumah rusak itu diikuti oleh lima orang pengawalnya sendiri yang kini agaknya sudah menjadi kaki tangan mereka!

Syanti Dewi maklum bahwa para perajurit pengawalnya itu berada di bawah pengaruh sihir nenek itu, maka dari mereka jelas dia tidak dapat mengharapkan perlindungan lagi.
Mereka datang makin dekat, hanya tinggal belasan meter saja dari rumah rusak itu. Untuk melarikan diri tidak mungkin karena sekali keluar dari rumah itu tentu akan terlihat oleh mereka dan lari pun tentu percuma, akan dapat dikejar. Maka Syanti Dewi hanya bersembunyi dan mengintai dengan menahan napas, diam-diam berdoa agar mereka itu tidak akan memasuki rumah rusak.

“Haaaaa, kau hendak lari ke mana....?”

Suara lirih dan parau di belakangnya ini membuat Sang Puteri terkejut setengah mati. Dia menengok dan melihat seorang kakek tua berkepala botak, tersenyum dan matanya memandang seperti mata seorang anak nakal yang suka menggoda, kedua lengan dibentangkan dengan sikap hendak menangkap Syanti Dewi!

Syanti Dewi terkejut dan menjadi bingung, akan tetapi tiba-tiba kakek itu yang melihat kebingungannya, menurunkan kedua lengannya dan bertanya halus,

“Eh, Nona. Mengapa pagi-pagi sekali engkau berada di sini seorang diri dan kelihatan ketakutan? Apakah kau hendak minggat dari rumahmu bersama seorang pacar?”

Syanti Dewi maklum bahwa ternyata kakek ini tidak ada hubungannya dengan para pengejarnya, dan sepanjang perantauannya dia telah agak mengenal orang-orang pandai, maka dia pun menduga bahwa kakek ini tentu bukan orang sembarangan, maka cepat dia menjura dan berkata,

“Kakek yang baik, aku mohon padamu, tolonglah aku.... aku sedang dikejar dan hendak ditangkap oleh mereka itu....” Dia menuding ke arah luar rumah rusak itu.

Akan tetapi terlambat sudah. Wanita yang bukan lain adalah seorang di antara Loan-ngo Mo-li itu telah mendengar suara Si Kakek dan dengan langkah lebar diikuti oleh lima orang perajurit pengawal dia telah menghampiri rumah rusak itu dan tiba-tiba saja dia muncul di depan Syanti Dewi dan kakek itu.

Wanita yang memakai anting-anting emas besar di kedua telinganya dan lima orang perajurit pengawal itu kelihatan girang sekali melihat Syanti Dewi. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu tertawa dan mengandung getaran kuat sekali,

“Ha-ha-ha, kalian bengong memandang kami kakek dan nenek mau apa sih? Berani kalian mengganggu Nenek Durganini yang sedang indehoi dengan kekasihnya? Heh-heh!”

Betapa anehnya! Wanita Loan-ngo Mo-li yang bertampang kejam itu dan lima orang perajurit pengawal yang telah terpengaruh sihir dari nenek hitam guru Tambolon itu kini memandang bengong, dan wanita itu lalu menjura kepada Syanti Dewi sambil berkata,

“Harap Locianpwe maafkan, saya kira tadi puteri yang sedang kita cari-cari....”

Syanti Dewi tentu saja juga bengong dan bingung, akan tetapi lengannya sudah digandeng oleh kakek itu pergi meninggalkan rumah rusak, jalan bergandengan tangan diikuti pandang mata wanita itu yang masih terkejut dan heran. Akan tetapi, bukan main kaget dan heran hatinya ketika melihat mengapa “nenek hitam” itu tadi dari belakang kelihatan ramping dan muda, tidak terbongkok-bongkok melainkan jalan berlenggang dengan bukit pinggul seorang dara muda yang bulat dan penuh! Dia menggoyang dan mengguncang kepalanya, memejamkan mata sebentar kemudian membuka mata memandang lagi. Kiranya “nenek” itu adalah puteri yang dicari-carinya.

“Kejar....! Tangkap mereka!”

Dia berteriak dan lima orang perajurit pengawal yang kini berubah menjadi seperti manusia-manusia robot yang tidak mempunyai pendirian sendiri karena telah dipengaruhi sihir Nenek Durganini itu cepat mengejar Syanti Dewi dan kakek tua, tombak mereka ditodongkan ke depan siap untuk menyerang.

Mendengar teriakan ini yang disusul derap kaki mengejar mereka, Syanti Dewi menjadi khawatir sekali.

“Kek, mereka mengejar....!” bisiknya.

Kakek itu terkekeh, kemudian secara tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan tubuhnya, telunjuk kirinya menuding ke arah lima orang perajurit pengawal itu sambil mulutnya berkata,

“Heeeiii! Kalian mengapa main-main dengan ular? Lihat, kalian bisa digigit sendiri oleh ular di tangan kalian!”

Syanti Dewi tentu saja menjadi heran sekali, mengira bahwa kakek yang aneh ini mungkln sudah miring otaknya. Dikejar musuh yang mengancam bukannya lari atau melawan malah berolok-olok seperti itu. Akan tetapi Syanti Dewi terbelalak kaget bukan main ketika dia melihat betapa lima orang perajurit pengawal yang kini telah menjadi hamba atau kaki tangan nenek hitam mengerikan itu memekik ketakutan dan tombak di tangan mereka itu telah berubah menjadi ular-ular besar yang kini membalikkan kepala mendesis-desis hendak menyerang mereka sendiri.

Syanti Dewi mengejap-ngejapkan matanya karena tidak percaya, akan tetapi benar saja, tombak-tombak di tangan lima orang itu telah berubah menjadi ular-ular yang menyerang mereka sendiri. Lima orang itu terbelalak dengan muka pucat, kemudian tentu saja mereka lalu membuang “ular-ular” itu dan lari ketakutan! Mereka adalah perajurit-perajurit pengawal pilihan, anak buah Jenderal Kao dan merupakan perajurit yang pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimana kuat pun. Akan tetapi melihat tombak sendiri berubah menjadi ular-ular besar panjang yang menyerang mereka sendiri, hal ini terlalu hebat bagi mereka dan mendatangkan rasa takut yang hebat.

“Ha-ha-ha-ha!”

Kakek itu tertawa dan Syanti Dewi terpukau di tempatnya melihat betapa “ular-ular” itu setelah dibuang ke atas tanah dan ditinggalkan para perajurit, telah kembali kepada bentuk semula, yaitu lima batang tombak. Bukan main kagum dan girang rasa hatinya karena kini dia maklum bahwa dia telah ditolong oleh seorang kakek ahli sihir pula. Sungguh mengherankan sekali, pikirnya. Dia akan diculik oleh seorang nenek ahli sihir dan ditolong oleh seorang kakek ahli sihir!

“Kakek yang baik, aku akan kaubawa ke mana?” tanya Syanti Dewi setelah melihat betapa para pengejar itu tidak tampak lagi di belakang mereka dan kakek itu telah membawanya keluar dari dusun itu.

“Ke tempat yang aman, di hutan depan itu. Di sana menanti seorang muridku, mari kau kuperkenalkan dengan dia,” kata Si Kakek yang bukan lain adalah See-thian Hoat-su itu.

Kakek ini pernah mengacau di dalam pesta yang diadakan Tambolon ketika Tambolon memaksa Siang Hwa untuk menikah dengan dia. Seperti telah diceritakan secara singkat, tokoh perantauan yang aneh ini adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi dan mahir pula dengan ilmu sihir dan dia adalah bekas suami dari Nenek Durganini. Seperti telah kita ketahui, See-thian Hoat-su ini bersama Panglima Jayin perwira pengawal Bhutan itu bersama empat orang anak buahnya, Kian Bu, Siang Hwa dan Siang In melarikan diri dikejar oleh Pasukan Tambolon dan dikeroyok di atas rakit sampai rakit itu terbawa hanyut oleh sungai yang mengamuk dalam badai.

Jenazah Siang Hwa yang menjadi korban hujan anak panah tidak dapat diselamatkan dan dibawa hanyut oleh air, akan tetapi kakek ini berhasil menyelamatkan Siang In ke darat. Karena kasihan melihat dara yang yatim piatu dan kini bahkan kehilangan enclnya itu, juga karena melihat Siang In memiliki tulang yang kuat dan darah yang bersih serta memiliki bakat, kakek itu lalu mengangkat Siang In menjadi muridnya.

Biarpun sudah bercerai dari isterinya, yaitu Nenek Durganini, namun sesungguhnya Kakek See-thian Hoat-su masih mencinta isterinya atau bekas isterinya itu. Maka ketika dia mendengar bahwa isterinya datang dari barat untuk membantu dan dapat dikatakan diperalat oleh muridnya yang jahat, yaitu Tambolon, See-thian Hoat-su menjadi tak senang hati dan dia pun lalu membayangi bekas isterinya itu untuk mencegah isterinya terseret dalam kejahatan.

Inilah sebabnya mengapa kakek itu muncul di dalam perayaan pesta pernikahan Tambolon dan mengacau sehingga pernikahan paksaan itu gagal. Kini, mendengar bahwa Tambolon dan bekas isterinya itu pergi ke kota raja, diam-diam dia pun mengajak murid barunya, Teng Siang In untuk membayangi. Melihat betapa isterinya menggunakan ilmu sihir menculik Syanti Dewi, dia segera turun tangan menolong gadis itu dan hal ini dilakukannya bukan sekali-kali karena dia suka mencampuri urusan orang lain melainkan semata-mata karena dia hendak mencegah isterinya terseret oleh muridnya melakukan perbuatan jahat. Demikian pula halnya ketika dia mengacau di dalam pesta Tambolon. Hanya karena mengingat kepada isterinya sajalah maka kakek ini mau campur tangan karena biasanya dia sudah tidak sudi lagi mencampuri urusan dunia yang hanya mendatangkan pertentangan dan permusuhan.

See-thian Hoat-su yang melarikan Syanti Dewi itu telah tiba di dalam hutan kecil itu dan langsung dia menghampiri sebuah kuil rusak yang kosong dan sisa dindingnya sudah penuh dengan lumut hijau.

“Siang In...., muridku yang baik, kau lekas keluarlah....!” Kakek itu berteriak dengan suara gembira.

Terdengar suara orang menjawab dari dalam kuil tua dan Syanti Dewi ingin sekali melihat macam apa orangnya yang menjadi murid kakek aneh ini. Kemudian dari dalam kuil itu tampak sesosok bayangan orang melangkah keluar dan Syanti Dewi terbelalak melihat bahwa orang ini bukan lain adalah nenek hitam berpakaian hitam yang telah menyihir para pengawalnya malam tadi!

See-thian Hoat-su juga terkejut sekali, akan tetapi kakek ini terkekeh dan berkata,
“Isteriku yang baik, engkau sudah menyusulku ke sini? Mana muridku?”

“Siapa isterimu? Siapa muridmu?”

“Engkau isteriku.... yang baik, yang tercinta, yang....”

“Cukup! Kita sudah bercerai dan aku sudah nenek-nenek, engkau sudah kakek-kakek, tidak ada gunanya merayuku lagi.”

“Ahhhh, galak amat....! Durganini, di mana muridku?”

Kakek itu bertanya dengan alis berkerut, agak khawatir juga sungguhpun dia tahu bahwa isterinya ini tidak akan mengganggu orang begitu saja.

“Muridmu siapa?”

“Ah, jangan main-main. Tentu saja Teng Sian In....”

“Dia? Huh, engkau lancang mulut, enak saja mengaku murid. Dia muridku, tahu?”

“Hah....?”

Kakek itu melongo dan cepat dia menguasai keheranannya, ingat bahwa sekali dia terheran, akan mudah untuk jatuh di bawah pengaruh sihir isterinya yang dalam hal ini lebih kuat daripada dia itu.

“Apa maksudmu?”

“Maksudku? Kaulihat dan dengar sendiri! Siang In....! Muridku yang baik, kau keluarlah!”

“Baik, Subo!”

Terdengar jawaban nyaring dan tak lama kemudian muncullah seorang dara remaja cantik manis yang memandang kepada kakek itu dengan senyum lebar dan kemudian memandang kepada Syanti Dewi dengan sinar mata penuh keheranan.

“Eh, Enci ini siapakah? Begini cantik jelita seperti bidadari....!”

Begitu melihat Siang In, Syanti Dewi sudah merasa senang sekali. Akan tetapi hatinya terlampau gelisah melihat nenek itu sehingga dia diam saja memperhatikan kedua orang tua itu. Tak disangkanya bahwa kakek yang menolongnya ini malah suami dari nenek itu, atau setidaknya bekas suami!

Sementara itu, See-thian Hoat-su yang tadinya menyangka bahwa tentu muridnya telah terjatuh ke dalam kekuasaan sihir isterinya, begitu melihat muridnya, menjadi makin terheran-heran karena ternyata benar olehnya bahwa muridnya itu sama sekali tidak di bawah pengaruh sihir!

“Siang In, apa maksudmu? Mengapa engkau mengangkat guru kepadanya?”

“Kepada siapa, Suhu? Maksudmu kepada Subo ini?”

“Ya. Kenapa? Bukankah engkau sudah menjadi muridku?” kakek itu menuntut.

“Karena aku menjadi murid Suhu, maka aku adalah muridnya juga, bukan? Engkau adalah suhuku (Bapak Guru) dan dia adalah suboku (Ibu Guru). Aku sudah mendengar bahwa Suhu telah meninggalkan Subo. Jahat sekali itu!”

“Ihh, anak kecil kau tahu apa? Hayo kau ikut aku pergi.”

“Tidak, Suhu. Aku mau ikut pergi dengan Suhu kalau bersama subo. Kalau tidak, biar aku ikut Subo saja, sama-sama perempuan.”

“Wah, apa-apaan ini?” Kakek itu menggaruk kepalanya. “Celaka sial dangkalan! Kenapa aku mengambil murid seorang perempuan? Sekarang aku dikeroyok!”

“Bagaimana, Suhu? Kalau Suhu mau berbaik kembali dengan Subo, aku mau ikut Suhu, kalau tidak, biar aku ikut dengan Subo.”

Kakek itu membanting-banting kakinya.
“Cari penyakit! Dahulu, hanya dengan seorang perempuan di sampingku, hidup sudah banyak repot, sekarang malah ada dua ekor! Cari penyakit!”

“See-thian Hoat-su, banyak lagak engkau!” Durganini menudingkan tongkatnya. “Kalau begitu, pergilah tinggalkan kami, jangan sampai bangkit marahku dan kukutuk engkau menjadi monyet nanti!”

“Sudahlah!” Kakek itu menghela napas panjang. “Dasar nasibku, tua-tua cari perkara. Aku mau menurut, kita bersama lagi, akan tetapi hanya dengan satu syarat yaitu kalian harus meninggalkan Tambolon dan ikut dengan aku ke tempat sunyi. Jangan membikin dunia yang sudah kacau menjadi makin kacau lagi. Bagaimana?”

“Setuju!” Siang In bersorak. “Selamanya aku memang hidup di tempat sunyi, dahulu dengan enciku, sekarang dengan Suhu dan Subo, tentu lebih ramai.”

“Bagaimana, Durganini?” Kakek itu menuntut.

Aneh! Nenek itu menundukkan muka seperti seorang gadis diajak kawin, kemalu-maluan dan hanya terkekeh dan mengangguk-angguk! Kakek itu tertawa bergelak lalu menggandeng tangan Durganini di sebelah kanan dan tangan muridnya di sebelah kiri.

“Kalau begitu, hayo kita pergi, tunggu apa lagi?”

“Eh, nanti dulu.... Enci, mari kau ikut bersama kami saja....!”

Siang In berseru sambil menoleh kepada Syanti Dewi. Akan tetapi Syanti Dewi yang merasa ngeri menyaksikan adegan aneh itu dan seolah-olah menghadapi orang-orang gila, tentu saja tidak mau dan menggeleng kepala. Dan tiba-tiba dia melihat asap hitam mengepul yang menelan tiga orang itu lenyap dari pandangan matanya. Dia tertegun dan kagum bukan main. Kiranya banyak benar orang-orang pandai di dunia ini.

Akan tetapi setelah kakek itu pergi, dia teringat akan keadaan dirinya dan timbullah kekhawatirannya. Biarpun nenek itu sudah tidak ada lagi, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana jadinya dengan dua losin orang pengawal itu, apakah masih di bawah pengaruh sihir nenek itu sehingga bahkan berbalik hendak menangkapnya. Teringat ini, dia mengambil keputusan untuk pergi sendiri saja melanjutkan perjalanannya ke barat.

**** 119 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar