FB

FB


Ads

Selasa, 03 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 103

“Pesta sudah dimulai, Yu-taijin diminta menghadiri pesta dan para tawanan diperbolehkan nonton dan ikut bersenang-senang sebelum diambil keputusan hukuman mereka. Demikian pesan Ong-ya.”

Yu-siucai mengangguk.
“Hemm, kalian masih bernasib baik. Raja kami sedang bergembira dan tidak ada nafsu melihat darah musuh-musuhnya. Giring mereka ke sana!”

Kembali dua belas orang pasukan menggiring tujuh orang tawanan itu menuju ke ruangan besar dan luas di mana telah terdengar suara riuh rendah orang berpesta. Kiranya pada waktu itu, Raja Tambolon sedang merayakan hari pernikahannya dan pesta besar dirayakan.

Ruangan yang luas itu penuh dengan para tamu, akan tetapi tamu-tamu itu terdiri dari orang-orang yang kasar dan liar. Suasana pesta di situ kacau-balau dan sama sekali tidak teratur dan sebagian sudah mabok.

Dan hampir di setiap meja di “hias” dengan perempuan-perempuan cantik yang bermacam-macam sikapnya. Ada yang genit dan agaknya sudah mahir melayani orang-orang besar itu, ada yang kelihatan berduka dan takut-takut, akan tetapi semuanya berpakaian mewah dan berbedak tebal. Mereka ini adalah wanita-wanita rampasan yang telah dijadikan alat hiburan secara paksa oleh Tambolon dan kaki tangannya, dan kini mereka dikerahkan untuk menemani dan menghibur para tamu!

Siang In memandang dengan cemas, dan diam-diam Kian Bu juga muak menyaksikan keadaan di situ. Tanpa aturan sama sekali! Ada yang berkeliaran ke sana-sini, dan ada yang mengadu kekuatan minum sampai ada yang muntah-muntah. Ada pula yang mengadu kekuatan pergelangan tangan, dirubung dan disoraki dengan bising, ada pula yang sedang menggeluti seorang wanita. Tawa dan kekeh terdengar memenuhi udara, bercampur dengan bau keringat dan arak dan mulut busuk!

Di sudut kiri terdapat para pemain musik dan para penyanyi yang suaranya sudah mulai serak dan sumbang karena diloloh minuman keras oleh para tamu yang merubung tempat hiburan ini, agaknya mereka yang agak “nyeni” atau yang suka akan seni musik!

Tujuh orang tawanan itu digiring masuk terus ke tempat Tambolon untuk menghadap raja itu. Akan tetapi Tambolon sedang sibuk dan ketika Yu-siucai mendekatinya dan berbisik, raja itu hanya menoleh sebentar ke arah tawanan, kemudian menggeleng kepala dan menyuruh semua menunggu karena dia sedang sibuk menonton adu gulat yang berlangsung di ruangan itu.

Memang adu gulat merupakan tontonan dan olahraga yang amat populer di daerah itu, dan Tambolon sendiri dahulu merupakan seorang ahli gulat nomor satu di daerahnya. Setelah dia belajar ilmu silat tinggi, tentu saja dia memandang rendah ilmu ini, akan tetapi dia masih suka menonton.

Ramai sekali pertandingan adu gulat di gelanggang yang disediakan khusus itu dan banyak tamu yang suka akan tontonan ini mengepung tempat itu untuk menonton. Tambolon kini sudah tercurah seluruh perhatiannya kepada pertandingan itu lagi setelah tadi terganggu sebentar.

Kian Bu tetap memegang tangan Siang In sehingga empat tangan mereka yang pergelangannya terbelenggu itu tak pernah berpisah. Dia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tempat itu penuh orang, hampir kesemuanya orang-orang asing dan hanya sedikit saja orang-orang Han yang juga merupakan orang-orang kasar dari golongan hitam. Banyak pula kepala-kepala suku yang mendapat tempat kehormatan akan tetapi juga kini bercampur menjadi satu menonton apa saja yang disukai mereka di dalam pesta awut-awutan itu.

Dari bentuk tubuh mereka yang tegap dan tinggi besar, dengan otot-otot yang membelit-belit seperti tali kuat, dapat dimengerti bahwa mereka itu rata-rata adalah orang-orang kasar, tukang-tukang berkelahi yang kuat dan berani.

Kian Bu agak gentar hatinya, mengingat bahwa dia harus melindungi Siang In. Dia melirik ke arah lima orang tawanan dari Bhutan itu, dan kebetulan Panglima Jayin memandangnya. Mereka saling tersenyum dan Kian Bu kagum sekali. Panglima ini benar-benar amat gagah berani dan tenang. Dia menarik Siang In, mendekati panglima itu, lalu berbisik,

“Agaknya engkau mencari Syanti Dewi?”

Panglima Jayin terkejut sekali, terbelalak dan mengangguk.

“Dia berada di istana kaisar, di kota raja,”

Kian Bu berbisik lagi lalu menjauh karena khawatir kalau didengar orang lain. Panglima itu mengangguk-angguk dan kelihatan girang. Panglima yang setia ini memang merasa girang sekali. Dia sendiri terancam bahaya, namun hal itu bukan apa-apa baginya dan mendengar bahwa puteri yang dicarinya sudah berada di tempat aman, di istana kaisar, tentu saja dia merasa lega dan girang.

Kini Kian Bu memperhatikan Tambolon. Raja itu kelihatan menyeramkan, dengan tubuhnya yang tinggi besar dan matanya yang terbelalak lebar, mulut besar menyeringai dan kedua tangannya bergerak-gerak mengikuti gerakan kedua orang pegulat yang sedang bertanding. Raja itu kelihatan amat tertarik sehingga tidak peduli akan keramaian di sekitarnya. Di sebelah kirinya duduk pengantin perempuan yang selalu menundukkan mukanya yang tertutup tirai halus, dan kelihatan pengantin ini lesu dan lemas.

Di belakang agak ke samping, berdiri seorang yang memakai pakaian perang dan Kian Bu mengenalnya sebagai pengawal Tambolon yang lihai, yaitu Si Petani Maut Liauw Kwi! Dan di sebelah pengantin perempuan, agak jauh dan menyendiri, seperti mengantuk dan malas, duduk seorang nenek tua yang berkulit kehitaman, memakai pakaian sutera hitam yang hanya dilibat-libatkan di seluruh tubuhnya, dari kaki sampai ke kepalanya. Melihat sepasang mata nenek yang mengantuk itu, sinar mata yang tajam seperti sepasang mata ular, Kian Bu terkejut sekali. Dia dapat mengenal orang berilmu seperti yang pernah didengar dari ayahnya.

Melihat sinar mata itu mungkin sekali nenek ini pandai ilmu sihir! Dan dugaannya berdasarkan penuturan ayahnya memang benar. Nenek itu adalah guru dari Tambolon, seorang yang datang dari Pegunungan Himalaya, dari daerah See-thian (India) yang tinggi ilmu silatnya dan mahir ilmu sihir!

Jantung Kian Bu berdebar. Keadaannya sulit dan berbahaya! Dia harus melindungi Siang In, dan terutama sekali dia harus berhati-hati menghadapi Tambolon, Petani Maut, Yu-siucai, dan nenek itu! Di samping itu masih ada ratusan orang liar yang kelihatan kuat-kuat. Baru dua orang pegulat yang sedang berlaga itu saja sudah amat hebat. Tubuh mereka yang telanjang dan hanya memakal cawat, seperti tubuh dua ekor gajah. Otot-otot mereka menggelembung dan mengeluarkan bunyi berkerotan ketika mereka mengadu kekuatan otot, berusaha untuk saling membanting. Sungguh dia berada di tengah-tengah jagoan-jagoan yang tak boleh dipandang ringan!






Tiba-tiba Kian Bu tersentak kaget. Ada suara orang mendengkur di belakangnya. Di tengah-tengah orang hiruk-pikuk berpesta-pora ini, masih ada yang tidur mendengkur. Gila! Mendengkur? Dia bergidik dan teringat akan sesuatu, cepat menoleh dan.... terbelalak dia memandang kepada seorang kakek berambut putih semua yang tidur mendengkur di atas sebuah kursi, tepat di belakangnya!

Tangan kakek itu masih memegang sebuah guci arak yang menetes-netes araknya. Agaknya dia mabok dan tertidur. Akan tetapi Kian Bu ingat benar bahwa di belakangnya tadi tidak ada apa-apa, tidak ada kursinya, apalagi kakek yang tertidur mendengkur. Hatinya tergetar. Betapa lihainya kakek ini! Dan dengan hadirnya kakek ini sebagai lawan, makin beratlah keadaannya. Dia harus berlaku hati-hati sekali. Tempat ini menjadi sarang orang-orang pandai.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggegap-gempita dari mereka yang menonton adu gulat, setelah terdengar suara berdebuk keras. Kiranya seorang di antara pegulat itu dapat dibanting keras dan tentu saja kalah dengan tulang punggung remuk!

Tambolon agaknya menjagoi yang menang, buktinya dia bersorak-sorak dan menjadi girang sekali.

“Si Bolohok menang! Ha-ha-ha, sudah kuduga. Kau lihat, isteriku, jagoanku menang. Hayo minum untuk kegembiraan ini!”

Tambolon melihat pengantin wanita menggeleng kepala, akan tetapi dia memaksa, tangan kanan memegang cawan arak, tangan kiri membuka kerudung yang menutupi muka pengantin wanita. Kian Bu melihat wajah seorang wanita yang cantik!

“Enci Siang Hwa....!”

Tiba-tiba Siang In yang berdiri di sampingnya menjerit ketika kerudung muka pengantin wanita itu dibuka, dan dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, lari ke arah encinya yang juga sudah melihatnya.

“Adikku....!” Pengantin wanita juga menjerit dan menangis.

Jarak antara mereka agak jauh dan semua orang tercengang mendengar jerit dua orang gadis itu dan memandang bengong. Pengantin wanita dengan kerudung terbuka, bangkit berdiri mengembangkan kedua tangan, sedangkan dara remaja yang terbelenggu kedua tangannya itu lari terhuyung menghampirinya sambil menangis juga.

Melihat ini, Yu Ci Pok yang sejak tadi menjaga para tawanan, meloncat untuk menangkap Siang In. Akan tetapi, loncatannya gagal karena dia merasa seperti ada sesuatu yang mengait kakinya sehingga dia terperosok ke depan.

Akan tetapi siucai ini memang lihai sekali, dengan berjungkir-balik dia dapat mematahkan bantingan itu dan tubuhnya mencelat ke depan. Dia berhasil menyambar lengan Siang In, akan tetapi karena gerakannya tidak wajar lagi oleh gangguan hebat tadi, tidak urung dia terhuyung dan menabrak meja di depan Tambolon sehingga meja itu terbalik dan arak serta hidangan makan tumpah semua. Tentu saja keadaan menjadi kacau dan geger!

“Siang In....!”

Pengantin wanita itu kini memegang tangan adiknya dan mereka berpelukan, akan tetapi Tambolon yang menjadi marah dengan gangguan itu, menarik tangan pengantinnya. Yu Ci Pok yang merasa kaget membikin terbalik meja junjungannya, lalu menyelinap di antara orang banyak untuk mencari orang yang telah menjegal kakinya tadi. Saking marahnya, siucai ini lupa akan para tawanannya.

Kian Bu yang memperhatikan semua itu, kini melihat betapa kakek yang tadi menjegal kaki Yu Ci Pok, kini dengan gerakan cepat menghampiri lima orang Bhutan dan begitu jari-jari tangannya meraba, belenggu-belenggu lima orang itu patah semua.

Kakek itu menghampiri dia, mengulur tangan ke arah belenggu yang mengikat kedua tangan Kian Bu dan.... kakek itu terbelalak dan mengeluarkan suara “huhh!” ketika melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda itu menggerakkan kedua tangan dan belenggu itu patah-patah!

“Enci.... kenapa engkau menjadi begitu....?”

“Adikku.... aku.... aku dipaksa....”

“Bocah lancang, kau bosan hidup!”

Tambolon menjadi marah sekali dan mengangkat tangan hendak memukul Siang In. Melihat ini, Kian Bu menjadi merah mata dan mukanya, darahnya naik dan perutnya terasa panas. Lengkingan yang tinggi nyaring mengejutkan semua orang dan menambah kekacauan keadaan, bahkan di antara orang-orang tinggi besar dan bertubuh kuat itu ada yang terguling dan menutupi telinganya, ada yang menekan dadanya karena suara melengking yang keluar dari mulut Kian Bu itu adalah pengerah khi-kang sakti dari Pulau Es, suara yang mengandung getaran hebat sehingga dapat memecahkan anak telinga dan melumpuhkan jantung!

Dengan kemarahan meluap, Kian Bu meloncat ke atas, melewati kepala banyak orang dan melesat ke arah Tambolon sambil menghantamkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka dan mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang sekuatnya.

Tenaga Inti Salju yang amat hebat ini mendatangkan hawa dingin yang amat luar biasa sehingga beberapa orang yang tersentuh hawa ini menggigil kedinginan, sampai gigi mereka berkerutukan seperti orang menderita sakit demam!

Mendengar lengking tadi, Tambolon terkejut dan sudah mengurungkan pukulannya terhadap Siang In. Kini lebih kaget lagi melihat seorang pemuda melayang datang dan menghantam dengan pukulan yang membawa hawa dingin amat dahsyatnya itu.

Dari belakang raja itu, Petani Maut yang mengenal serangan dahsyat, sudah bergerak, meloncat ke depan, tangannya masih memegang sebuah guci arak penuh yang tadi hendak digunakan mengisi cawannya. Guci arak yang penuh itu kini dia pergunakan untuk menyambut hantaman Kian Bu yang dahsyat itu.

“Pyaaaarrrr....!”

Petani Maut terhuyung ke belakang dan menggigil kedinginan. Tambolon juga terbelalak melihat betapa guci itu pecah berkeping-keping dan araknya berhamburan ke mana-mana, sebagian menjadi butiran-butiran es karena beku oleh hawa mujijat dari Swat-im Sin-kang!

Menyaksikan kelihaian pemuda ini, Tambolon cepat berteriak kepada para pembantunya untuk mengepung dan mengeroyok. Gegerlah keadaan pesta itu. Kian Bu mengamuk dikeroyok oleh banyak jagoan-jagoan kaki tangan Tambolon. Panglima Bhutan dan empat orang pembantunya yang telah dibebaskan dari belenggu oleh kakek berambut putih tadi, kini juga mengamuk dan berusaha untuk mencari jalan keluar.

Akan tetapi, tempat itu sudah dikepung dengan ketat oleh anak buah Tambolon sehingga seperti juga Kian Bu, mengamuklah Panglima Jayin dan empat orang pembantunya. Pertandingan hebat, mati-matian dan kacau terjadilah di tempat itu.

Medan pesta berubah menjadi medan pertempuran. Para tamu yang sudah mabok ada yang ikut-ikut mengamuk, akan tetapi mereka ini roboh sendiri tanpa diserang karena berdiri pun mereka ini sudah tidak mampu tegak lagi. Ada pula tamu mabok yang enak-enak bernyanyi, ada yang memeluk wanita tanpa mempedulikan segala keributan itu. Pendeknya, tempat itu menjadi kacau-balau sama sekali.

Keributan menjadi makin kacau dan hebat, ketika ada minyak mengalir di bawah bangku dan meja yang berserakan dan tak lama kemudian minyak bakar ini disambar api yang dilepas oleh kakek berambut putih dengan membantingkan sebuah lentera ke atas lantai yang berminyak. Ruangan itu mulai dimakan api yang bernyala besar dan hawa menjadi panas bukan main.

Gegerlah semua orang yang sedang bertempur itu. Amukan api yang hebat membuat mereka lupa akan pertempuran, lupa akan lawan karena api merupakan lawan dan bahaya yang lebih hebat lagi. Larilah semua orang berserabutan menuju ke pintu dan berjejal-jejal dalam usaha mereka untuk keluar dari pintu karena api yang menjilat minyak itu berkobar tinggi dan sudah menjilat atap!

Melihat bahaya maut dari api yang mengamuk ini, Tambolon cepat menoleh dan menyambar ke arah pengantinnya. Ketika tangannya bergerak hendak menangkap lengan Teng Siang Hwa yang kini berpelukan dengan adiknya, dalam keadaan takut dan memandang ke arah pertempuran yang bubar oleh amukan api, Siang Hwa cepat mengelak dan gerakannya ini menyeret adiknya sehingga mereka terhuyung dan terpisah.

“Hayo kita pergi dari ruangan ini!”

Tambolon berseru dan kembali tangannya menyambar dan sekali ini agaknya Siang Hwa tidak akan dapat mengelak lagi.

“Dukkkk....!”

Tambolon terkejut dan terhuyung. Ketika dia memandang, ternyata seorang kakek berambut putih telah berdiri di depannya.

Suara hiruk-pikuk terdengar dan ada bagian atap yang roboh termakan api. Sebatang balok kayu bernyala jatuh menimpa ke dekat mereka. Kakek itu menjadi terhalang dan tidak dapat melindungi Siang Hwa.

Akan tetapi melihat Tambolon yang melompat ke samping menghindarkan diri dari timpaan balok sambil berusaha menubruk pengantinnya, kakek itu menggerakkan tangan kanannya mendorong ke arah Tambolon. Itulah pukulan jarak jauh yang dahsyat. Tambolon kembali tertahan gerakannya dan merasa ada hawa menyambar dia lalu menangkis.

Api makin membesar dan asap membuat mata Tambolon menjadi pedas dan panas. Maka dia lalu menubruk ke depan, akan tetapi karena dia melakukan ini dengan sebagian perhatian ditujukan kepada Si Kakek, dan matanya juga hampir terpejam karena panas dan pedas, dia salah tubruk dan yang tertangkap dan cepat ditotoknya itu bukannya Siang Hwa melainkan Siang In, adik Si Pengantin Wanita.

Akan tetapi Tambolon agaknya tidak peduli lagi dan cepat dia memanggul tubuh Siang In yang lemas tertotok itu di atas pundak kanannya dan dia meloncat dan lari dari ruangan yang terbakar itu melalui sebuah pintu rahasia.

Api mengamuk makin ganas dan makin banyak bagian atap ruangan itu yang ambruk. Kini mulailah penduduk perkampungan bajak atau anak buah Tambolon itu menggunakan air untuk mencoba memadamkan api yang mulai menjilat-jilat dan menjalar ke mana-mana. Asap hitam bergulung-gulung, memenuhi tempat itu, menghalangi pandangan dan menyesakkan napas.

Kekacauan ini memberi kesempatan baik sekali kepada Kian Bu dan lima orang Bhutan itu untuk melarikan diri karena semua orang lebih memperhatikan amukan api daripada para tawanan itu. Bahkan agaknya tidak ada lagi yang peduli akan tawanan-tawanan itu karena semua orang kini sibuk berusaha memadamkan api yang telah membakar habis ruangan pendopo tempat pesta tadi.

Dengan suara gemuruh ambruklah ruangan pesta yang luar biasa itu, berikut bangunan-bangunan di dekatnya, terbakar menjadi arang dan abu. Akhirnya api dapat dipadamkan setelah puas menghabiskan tempat itu, dan tawanan telah lolos! Lenyap semua tawanan-tawanan itu dan juga pengantin wanita.

Tambolon marah-marah, mencak-mencak karena sekali ini dia menderita rugi besar. Sebagian bangunan gedungnya musnah, para tawanan lolos dan pengantinnya kabur! Beberapa orang anak buahnya ada yang tewas dimakan api, ada pula yang luka-luka. Setelah dia melemparkan tubuh Siang In yang lumpuh itu ke atas pembaringan, dia lalu berlari ke luar dan teringatlah dia akan gurunya, nenek dari India itu. Ke mana perginya gurunya itu? Mengapa tidak kelihatan keluar dari ruangan yang terbakar?

Tambolon keluar dan menenangkan para tamu yang cerai-berai itu, dan berkata,
“Harap para tamu jangan pergi dulu, pesta akan dilanjutkan di taman bunga! Kebakaran ini tidak akan menghalangi kita bersenang-senang!”

Para tamu bersorak-sorai gembira dan semua menuju ke taman di mana mulai diatur oleh para anak buah Tambolon, sedangkan Tambolon sendiri bersama dua orang pengawalnya menuju ke puing bekas ruangan tadi untuk mencari nenek yang menjadi gurunya.

Nenek itu amat lihai dan sakti, akan tetapi memang sudah agak pikun. Jangan-jangan gurunya itu keenakan melamun sehingga dimakan api, atau bisa jadi juga gurunya itu melakukan pengejaran terhadap para tawanan dengan pembantu mereka yang lihai, yaitu pemuda tampan itu dan Si Kakek berambut putih!

Tambolon dan dua orang pengawalnya menghadapi tumpukan abu dan kayu-kayu yang menjadi arang, yang merupakan puing menggunung. Tiba-tiba terdengar suara terkekeh-kekeh dan tumpukan debu arang dan kayu itu berhamburan dan muncullah Si Nenek guru Tambolon itu sambil tertawa-tawa dan dalam keadaan segar bugar, hanya kotor penuh debu. Tidak ada luka, tidak ada yang terbakar pada tubuh nenek itu, dan sedikit pun tidak kelihatan dia kepanasan ketika dia melangkah dan menginjak sisa-sisa api yang masih membara itu dengan enaknya.

Para anak buah Tambolon yang sejak nenek itu datang memandang rendah nenek tua renta itu dan hanya menghormatinya karena Tambolon mengakui sebagai gurunya, kini terbelalak memandang kagum dan ngeri. Nenek ini seperti bukan manusia biasa tampaknya!

Tambolon cepat menyongsongnya dan bertanya,
“Subo (Ibu Guru) tidak apa-apa?”

Nenek itu tertawa, hanya mulutnya saja yang terbuka dan memperlihatkan lubang yang dalam dan tanpa ada giginya, hanya nampak gelap saja, tidak ada terdengar suara ketawa,

“Aku sedang melamun, tahu-tahu atap runtuh dan aku tertimpa. Mana dia si bocah tua bangka itu?” Matanya yang kecil penuh keriput di seputarnya itu memandang ke kanan kiri, mencari-cari. “Mana bocah gila itu? Dia selalu mengikuti dan mengganggu aku!”

“Siapakah yang Subo cari?” Tambolon bertanya.

“Siapa lagi kalau bukan See-thian Hoat-su? Aku tahu betul bahwa tadi dia datang dan kau kira siapa yang menimbulkan kebakaran kalau bukan dia? Sayang aku tadi sedang melamun, kalau tidak sudah kutangkap dia!”

Tambolon terkejut mendengar nama See-thian Hoat-su itu. Dia belum pernah bertemu dengan kakek itu, akan tetapi dia tahu bahwa See-thian Hoat-su adalah bekas suami gurunya ini. Menurut cerita gurunya yang pernah didengarnya, gurunya itu dahulu mempunyai seorang suami, seorang bangsa Han yang di waktu mudanya merantau ke India dan berguru kepada ayah nenek itu untuk belajar ilmu sihir. Nenek itu pun masih muda dan mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menjadi suami isteri.

Akan tetapi makin tua makin tidak cocoklah mereka dan seringkali mereka bercekcok sampai bertanding ilmu. Dalam hal ilmu silat, Si Suami lebih pandai, akan tetapi menghadapi ilmu sihir isterinya yang lebih lihai daripadanya, See-thian Hoat-su (Ahli Sihir dari Dunia Barat) ini merasa tobat sehingga akhirnya dia meninggalkan isterinya, kembali ke pedalaman.

Nenek itu sendiri setelah amat terkenal dan disebut Durganini, seolah-olah dia adalah titisan atau penjelmaan Dewi Durga, isteri dari maha dewa yang menjadi kepala dari bangsa iblis! Tambolon berguru kepada Durganini setelah nenek itu berpisah dari suaminya.

Tambolon teringat akan kakek rambut putih yang dilihatnya muncul tiba-tiba di waktu keadaan kacau-balau tadi.

“Ah, kakek rambut putih itukah See-thian Hoat-su?”

“Kalau dia muncul lagi, cepat beritahu agar dapat kucengkeram tengkuknya!”

Nenek itu berkata sambil berjalan ke kamarnya dan meneriaki pelayan agar datang membawa air, memandikannya dan mengganti pakaiannya.

Pesta itu dilanjutkan juga pada malam harinya. Para tamu dijamu lagi di ruangan belakang, tidak kalah meriahnya dengan sebelum terjadi keributan, dan kini pengantin wanita telah digantikan tempatnya oleh Siang In!

Dara remaja ini tidak berdaya karena ditotok dan dipaksa duduk bersanding dengan Tambolon di dalam ruangan itu! Pesta berlangsung dengan penuh kegembiraan dan gila-gilaan. Setelah merasa puas minum dan menjamu para tamunya, Tambolon yang sudah mulai mabok itu, timbul kegembiraannya melihat bahwa dara pengganti pengantinnya itu ternyata tidak kalah cantiknya dengan kakaknya yang telah melarikan diri!

Maka sambil tersenyum dia lalu memanggul tubuh “pengantinnya” itu dan di bawah sorak dan tawa para tamu yang masih belum pulang, Tambolon membawa pengantinnya itu pergi dari dalam ruangan dan terus menuju ke dalam kamar pengantin yang sudah terhias meriah dan berbau harum karena disiram minyak wangi dan dibakari dupa wangi!

Siang In terkejut dan ketakutan, akan tetapi karena dia sudah ditotok lumpuh, dia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali terbelalak seperti seekor kelenci yang diterkam harimau.

Tambolon sebenarnya bukanlah seorang yang mata keranjang atau gila wanita. Akan tetapi, dia mempunyai kepercayaan bahwa dia akan “awet muda” dan dapat menggunakan ilmunya untuk memindahkan kemurnian seorang gadis kepada tubuhnya sehingga memperkuat tenaga mujijatnya jika dia memperoleh seorang gadis, maka raja liar yang berilmu tinggi ini di mana-mana selalu mencari korban seorang gadis.

Dia tidak pernah jatuh cinta dan setiap kali mendapatkan seorang perawan, setelah dipermainkannya paling lama sepekan saja lalu “dioperkan” kepada para pembantunya untuk menyenangkan hati para pembantunya itu. Tentu saja setelah dia menyedot hawa murni dari gadis korbannya itu untuk memperkuat dirinya.

Dia tidak pernah mempunyai isteri dan karena kepandaiannya yang tinggi dan bantuan para kaki tangannya, amat mudah bagi Tambolon untuk di mana saja mencari perawan untuk menjadi korbannya. Betapapun juga, tentu saja untuk membangkitkan berahinya, dia selalu memilih wanita yang cantik.

Ketika Siang Hwa membawa bahan-bahan obat untuk dijual ke kota, dia bertemu dengan serombongan kaki tangan Tambolon yang dipimpin oleh Si Petani Maut. Melihat gadis cantik ini, Petani Maut yang memang sudah dipesan oleh Tambolon untuk mencarikan “isteri” lalu menangkapnya dan perlawanan Siang Hwa percuma saja.

Tambolon yang baru saja kehilangan pasukannya dan sedang berusaha untuk menghimpun tenaga, lalu menggunakan kesempatan memperoleh “isteri” baru itu untuk mengundang para pimpinan suku bangsa liar di utara mengadakan perjamuan untuk menyenangkan hati mereka.

Pesta pernikahan itu hanyalah alasan saja, karena yang penting baginya adalah menyenangkan hati calon-calon pembantu dan sekutunya itu dan ke dua memperoleh korban seorang perawan baru.

Demikianlah, dengan wajah berseri sungguhpun tadi dia marah-marah karena gangguan di dalam pesta sehingga terjadi kebakaran, kini Tambolon memanggul tubuh Siang In. Dengan kasar dia membentak para pelayan dan penjaga di depan kamarnya agar pergi, kemudian dia berkata kepada Siang In,

“Heh-heh, manis, sekarang kita hanya berdua saja, jangan kau bersikap malu-malu lagi....”

“Jahanam, iblis keji, anjing babi hina dina! Kau bunuhlah saja aku....!”

Siang In memaki-maki dengan suara serak karena sudah sehari penuh dia memaki-maki tadi. Kalau saja kaki tangannya tidak menjadi lumpuh ditotok secara istimewa oleh Tambolon, tentu dia sudah mengamuk atau membunuh diri.

“Heh-heh-heh, sayang kalau dibunuh, kau begini segar dan muda!” Tambolon menendang daun pintu kamarnya terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.

“Heh-haaaa?”

Dia terbelalak dan terheran-heran memandang ke dalam karena di tengah kamarnya, seperti seorang dewi dari kahyangan, berdiri seorang wanita yang cantik dan menyala pakaiannya, dengan gelung rambut tinggi dihias emas mutiara, jubahnya merah dan pakaiannya ketat membayangkan tubuh yang penuh tantangan, akan tetapi wanita ini berdiri sambil bertolak pinggang, sikapnya gagah dan sebatang pedang tergantung di punggungnya!

“Eh, Nona cantik, siapa kau....?”

Tambolon benar-benar terkejut dan kagum sekali. Wanita yang berdiri di dalam kamarnya itu biarpun tidak semuda gadis remaja yang dipanggulnya, akan tetapi cantik menarik dan penuh daya pikat, dengan tubuh yang sudah matang!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar