FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 114

Telah hampir setengah bulan Siok Bi dan Kim Bwee tinggal di markas Tiong-gi-pang dan menunggu hasil para anak buah Tiong-gi-pang yang disebar oleh Milana dan Sai-cu Lo-mo untuk mencari jejak Gak Bun Beng.

Pada suatu pagi, dua orang anggauta Tiong-gi-pang datang menghadap. Kedua orang ini terluka, dada dan perut mereka digores-gores pedang akan tetapi agaknya penyerang mereka hanya ingin menyiksa saja, tidak membunuh sehingga yang pecah-pecah hanya kulit mereka saja. Tentu saja kedua orang ini menderita nyeri yang hebat.

Sai-cu Lo-mo cepat memeriksa mereka dan memberi obat, sedangkan kedua orang itu bercerita bahwa mereka telah bertemu dengan Gak Bun Beng!

“Di mana Si jahanam itu?” Kim Bwee bertanya penuh nafsu.

“Kami sedang menyelidik ke selatan, dekat kota Gin-coa-thung malam tadi karena kami mendengar bahwa disana tampak seorang laki-laki asing yang bertopi lebar. Tiba-tiba muncul Gak Bun Beng. Dia seorang pemuda tampan dengan topi caping lebar. Dia menghadang kami dan mengaku bahwa dia Gak Bun Beng. Kami mencabut senjata, akan tetapi dengan sekali tangkis saja senjata kami patah semua dan pedangnya yang luar biasa itu berkelebat beberapa kali. Kami berusaha melawan, akan tetapi percuma dan pakaian kami robek-robek semua, perut dan dada kami mengeluarkan darah. Kemudian dia berkata bahwa dia merasa kesepian dan rindu kepada Nona bertiga!”

Hampir saja Milana menampar muka anak buah Tiong-gi-pang itu kalau dia tidak teringat bahwa orang itu hanya menceritakan pengalamannya yang tidak menyenangkan.

“Iblis busuk Gak Bun Beng!” Siok Bi memaki marah.

“Kemudian bagaimana? Di mana dia?”

Milana mendesak orang yang bercerita itu, yang kelihatan takut karena dia harus menceritakan hal yang menghina tiga orang nona pendekar itu.




“Dia berpesan agar saya menyampaikan kepada Sam-wi Siocia (Nona Bertiga) bahwa hari ini dia menanti Sam-wi di dusun Gin-coa-tung, di sebelah Selatan, di kaki bukit.”

Mendengar ini seperti dikomando saja, tiga orang dara itu sudah meloncat ke luar dari ruangan itu dan terus mereka berlari ke luar dari kuil, menuju ke selatan. Melihat ini, Sai-cu Lo-mo menggeleng-geleng kepalanya. Kakek yang sudah lumpuh kedua kakinya ini berduka sekali. Dia memanggil empat orang anak buahnya dan minta untuk dipanggul dan dibawa menuju ke Gin-coa-thung.

Gin-coa-thung adalah sebuah kota kecil, lebih tepat disebut dusun, di kaki bukit di sebelah utara kota raja itu. Siang hari itu, Gak Bun Beng keluar dari dusun di mana malam tadi dia bermalam, untuk melanjutkan perjalanannya ke selatan, menuju kota raja. Dia telah melakukan perjalanan jauh sekali. Setelah dengan susah payah dia berhasil menemukan Pulau Neraka dan dengan hati girang dan lega melihat Milana dalam keadaan selamat, juga Kwi Hong, dia menjadi terheran-heran dan terkejut karena Milana menyerangnya.

Kemudian, setelah dia melihat dua orang kakek sakti, Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin, keduanya tewas dalam pertandingan antara mereka yang amat dahsyat, pemuda ini meninggalkan Pulau Neraka. Karena dia ingin mencari Milana yang melarikan diri dan pergi bersama Kwi Hong, dia menuju ke kota raja dan pada siang hari itu dia meninggalkan Gin-coa-thung menuju ke selatan, ke kota raja yang tidak jauh lagi letaknya dari situ.

Tiba-tiba Bun Beng berhenti melangkah ketika telinganya menangkap suara teriakan dari belakang. Dia membalikkan tubuhnya dan wajahnya berseri ketika melihat Milana bersama dua orang dara lain berlari datang!

“Milana....!”

Dia berseru girang, akan tetapi merasa heran dan khawatir ketika tiga orang gadis itu sudah tiba di depannya dia melihat bahwa dua orang gadis yang lain itu adalah Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee! Tentu saja melihat Kim Bwee, timbul kekhawatirannya karena dia disangka memperkosa gadis ini! Dan dia menjadi lebih khawatir ketika tiba-tiba tiga orang gadis itu mencabut pedang dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan. Dia tidak mempedulikan pandang mata Siok Bi dan Kim Bwee, akan tetapi melihat betapa Milana memandangnya penuh kebencian, dia benar-benar merasa cemas.

“Milana, sungguh tak kusangka dapat bertemu denganmu di sini! Kau hendak ke mana....?”

“Hendak membunuhmu!” Milana membentak dan pedang di tangannya tergetar.

“Milana.... apa.... apa kesalahanku....?”

“Laki-laki pengecut! Kau hendak menyangkal apa yang telah kau lakukan terhadap diriku!” Kim Bwee membentak dan pedangnya menyambar dahsyat.

“Singgg.... wuuuttt....!” Bun Beng melangkah mundur dan miringkan tubuhnya sehingga pedang itu menyambar lewat.

“Nona Lu Kim Bwee, aku tidak....”

“Siuuuttt....!”

Pedang di tangan Siok Bi menusuk dari samping dan disusul bentakan dara ini,
“Kau masih hendak menyangkal bahwa kau telah menghinaku?”

Kembali Bun Beng mengelak.
“Nona Ang Siok Bi, siapa menghinamu....!”

Tiga orang dara itu mulai menyerang, tidak memberi kesempatan kepada Bun Beng untuk bicara lagi. Tentu saja mereka tidak lagi membutuhkan penjelasan. Kesalahan pemuda ini terhadap diri mereka sudah cukup jelas. Bagi Siok Bi Bun Beng adalah seorang yang telah memperkosanya, demikian pula bagi Kim Bwee, maka tidak perlu banyak cakap lagi. Bagi Milana, pemuda ini amat jahat, selain pernah merayunya untuk mengajaknya berjina, juga pemuda yang ditunangkan dengannya ini telah berlaku tidak setia, dan bahkan telah menjadi seorang penjahat cabul tukang memperkosa. Betapa mungkin dia dapat mengampuninya?

“Gak Bun Beng, hari ini, kalau bukan kau yang mampus, akulah yang akan tewas di tanganmu!”

Milana membentak dan pedangnya berkelebat menyambar-nyambar ganas. Di antara tiga orang dara itu, memang ilmu kepandaian Milana yang paling tinggi.

“Milana.... tunggu....!”

“Tak usah banyak cakap lagi!” Milana membentak dan kembali menerjang.

Bun Beng menjadi bingung sekali. Dia tahu bahwa ada orang memperkosa Kim Bwee, di dekat telaga dahulu itu, orang yang agaknya sengaja menggunakan namanya. Akan tetapi dia tidak tahu apalagi yang menyebabkan Siok Bi ikut-ikut membencinya dan sama sekali tidak dapat menduga mengapa Milana yang dicintanya dan yang dia tahu juga mencintanya itu kini berubah menjadi seperti harimau ganas yang haus darah!

Karena tiga orang dara itu menyerangnya mati-matian, Bun Beng menggunakan kelincahannya untuk mengelak, kemudian pada saat pedang Kim Bwee dan Siok Bi menyambar dari kanan kiri, dia mendahului menotok pergelangan tangan dua orang itu. Dua orang gadis itu menjerit, tangan mereka lumpuh dan pedang mereka terlepas dari pegangan. Pada saat itu, Milana sudah menerjang lagi.

“Milana, dengar dulu! Aku tidak akan melawanmu, aku tidak akan membela diri dan rela kau bunuh kalau aku bersalah!”

Pada saat itu, pedang Milana meluncur ke arah dada Bun Beng. Pemuda ini sengaja tidak mengelak karena dia masih tidak percaya bahwa gadis itu benar-benar hendak membunuhnya.

“Crattt!”

Milana menjerit dan Bun Beng mengeluh. Bukan mengeluh karena terluka pedang, melainkan mengeluh karena benar-benar gadis itu tega hendak membunuhnya. Ketika pedang tadi benar-benar menancap di kulit dadanya, pemuda ini secara otomatis menggerakkan sin-kangnya sehingga pedang itu tertahan, hanya masuk setengah jengkal saja dalamnya.

Bun Beng masih menaruh harapan bahwa Milana menyesal ketika mendengar gadis itu menjerit. Akan tetapi begitu Milana mencabut pedangnya dan darah muncrat dari luka di dada, gadis itu langsung menyerang lagi, kini pedangnya membabat ke arah leher Bun Beng.

“Aihhh.... Milana....!”

Bun Beng terpaksa mengelak dengan hati penuh kecewa. Dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu benar-benar tega untuk membunuhnya. Dia lalu menggerakkan kakinya dan meloncat jauh kemudian melarikan diri.

“Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau?”

Milana mengejar, diikuti oleh Siok Bi dan Kim Bwee yang sudah mengambil pedang mereka dan ikut mengejar pula. Akan tetapi dengan beberapa loncatan saja bayangan Bun Beng sudah menghilang di dalam hutan di utara dan lenyap di pegunungan yang penuh hutan lebat itu.

Milana, Siok Bi, dan Kim Bwee melakukan pengejaran dan mencari-cari, namun tidak berhasil. Bun Beng lenyap tanpa meninggalkan jejak. Karena hari telah menjelang senja, terpaksa tiga orang dara ini kembali ke kuil Tong-gi-pang dengan hati kecewa sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali seorang anggauta Tiong-gi-pang yang berjaga di luar melaporkan bahwa ada dua orang tamu datang minta bicara dengan nona Milana. Mendengar ini, Milana segera keluar dan terkejutlah dia ketika melihat bahwa yang datang adalah Wan Keng In dan seorang kakek yang mukanya bopeng dan rusak sehingga kelihatan menakutkan sekali.

Kakek itu berpakaian seperti seorang pendeta dengan jubah kuning yang lebar, kepalanya ditutup sebuah topi kuning pula, matanya besar sebelah dan hidungnya melesak ke dalam, mulutnya miring. Muka yang amat buruk, bahkan kulit muka itu seperti bekas digerogoti tikus! Wan Keng In seperti biasa berpakaian amat indah dan mewah sehingga kelihatan makin tampan. Pedang Lam-mo-kiam tergantung di punggungnya. Adapun kakek menakutkan itu memegang sebatang tongkat berkepala ukiran naga.

“Kau....?” Milana menegur keras. “Mau apa kau ke sini?”

Wan Keng In tersenyum dan cepat-cepat dia memberi hormat kepada Milana.
“Harap kau suka maafkan kepadaku, Milana. Aku mendengar bahwa engkau berada di Tiong-gi-pang maka aku cepat datang ke sini untuk menemuimu dan bicara denganmu.”

“Mau bicara apa? Tidak ada urusan apa-apa di antara kita!”

“Aihh, Milana, harap kau dapat maafkan segala kesalahanku dahulu. Aku minta maaf kepadamu dan aku telah sadar akan semua kesalahanku dahulu kepadamu. Aku tahu bahwa cinta tidak dapat dipaksakan, maka aku tidak menyesal bahwa engkau menolak cintaku. Memang sekarang tidak perlu lagi bicara tentang itu karena kita telah menjadi saudara tiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aihh, apakah engkau belum tahu? Ibuku kini telah berada di Pulau Es, menjadi isteri ayahmu. Mereka bertiga di Pulau Es. Ayahmu dan ibumu, juga ibuku yang sekarang menjadi isteri Pendekar Super Sakti. Dengan demikian, bukankah kita ini adalah saudara-saudara tiri? Karena itu, engkau harus dapat memaafkan aku, Milana. Ketahuilah, cintaku kepadamu telah menjadi cinta seorang kakak, dan aku sungguh tidak rela membiarkan engkau adikku dipermainkan dan dihina oleh seorang manusia busuk seperti Gak Bun Beng!”

“Engkau tahu akan hal itu?”

“Tentu saja! Apa aku buta? Aku tahu betapa di Pulau Neraka dia mempermainkan Kwi Hong, dia hampir pula menyeretmu. Dan ketika aku melakukan perjalanan, banyak aku mendengar akan perbuatannya yang keji. Bahkan aku mendengar pula betapa kemarin engkau bersama dua orang nona menyerangnya tanpa hasil.”

“Aku telah melukai dadanya!”

“Aku pun tahu akan hal itu, karena aku tahu di mana dia sekarang bersembunyi.”

“Apa kau tahu? Di mana?”

“Karena itu pulalah aku datang ke sini, Milana. Pertama, untuk menemuimu dan ke dua untuk mengajakmu bersama-sama mengepung dan membunuh Bun Beng Si Laknat itu. Kau jangan khawatir, ini adalah seorang sahabat baikku yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sudah berjanji untuk membantu kita menghadapi Bun Beng.”

“Siancai....!” Si Kakek Muka Buruk itu menjura, “Biarpun masih muda, Gak Bun Beng telah melakukan banyak kejahatan dan penghinaan kepada para wanita. Dia pantas dibasmi. Harap Nona tidak khawatir, lohu (aku si tua) Koai-san-jin (Kakek Gunung Aneh) akan membantumu menghadapi orang jahat.”

Milana menjadi girang. Dia memang maklum bahwa biarpun dibantu Siok Bi dan Kim Bwee, dia tidak akan mampu mengalahkan Bun Beng. Akan tetapi kalau dibantu oleh Keng In yang kepandaiannya jauh melebihinya, apalagi ada bantuan kakek yang seperti setan ini, agaknya Bun Beng yang jahat itu akan dapat dikalahkan.

“Baiklah, Wan Keng In. Aku percaya kepadamu dan betapapun juga, memang ibumu adalah adik angkat ayahku dan kalau benar sekarang menjadi isteri ayah-ku, berarti kita jadi saudara. Tunggu sebentar, aku akan memanggil Siok Bi dan Kim Bwee.”

Tak lama kemudian, Milana keluar lagi bersama Siok Bi, Kim Bwee, dan Sai-cu Lo-mo yang digotong empat orang anak buahnya. Milana segera memperkenalkan Keng In dan Koai-san-jin kepada dua orang gadis itu dan Ketua Tiong-gi-pang. Karena Keng In seorang pemuda tampan yang pandai bersikap halus dan ramah, dua orang dara itu tersipu malu dan merasa suka dan percaya kepada Keng In. Akan tetapi Siok Bi memandang dengan lirikan tajam karena dia merasa seperti pernah bertemu dengan pemuda ini.

“Kalau tidak salah, kita pernah saling berjumpa, Wan-enghiong,” akhirnya dia berkata meragu.

Keng In mengangkat kedua alisnya.
“Aihh, sungguh saya kurang beruntung tidak pernah bertemu dengan Nona sebelumnya. Baru sekali ini kita saling bertemu. Saya kira Nona berjumpa dengan orang lain.”

“Maaf, saya telah lupa lagi.”

Siok Bi berkata sambil menunduk. Tentu dia yang salah lihat, dan setelah dia ingat-ingat lagi, memang agaknya belum pernah dia bertemu dengan pemuda tampan yang berpakaian indah dan bersikap halus ini.

Sai-cu Lo-mo juga memandang mereka dengan mata bersinar tajam. Setelah berkenalan dan menuturkan niat mereka menyerbu Gak Bun Beng yang tempat sembunyinya telah diketahui oleh Keng In, kakek itu berkata,

“Sekali ini aku akan ikut sendiri, Nona Milana. Aku ingin melihat cucu keponakan yang murtad itu tewas menerima hukumannya.”

Kakek lumpuh ini meloncat turun dari atas papan, kemudian ikut pergi bersama rombongan itu dengan cara berloncatan menggunakan kedua tangannya. Biarpun dia bergerak secara itu, namun gerakannya cukup cepat.

“Ahhh, Pangcu. Tak mungkin saya melihat Pangcu bergerak seperti itu. Pangcu sudah tua dan saya seorang pemuda, marilah Pangcu saya gendong saja.”

Tanpa menanti jawaban, Keng In lalu menggendong tubuh Sai-cu Lo-mo, dan biarpun dia menggendong tubuh kakek ini, tetap saja Siok Bi dan Kim Bwee yang merasa makin kagum itu harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat lari mendampingi Milana, Keng In, dan Koai-san-jin.

Di puncak bukit, di sebuah guha yang menghadap jurang yang amat dalam, Bun Beng duduk bersila. Luka di dadanya sama sekali tidak ada artinya, kalau dibandingkan dengan luka di hatinya. Berulang-ulang dia menarik napas panjang. Dia dapat menduga bahwa tiga orang gadis itu membenci dan mendendam kepadanya bukan tanpa dasar dan dia tidak dapat menyalahkan mereka. Dia tahu bahwa Kim Bwee diperkosa orang yang menggunakan namanya. Dan mungkin sekali Siok Bi mengalami hal yang sama dengan Kim Bwee. Akan tetapi apa yang terjadi dengan diri Milana? Terlampau ngeri baginya untuk membayangkan apa yang terjadi dengan diri dara yang dicintainya itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jelas bahwa ada orang yang sengaja merusak namanya di depan gadis-gadis terutama Milana. Ada yang berusaha dengan jalan terkutuk, agar dia dibenci oleh Milana!

Semalam penuh dia tidak dapat tidur, diganggu oleh perasaan yang tertindih. Dia telah ditunangkan dengan Milana, telah diberi tugas untuk mencari Milana, Kwi Hong dan Keng In. Sekarang begitu berjumpa dengan Milana, dia telah dimusuhi dan hendak dibunuh. Milana tidak main-main, jelas berniat membunuhnya! Betapa tega hati dara itu kepadanya. Bun Beng merasa berduka sekali dan dia meragukan apakah benar Milana mencintanya! Apakah artinya cinta? Kalau benar Milana dahulu itu mencintanya, mengapa kini dapat berubah menjadi benci? Andaikata benar dia melakukan kesalahan, apakah kesalahan ini dapat merobah cinta seorang menjadi benci? Kalau begitu, apa bedanya cinta dengan benci?

Bun Beng termenung kosong, memandang ke arah awan yang tergantung di depan kakinya di atas jurang yang curam itu kini pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang cinta! Mulai dia mengingat-ingat dan mencari-cari.

Bagi manusia umumnya, cinta telah dibagi-bagi menjadi beberapa macam! Cinta antara pria dan wanita, cinta antara anak dan orang tua, cinta antara sahabat, dan cinta antara manusia dengan Tuhannya! Adakah cinta yang sudah dibagi-bagi ini benar-benar cinta?

Seorang wanita, seperti Milana, menyatakan cinta kepada seorang pria seperti dia, akan tetapi cinta itu hidup selama dia dianggap baik. Sekali dia dianggap buruk, cinta itu berubah menjadi benci! Apakah ini benar cinta? Aku cinta padamu, akan tetapi kau pun harus cinta kepadaku! Aku cinta kepadamu, akan tetapi kau harus baik dan menyenangkan hatiku! Kalau kau tidak cinta kepadaku dan lari kepada orang lain, kalau kau tidak baik dan tidak menyenangkan hatiku, cintaku hilang berubah benci! Cintakah ini, ataukah hanya jual beli seperti benda yang diperjual belikan di pasar?

Orang tua mencinta anak kalau anak itu menurut, kalau anak itu berbakti, pendeknya kalau anak itu menyenangkan hati orang tuanya. Kalau tidak? Kalau Si Anak pemberontak, put¬hauw (tidak berbakti), murtad dan tidak menyenangkan hatinya, akan tetapkah cintanya? Atau menjadi marah-marah dan anaknya dikutuk? Cintakah kalau sudah begini? Demikian pula dengan cinta sahabat. Kalau Si Sahabat menyenangkannya, menguntungkannya, baru cinta. Bagaimana kalau sababat itu tidak menyenangkannya, merugikannya? Masih adakah cinta itu? Sama saja. Ini cinta pasar, cinta jual beli, baru cinta kalau “ada apa-apanya”, ada tebusannya, ada imbalannya!

Bagaimana dengan cinta manusia kepada Tuhannya? Adakah ini baru cinta yang sejati? Kita bersembahyang, mohon berkah, mohon ampun, mohon bimbingan, mohon perlindungan? Segala macam permohonan atau permintaan ini, segala macam tuntunan ini! Cintakah itu? Betul-betulkah hati kita penuh dengan cahaya cinta kasih disaat kita bersembahyang kepada Tuhan? Betul-betulkah kita teringat dengan penuh kasih kepada Tuhan, ataukah kita hanya ingat kepada kebutuhan sendiri akan berkah, akan pengampunan, dan lain-lain itu? Kita mencinta Tuhan hanya karena ingin imbalannya, yaitu berkah, pengampunan, dan lain-lain. Adakah ini Tuhan yang kita sembah, ataukah berkah-Nya yang kita harap?

Bun Beng termenung dan pada saat seperti itu, pandang matanya seolah-olah menjadi terbuka dan jelas tampak olehnya segala kepalsuan manusia. Kepalsuan yang ditutup oleh tabir kebudayaan, peradaban, kesopanan, hukum dan lain-lain. Semua yang indah-indah dalam hidup manusia itu hanyalah keindahan yang menyelubungi hasrat tersembunyi, yaitu nafsu mementingkan Si Aku masing-masing! Apa pun yang dilakukan manusia, selalu didasari oleh pusat ini, oleh Si Aku ini. Betapa menyedihkan kenyataan ini.

Teringatlah Bun Beng akan semua pengalamannya, akan pertemuannya dengan Pendekar Super Sakti, akan keadaan pendekar sakti itu bersama dua orang wanita yang juga terlibat dalam cengkeraman apa yang mereka sebut cinta dengan pendekar itu. Teringat pula dia akan Bu-tek Siauw-jin. Cinta telah menimbulkan banyak peristiwa yang ganjil, menimbulkan pertentangan, kesengsaraan dan ketakutan. Benarkah cinta semua itu kalau menimbulkan kesengsaraan, pertentangan, ketakutan dan kebencian? Ataukah sesungguhnya hanya nafsu mementingkan diri pribadi dalam mengejar kesenangan, kenikmatan dan kepuasan belaka yang oleh kita semua disebut cinta kasih? Karena hanya nafsu mementingkan diri pribadi sajalah yang akan mendatangkan pertentangan dan kesengsaraan. Kalau benar cinta, tidak mungkin mendatangkan kesengsaraan karena cinta adalah keindahan, kebenaran, kesucian, kekekalan!

“Gak Bun Beng manusia busuk, bersiaplah untuk menerima hukumanmu!” Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring sekali.

Bun Beng membuka matanya dan mengangkat muka memandang. Kiranya di tempat itu telah muncul tiga orang gadis dan tiga orang laki-laki yang semua telah memegang senjata, kecuali kakek lumpuh yang dia kenal sebagai kakek yang mengaku paman kakeknya, Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu ibu Milana! Tiga orang dara itu bukan lain adalah Milana, Ang Siok Bi, dan Lu Kim Bwee yang mengeroyok kemarin. Dia terkejut dan cepat meloncat bangun ketika melihat Wan Keng In bersama mereka, dan seorang kakek yang mukanya mengerikan, muka yang rusak dan pakaiannya seperti pendeta.

“Milana, apa artinya ini....?” Bun Beng berdiri tegak, memandang dara itu dengan sinar mata penuh duka dan bimbang.

“Manusia busuk, tidak perlu banyak cakap lagi!”

Milana berseru dan pedang-nya sudah digerakkan menusuk dada Gak Bun Beng yang cepat mengelak sambil meloncat ke kiri.

“Sing-sing-singgg....!”

Pedang di tangan Siok Bi dan Kim Bwee menyambar, disusul dengan kilatan pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In.

“Tranggg....!”

Bun Beng terpaksa menangkis ketika melihat Pedang Iblis Lam-mo-kiam menyambar demikian dahsyatnya. Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Hok¬mo-kiam bertemu dengan Lam-mo-kiam, dan Wan Keng In merasa betapa tangannya tergetar hebat. Dia menjadi marah sekali dan cepat dia menyerang dengan dahsyatnya, kini dibantu oleh Koai-san-jin yang sudah menggerakkan tongkatnya,

“Singgg.... wirrr.... siuuuttt!”

Bun Beng terkejut bukan main. Dia sudah mengenal kelihaian Wan Keng In dan keampuhan pedang Lam-mo-kiam, akan tetapi kiranya tongkat di tangan kakek itu tidak kalah dahsyatnya! Kakek bermuka rusak itu ternyata memiliki sin-kang yang amat kuat, dan tongkat berkepala naga menyambar dengan tenaga yang akan dapat menghancurkan batu karang.

Maklumlah dia bahwa dua orang lawan ini, Wan Keng In dan Si Kakek Muka Buruk, merupakan dua orang lawan yang amat lihai dan yang harus dihadapinya dengan hati-hati. Sedangkan tiga orang dara itu, terutama sekali Siok Bi dan Kim Bwee, menyerang dengan nekat seperti orang-orang yang sudah siap untuk membunuh atau dibunuh!

Betapapun juga, hanya Milana seorang yang membuat dia bingung dan tidak dapat melawan dengan baik. Keroyokan mereka itu sebenarnya masih dapat dihadapinya dan bahkan dia merasa masih sanggup meloloskan diri atau memperoleh kemenangan biarpun Wan Keng In dan pendeta muka buruk itu lihai bukan main. Akan tetapi adanya Milana di situ yang ikut mengeroyok benar-benar membuat dia bingung dan gugup. Dia menggunakan Hok-mo-kiam, akan tetapi dia selalu menjaga agar pedangnya itu jangan sampai menangkis pedang Milana, apalagi menyerang dara itu. Dia hanya menggunakan pedangnya untuk menjaga diri dari sambaran Lam-mo-kiam dan membalas hanya kepada Keng In dan Si Pendeta Muka Buruk. Dia pun tidak mau menyerang Siok Bi dan Kim Bwee karena maklum bahwa kedua orang dara ini pun hanya menjadi korban orang jahat yang menyamar sebagai dia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar