FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 117

Kita tinggalkan dulu keadaan Pulau Es yang menegangkan karena bahaya maut yang mengancam keluarga Pendekar Super Sakti, dan mari kita melihat bagaimana dengan keadaan Giam Kwi Hong dan Gak Bun Beng, dua orang muda yang terjungkal ke dalam jurang yang amat curam itu. Benarkah dugaan Milana bahwa karena cintanya kepada Kwi Hong, Gak Bun Beng sengaja meloncat untuk membunuh diri mengikuti kematian Kwi Hong? Tentu saja sama sekali tidak begitu!

Ketika Bun Beng yang sudah terluka itu melihat Kwi Hong datang menolongnya dan membelanya, dia merasa terharu dan berterima kasih sekali kepada nona ini. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat Kwi Hong terdesak hebat dan biarpun dia sudah berteriak memberi peringatan, namun terlambat dan tubuh dara itu terjengkang masuk ke dalam jurang yang amat curam. Bun Beng cepat melompat dan terjun ke dalam jurang dengan niat untuk sedapat mungkin menolong gadis itu.

Lompatan Bun Beng yang amat cepat itu, membuat ia berhasil menyusul tubuh Kwi Hong. Dengan lengan kirinya dia menyambar tubuh itu dan berhasil merangkul pinggang gadis itu yang sudah menjadi hampir pingsan karena merasa ngeri terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam itu. Kini tubuh keduanya meluncur ke bawah dengan kecepatan yang mengerikan, Kwi Hong menjadi pingsan ketika pandang matanya menjadi gelap oleh kabut yang menyambutnya di waktu tubuh mereka meluncur ke bawah. Akan tetapi, gadis ini tetap memegang gagang Li-mo-kiam dengan erat dan seolah-olah tangan kanannya menjadi kaku mencengkeram gagang pedangnya.

Biarpun lengan kirinya memeluk pinggang Kwi Hong dan lengan kanannya sudah setengah lumpuh oleh luka besar di pangkal lengan, namun tangan kanan Bun Beng masih tetap memegang Hok-mo-kiam dan pikirannya masih terang. Dia maklum bahwa kalau dia tidak mampu menahan luncuran tubuh mereka berdua, mereka tentu akan terbanting ke dasar jurang yang amat dalam dan tidak mungkin lagi dia menyelamatkan nyawa Kwi Hong atau nyawanya sendiri. Betapa pun kuatnya, tubuhnya dan tubuh Kwi Hong tentu akan terbanting remuk. Maka mulailah dia menggerak-gerakkan pedang di tangan kanannya, menusuk ke kanan kiri secara ngawur karena kanan kirinya gelap bukan main.

Kalau belum tiba saatnya untuk mati, betapapun hebat bahaya mengancam nyawa seseorang, ada saja jalannya untuk menyelamatkan diri. Bun Beng yang menusuk-nusukkan pedangnya itu, tiba-tiba mengerahkan tenaga karena pedang-nya menusuk benda keras di sebelah kanannya dan mukanya terasa perih seperti dicambuk. Cepat dia mengumpulkan tenaga di lengan kanannya dan menggerakkan kedua kakinya untuk menahan luncuran tubuh. Lengannya terasa seperti akan terlepas dari pundak, nyeri bukan main sampai mulutnya mengeluarkan teriakan merintih panjang ketika cengkeraman pada gagang pedangnya itu menghentikan luncuran tubuhnya yang diganduli tubuh Kwi Hong.




Ketika ia sudah dapat mengatasi rasa nyeri yang seolah-olah merobek seluruh tubuhnya, Bun Beng melihat bahwa tubuhnya berada di dalam sebuah pohon yang tumbuh di dinding jurang dan pedang Hok-mo-kiam tadi secara kebetulan sekali telah dapat menancap di batang pohon itu.

Timbul seketika harapannya untuk hidup. Dia mengangkat tubuh yang tadi dikempitnya itu ke atas pundak, menggunakan tangan kirinya untuk mengambil pedang Li¬mo-kiam yang masih tergenggam oleh tangan kanan dara itu, kemudian dia mencari dahan yang cukup besar untuk duduk dan mengatur napas.

Pedang Hok-mo-kiam dia biarkan menancap dan menembus batang pohon itu, bahkan kini dia menancapkan Li-mo-kiam di dahan agar jangan jatuh ke bawah. Ketika dia memandang ke bawah, dia memejamkan matanya penuh kengerian. Kini tampak dasar jurang itu yang merupakan sungai atau bekas sungai dangkal, penuh dengan batu-batu yang besar. Tentu tubuhnya dan tubuh Kwi Hong akan hancur kalau jatuh ke bawah sana!

Memandang ke atas hanya tampak awan menutupi puncak tebing jurang. Akan tetapi dinding jurang itu ternyata banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil dan batu-batu menonjol sehingga memungkinkan orang untuk memanjat ke atas!

Bun Beng memangku Kwi Hong yang masih pingsan. Tak lama kemudian dara itu mengeluh panjang dan membuka matanya. Sebelum dia bergerak, Bun Beng cepat memegang kedua lengannya dan berkata,

“Kwi Hong, jangan bergerak! Kita masih hidup, tertolong oleh pohon yang tumbuh di dinding jurang ini. Tenanglah, kita masih mempunyai harapan besar untuk keluar dari bahaya!”

Kwi Hong membelalakkan matanya, memegang dahan pohon dan menekan perasaannya yang ngeri kalau dia teringat betapa tadi dia terjerumus ke dalam jurang! Tahulah dia begitu melihat Bun Beng bahwa pemuda ini yang menolong-nya!

Dia memandang ke bawah dan seperti yang dilakukan Bun Beng tadi, dia memejamkan mata, kemudian memandang ke atas, lalu kembali memandang Bun Beng dan menarik napas panjang. Dengan suara halus dia berkata,

“Kembali engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku melihat engkau tadi meloncat mengejarku. Gak Bun Beng, mengapa engkau rela mempertaruhkan nyawamu untuk menolongku?”

Sepasang mata itu menatap wajah Bun Beng dengan penuh perhatian, dengan tajam sekali seolah-olah hendak membuka dada menjenguk isi hati pemuda itu.

“Ah, mengapa engkau masih bertanya, Kwi Hong? Tentu saja aku akan menolong siapa yang terancam bahaya. Engkau sendiri tanpa mempedulikan lawan yang lihai dan banyak jumlahnya, telah membela aku di atas tadi.”

Kwi Hong lalu menarik napas panjang, kemudian berkata, suaranya bernada sedih,
“Tentu saja begitu.... mengapa aku menyangka yang bukan-bukan? Tentu saja engkau menolongku bukan karena engkau.... cinta padaku....” Gadis itu memejamkan kedua matanya dan mengerutkan alisnya.

Bun Beng menyentuh lengannya,
“Kwi Hong.... apa artinya kata-katamu itu?”

Tanpa membuka matanya Kwi Hong menjawab lirih,
“Artinya, Bun Beng.... bahwa semenjak dahulu aku jatuh cinta kepadamu biarpun aku maklum bahwa hal ini tidak mungkin dilanjutkan, bahwa engkau mencinta Milana dan.... aku pun menjadi korban cintaku yang sepihak itu....”

Kwi Hong lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa dia telah tertipu oleh rombongan Koksu sehingga membantu mereka dan setelah para pemberontak kalah, dia bahkan mengajak Koksu dan kaki tangannya itu ke Pulau Es! Betapa kemudian pamannya datang bersama kedua orang isteri pamannya, Puteri Nirahai dan Lulu, dan betapa Koksu dan kaki tangannya dapat dikalahkan oleh paman-nya dan diusir dari Pulau Es. Kemudian dia disuruh oleh pamannya untuk mendari Bun Beng dan Milana.

“Engkau.... engkau telah dijodohkan dengan Milana....”

Bun Beng termenung.
“Akan tetapi.... mengapa Milana bersikap seperti itu?”

“Agaknya aku mengerti apa yang telah terjadi,” Kwi Hong menarik napas panjang “Semua gara-gara Si Jahanam Wan Keng In. Orang itu benar-benar amat jahat sekali, melebihi iblis!”

Dia lalu menceritakan betapa ia mendengar bahwa Milana diculik orang. Dia menduga bahwa tentu Wan Keng In yang menculiknya, maka dia menyusul ke Pulau Neraka.

“Kembali aku tertipu oleh Wan Keng In, dan.... dan.... di Pulau Neraka.... aihh....”

Tiba-tiba Kwi Hong menangis tersedu-sedu, teringat betapa dia telah menyerahkan diri dengan suka rela, penuh kemesraan, penuh kehangatan dan kebahagiaan, kepada Wan Keng In yang disangkanya adalah Gak Bun Beng!

“Kenapa Kwi Hong? Apa yang terjadi....?”

Diceritakanlah semua secara terus terang oleh Kwi Hong, betapa di tengah jalan dia diberi racun perampas ingatan oleh Keng In, kemudian betapa pemuda Pulau Neraka itu menyamar sebagai Bun Beng dan merayunya sehingga dia menyerahkan diri dan kehormatannya!

“Tadinya aku tidak tahu sama sekali bahwa ingatanku telah hilang sehingga aku menganggap bahwa orang yang bersamaku pergi ke Pulau Neraka adalah.... engkau.... dan setelah tiba di Pulau Neraka, baru aku sadar namun.... sudah terlambat....! Aku melihat Milana juga terampas ingatannya, Milana melihat betapa aku ber.... bermain cinta, berjina dengan.... Gak Bun Beng yang sebetulnya adalah Wan Keng In.... semua telah diatur oleh Keng In agar Milana membencimu! Ketika Keng In muncul yang disangka engkau oleh Milana, Milana menyerangnya. Dia lari ketika kau datang.... kami mengejar dan berpisah di daratan....”

Bun Beng bengong memandang Kwi Hong. Melihat Kwi Hong menangis lagi terisak-isak, menjadi terharu sekali dan merangkul pundak gadis itu.

“Kwi Hong.... mengapa kau lakukan itu....? Mengapa kau begitu mudah menyerahkan diri kepada seorang pria, biarpun kau mengira pria itu aku orangnya?”

Kwi Hong mengangkat mukanya yang merah dan basah air mata.
“Karena aku cinta kepadamu, Bun Beng. Karena aku tahu bahwa tak mungkin menjadi isterimu karena engkau telah dijodohkan dengan Milana. Maka aku rela menyerahkan diriku kepadamu.... biarpun tidak usah menjadi isterimu.... akan tetapi.... ya Tuhan, kiranya bukan engkau itu, melainkan Si Jahanam Keng In.” Tiba-tiba matanya terbelalak lebar dan berseru penuh semangat, “Aku harus membunuhnya! Harus!”

Bun Beng menundukkan mukanya. Mengertilah dia sekarang. Dengan menggunakan obat racun perampas ingatan, Wan Keng In telah memperkosa Kwi Hong, kemudian dia pun meracuni Milana sehingga dara itu kehilangan ingatannya pula, maka mudah saja Milana tertipu ketika melihat Keng In dan Kwi Hong bermain cinta, mengira bahwa Keng In adalah dia sendiri sehingga Milana membencinya setengah mati!

Dan dia dapat menduga sekarang bahwa yang membunuh suami isteri di pinggir telaga setelah memperkosa isteri itu, tentu bukan lain adalah Wan Keng In pula! Juga yang memperkosa Lu Kim Bwee dan menggunakan namanya, tentu pemuda itu yang agaknya amat membencinya dan sengaja memalsukan namanya untuk merusak nama baiknya. Hanya dia tidak mengerti mengapa Ang Siok Bi puteri Ketua Bu-tong-pai itu pun ikut membencinya? Dan kakek bermuka buruk itu? Semua ini adalah siasat Wan Keng In. Mengapa Wan Keng In demikian membencinya?

“Sungguh heran sekali, mengapa dia begitu membenciku? Mengapa sejak dahulu Wan Keng In memusuhi aku dan kini berusaha mati-matian untuk merusak namaku?”

“Apakah engkau belum dapat mengerti Bun Beng? Dia membencimu karena cemburu. Dia jatuh cinta kepada Milana, sebaliknya Milana tidak melayaninya karena Milana cinta kepadamu. Itulah sebabnya.”

Bun Beng menggeleng-geleng kepalanya dan seperti berkata kepada diri sendiri dia berkata.
“Cinta....! Betapa ganjil orang yang terkena penyakit ini! Wan Keng In rela melakukan perbuatan yang amat keji, memperkosa, membunuh, untuk merusak namaku gara-gara cemburu dan katanya dia mencinta! Engkau sendiri sampai rela menyerahkan diri dan kehormatan, juga karena cinta! Milana sekarang amat membenciku, siap untuk membunuhku dengan tangannya sendiri, juga gara-gara benci yang timbul dari cinta! Benarkah semua itu adalah cinta? Begitu buruk, begitu keji dan hinakah cinta yang diagung-¬agungkan itu? Atau semua itu sesungguhnya hanya nafsu belaka yang memakai kedok cinta sehingga bukanlah cinta yang sesungguhnya?”

“Gak Bun Beng, engkau sendiri, bukankah engkau mencinta Milana?”

Kwi Hong bertanya karena ucapan-ucapan orang yang dicintanya itu benar-benar mendatangkan kesan di dasar hatinya.

Bun Beng menarik napas panjang.
“Setelah menyaksikan semua peristiwa yang terjadi karena perasaan apa yang disebut cinta, semua kekacauan, pertentangan, permusuhan, penderitaan, yang timbul karena hal yang dinamakan cinta itu, aku sendiri menjadi bingung dan tidak berani mengatakan apakah aku benar-benar cinta kepada Milana atau kepada siapapun juga. Aku merasa ngeri kalau ternyata kemudian bahwa cintaku kepada Milana ternyata sama saja nilainya seperti cinta-cinta mereka itu! Betapa mengerikan! Aku akan merasa jijik kepada diriku sendiri kalau cintaku hanya seperti itu! Kwi Hong, aku tidak tahu lagi! Sudahlah, tak perlu kita tenggelam lebih dalam membicarakan urusan cinta yang sulit ini. Yang membuat aku tidak mengerti, mengapa puteri Ketua Bu-tong-pai ikut-ikutan memusuhi aku? Dan pula kakek muka buruk itu....!”

“Aku sendiri tidak tahu mengapa gadis-gadis itu memusuhimu. Agaknya juga menjadi korban Wan Keng In yang menggunakan namamu. Akan tetapi kakek itu.... hemmm, apakah engkau tak dapat menduganya dia siapa?”

“Siapakah dia?”

“Aku berani bertaruh bahwa dia itu tentu Bhong Ji Kun!”

“Koksu....?” Bun Beng terbelalak, kemudian mengingat-ingat dan mengangguk. “Kau benar! Sekarang aku ingat akan gerakan-gerakannya! Akan tetapi mukanya.... mengapa menjadi seperti itu?”

“Ketika Koksu dan anak buahnya diusir oleh paman meninggalkan Pulau Es, mereka menggunakan perahu besar mereka ke selatan. Agaknya perahu mereka diserang badai, dan dengan bantuan Wan Keng In sehingga aku makin mudah terbujuk dan tertipu olehnya, aku berhasil membunuh tiga orang pembantunya yang berhasil menyelamatkan diri di pantai Po-hai. Aku tidak melihat Koksu di antara mereka, agaknya Koksu pun berhasil menyelamatkan diri di tempat lain, akan tetapi.... dalam keadaan rusak mukanya seperti itu.”

Bun Beng memandang Kwi Hong dengan muka membayangkan kekhawatiran.
“Dan Milana berada bersama Keng In dan Koksu!”

“Memang berbahaya sekali. Kalau tidak segera mendapat pertolongan, tentu Milana akan celaka,” kata Kwi Hong.

“Kalau begitu kita tunggu apalagi Kwi Hong, mari kita mencoba memanjat ke atas dengan bantuan pedang kita.”

Kwi Hong mengangguk, akan tetapi sebelum Bun Beng mulai merayap membuka jalan, dia memegang lengan pemuda itu.

“Pundakmu terluka parah....”

“Tidak apa, aku dapat bertahan.”

“Bun Beng....”

“Ada apa, Kwi Hong?”

“Tadinya aku sudah bersumpah di dalam hatiku sendiri bahwa aku tidak akan kembali ke Pulau Es. Sekarang, bersamamu dan melihat perkembangannya, mau tidak mau aku harus kembali ke sana karena aku menduga bahwa tentu Keng In melanjutkan siasatnya dan mengajak Milana ke Pulau Es. Karena itu, Bun Beng, maukah engkau berjanji....?”

Bun Beng mengerutkan alisnya. Gadis ini telah mengalami hal yang amat menyedihkan.
“Katakanlah, aku akan memenuhi permintaanmu, Kwi Hong.”

“Aku tahu bahwa tidak mungkin aku menjadi jodohmu, karena itu, aku hanya minta agar kelak, baik aku dalam keadaan hidup atau sudah mati, sukakah engkau berjanji akan.... akan selalu ingat kepadaku, dan tidak akan melupakan aku?”

Bun Beng merasa jantungnya seperti ditusuk. Gadis yang telah tertimpa malapetaka hebat ini yang agaknya sudah tidak mempunyai gairah hidup, tidak memiliki harapan apa-apa lagi di dunia dan kebahagiaannya sudah hancur, agaknya menjadi seperti seorang anak kecil! Dengan penuh keharuan dia memegang kedua tangan dara itu. Lalu menunduk dan mencium dahi Kwi Hong sambil berbisik,

“Aku berjanji, Kwi Hong, bahwa aku akan mengingatmu selalu. Mana mungkin aku dapat melupakanmu, Kwi Hong?”

Terdengar sedu sedan naik dari dada gadis itu, akan tetapi dia tersenyum, wajahnya berseri dan matanya berkejap-kejap untuk mengusir dua butir air mata yang mengganggu penglihatannya.

“Engkau baik sekali, Bun Beng. Terima kasih....! Nah, mari kita lekas memanjat naik, tunggu apalagi?”

Dalam suara Kwi Hong kini terkandung kegairahan yang aneh, seolah-olah janji yang diberikan oleh Bun Beng untuk selalu mengingatnya menjadi semacam obat dalam kegelapan yang dihadapinya!

Maka merayap dan memanjatlah kedua orang itu ke atas dengan hati-hati sekali, berpegang pada akar-akar dan batang-batang pohon dan batu-batu menonjol, dibantu oleh pedang mereka yang dapat ditancapkan pada dinding jurang sehingga dapat dipergunakan sebagai pegangan. Karena keduanya telah memiliki gin-kang yang tinggi, dan di tangan mereka terdapat sebatang pedang pusaka yang amat ampuh, maka biarpun amat lambat, perlahan-¬lahan mereka dapat naik juga meninggalkan pohon penolong mereka itu untuk menuju ke puncak tebing dari mana mereka tadi meluncur jatuh.

**** 117 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar