FB

FB

Ads

Selasa, 03 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 109

“Paman, engkau agaknya selalu menaruh iba kepadaku dan selalu membela dan melindungiku, akan tetapi kulihat hidupmu sendiri merana, bahkan demikian tersiksa batinmu sampai-sampai engkau selalu menyembunyikan diri di belakang topeng setan ini. Kenapa begitu? Engkau menaruh kasihan kepadaku akan tetapi melupakan kesengsaraanmu sendiri. Apa yang menyebabkannya? Kalau hal ini belum kaujelaskan, hatiku selalu akan diganggu oleh keraguan dan keheranan, Paman.”

Topeng Setan menghela napas, kemudian dengan suara terpaksa dia menjawab juga,
“Engkau.... mengingatkan kepadaku akan seorang wanita....”

“Ya....? Lanjutkanlah, Paman. Siapakah wanita itu dan di mana dia sekarang?”

“Dia.... dia telah mati....”

“Ouhhh....? Maafkan, Paman....”

“Dia mati.... karena aku yang membunuhnya....”

“Aihhh....!”

Ceng Ceng terbelalak dan melihat Topeng Setan kini berdiri membelakanginya dengan kedua pundak yang lebar itu berguncang, tahulah dia bahwa orang tua itu menahan tangisnya dan amat menyesali perbuatannya. Dengan hati terharu dia menghampiri dan memegang tangan orang tua itu.

“Paman, sukar dipercaya bahwa engkau telah membunuhnya.... padahal.... agaknya engkau mencinta wanita itu, bukan?”

Topeng Setan menahan napas menenangkan batinnya, dia mengangguk.
“Aku telah gila.... aku melakukan dosa besar dan karena itu.... tiada jalan lain bagiku kecuali menebus dosaku itu dengan jalan menjaga dan melindungimu, Ceng Ceng....”

“Aihh, Paman Topeng Setan. Orang seperti engkau ini tidak mungkin melakukan perbuatan jahat. Kalau bibi itu, wanita itu.... sampai mati olehmu, tentu dia yang bersalah.... dan jahatlah dia kalau bibi itu tidak dapat membalas cinta kasih seorang mulia seperti Paman....”




“Cukup....! Dia baik dan suci seperti dewi.... akulah yang jahat....”

Melihat keadaan Topeng Setan amat menderita tekanan batin, Ceng Ceng lalu menghibur dan mengalihkan percakapan.

“Sudahlah, Paman. Tidak perlu kita membicarakan soal-soal yang lalu. Yang jelas, Paman adalah seorang yang paling mulia bagiku....”

“Tapi engkau hidup merana, Ceng Ceng. Engkau diracuni oleh dendam yang tak kunjung habis....”

“Ah, urusan kecil! Sekarang, yang penting seperti kata Paman dulu, aku harus berobat sampai sembuh, kemudian aku akan tekun belajar ilmu dari Paman, kemudian setelah kepandaianku menjadi tinggi, apa sukarnya untuk mencari keparat itu? Sekarang, jangan dia mengganggu perjalanan kita ke Telaga Sungari. Nah, biar belum dapat membunuh orangnya, biar kubunuh dulu gambarnya!” Ceng Ceng lalu merobek-robek gulungan gambar dari Kok Cu, musuh besarnya itu. “Mari kita melanjutkan perjalanan ke Sungari mencari obat anak naga itu, Paman.”

Berangkatlah kedua orang itu dengan cepat karena kini tidak lagi mereka berhenti untuk menyelidiki musuh besar Ceng Ceng.

**** 109 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar