FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 116

Tubuh Suma Han Pendekar Super Sakti kini menjadi agak gemuk dan mukanya kelihatan segar berseri. Dia benar-benar merasa seperti hidup baru bersama dua orang isterinya di Pulau Es. Biarpun mereka seolah-olah hidup mengasingkan diri dari dunia ramai, namun hidup mereka penuh dengan cinta kasih diantara mereka!

Memang, kalau hati sudah penuh cinta kasih, orang tidak membutuhkan apa-apa lagi, dan kalau hati selalu aman tenteram tubuh pun menjadi sehat! Juga di wajah kedua orang wanita cantik itu, Nirahai dan Lulu, membayang kebahagiaan yang membuat wajah mereka berseri dan segar kemerahan kedua pipinya seperti wajah dua orang gadis muda saja!

Siang hari itu, Suma Han dan kedua orang isterinya berdiri di tepi pantai Pulau Es sebelah barat, memandang ke arah sebuah perahu yang meluncur cepat menuju ke Pulau Es, setelah perahu agak dekat dan mereka dapat mengenal dua di antara empat orang yang berada di dalam perahu, Nirahai dan Lulu berseru girang,

“Milana....!”

“Keng In....!”

Suma Han diam saja dan pendekar ini merasa hatinya terusik oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia tidak melihat Bun Beng dan Kwi Hong.

“Siapakah dua orang kakek itu?” Dia berkata perlahan seolah-olah bertanya kepada diri sendiri.

“Seorang di antara mereka adalah Sai-cu Lo-mo, bekas pembantuku,” kata Nirahai. “Kakek muka buruk itu entah siapa.”

Lulu juga tidak mengenal kakek muka buruk yang tadinya dia kira Cui-beng Koai-ong akan tetapi setelah perahu makin mendekat ternyata bukan. Setelah perahu menempel di pulau, empat orang itu melompat ke darat, Keng In segera lari dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Lulu sambil berseru,

“Ibu....!”




Bukan main girangnya hati ibu yang seolah-olah menemukan kembali anaknya ini ketika menyaksikan sikap Keng In. Dia memeluknya dan air matanya bercucuran.

Milana juga dipeluk oleh Nirahai, akan tetapi dara ini menangis dan menyembunyikan mukanya di dada ibunya. Sai-cu Lo-mo melompat maju dan duduk menghadapi Nirahai dan Suma Han, kemudian berkata,

“Harap Taihiap dan Pangcu sudi memaafkan saya yang berani lancang mendatangi Pulau Es.”

Nirahai menjawab.
“Tidak mengapa Lo-mo. Kenapa kedua kakimu?”

Sai-cu Lo-mo tersenyum.
“Akibat penyerbuan yang lalu, Pangcu.”

“Totiang siapakah?”

Suma Han bertanya sambil memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik kepada Koai-san-jin yang masih berdiri sambil menundukkan mukanya.

Wan Keng In segera menjawab,
“Dia adalah Koai-san-jin, seorang pertapa yang telah banyak menolong dan membantu kami, terutama sekali ketika menghadapi Si Jahat Gak Bun Beng.”

Terkejutlah Suma Han, Lulu, dan Nirahai mendengar kata-kata yang menyebut Gak Bun Beng penjahat ini.

“Keng In! Apa maksud kata-katamu ini?”

Lulu memegang pundak puteranya sambil memandang tajam. Juga Nirahai dan Suma Han menatap wajah pemuda itu.

“Ibu, aku hanya membantu adik Milana, harap tanyakan kepadanya saja.”

Tiga orang penghuni Pulau Es itu kini semua menoleh dan memandang kepada Milana yang masih menangis, bahkan kini dara itu menangis makin sedih sambil berlutut di atas salju.

Suma Han yang dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal-hal yang hebat sekali, lalu berkata,
“Mari kita semua masuk ke istana dan bicara di sana.”

Tanpa berkata-kata, pergilah mereka semua ke istana di tengah pulau, dan Sai-cu Lo-mo berloncatan menggunakan kedua tangannya, dipandang dengan penuh iba oleh Nirahai,

“Nanti akan kucoba mengobati kedua kakimu, Lo-mo,” kata-nya lirih dan kakek itu hanya mengangguk dan tersenyum penuh terima kasih.

Setelah tiba di ruangan dalam Istana Pulau Es dan mereka telah mengambil tempat duduk, Suma Han lalu berkata kepada Milana,

“Sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi.” Dia berhenti sebentar dan mengerling ke arah Keng In dan Koai-san-jin yang hanya duduk sambil menunduk, kemudian disambungnya, “Dan di mana adanya Gak Bun Beng dan Giam Kwi Hong?”

Milana turun dari tempat duduknya dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, menangis lagi.

“Ayah, ampunkan saya....”

Suma Han menarik napas panjang dan menyentuh rambut kepala puterinya itu.
“Milana, bersikaplah tenang dan ceritakan semua.”

“Enci Kwi Hong dan.... dan.... Bun Beng telah tewas, Ayah....”

Terdengar seruan kaget dari mulut Nirahai dan Lulu, dan kalau saja Suma Han tidak memiliki kekuatan batin yang luar biasa, dia pun tentu akan terkejut bukan main mendengar berita hebat ini. Sejenak suasana menjadi sunyi sekali, yang terdengar hanya isak Milana.

“Ayah.... Ibu.... semua telah saya ceritakan kepada Sai-cu Lo-mo, harap Bhok-kongkong saja yang mewakili saya menceritakan kepada Ayah dan Ibu....”

Suma Han dan Nirahai menoleh kepada kakek lumpuh itu dan Nirahai mengangguk sambil berkata,

“Lo-mo, ceritakanlah apa yang telah terjadi.”

Sai-cu Lo-mo segera menceritakan dengan singkat dan jelas, mengulang penuturan Milana kepadanya, betapa Milana bertemu dengan anak buah Tiong-gi-pang, kemudian bertemu dengan dia dan betapa dara itu menceritakan semua kejahatan yang dilakukan Gak Bun Beng di Pulau Neraka, merayu dan mengajak berjina dara itu yang ditolaknya, kemudian betapa Milana menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Bun Beng berjina dengan Kwi Hong.

Kemudian dia menceritakan munculnya dua orang dara yang juga menjadi korban perkosaan Gak Bun Beng dan betapa ketiga orang dara itu, kemudian dibantu oleh Wan Keng in dan Koai-san-jin, berhasil mengepung Bun Beng yang bersembunyi di dalam guha. Akhirnya dia menceritakan peristiwa yang disaksikannya sendiri ketika Kwi Hong membantu Bun Beng sehingga akhirnya kedua orang itu terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam dan diduga tentu sudah tewas.

“Sungguh tidak kusangka....!” Terdengar Lulu memberi komentar setelah mendengar penuturan singkat kakek lumpuh itu.

“Untung engkau masih dapat menjaga kehormatanmu, Milana!” Nirahai memeluk anaknya.

Suma Han duduk seperti arca kemudian menarik napas panjang. Penuturan itu sungguh tak disangkanya sama sekali, dan andaikata bukan kakek lumpuh itu yang mewakili Milana, agaknya akan sukar dapat dipercaya. Mungkinkah Bun Beng berubah menjadi sejahat itu? Dan Kwi Hong? Anak yang dididiknya sejak kecil?

“Ibu, aku mendengar bahwa Gak Bun Beng adalah keturunan Gak Liat datuk kaum sesat yang jahat seperti iblis. Tidaklah aneh kalau dia pun mewarisi watak ayahnya,”

Wan Keng In menghentikan kata-katanya ketika sinar mata Suma Han menyambar seperti kilat ke arahnya. Sinar mata Pendekar Super Sakti itu seolah-olah halilintar menyambar dan agaknya pendekar itu dapat menjenguk dan membaca semua yang terkandung di dalam hatinya!

“Keng In, engkau adalah anakku juga dan aku ayahmu. Hayo ceritakan mengapa Milana sampai berada di Pulau Neraka?”

Ditanya begini, seketika wajah Wan Keng In menjadi pucat. Melihat keadaan pemuda itu, Milana yang merasa bahwa Keng In kini telah berubah menjadi baik, bahkan telah membantunya mati-matian ketika menghadapi Bun Beng, segera berkata,

“Ayah, karena tidak betah berada di istana di kota raja, saya pergi keluar, dan bertemu dengan dia. Saya menerima ajakannya untuk pergi ke Pulau Neraka.”

Suma Han memandang wajah dara itu, Milana cepat menunduk karena dia pun tidak tahan melihat sinar mata yang seolah-olah menembus dadanya itu. Lulu maklum betapa dahulu puteranya amat nakal, maka dia membentak,

“Keng In! Hayo kau ceritakan dengan terus terang. Seorang jantan harus berani mengakui segala kesesatannya dan pengakuan itu sudah merupakan langkah pertama ke arah perbaikan!”

Mendengar ini, Suma Han memandang Lulu dengan senyum di bibir dan mengangguk¬-angguk. Wan Keng In segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayah tirinya itu dan berkata,

“Tidak saya sangkal bahwa saya pernah jatuh cinta kepada Adik Milana. Akan tetapi setelah saya mendengar bahwa dia adalah saudara tiri saya, cinta itu berubah menjadi cinta seorang kakak, maka saya membantunya untuk mencari dan menghadapi Gak Bun Beng. Harap Ayah sudi mengampuni semua kesalahan saya.”

Kembali pendekar besar itu menarik napas panjang.
“Sudahlah....” katanya untuk menutupi rasa perih di dalam hatinya karena kematian Kwi Hong yang sama sekali tidak disangka¬sangka itu. Kemudian dia menoleh kepada Sai-cu Lo-mo dan Koai-san-jin.

“Lo-mo, sebagai bekas pembantu isteri saya, bukanlah orang luar dan saya mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu. Juga kepada Koai-san-jin Totiang, sebagai seorang tamu kami, saya menghaturkan terima kasih. Ji-wi (Anda Berdua) kami persilakan untuk tinggal di sini selama tiga hari, setelah itu akan kami antar kembali ke darat.”

Dua orang kakek itu menghaturkan terima kasih dan mereka masing-masing memperoleh sebuah kamar di dalam Istana Pulau Es itu sebagai tamu-tamu. Akan tetapi karena di istana kuno itu tidak terdapat pelayan, maka tentu saja penyambutan pihak penghuni istana juga amat bersahaja.

Betapapun juga Nirahai dan Lulu yang masing-masing merasa amat berbahagia karena anak mereka telah datang dengan selamat, mempersiapkan perjamuan makan dan membuat masakan-masakan dari bahan yang memang banyak disediakan di pulau itu, kemudian di malam hari itu, sebagai perayaan kembalinya anak-anak mereka, mereka menjamu dua orang tamu itu dengan masakan dan arak.

Ketika sore hari tadi, selagi Nirahai, Milana dan Lulu sibuk di dapur mempersiapkan masakan diam-diam Wan Keng In pergi ke dalam kamar Koai-san-jin dan mereka berdua bicara dengan bisik-bisik, kelihatan serius sekali. Kurang lebih satu jam lamanya dua orang ini bicara bisik-bisik, kemudian Wan Keng In meninggalkan kamar itu dan pergi ke dapur untuk membantu tiga orang wanita yang sibuk mempersiapkan masakan-masakan.

Malam itu perjamuan sederhana dilakukan dengan cukup meriah. Bahkan Suma Han kelihatan gembira dan berseri wajah-nya. Agaknya pendekar ini telah melupakan kedukaan hatinya karena kematian Kwi Hong, dan agaknya melihat kedua orang isterinya bergembira, dia pun ikut gembira. Setelah perjamuan selesai yang dilanjutkan dengan omong-omong, mereka semua pergi beristirahat di kamar masing-masing. Sebentar saja keadaan menjadi sunyi, agaknya semua orang kebanyakan minum arak sehingga dapat segera tidur dengan nyenyak.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, terjadilah hal yang amat luar biasa. Pendekar Super Sakti Suma Han, Nirahai, Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo keluar dari kamar dan berjalan dengan sinar mata kosong! Sai-cu Lo-mo juga berloncatan dengan alis berkerut dan mata bingung, mulutnya tiada hentinya bertanya.

“Di mana aku? Apa yang terjadi? Di mana ini?”

Keluarga Pendekar Super Sakti, kecuali Wan Keng In, juga saling pandang dengan mata kosong seolah-olah tidak saling mengenal lagi. Mereka lalu duduk di atas kursi dan termenung! Mereka telah kehilangan ingatan! Wan Keng In dan Koai-san-jin saling memandang dan tersenyum lebar, membuat wajah Wan Keng In makin tampan akan tetapi wajah kakek itu menjadi makin buruk!

“Bagus sekali, Wan-taihiap! Racun perampas ingatan itu benar-benar mengagumkan sekali!” Koai-san-jin berkata memuji.

“Racun ini adalah buatan Suhu Cui-beng Koai-ong, tentu saja hebat!” Keng In berkata, Sekarang, apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka, Bhong-koksu?”

“Heh-heh-heh, aku sudah bukan Koksu lagi, melainkan seorang tua bertubuh rusak seperti setan yang hanya ingin melaksanakan pembalasan dendamku. Serahkan saja Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai kepadaku, Wan-taihiap, dan yang lain-lain terserah kepadamu.”

“Bagus, memang begitulah kehendakku. Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan terhadap diri mereka berdua. Aku akan membawa ibuku dan Milana ke Pulau Neraka.”

“Dan Si Lumpuh Sai-cu Lo-mo....”

“Dia? Ha-ha, orang sudah lumpuh begitu untuk apa? Bunuh saja atau tinggalkan sendiri di sini!”

Mereka berdua tertawa bergelak, gembira karena mereka telah berhasil menundukkan pendekar yang paling hebat di dunia ini. Pendekar Super Sakti bersama isteri-isterinya yang sakti! Sambil tersenyum-senyum mereka berdua lalu memasuki ruangan di mana Suma Han, Nirahai, Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo duduk di kursi dengan sinar mata kosong.

“Suma Han dan Puteri Nirahai, marilah kalian ikut bersamaku. Ada urusan penting sekali yang akan kusampaikan kepadamu!” berkata Koai-san-jin kepada Suma Han dan Nirahai.

Kedua orang ini memandang kepada kakek buruk itu dengan bingung dan biarpun mereka bangkit berdiri, namun agaknya mereka ragu-ragu.

“Lihat, aku adalah Koai-san-jin, sahabat baik kalian! Mari kalian ikut bersamaku untuk mengambil pusaka Pulau Es yang disimpan di sana!” Kakek itu menuding ke luar.

“Pusaka Pulau Es....?”

Suma Han menggumam, kemudian dia melangkah bersama Nirahai mengikuti kakek muka buruk yang mendahului mereka keluar dari istana menuju ke bagian yang paling tinggi dari pulau itu, di sebuah tebing di pantai yang amat curam. Suami pendekar itu mengikuti kakek muka buruk dengan gerakan seperti mayat-mayat hidup!

**** 116 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar