FB

FB

Ads

Selasa, 03 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 105

Berkat amukan Kian Bu yang amat tangguh, Si Petani Maut Liauw Kui dan Sastrawan Yu Ci Pok yang tidak dapat langsung menyerang secara dekat itu kembali menyuruh para anak buahnya mundurkan rakit.

“Lepas anak panah....!”

Perintahnya dan kembali anak-anak panah berluncuran menyerang ke perahu para pelarian itu. Kian Bu sibuk sendiri dan tidak mungkin dia harus melindungi seluruh rakit dari anak-anak panah itu. Panglima Jayin dan anak buahnya juga sudah memutar golok mereka menangkisi anak-anak panah yang datang menyambar ke arah mereka. Juga dua orang gadis itu harus berlompatan ke sana-sini menghindarkan diri. Akan tetapi tiba-tiba Siang Hwa mengeluh dan roboh di atas rakit.

“Cici....!”

Siang In menubruk encinya dan betapa kaget hatinya ketika dia mendapat kenyataan bahwa punggung encinya terluka hebat dan ketika dia mendekap encinya, Siang Hwa mengerang lirih.

“In-moi.... kau.... jaga dirimu.... baik-baik....”

Gadis ini mengerang lalu terkulai. Sebatang paku beracun yang dilepaskan oleh Petani Maut kembali telah memperoleh korban, memasuki punggung Siang Hwa dan tepat mengenai jantung sehingga gadis itu tewas seketika.

“Enci Siang Hwa....!” Siang In menjerit dan menangis sambil memeluk encinya yang sudah menjadi mayat.

Melihat ini, Kian Bu menjadi makin gemas kepada See-thian Hoat-su,
“Kakek menjemukan! Kau membantu kami ataukah membantu musuh?” teriaknya.

See-thian Hoat-su tertawa dan sekali kaki tangannya bergerak, enam orang yang dipermainkannya itu terlempar semua dari atas rakit, tenggelam dan hinggap di pinggir rakit para pelarian itu.

“Eh, oh, kenapa menangis....? Kenapa dia?”

“Enci Siang Hwa.... telah.... tewas....!” Siang In menangis.




“Ha-ha-ha, bagus sekali! Sudah enak-enak mati mengapa ditangisi? Apa kau ingin melihat encimu hidup lagi dan menderita seperti kita ini? Ohhhh, bocah tolol kau! Aku yang ingin sekali mampus sampai puluhan tahun tidak juga mampus, sekarang encimu sudah enak-enak mati, membikin aku iri saja, engkau malah menangis!”

Siang In tidak mempedulikan kata-kata aneh dan gila-gilaan dari kakek itu, terus memeluki mayat encinya dengan hati hancur dan dia tidak peduli lagi apakah dia terancam bahaya atau tidak, karena setelah encinya mati, dia amat ngeri dan takut menghadapi hidup seorang diri saja di dunia yang kejam ini. Encinya merupakan pengganti ayah bundanya, sekarang encinya telah mati, berarti bahwa dia akan hidup seorang diri saja di dunia yang penuh dengan kekerasan dan kesengsaraan ini.

Kakek See-thian Hoat-su, Kian Bu, Panglima Jayin dan pembantunya yang tinggal tiga orang itu masih melakukan perlawanan mati-matian karena para anak buah Tambolon masih terus mengepung mereka. Andaikata pertandingan itu terjadi di atas daratan, dengan adanya See-thian Hoat-su dan Suma Kian Bu, tentu sudah sejak tadi dua orang pengawal Tambolon beserta puluhan orang anak buahnya itu akan roboh semua dalam waktu singkat.

Akan tetapi pertempuran terjadi di atas sungai, di atas rakit dan dikepung dari jauh, dihujani anak panah dan senjata rahasia, maka tentu saja para pelarian itu makin lama makin repot. Rakit mereka telah berada di tengah sungai yang lebar itu, terlalu jauh dari tepi sehingga tidak mungkin lagi bagi mereka untuk mendarat. Para pengeroyok sudah mengepung mereka dan biarpun di antara para pengeroyok itu sudah sepuluh orang yang terjungkal ke dalam air, namun Liauw Kui dan Yu Ci Pok yang maklum akan kelemahan lawan di air, terus mengepung dan berusaha menggulingkan rakit itu dengan berbagai cara.

Sementara itu, di langit atas mereka berkumpul awan mendung menghitam tanpa diketahui oleh mereka yang sedang bertempur. Pada waktu itu, Liauw Kui sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang dengan panah api! Dia merasa penasaran sekali bahwa dengan banyak anak buah belum juga mereka dapat mengalahkan para pelarian itu, maka timbul keinginannya untuk menumpas musuh yang tidak bisa ditawan kembali itu.

Berhamburanlah anak panah berapi ke rakit itu dan See-thian Hoat-su berteriak-teriak marah. Akan tetapi kakek yang lihai ini bersama Suma Kian Bu repot menangkis panah-panah ini, demikian pula Jayin dan anak buahnya. Hanya Siang In yang tidak peduli akan itu semua, dan kalau tidak ada Kian Bu yang selalu melindunginya, tentu gadis ini akan menjadi korban panah berapi. Akan tetapi, biarpun mereka tidak atau belum terkena anak panah tetapi ada panah yang menancap di rakit mereka yang mulai terbakar!

Seorang anak buah Panglima Jayin cepat melepas jubahnya, membasahi jubah itu dengan air sungai kemudian dia cepat memadamkan api yang mulai membakar permukaan rakit dari bambu. Akan tetapi, karena sibuk dengan usaha ini, dia tidak dapat melindungi dirinya sendiri dan terdengar teriakan mengerikan ketika orang ini terkena anak panah yang menancap di lambungnya! Orang Bhutan ini terjungkal dan jatuh ke dalam air sungai.

Pada saat itu, tiba-tiba turun hujan dengan derasnya, seperti dituang dari langit, dibarengi dengan angin yang besar. Amukan hujan dan angin ini sekaligus membubarkan pertempuran, karena selain hujan yang amat deras membuat cuaca menjadi gelap sekali dan membuat mereka sukar membuka mata, juga angin ribut membuat air sungai mulai bergelombang yang makin lama makin dahsyat.

Beberapa kali Siang In menjerit karena hampir dia tidak dapat menahan mayat kakaknya yang akan terlempar keluar karena rakit itu mulai berguncang dan miring ke kanan kiri. Semua orang harus berpegang kuat-kuat pada pinggiran rakit agar tidak terlempar keluar. Ternyata hujan sejak tadi turun di hulu Sungai Yi-tung dan kini air mulai membanjir datang, menciptakan arus yang amat kuat dan rakit-rakit itu hanyut dan terputar-putar tanpa dapat dikendalikan lagi.

Rakit yang membawa para pelarian itupun hanyut terseret arus, berputaran. Kian Bu mendengar Siang In menjerit dan menangis karena jenazah encinya tak dapat dipertahankannya lagi. Rakit itu hampir jungkir-balik dan dia hampir saja terbawa air kalau saja dia tidak cepat-cepat memegang pinggiran rakit. Dan karena menyelamatkan diri sendiri ini, dia melepaskan mayat encinya yang tahu-tahu telah lenyap disambar air.

“Enci....!” Dara itu menjerit dan dengan nekat dia hendak menyusul mayat encinya.

“In-moi, jangan....!”

Di antara air hujan deras yang membuat orang sukar membuka mata, Kian Bu melihat dara itu bangkit berdiri. Dia lalu meloncat dan berhasil mendorong kembali Siang In sehingga terlempar dan roboh di atas rakit, disambar lengannya oleh See-thian Hoat-su, akan tetapi Kian Bu sendiri tergelincir di pinggir rakit dan terseret oleh air yang mengganas.

“Bu-twako....!”

Siang In menjerit akan tetapi Kian Bu telah lenyap ditelan air sungai yang menggelora itu. Siang In menjerit-jerit dan roboh pingsan di pelukan Kakek See-thian Hoat-su.

“In-moi.... ah, In-moi....”

Kian Bu mengeluh, kepalanya terasa pening dan yang pertama kali teringat olehnya ketika dia siuman dari pingsannya adalah Siang In karena ketika dia terlempar ke air sungai dia sedang berusaha menolong gadis itu. Betapa pun kuatnya tubuh Kian Bu di dalam air yang mengamuk itu dia sama sekali tidak berdaya. Dia terseret oleh arus, dibuat terguling-guling, tenggelam-timbul, diangkat ke atas oleh gelombang, dihempaskan ke bawah dan dia pingsan, tubuhnya seperti tidak bernyawa lagi dipermainkan air Sungai Yi-tung yang mengamuk.

Dan mungkin saja karena pingsan inilah maka nyawanya tertolong. Andaikata dia tidak pingsan, tentu dia akan melawan maut dan justeru perlawanan yang sia-sia itu membuat tubuhnya kaku dan mungkin akan remuk-remuk terbanting-banting seperti itu. Setelah pingsan tubuhnya menjadi lemas dan tak pernah melawan dipermainkan air dan agaknya air sungai pun tidak bernafsu lagi menghadapi korban yang tidak mau melawan, seperti seekor kucing tidak bernafsu lagi mempermainkan seekor tikus yang sudah tidak dapat bergerak. Akhirnya air menjadi bosan dengan tubuh manusia yang tak mampu bergerak lagi itu dan menyeretnya ke tepi, melontarkannya ke pinggir sehingga separuh tubuhnya berada di atas tanah sedangkan dari pinggang ke bawah masih di dalam air.

“Siang In.... kasihan kau....” Kembali dia mengeluh.

“Engkau juga kasihan, muda belia yang tampan....” Terdengar suara halus berada di dekatnya.

Kian Bu terkejut dan kesadarannya mulai kembali. Ketika dia merasa betapa kepalanya rebah di tempat yang lunak dan hangat, dia cepat membuka matanya dan terbelalak heran melihat sebuah wajah yang cantik sekali berada di atasnya. Wajah yang berkulit halus, dengan sepasang mata bening menatap mesra, dengan bibir yang merah tersenyum ramah. Dan dia ternyata rebah di atas rumput di tepi sungai, kepalanya rebah di atas pangkuan wanita berwajah cantik itu!

Tentu saja Kian Bu terkejut sekali dan cepat dia bangkit duduk dan membalikkan tubuh memandang. Wanita itu cantik bukan main dan ia mencium bau harum semerbak.

“Kau.... kau siapakah....?” Kian Bu bertanya meragu karena dia seperti pernah melihat wanita ini.

Senyum di bibir merah itu makin melebar dan nampaklah deretan gigi putih bersih, kemudian, hanya sekilas pandang, nampak ujung lidah yang meruncing dan merah menjilat keluar di antara deretan gigi atas bawah, hanya sebentar saja akan tetapi mendatangkan penglihatan yang mengesankan.

“Namaku Hong Kui.... she Lauw.... aku melihat engkau rebah di tepi sungai, kukira sudah mati, lalu kutarik ke sini, ternyata engkau masih hidup. Sukurlah, Kongcu, sukur engkau masih hidup....”

Suara wanita ini merdu dan seperti orang bernyanyi saja penuh dengan nada tinggi rendah dan kata-katanya diiringi gerak bibir mempesona dan kerling mata yang menyambar-nyambar.

Heran sekali, melihat bibir yang bergerak-gerak dan mata mengerling tajam itu teringatlah Kian Bu kepada Siang In ketika dara itu berlagak meniru gerak-gerik wanita yang genit memikat. Wanita genit memikat! Tak salah lagi, dia inilah orangnya!

“Jadi.... engkaukah ini....?”

Dia meloncat berdiri dan wanita itu memandang ke arah celananya yang basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya, sambil tertawa. Kian Bu menunduk dan cepat dia menutupkan jubahnya yang juga basah kuyup di depan tubuhnya. Sialan! Celana yang basah kuyup itu membuat dia seperti telanjang saja.

“Engkau sudah mengenal aku, Kongcu?” wanita itu bertanya dan memandang penuh selidik.

“Bukankah engkau yang dicari-cari oleh Teng Siang In?” Kian Bu bertanya, diam-diam harus mengakui bahwa wanita yang sudah matang ini benar-benar cantik menarik dan mempunyai daya pikat yang amat kuat. “Bukankah engkau yang.... eh, mencuri kitab dari dara itu?”

Wanita yang berpakaian mewah dan indah, dengan gelung rambutnya yang tinggi itu tersenyum lagi. Dia ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li. Seperti telah kita ketahui, setelah mendengar dari Siang In tentang obat anak naga di Telaga Sungari, wanita ini meninggalkan Siang In dan melanjutkan perjalanan hendak menuju ke telaga itu. Akan tetapi dia terhalang oleh hujan angin dan terpaksa dia mencari tempat perlindungan dan berteduh di dalam sebuah bekas bangunan kuil tak jauh dari Sungai Yi-tung yang akan diseberangi. Setelah hujan berhenti, dia keluar dari tempat peneduhan itu dan secara kebetulan saja dia melihat Kian Bu terdampar di tepi sungai. Melihat seorang pemuda yang amat tampan dan muda itu terdampar seperti telah mati, dia merasa sayang sekali dan cepat menghampiri. Segera ditolongnya pemuda itu ketika dia mendapat kenyataan bahwa pemuda itu masih hidup.

“Ah, agaknya Adik Siang In telah bercerita kepadamu tentang kitab itu? Ah, Kongcu, kitab itu hanya kupinjam saja dan sekarang telah kukembalikan. Apakah dia tidak bercerita kepadamu betapa aku telah menolong dan menyelamatkannya dari tangan Tambolon? Aku yang mengajaknya lari sebelum dia menjadi korban kejahatan Tambolon dan mengantarnya sampai dia selamat dari kejaran mereka.”

Kian Bu lalu duduk kembali dan wanita itu membuat api unggun. Sampai lama mereka tidak bicara, dan wanita itu sering mengerling dan tersenyum kepadanya, sedangkan semua gerak-geriknya ketika membuat api unggun, ketika melangkah dan melenggang, semua penuh daya pikat dan seluruh bagian tubuh wanita itu seperti hidup sendiri-sendiri, bergerak penuh keindahan, dari gerak matanya, sampai ke ujung jari tangannya, pinggulnya, kakinya, bibirnya.

“Agaknya engkau telah menolong aku pula, Toanio....”

“Aihhh, jangan menyebut aku Toanio, Kongcu....” wanita itu cepat memutar tubuh, mencela akan tetapi sambil tertawa. “Setelah kita bertemu di sini dan kebetulan aku menarikmu dari air, bukankah kita telah menjadi sahabat?”

“Engkau juga menyebut aku Kongcu (Tuan Muda)....”

“Hi-hik, engkau sungkan benar...., biarlah kau menyebut aku.... enci, karena aku memang lebih tua darimu dan kau.... eh, siapa sih namamu?”

“Aku Kian Bu, Suma Kian Bu.”

“Namamu gagah, seperti orangnya. Nah, Kian Bu, bukankah kita sekarang sudah bersahabat dan lebih akrab kalau aku menyebut namamu saja dan kau menyebut enci kepadaku seolah-olah kita ini dua orang bersahabat atau bersaudara?”

“Terima kasih.... Enci Hong Kui, engkau baik sekali.”

Wanita itu kembali tersenyum dan membesarkan api unggun.
“Kau duduklah dekat api, biar tubuhmu hangat dan pakaianmu kering.”

“Aku harus pergi mencari yang lain-lain, Enci. Mungkin mereka pun terdampar dan selamat seperti aku.”

“Eh, yang lain-lain siapakah?”

Mereka berdua duduk berdampingan di atas rumput, dekat api unggun. Malam itu gelap dan dingin, akan tetapi api unggun itu hangat. Kian Bu lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia bersama Siang Hwa, Kakek See-thian Hoat-su dan lima orang Bhutan melarikan diri dari sarang gerombolan Tambolon. Kemudian setelah berhasil membawa pula Siang In yang muncul di tepi sungai, mereka dikepung oleh anak buah Tambolon dan dikeroyok, akhirnya sampai hujan angin menyerang mereka semua.

“Aku tidak tahu bagaimana dengan nasib mereka karena aku terlempar keluar dari rakit dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku harus segera mencari Siang In. Kasihan sekali gadis itu, sudah kehilangan encinya yang tewas di atas rakit, kemudian dia sendiri masih terancam bahaya maut. Mudah-mudahan saja dia masih hidup dan selamat, dan aku harus mencarinya sekarang juga, Enci Hong Kui.”

Akan tetapi Mauw Siauw Mo-li menggeleng kepalanya.
“Tidak akan ada gunanya, Kian Bu. Malam amat gelap, langit masih diliputi mendung dan tidak mungkin kita dapat mencari dia di tempat gelap begini. Kita menanti sampai besok dan aku akan membantumu mencari dia. Sekarang, mari kau makan dulu, aku membawa bekal roti dan arak.”

Kian Bu bangkit berdiri dan memandang ke arah sungai. Air masih penuh sungguhpun gelombang tidak mengamuk seperti tadi, akan tetapi keadaannya gelap benar sehingga memang tidak mungkin untuk mencari Siang In di sepanjang tepi sungai itu. Dia menarik napas panjang dan duduk kembali sementara wanita itu mengeluarkan bungkusan roti dan seguci arak. Makanan itu dibelinya dari warung di dusun yang dilewatinya tadi dan dibawa sebagai bekal.

“Sungguh kasihan sekali Siang In....” Kian Bu berkata ketika dia sudah duduk dan membayangkan keadaan dara yang lincah jenaka itu.

“Eh...., apamukah dia itu? Sahabat baikmu? Pacarmu?”

Wajah pemuda itu menjadi merah sekali mendengar pertanyaan terakhir itu, pertanyaan yang diajukan dengan suara biasa saja.

“Oh, bukan! Kami hanya teman-teman seperjalanan yang beberapa hari saling berjumpa dalam hutan.”

“Ah, kukira pacar atau.... calon isteri.”

“Hemm, aku masih belum bertunangan,” Kian Bu menjawab cepat untuk menyetop percakapan mengenai hal itu.

Wanita itu memandangnya dengan kerling tajam dan senyumnya melebar, manis sekali. Wajahnya kelihatan kemerah-merahan di bawah sinar api unggun.

“Kian Bu, kau makanlah. Roti ini kubeli di dusun tadi, masih lunak. Marilah!”

“Terima kasih.”

Kian Bu menerima roti dan bersama Mauw Siauw Mo-li yang mengaku bernama Lauw Hong Kui, nama kecilnya yang jarang dikenal orang itu, dia makan roti karena memang perutnya terasa lapar sekali. Teringat olehnya betapa dia bersama Siang In sudah sejak ditawan tidak makan apa-apa dan perutnya menerima roti dengan hangat.

Melihat Kian Bu menelan roti agak seret, Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan mengulurkan tangannya yang memegang guci arak.

“Minumlah.... arak ini pun arak baik, manis dan tidak begitu keras.”

“Mana cawan atau mangkoknya?” Kian Bu menerima guci.

“Ih, membawa cawan di perjalanan berabe saja dan di tempat ini mana ada mangkok? Kau minum saja dari guci itu.”

“Tapi.... tapi.... ini guci arakmu dan....”

“Aih, Kian Bu, mengapa engkau banyak sungkan? Minum begitu saja mengapa sih?”

“Habis, bagaimana engkau nanti kalau hendak minum?”

“Bagaimana? Ya biasa saja, dari guci.”

“Kalau begitu, kau minumlah dulu!”

Kian Bu mengembalikan guci arak, merasa sungkan kalau harus mendahului. Untuk minum dari guci, berarti bahwa mulut guci akan beradu dengan mulutnya.

“Hi-hik, engkau seperti anak kecil saja.”

Mauw Siauw Mo-li diam-diam merasa girang sekali dan makin tergila-gila kepada pemuda remaja yang tampan dan sopan ini. Dia membuka tutup guci, mencucup mulut guci mereguk sedikit arak, kemudian menyerahkan guci itu kepada Kian Bu.

“Nah, giliranmu minum!”

Karena memang roti itu sebagian berhenti di kerongkongannya, Kian Bu menerima guci arak dan mereguk araknya, langsung dari mulut guci masuk ke mulutnya. Setelah dia menurunkan guci itu, Mauw Siauw Mo-li mengambil dari tangannya dan tanpa ragu-ragu wanita itu minum lagi. Kian Bu melihat betapa sepasang bibir yang berkulit tipis itu mengulum mulut guci dan betapa leher yang panjang itu bergerak-gerak ketika arak memasukinya. Cepat Kian Bu menunduk karena penglihatan itu terlalu mendebarkan jantungnya, entah mengapa dia sendiri pun tidak mengerti.

Baru saja mereka selesai makan roti dan minum arak, dan Kian Bu duduk membelakangi api untuk mengeringkan pakaiannya di punggung, tiba-tiba dia mendengar gerakan orang dan dia bersikap waspada sungguhpun masih kelihatan tenang saja. Dia tahu bahwa ada gerakan beberapa orang mendekat tempat itu dari arah daratan yang penuh pohon-pohon. Mula-mula dengan penuh harapan, timbul dugaannya bahwa itu adalah Siang In dan teman-teman lain, akan tetapi dia tahu bahwa harapannya itu sia-sia karena kalau Siang In, tentu sudah berseru memanggilnya, pula kalau mereka itu teman-teman, tentu tidak berindap-indap seperti kelakuan orang-orang yang mempunyai niat buruk.

“Ssssttt, kau mendekatlah ke sini. Ada orang-orang datang....”

Mauw Siauw Mo-li berbisik dan tahulah Kian Bu bahwa wanita ini juga memiliki pendengaran yang amat tajam. Dan wanita ini kelihatan tenang saja, bahkan kini menambah kayu kering pada api unggun sehingga keadaan di situ menjadi cukup terang.

“Kau mendekatlah agar aku dapat melindungimu, Kian Bu. Mereka itu tentu orang-orang yang berniat buruk....”

Kian Bu menurut dan dia mendekati wanita itu. Mereka masih duduk di dekat api unggun ketika orang-orang itu telah datang mengurung dan dari sudut matanya Kian Bu melihat bahwa mereka itu adalah dua orang pembantu Tambolon bersama sepuluh orang anak buah mereka. Dia bersikap waspada karena maklum bahwa dua orang pembantu raja liar itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga. Munculnya dua orang pengejar ini mendatangkan dua macam perasaan di hati Kian Bu. Dengan masih berkeliarannya mereka itu di sini, berarti bahwa mereka belum dapat menawan kembali Siang In dan yang lain-lain, akan tetapi juga menimbulkan keraguan apakah mereka semua yang menjadi pelarian itu dapat menyelamatkan diri dari sungai yang mengganas.

Yang datang itu memang benar adalah sisa anak buah Tambolon yang berhasil menyelamatkan diri dari amukan badai di Sungai Yi-tung, dipimpin oleh Liauw Kui Si Petani Maut dan Yu Ci Pok Si Siucai Maut. Mereka tidak berhasil menemukan para pelarian itu dan melihat api unggun dari jauh, mereka lalu berindap-indap datang ke tempat itu. Marah hati mereka ketika mengenal Kian Bu sebagai seorang diantara para pelarian itu, dan dua orang pembantu Tambolon ini mengenal pula Mauw Siauw Mo-li, karena ketika Siluman Kucing ini dahulu bersama Hek-tiauw Lo-mo memimpin pasukan pemberontak menumpas pasukan Tambolon di Koan-bun, mereka berdua langsung berhadapan dengan wanita ini dan suhengnya yang lihai.

“Hemm, kiranya engkau pula yang berada di sini, Siauw Mo-li!” Liauw Kui berkata marah sambil melintangkan batang pikulannya di depan dada. “Sudah berkali-kali engkau sengaja merintangi jalan kami. Sesudah penyerbuan di Koan-bun, engkau melarikan pengantin raja kami, kemudian sekarang engkau di sini bersama seorang buruan kami. Berikan dia kepada kami.”

Mauw Siauw Mo-li tersenyum.
“Kalian orang-orang liar kaki tangan Tambolon, lebih baik lekas pergi dari sini jangan mengganggu aku kalau kalian belum bosan hidup.”

Dengan sikap tenang seenaknya Lauw Hong Kui, wanita cantik yang merasa terganggu kesenangannya itu berkata sambil mengorek api unggun sehingga nyalanya menjadi makin besar.

“Perempuan sombong! Kau kira aku takut kepadamu?” Liauw Kui membentak marah sekali.

“Hi-hik, engkau sudah bosan hidup!” Mauw Siauw Mo-li tertawa lalu berbisik kepada Kian Bu, “Engkau tunggu sebentar, aku akan menghajar tikus-tikus busuk ini!”

Kian Bu mengangguk dan memandang dengan terheran-heran. Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita cantik jelita yang telah menolongnya ini, yang mempunyai nama indah, yaitu Lauw Hong Kui, kiranya adalah Mauw Siauw Mo-li, Si Siluman Kucing yang telah dia dengar namanya dari kakaknya itu. Kiranya ini adalah sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo yang lihai! Heran sekali dia mengapa seorang iblis seperti Hek-tiauw Lo-mo memiliki seorang sumoi sehebat ini dan sama sekali tidak disangkanya bahwa wanita yang berjuluk Mauw Siauw Mo-li yang dikabarkan seperti iblis betina itu ternyata adalah seorang wanita yang begitu cantik.

Dan wanita ini tidak membohong ketika mengatakan bahwa dia menyelamatkan Siang In dari tangan Tambolon, karena menurut ucapan Liauw Kui yang marah tadi agaknya memang demikian. Kini Kian Bu duduk di dekat api unggun dan menonton dengan hati tertarik. Lauw Hong Kui tidak tahu bahwa dia memiliki kepandaian maka dia pun tidak akan turun tangan kalau tidak perlu sekali, sungguhpun dia telah siap karena maklum betapa lihainya dua orang pembunuh utama Tambolon.

“Mampuslah....!”

Tiba-tiba tangan Mauw Siauw Mo-li bergerak dan dia telah melontarkan sebatang ranting yang ujungnya bernyala ke arah Petani Maut. Ranting yang ujungnya terbakar itu meluncur seperti anak panah cepatnya, menyambar ke arah dada pembantu utama Tambolon itu. Liauw Kui mendengus marah, batang pikulannya bergerak menangkis dan ranting itu meluncur ke kiri. Terdengar pekik mengerikan dan seorang di antara anak buah pasukan Tambolon itu roboh dengan perut tertembus ranting tadi yang kini menjadi padam.

Siauw Mo-li tertawa dan Liauw Kui menjadi marah bukan main. Tak disangkanya bahwa lontaran ranting itu sedemikian kuatnya sehingga biarpun telah dapat ditangkis, namun masih dapat membunuh seorang anak buahnya.

Lauw Hong Kui sudah meloncat berdiri dan tangan kanannya meraba punggung. Sinar kehijauan nampak di antara cahaya api ketika wanita ini sudah mencabut pedangnya. Melihat ini Liauw Kui sudah berteriak keras dan menerjang maju, sambil menggerakkan senjatanya yang istimewa, yaitu batang pikulannya.

“Singgg.... wirrr....!”

Pikulan berubah menjadi sinar bergulung ketika menyambar ke arah Siauw Mo-li, namun wanita ini tidak menjadi gentar, cepat mengelak dan menggerakkan pedangnya untuk balas menyerang.

“Tring-tring-tringgg....!”

Berkali-kali kedua senjata bertemu dan bunga api berhamburan. Keduanya merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata tergetar, maka dengan kaget mereka melangkah mundur dan memeriksa senjata masing-masing. Setelah ternyata bahwa senjata mereka tidak menjadi rusak, mereka bergerak lagi saling menyerang dengan marah.

Kian Bu yang menonton pertempuran itu menjadi kagum. Ternyata bahwa Lauw Hong Kui selain cantik jelita dan memiliki daya tarik yang amat luar biasa, juga memiliki kepandaian tinggi, ilmu pedangnya indah dan lihai sehingga kalau saja pembantu utama Tambolon itu bukan seorang yang berilmu, tentu tidak akan kuat bertahan menghadapi gerakan pedang yang cepat dan aneh itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar