FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 113

Milana kembali tersenyum kepada mereka,
“Sungguh mengherankan sekali. Enci berdua muncul dalam waktu yang sama dan dengan niat yang sama pula, yaitu mencari Gak Bun Beng, untuk membunuhnya! Ketahuilah bahwa aku pun membenci Gak Bun Beng dan aku berjanji akan minta bantuan orang-orang Tiong-gi-pang untuk mencari jejak manusia itu, kalau sudah dapat ditemukan, biarlah aku akan membantu kalian menghadapinya. Untuk kerja sama ini, sebaiknya kalau kita mengetahui keadaan masing-masing. Nah, sekarang kuminta Enci Siok Bi suka menceritakan pengalamannya, mengapa memusuhi dia, kemudian Enci Kim Bwe, dan kemudian aku sendiri akan menceritakan pengalamanku.”

Karena di situ hanya ada mereka bertiga, ditanya begini Siok Bi menangis. Milana dan Kim Bwee yang melihat Siok Bi menangis, tak dapat menahan kesedihan hati masing-masing dan mereka pun menitikkan air mata, teringat akan nasib buruk yang menimpa mereka.

Sambil terisak Siok Bi menceritakan malapetaka yang menimpa dirinya malam tadi di rumah penginapan di kota raja. Betapa dia didatangi Gak Bun Beng dalam kamarnya dan ditotok tak berdaya kemudian diperkosa. Betapa kemudian dia mencarinya ke Tiong-gi-pang, karena Gak Bun Beng menyebut nama perkumpulan ini sebagai tempat tinggalnya. Setelah selesai bercerita dia menangis sesenggukan.

Milana mengerutkan alisnya dan mencela,
“Enci Siok Bi, mengapa engkau begitu mudah saja membukai jendela kamar di waktu malam hari memenuhi permintaan seorang laki-¬laki?”

Ang Siok Bi teriak.
“Aih.... harap jangan salah sangka adik Milana.... ketahui-lah bahwa semenjak ayah ditolong oleh Gak Bun Beng ketika.... ketika dahulu berada di dalam tahanan.... Thian-liong-pang.... ayah mengharapkan agar aku menjadi jodoh orang itu. Dan budi itu tak terlupa oleh kami sehingga aku sudah menganggap diriku sebagai tunangannya, sungguhpun belum resmi dan hanya menjadi niat sepihak. Tentu saja ketika mendengar suaranya aku tidak ragu-ragu untuk membiarkan dia masuk. Akan tetapi siapa kira.... dia.... dia menjadi iblis....!“

“Keparat....!”




Milana menampar meja di depannya sehingga meja itu tergetar. Memang dia marah sekali mendengar penuturan itu, marah kepada Bun Beng.

“Dan bagaimana dengan engkau, Enci Kim Bwee? Apakah engkau juga menjadi korban pemuda biadab itu?” Milana menoleh kepada Lu Kim Bwee.

Sebelum menjawab, Kim Bwee mengusap air matanya, kemudian mengangguk.
“Sudah agak lama terjadinya, sudah satu bulan lebih, ketika aku berada di pondok kakekku,”

Dia lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia dan kakeknya kedatangan Bun Beng yang tadinya bersikap mencurigakan, mengintai dari atas genteng, kemudian betapa pemuda itu membohongi mereka dengan cerita bahwa ada suami isteri terbunuh setelah isterinya diperkosa di dekat telaga. Betapa kakek-nya membantu pemuda itu menyelidiki di sekitar telaga dan kiranya pemuda itu hanya membohong untuk memancing kakeknya keluar dari pondok, kemudian diam-diam pemuda itu kembali ke pondok dan memperkosanya!

“Baru aku dan kong-kong tahu bahwa pembunuh suami isteri itu adalah dia sendiri. Aku tak mampu melawan karena dia telah menotokku secara tiba-tiba....” Kembali Kim Bwee mengusap air matanya. “Semenjak hari itu, aku pergi meninggalkan pondok kakek untuk mencari jahanam itu. Tadi aku bertemu dengannya di jalan. Aku menyerangnya, dan dia lari. Ketika kukejar, dia lari ke arah kuil ini dan lenyap.”

“Hemmm, benarkah yang kau serang dan kejar tadi Gak Bun Beng?”

“Cuaca agak gelap, aku tidak dapat melihat mukanya dengan jelas. Akan tetapi siapa lagi pemuda memakai caping lebar itu kalau bukan dia? Pula, dia mentertawakan aku dan dia yang memperkenalkan diri ketika kami bertemu di jalan.”

“Tidak salah lagi, tentu dia!” Siok Bi berseru penuh kemarahan. “Suami isteri yang dibunuh itu setelah isterinya diperkosa di pinggir telaga, memang menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng. Hal ini aku mendengar juga dari murid ayah yang menjadi piauwsu.”

Dia lalu menceritakan kembali cerita yang didengarnya dari para piauwsu yang bertemu dengan Bun Beng di dekat telaga.

Mendengar semua ini, dapat dibayangkan betapa panas rasa hati Milana. Laki-laki yang dicintanya, pilihan hatinya, bahkan yang oleh ayahnya dijodohkan dengan dia, kiranya adalah seorang laki-laki jahat sekali. Terhapus sama sekali rasa cinta kasihnya, kini terganti oleh rasa benci yang seperti api bernyala-nyala membakar hatinya. Sambil menggenggam kedua tangan, dia berkata,

“Kita harus mencari jahanam itu, akan kukerahkan semua anggauta Tiong-gi-pang untuk menyelidiki, kalau kita sudah ketahui tempatnya, kita serang dan bunuh dia.”

Tentu saja Siok Bi dan Kim Bwee menjadi girang. Mendapat bantuan seorang seperti Milana, cucu Kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, tentu saja amat membesarkan hati. Mereka tahu akan kelihaian Gak Bun Beng dan tadinya mereka pun sudah menduga bahwa andaikata bertemu dengan pemuda itu, tentu mereka yang akan roboh! Kini harapan mereka untuk membalas dendam kepada pria yang menyeret mereka ke dalam jurang kehinaan itu timbul kembali.

“Kami berdua telah menceritakan penderitaan kami kepadamu, adik Milana yang baik. Akan tetapi engkau sendiri.... mengapakah engkau juga membenci dan mendendam kepada Gak Bun Beng?” tanya Siok Bi.

Milana menundukkan mukanya dan berulang-ulang menarik napas panjang. Akhirnya dia berkata,

“Dia.... dia adalah.... tunanganku.” Ia kembali menunduk dan menggigit bibirnya.

Dua orang gadis itu terkejut dan mengangguk-angguk, tahu bahwa puteri Pendekar Super Sakti itu mengalami penderitaan batin yang tidak kurang berat daripada yang mereka derita.

**** 113 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar