FB

FB


Ads

Selasa, 03 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 107

Mereka duduk di bawah pohon besar di tepi jalan. Matahari amat teriknya sehingga bumi seperti terengah-engah kehausan. Musim panas agaknya dimulai dengan kemarahan matahari yang sudah terlalu sering diganggu mendung dan hujan.

Sepasang mata di wajah yang buruk itu menatap wajah cantik yang bersandar pada batang pohon dan kedua matanya terpejam itu. Wajah cantik itu bersinar kehijauan, warna yang tidak wajar sungguhpun tidak merusak atau mengurangi kecantikan wajah yang manis itu.

Ceng Ceng yang bersandar pada batang pohon memejamkan matanya, mengenangkan kembali semua pengalamannya, teringat dia akan Kian Lee, pemuda gagah tampan yang cinta kepadanya akan tetapi ternyata adalah pamannya sendiri itu! Membayangkan wajah gagah berwibawa dari Gak Bun Beng, supeknya yang selama ini dianggapnya sebagai ayah kandungnya yang sudah mati. Betapa anehnya lika-liku jalan hidupnya, aneh dan penuh dengan kekecewaan karena peristiwa yang tak tersangka-sangka olehnya.

Betapa semenjak meninggalkan Bhutan, dia bertemu dan berhubungan dengan orang-orang besar dan pandai. Dimulai dengan pengangkatan saudara oleh Puteri Syanti Dewi, disusul peristiwa hebat yang membuat kakeknya gugur dan membuat dia mulai memasuki hidup baru, hidup perantauan dan petualangan yang penuh kegetiran hidup.

Pertemuannya dengan Ang Tek Hoat, dengan Jenderal Kao, dengan Ban-tok Mo-li, sampai dengan Hek-hwa Lo-kwi Ketua Lembah Bunga Hitam, dengan Hek-tiauw Lo-mo, kemudian malapetaka yang menimpa dirinya, yang menghancurkan semua keindahan hidupnya, pemerkosaan atas dirinya!

Semua itu agaknya masih belum habis sehingga dia terlibat dalam pemberontakan, berhasil membantu demi kehancuran pemberontakan, dan bertemu dengan rahasia kehidupan mendiang ibunya! Dan sekarang, dia menderita luka parah yang agaknya tidak ada lagi obatnya.

Nyawanya hanya tinggal paling lama satu bulan lagi saja. Satu bulan! Hanya tiga puluh hari lagi, bahkan menurut Yok-kwi, mungkin dalam belasan hari saja dia akan mati! Dan musuh besarnya, pemerkosanya, belum juga dapat ditemukannya! Ah, mengapa nasibnya begini buruk?

Ayahnya...., ah, ibunya pun diperkosa orang, dan dia adalah anak yang lahir dari hasil perkosaan! Mengapa mesti disesalkan? Dia seorang yang tidak berharga, dan tinggal sebulan lagi! Mengapa hidup yang tinggal singkat itu harus diisi dengan kedukaan? Tidak, dia harus bergembira! Dia dahulu selalu gembira, sebelum bertemu dengan Syanti Dewi. Sekarang, hidup tinggal sebulan, bahkan mungkin hanya beberapa hari lagi saja, dia harus bergembira.

“Hemm, sebulan lagi....!” Dia berkata sambil membuka matanya.

Begitu membuka matanya, tampaklah Topeng Setan yang duduk tak jauh di depannya, memandang kepadanya dengan sinar mata penuh perasaan iba dan kekhawatiran. Baru Ceng Ceng teringat bahwa dia tidak sendirian, bahwa di situ masih ada Topeng Setan yang menjadi satu-satunya sahabatnya di dunia ini. Manusia aneh yang berkali-kali telah menolongnya, yang amat setia kepadanya.

“Lu-bengcu, mengapa kau kelihatan berduka sekali?”

Topeng Setan bertanya, suaranya mengandung getaran aneh, seperti orang yang amat terharu, sungguhpun wajah yang kasar dan buruk itu tidak membayangkan apa-apa.

Ceng Ceng menarik napas panjang, menatap wajah buruk itu penuh perhatian sehingga beberapa lamanya mereka saling beradu pandang mata dan akhirnya Topeng Setan menundukkan mukanya, seolah-olah tidak kuat menatap pandang mata itu.

“Kenapa engkau tidak mau menanggalkan topengmu dan memperkenalkan wajahmu kepadaku?” Tiba-tiba Ceng Ceng bertanya dan Topeng Setan cepat menggeleng kepalanya.

“Harap bengcu tidak memaksaku, kita telah berjanji....”

Ceng Ceng menghela napas.
“Aku tidak ingin melanggar janji, hanya karena engkau satu-satunya sahahatku yang baik dan karena aku ingin tahu apakah engkau ini seorang kakek tua renta, seorang setengah tua atau seorang muda sehingga memudahkan aku untuk memanggilmu....”

“Mengapa? Bengcu sudah biasa memanggilku Topeng Setan dan aku sudah merasa senang dengan panggilan itu....”

“Tidak pantas! Sungguh tidak pantas. Engkau adalah penolongku, sudah berulang kali membantu dan menyelamatkan aku. Apakah engkau seorang kakek-kakek ataukah seorang muda? Kepandaianmu demikian tingginya sehingga sepantasnya engkau sudah sangat tua, akan tetapi....”

“Aku memang sudah tua, Bengcu....”

“Kalau begitu, biarlah kusebut engkau Paman....”

“Terserah kepada Bengcu.”

“Dan harap Paman tidak menyebutku bengcu (ketua), karena sekarang aku tidak mau menjadi kepala dari para perampok dan maling itu. Apalagi dengan sebutan Lu-bengcu karena aku bukan she Lu.”

“Eh....?” Topeng Setan berseru heran.

“Aku bukan she Lu, aku she Wan.... ah, aku sendiri baru tahu. Namaku Wan Ceng, nama terkutuk....”

Topeng Setan kelihatan kaget dan gelisah.
“Bengcu...., mengapa.... mengapa begitu? Apa yang terjadi?”

“Paman, maaf, aku tidak dapat menceritakan kepadamu. Dan karena aku sudah menyebutmu paman, maka kau anggaplah aku keponakanmu sendiri dan kau menyebut namaku yang biasa dipanggil Ceng Ceng. Tentu saja kalau kau sudi....”






“Tentu saja! Dan kuharap kau jangan memikirkan yang bukan-bukan sehingga hatimu menjadi tertindih, Ceng Ceng. Apalagi dengan luka yang kau derita sekarang, sama sekali kau tidak boleh diganggu pikiran yang menimbulkan duka.”

Ceng Ceng tersenyum.
“Memang aku harus begembira, Paman. Paling lama hidupku tinggal sebulan lagi, perlu apa aku berduka?”

“Tidak! Demi Tuhan, tidak, Ceng Ceng. Engkau memang menderita pukulan beracun, akan tetapi kau tidak mati....”

“Terima kasih, Paman. Kata-katamu menghibur sekali, akan tetapi tidak perlu kau memberi harapan kosong. Yok-kwi adalah seorang ahli yang pandai dan dia mengatakan bahwa aku tidak akan dapat bertahan lebih dari satu bulan, kecuali kalau bertemu dengan manusia-manusia dewa yang pandai seperti Pendekar Super Sakti ayah dari.... Paman.... eh, dari Suma Kian Lee, atau dengan Si Dewa Bongkok atau.... Ban-tok Mo-li guruku sendiri yang telah mati....”

“Ahhh....! Jadi engkau murid Ban-tok Mo-li?”

“Benar, dan hal itulah yang membuat Yok-kwi tidak dapat menolongku. Pukulan-pukulan yang kuderita dari Hek-tiauw Lo-mo adalah pukulan beracun yang amat dahsyat akan tetapi itupun masih dapat disembuhkan oleh Yok-kwi, kalau saja di dalam tubuhku tidak penuh dengan racun yang timbul karena latihan-latihan pukulan beracun yang kuterima dari mendiang Subo Ban-tok Mo-li. Karena tubuhku mengandung hawa beracun, maka pukulan Hek-tiauw Lo-mo bergabung dengan racun di tubuhku sendiri, maka aku tidak dapat tertolong lagi....”

“Cukup, Ceng Ceng. Jangan kau khawatir karena ada orang yang akan mampu menolongmu dan menyembuhkanmu.”

“Siapa.?”

“Aku sendiri!”

“Aihh.... Paman.... engkau yang telah menolongku berkali-kali.... katakanlah sejujurnya, apakah benar engkau dapat menyembuhkan aku?”

Ceng Ceng berteriak sambil meloncat berdiri dengan mata terbelalak dan wajahnya yang bersinar kehijauan itu membayangkan harapan besar, kedua matanya menjadi basah karena hatinya tergoncang penuh ketegangan.

Topeng Setan mengangguk.
“Duduklah, Ceng Ceng dan tenangkan hatimu. Kebetulan sekali bahwa aku pun pernah mempelajari tentang racun-racun yang terkandung dalam pukulan Hek-tiauw Lo-mo. Coba perkenankan aku memeriksa pundakmu yang terpukul oleh iblis tua itu.”

Dengan penuh gairah Ceng Ceng lalu duduk di dekat Topeng Setan, membuka bajunya dan membiarkan pundaknya yang kanan telanjang. Dia tidak melihat betapa Topeng Setan memejamkan matanya sebentar sambil menahan napas ketika melihat dia membuka baju dan melihat pundak yang berkulit putih halus itu. Kemudian orang aneh itu membuka matanya kembali dan berkata,

“Maafkan aku harus meraba pundakmu untuk memeriksa, Ceng Ceng.”

“Aih, Paman Topeng Setan mengapa begitu sungkan? Aku sudah menganggap engkau sebagai pamanku sendiri.”

Topeng Setan lalu meraba pundak yang menjadi hijau kehitaman itu. Beberapa lamanya dia meraba-raba pundak dan punggung, menekan sana-sini dan tiba-tiba dia mengeluarkan seruan kaget.

“Bagaimana Paman?”

“Ah, Yok-kwi itu memang pintar sekali....”

Ceng Ceng terkejut.
“Kalau begitu.... benarkah bahwa aku.... aku akan mati dalam waktu sebulan?”

Topeng Setan menjawab cepat.
“Tidak! Memang demikian kalau tidak ada yang mengobati, akan tetapi aku akan menyembuhkanmu, Ceng Ceng. Demi Tuhan, aku akan menyembuhkanmu, apa pun yang akan terjadi!”

Ceng Ceng merasa heran dan terharu menangkap nada suara yang aneh dan tergetar di dalam kata-kata Topeng Setan.

“Dan memang benar sekali ketika mengatakan bahwa racun pukulan Hek-tiauw Lo-mo bercampur dengan racun di tubuhmu yang timbul karena latihan-latihanmu menurut pelajaran Ban-tok Mo-li. Akan tetapi aku mengenal pukulan Hek-tiauw Lo-mo ini dan aku dapat menyembuhkan. Hanya hawa beracun di tubuhmu yang kini telah membalik dan menyerang dirimu sendiri.... biarpun setelah akibat pukulan Hek-tiauw Lo-mo lenyap engkau tidak akan mati karenanya, akan tetapi hawa beracun itu akan membuatmu menderita dan kiranya hanya ada satu macam obat yang akan dapat membersihkan tubuhmu sama sekali dari cengkeraman hawa beracun itu.”

“Dan obat itu tak mungkin didapatkan....?”

Ceng Ceng bertanya, siap menghadapi hal yang paling buruk sekalipun karena sekarang Topeng Setan sudah menyatakan sanggup melenyapkan ancaman maut dari tubuhnya.

“Sukar sekali didapatkan, akan tetapi akan kucoba juga. Obat itu merupakan seekor anak naga yang berada di Telaga Sungari, yang muncul sepuluh tahun sekali. Itu pun kalau kebetulan telurnya menetas. Sudahlah, hal itu kita bicarakan lagi nanti kalau luka pukulan Hek-tiauw Lo-mo sudah sembuh. Akan tetapi kita harus mencari tempat sunyi untuk pengobatan ini agar jangan terganggu orang lain.”

Mereka lalu memasuki sebuah hutan lebat dan akhirnya mereka berdua tiba di tempat yang sunyi dan tersembunyi, di balik sekumpulan batu-batu besar yang tertutup semak-semak belukar. Topeng Setan minta agar Ceng Ceng membuka baju di punggungnya, menyuruh dia duduk bersila, kemudian dia sendiri lalu duduk bersila dan bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dan memusatkan panca indra.

“Kau lumpuhkan semua tenaga di dalam tubuhmu, dan apa pun yang kulakukan kepadamu, jangan kau lawan dan jangan kaget kalau nanti engkau muntah darah,”

Terdengar suara Topeng Setan berbisik dan Ceng Ceng mengangguk, membiarkan dirinya “terbuka” dan melemaskan seluruh urat menyimpan semua hawa tenaga di dalam tubuhnya.

Dalam keadaan seperti itu, pukulan seorang biasa saja sudah cukup untuk membunuhnya! Akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan pengalamannya ketika Kian Lee mencoba untuk mengobatinya, maka dia berkata,

“Nanti dulu, Paman. Apakah pengobatan ini tidak berbahaya bagimu? Paman.... Suma Kian Lee pernah mencoba untuk mengobatiku dengan sin-kang dan hampir dia celaka karena racun di tubuhku menular kepadanya.”

“Jangan khawatir, aku akan mencegah hawa beracun di tubuhmu mengadakan perlawanan otomatis. Nah, aku mulai!”

Topeng Setan lalu menotok jalan darah di daerah pundak yang terluka, di seputarnya, kemudian mengurut punggung dara itu beberapa kali. Ceng Ceng merasa betapa tubuh belakangnya menjadi panas sekali, akan tetapi dia mempertahankannya, bahkan ketika kepalanya terasa pening, dia pun tidak menggerakkan tubuh sedikitpun juga. Dia sudah pasrah dengan kepercayaan penuh kepada orang aneh bertopeng buruk ini. Nyawanya sudah terancam bahaya maut, apakah artinya bahaya lain lagi yang mungkin mengancamnya dalam cara pengobatan ini?

Kemudian gerakan jari-jari tangan yang kuat dan mengurut-urut punggung dan pundaknya itu berhenti, lalu terasa olehnya betapa kedua telapak tangan yang lebar, kasar dan kuat itu menempel di punggung atas dan dekat pundak.

Mula-mula hanya ada hawa hangat saja menjalar keluar dari kedua telapak tangan itu, hawa panas yang berputaran dan berpusat di pundaknya yang terluka. Rasa nyeri menusuk-nusuk tempat itu, akan tetapi Ceng Ceng tetap duduk tak bergerak dan hanya beberapa tetes air mata yang meloncat keluar dari pelupuk matanya dan mengalir di sepanjang kedua pipinya saja yang menandakan betapa gadis itu menderita rasa nyeri yang hebat!

Kedua tangan yang lebar itu kini gemetar dan makin lama makin hebat, akhirnya menggigil dan Ceng Ceng merasakan betapa gelombang demi gelombang hawa yang amat kuat memasuki tubuhnya dan menyerang pundaknya yang terluka. Dia kagum sekali. Pernah dia merasakan hawa sakti yang keluar dari tangan Suma Kian Lee, juga amat kuat dan panas akan tetapi halus dan tidak sedahsyat tenaga yang keluar dari tangan Topeng Setan ini.

Diam-diam dia makin kagum dan terheran-heran. Siapakah sebenarnya orang yang amat lihai ini? Siapa yang bersembunyi di balik topeng buruk itu dan mengapa orang ini menyembunyikan mukanya dari dunia? Agaknya orang ini sudah mengalami pukulan batin hebat pula, pikir Ceng Ceng dengan perasaan kasihan.

Tiba-tiba hawa yang amat kuat mendesaknya dari pundak ke atas dan dia merasa lehernya tercekik dari dalam, membuatnya tidak dapat bernapas lagi! Kalau saja Ceng Ceng tidak sudah menyerahkan seluruh keselamatan nyawanya kepada Topeng Setan, kalau saja dia tidak sudah percaya sepenuhnya lahir batin karena dia tahu bahwa nyawanya memang sudah terancam maut, tentu dia akan meronta dan melawan.

Akan tetapi, dia pasrah dengan seluruh kepercayaannya sehingga cekikan yang dirasakan dalam tubuhnya, yang membuatnya sama sekali tidak dapat bernapas lagi itu, tidak membuat dia menjadi panik. Bahkan dia merasakan serta mengikuti tenaga dahsyat yang mengalir dari bawah dan mendesak itu. Akhirnya hawa yang amat kuat itu sampai di tenggorokannya dan tak dapat ditahan lagi dia lalu muntahkan darah kental menghitam yang cukup banyak!

Topeng Setan melepaskan kedua tangannya dan berkata lirih,
“Sekarang kau rebahlah, Ceng Ceng. Rebah dan tidurlah, jangan memikirkan apa-apa....”

Seperti terkena sihir, tanpa membuka matanya Ceng Ceng lalu merebahkan diri terlentang, bajunya masih belum dipakai lagi, kini dipegang oleh kedua tangannya dan menutupi dadanya. Rasa lemas dan lelah luar biasa membuat Ceng Ceng seperti setengah pingsan, akan tetapi rasa nyaman meliputi dirinya, terutama sekali karena pundaknya tidak terasa sakit lagi, membuat dia menjadi mengantuk sekali dan tak lama kemudian gadis ini pun sudah tidur pulas!

Ketika dia terbangun, Ceng Ceng merasakan tubuhnya nyaman dan ringan, juga perutnya menjadi lapar sekali. Dia teringat akan pengobatan tadi dan membuka matanya. Ternyata di luar bajunya yang dipakai menutupi dadanya kini terdapat sehelai jubah lebar yang menyelimutinya. Jubah Topeng Setan!

Dia teringat bahwa tadi dia muntah darah, akan tetapi ternyata sudah tidak ada bekas-bekasnya di situ, sudah dibersihkan oleh Topeng Setan tentunya. Ceng Ceng bangkit duduk dan memakai kembali bajunya. Sambil membawa jubah itu, dia keluar dari balik batu-batu besar dan melihat Topeng Setan sedang memanggang sesuatu.

“Eh, kau sudah bangun? Nah, mukamu sudah merah lagi, tanda hawa beracun itu telah lenyap. Eh, eh.... apa yang kau lakukan ini?”

Topeng Setan cepat meloncat berdiri ketika dia melihat Ceng Ceng menjatuhkan diri berlutut di depannya!

“Paman telah berkali-kali menolongku, dan sekarang pun Paman telah memperlihatkan kebaikan kepadaku, entah bagaimana aku akan dapat membalas budi kebaikan Paman.”

“Eh, kau.... kau.... jangan begitu!” Sekali tarik saja, Topeng Setan telah membuat Ceng Ceng terpaksa bangkit berdiri.

“Ceng Ceng, jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu. Aku berusaha mengobatimu dengan hati tulus, sama sekali tidak mengandung pamrih agar engkau berhutang diri kepadaku. Aku.... aku tidak suka engkau bersikap demikian. Pula engkau memang sudah terbebas dari pukulan Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi engkau masih dicengkeram hawa beracun dalam dirimu yang menjadi racun jahat setelah bertemu dengan pukulan kakek iblis itu.”

Ceng Ceng mengembalikan jubah itu, duduk dekat api tempat Topeng Setan memanggang seekor ayam hutan, menarik napas panjang lalu berkata,

“Aku tidak akan berbuat demikian lagi kalau engkau tidak suka, Paman Topeng Setan. Akan tetapi mengapa engkau begini baik kepadaku? Mengapa engkau selalu menolongku, sejak aku dikeroyok orang di atas rumah di kota raja dahulu itu? Mengapa?”

“Karena.... aku adalah pembantumu, Ceng Ceng. Engkau bengcu dan aku pembantumu, bukan?”

“Ah, harap jangan menggunakan alasan itu, karena aku tahu bahwa itu hanya merupakan alasan kosong yang dicari-cari. Kepandaianmu sepuluh kali lebih tinggi daripada kepandaianku, namun engkau merendahkan diri menjadi pembantuku! Kita semua telah berpura-pura, bersandiwara. Kau tahu bahwa aku menjadi bengcu karena hanya ingin membantu pemerintah agar gerombolan itu tidak dikuasai oleh Tek Hoat yang menjadi kaki tangan pemberontak. Dan Tek Hoat bersandiwara karena dia kalah janji dan terikat sumpah dengan aku. Akan tetapi kau.... mengapa kau selalu menolongku?”

Topeng Setan menarik napas panjang dan membalik panggangannya.
“Mungkin karena aku kasihan kepadamu, Ceng Ceng, juga karena kagum menyaksikan jiwa kepahlawananmu. Sudahlah, mari kita makan ayam panggang ini dan aku sudah mencari air minum.” Dia mengangkat sebuah guci penuh air. “Engkau harus makan sampai kenyang, baru nanti kuberi petunjuk latihan untuk membersihkan sisa hawa pukulan itu, sungguhpun racun di dalam tubuhmu hanya dapat disembuhkan oleh obat mujijat itu.”

“Anak naga....?”

Topeng Setan mengangguk. Mereka lalu makan daging ayam panggang yang masih mengepulkan uap itu. Gurih sedap! Makanan apa pun akan terasa gurih, sedap dan lezat apabila perut sudah lapar dan tubuh membutuhkan tenaga baru. Apalagi makanan daging ayam hutan panggang, ayamnya muda dan gemuk lagi! Tak lama kemudian habislah semua daging ayam itu, dan setelah mereka minum air jernih dari guci itu, Ceng Ceng bertanya,

“Paman, kalau obat mujijat itu berupa seekor anak naga, mana mungkin kita menangkapnya?”

“Sebetulnya mungkin hanya sebutannya saja anak naga! Menurut cerita dari guruku, yang berada di dasar Telaga Sungari itu adalah seekor ular besar, semacam ular laut yang sudah pindah ke telaga dan menjadi ular telaga. Ular ini mungkin hanya tinggal satu-satunya di dalam dunia. Setiap sepuluh tahun sekali dia bertelur dan kalau telurnya menetas, biasanya hal itu terjadi di permulaan musim semi, dia akan membawa anaknya yang baru menetas itu keluar ke permukaan telaga untuk menangkap inti tenaga matahari. Nah, permulaan musim semi adalah bulan depan, maka kita harus berusaha untuk menangkap ular besar itu.”

“Tentu sukar dan berbahaya sekali. Dan kalau kita gagal bagaimana, Lopek (Paman Tua)?” Ceng Ceng berhenti sebentar dan memandang penuh selidik. “Kalau gagal memperoleh obat mujijat itu, akhirnya aku akan mati juga?”

Topeng Setan menggeleng kepalanya.
“Bahaya pukulan Hek-tiauw Lo-mo sudah lewat. Pukulannya itu adalah pukulan Hek-coa-tok-ciang (Pukulan Tangan Beracun Ular Hitam) yang kukenal, dilatihnya dengan menggunakan racun ular hitam. Tidak, engkau tidak akan mati karena racun itu, Ceng Ceng, hanya.... karena racun di tubuhmu sudah diselewengkan oleh akibat pukulan Hek-tiauw Lo-mo, maka tanpa obat itu engkau akan menjadi seorang manusia beracun yang banyak menderita. Akan tetapi, untuk itu pun masih ada jalan untuk mengurangi penderitaan dan dengan sedikit demi sedikit racun itu dapat dikurangi pengaruhnya.”

“Jalan apa, Paman?”

“Dengan latihan inti dari gerakan ilmu silat.”

“Paman, sudah sejak kecil saya berlatih silat....”

“Aku tahu, Ceng Ceng. Akan tetapi harus kau akui bahwa selama ini engkau mempelajari silat dengan dasar membekali diri untuk perkelahian, bukan? Itulah maka engkau sampai terjeblos mernpelajari ilmu dari Ban-tok Mo-li. Padahal, ilmu silat tercipta dari gerakan yang tadinya sama sekali mempunyai dasar lain, yaitu dasar sebagai olah raga untuk menjaga kesehatan.”

“Paman Topeng Setan, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan, aku belum pernah mendengar tentang itu.”

“Begini riwayatnya, Ceng Ceng. Engkau perlu mengetahui riwayatnya lebih dulu sebelum melatih diri dengan ilmu itu untuk menyehatkan tubuhmu dan sedikit demi sedikit mengusir hawa beracun dari tubuhmu. Engkau tentu telah mendengar bahwa pencipta ilmu silat yang amat terkenal adalah Tat Mo Couwsu. Beliau adalah seorang pendeta yang sakti dan mulia, yang tidak hanya mengajarkan ilmu kebatinan Agama Buddha untuk menolong manusia dari lembah kesengsaraan dan menuntun ke jalan kebajikan, juga beliau yang menciptakan dasar-dasar gerakan yang menjadi inti dari ilmu silat, terutama ilmu silat para pendeta Buddha, yaitu Siauw-lim-pai.”

Ceng Ceng mengangguk-angguk. Soal Tat Mo Couwsu pernah didengarnya dari kakeknya. Menurut kakeknya, Tat Mo Couwsu adalah pencipta pertama dari ilmu silat yang menjadi sumber semua ilmu silat yang dikenal sekarang.

“Ceritanya begini,”

Topeng Setan melanjutkan dan mulailah dia menceritakan riwayat penciptaan dasar gerakan ilmu silat oleh pendeta kenamaan itu, didengarkan oleh Ceng Ceng dengan penuh perhatian.

Tat Mo Couwsu adalah seorang pendeta Buddha yang hidup di dalam jaman Dinasti Liang (Tahun 506-556 M). Pada suatu hari ketika Tat Mo Couwsu sedang berkotbah dan mengajar ilmu tentang kehidupan kepada muridnya, dia melihat beberapa orang di antara mereka yang bertubuh lemah terkantuk-kantuk.

Mengertilah pendeta sakti itu bahwa untuk memiliki jiwa yang sehat haruslah mempunyai tubuh yang sehat pula, maka dia lalu menciptakan gerakan-gerakan delapan belas jurus gerakan yang semata-mata harus dilatih oleh para pendeta lemah itu untuk memperkuat dan menyehatkan tubuh mereka.

Dan delapan belas jurus ini kemudian menjadi dasar dari semua gerakan ilmu silat yang makin lama makin berkembang dan diolah serta ditambah oleh para ahli di kemudian hari, setiap jurus dikembangkan menjadi empat sehingga terciptalah ilmu silat yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Kemudian sekali tujuh puluh dua jurus ini dikembangkan menjadi seratus tujuh puluh jurus yang menjadi dasar dari ilmu silat Siauw-lim-pai sampai sekarang.

Penciptanya adalah tiga orang sakti, yaitu pendeta Chueh Goan, Li Ceng dan Pai Yu Feng, yang merangkai tujuh puluh dua jurus yang berdasar dari pelajaran gerakan delapan belas jurus dari Tat Mo Couwsu itu menjadi seratus tujuh puluh jurus.

“Demikianlah, ilmu silat berkembang terus sampai terpecah-pecah menjadi bermacam cabang ilmu silat yang bertebaran di seluruh negeri seperti sekarang ini, ada yang bercampur dengan ilmu-ilmu bela diri dari negara lain,” Topeng Setan melanjutkan.

“Akan tetapi ada ciptaan Tat Mo Couwsu yang masih asli, dan kini menjadi pusaka simpanan bagi para tokoh Siauw-lim-pai. Ciptaan ini merupakan latihan singkat yang dapat menyehatkan tubuh dan latihan inilah yang akan kuajarkan kepadamu agar dapat mengurangi hawa beracun di tubuhmu sebelum engkau dapat memperoleh obat mujijat itu, Ceng Ceng.”

Gadis itu menjadi girang sekali.
“Terima kasih, Lopek. Aku akan suka melatihnya dengan giat.”

“Ini bukan latihan silat, melainkan gerakan untuk menyehatkan tubuh, maka melatihnya pun tidak boleh berlebihan, sungguhpun kalau kurang pun tidak akan ada gunanya. Cukup dilatih dua kali sehari, pagi dan sore di tempat terbuka. Nama ilmu olah raga ini adalah I Kin Keng (Ilmu Mengganti Otot), terdiri dari dua belas gerakan.”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar