FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 111

Perahu yang ditumpangi Milana dan Kwi Hong tidak mampu mengejar perahu Wan Keng In sehingga akhirnya mereka itu tertinggal jauh. Ketika kedua orang dara ini mencapai tepi pantai dan mendarat, Keng in sudah tidak tampak lagi.

“Milana, dengarlah kata-kataku baik-baik. Entah apa yang telah terjadi denganmu, agaknya engkau masih belum menguasai ingatanmu, engkau masih belum sadar. Orang yang kita kejar tadi bukanlah Gak Bun Beng. Dia adalah Wan Keng In, manusia jahat yang harus kita bunuh!”

“Bohong! Aku tahu bahwa engkau mencinta Bun Beng, dan aku melihat dengan mata sendiri bahwa kau.... kau telah....”

“Milana, aku sama sekali tidak melakukan sesuatu dengan Bun Beng. Ketahuilah, kau dan Gak Bun Beng telah dijodohkan, dan kini ayahmu minta agar engkau suka kembali ke Pulau Es bersama Bun Beng....”

“Kwi Hong! Tak perlu engkau membujuk aku dengan segala kebohonganmu! Coba jawab, apa engkau mencinta Wan Keng In?”

“Tidak! Aku akan bunuh keparat jahanam itu!”

“Nah, engkau membenci Keng In, dan engkau mencinta Bun Beng. Sekarang katakan, dengan siapa engkau di dalam pondok itu?”

“Dengan.... dengan....”

Kwi Hong bingung dan gugup sekali. Maklumlah dia bahwa dia telah masuk perangkap. Kalau dia menjawab bahwa laki-laki dengan siapa dia bermain cinta di dalam pondok itu adalah Keng In, tentu hal ini berlawanan dengan pengakuannya bahwa dia membenci Keng In dan akan membunuh-nya. Tentu saja Milana yang ingatannya belum pulih itu menyangka bahwa laki-laki itu Gak Bun Beng.

“Sudahlah, Kwi Hong, aku sudah melihatnya sendiri, tidak perlu kau membohong lagi. Engkau mencinta Bun Beng, bahkan engkau telah menyerahkan dirimu kepadanya, aku tidak peduli lagi!” Milana hendak membalikkan tubuh, akan tetapi Kwi Hong memegang lengannya dan membujuk,




“Milana, apapun yang terjadi, marilah kita ke Pulau Es. Biar nanti ayahmu yang memutuskan segalanya. Engkau masih belum sadar....”

Milana merenggutkan lengannya terlepas dari pegangan Kwi Hong.
“Cukup! Aku tidak sudi lagi bicara denganmu, perempuan tak tahu malu!” Milana lalu melompat dan pergi meninggalkan Kwi Hong.

Kwi Hong menjatuhkan diri berlutut di atas pasir pantai, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Menangis!

“Bedebah kau, Wan Keng In. Aku bersumpah, tak kan berhenti sebelum membunuhmu!”

Dia bangkit berdiri dan melangkah dengan terhuyung ke depan, seluruh tubuh terasa lemas karena batin yang tertekan kedukaan.

Milana juga lari secepatnya dengan air mata bercucuran. Hatinya remuk rendam mengingat akan hubungan cinta kasihnya yang hancur. Perlakuan Bun Beng terhadap dirinya di Pulau Neraka, ketika pemuda yang menjadi pujaan hati-nya itu hendak merayunya dan mengajak-nya bermain cinta, masih dapat dimaafkannya biarpun hal itu mengecewakan hatinya. Masih dapat dimaafkan karena mungkin saking rindu dan cintanya, pemuda itu tidak dapat menahan gairah hatinya yang dikuasai nafsu berahinya pada waktu itu. Akan tetapi, melihat Bun Beng berjina dengan Giam Kwi Hong, bagaimana dia dapat memaafkannya? Apalagi mendengar dari mulut Kwi Hong bahwa dia dijodohkan ayahnya dengan Bun Beng. Siapa sudi menjadi isteri seorang laki-laki mata keranjang seperti itu?

Beberapa hari kemudian setelah melakukan perjalanan tanpa tujuan, perlahan-lahan ingatan Milana kembali karena pengaruh obat beracun itu sedikit demi sedikit lenyap setelah dia terbebas dari Pulau Neraka dan tidak diberi racun setiap hari seperti biasa. Karena kembalinya ingatannya itu sedikit demi sedikit, Milana tidak merasa akan hal ini. Dia hanya mulai teringat akan keadaan dahulu satu demi satu, ingat akan Kaisar yang menjadi kakeknya di kota raja, akan semua orang yang dikenalnya. Semua ingatannya pulih, hanya satu hal yang tidak semestinya, yaitu tentang Bun Beng. Bun Beng sekarang bukanlah Bun Beng dahulu lagi, sekarang menjadi seorang laki-laki yang dibencinya.

Karena ini, dia tidak mau kembali ke Pulau Es. Dia mendengar dari Kwi Hong bahwa dia dijodohkan dengan Bun Beng oleh ayah bundanya, dan dia tidak akan mau menerimanya. Kalau dia kembali ke Pulau Es, tentu akan terjadi hal yang tidak menyenangkan karena urusan itu. Maka dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja, menghadap kakeknya dan tinggal di istana sebagai puteri Kaisar yang hidup mulia dan terhormat. Dan dia akan mencoba untuk melupakan Bun Beng!

Pada suatu siang selagi Milana berjalan cepat melalui pegunungan di sebelah utara kota raja, tiba-tiba muncul belasan orang laki-laki yang rambutnya digelung ke atas. Mereka itu kelihatan bersikap gagah, dan tidak kasar, akan tetapi jelas bahwa mereka sengaja menghadang di jalan dan pemimpin mereka seorang laki-laki tinggi kurus berjenggot dan berkumis tipis, mengangkat tangan ke atas menyuruh dara itu berhenti.

“Nona harap berhenti dulu!”

Milana mengerutkan alisnya dan dia bertanya,
“Kalian ini siapa dan mau apa menghadang orang lewat?”

Si Tinggi Kurus menjawab,
“Kami adalah orang-orang Tiong-gi-pang (Per-kumpulan Orang Jujur dan Berbudi) yang mengharapkan sumbangan dari semua orang lewat di sini. Maka harap Nona sudi meninggalkan sekedar sumbangan sebelum Nona melanjutkan perjalanan.”

Milana marah sekali.
“Kalian perampok?”

Orang itu menggeleng kepala dan para anak buahnya bersikap tidak senang dengan sebutan itu.
“Kami sama sekali bukan perampok, bahkan kami pembasmi para perampok yang tadinya banyak berkeliaran di tempat ini mengganggu orang-orang lewat. Akan tetapi perkumpulan kami membutuhkan biaya-biaya dan dari siapa lagi kalau tidak dari sumbangan para dermawan yang lewat? Nona seorang wanita muda melakukan perjalanan seorang diri, tentu Nona seorang kang-ouw dan sudah maklum akan hal ini. Maka harap Nona tidak bersikap pelit. Kami tanggung bahwa dari sini sampai kota raja, tidak akan ada seorang pun perampok yang berani mengganggumu, Nona.”

Tentu saja Milana mengerti dan mengenal perkumpulan seperti itu. Dia adalah puteri bekas Ketua Thian-liong-pang, tentu saja tahu akan segala peristiwa dunia kang-ouw. Perkumpulan seperti mereka yang menamakan diri Tiong-gi-pang ini adalah perkumpulan yang biasa diejek dengan perampok-perampok halus. Mereka sebetulnya adalah orang-orang gagah yang bersatu untuk menghadapi dunia hitam para perampok, maling dan lain-lain. Akan tetapi karena mereka itu tidak mempunyai penghasilan tetap dan perkumpulan mereka tentu saja membutuhkan biaya, maka mereka mengambil cara ini untuk menutup kebutuhan mereka yang bersahaja, yaitu dengan jalan “memungut sumbangan” dari para orang lewat di daerah yang telah mereka “bersihkan” itu.

Akan tetapi pada waktu itu, hati dan pikiran Milana sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan karena Bun Beng, maka menghadapi hal yang biasanya akan dianggap wajar dan dihadapinya dengan penuh pengertian itu, kini menimbulkan kemarahannya.

“Bilang saja perampok, pakai memutar-mutar omongan segala. Kalau kalian minta sumbangan kepadaku, aku hanya membawa kaki tanganku yang bisa membagi pukulan dan tendangan! Entah kalian mau atau tidak menerima sumbangan ini!”

Dua belas orang itu adalah laki-laki gagah, tentu saja mereka menjadi marah sekali mendengar ucapan gadis ini yang amat merendahkan mereka. Betapapun juga, mereka merasa segan untuk turun tangan mengeroyok seorang wanita muda, dan hanya pimpinan mereka yang tinggi kurus itu melangkah maju, matanya terbelalak marah ketika dia membentak,

“Bocah perempuan sombong! Mungkin kau memiliki sedikit kepandaian silat, akan tetapi hal itu amat tidak baik bagimu, membuatmu sombong sekali mengira di dunia ini tidak ada yang dapat melawanmu! Hemm, kalau memang engkau hanya bisa memberi pukulan dan tendangan, biarlah aku menerima sumbanganmu itu!”

“Kalau begitu, terimalah ini!”

Milana yang sedang risau hatinya itu segera menerjang maju dan mengirim pukulan-pukulan dengan kecepatan luar biasa. Biar-pun Si laki-laki Tinggi Kurus itu berusaha menangkis dan mengelak, namun dia bukanlah lawan dara yang memiliki ilmu silat tinggi itu dan pukulan bertubi-tubi dari Milana yang membuatnya terdesak tak mampu membalas serangan, akhirnya mengenai sasaran, pundaknya tertampar dan laki-¬laki itu terpelanting!

Melihat ini kawan-kawannya terkejut, penasaran dan marah sekali. Tanpa dikomando lagi mereka menyerbu, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang menggunakan senjata karena niat mereka hanya untuk menangkap gadis galak itu dan menghadapkannya kepada ketua mereka.

Melihat ini, Milana mengamuk, akan tetapi dia pun mengerti bahwa pengeroyoknya itu bukanlah orang-orang jahat kejam karena mereka itu tidak ada yang menggunakan senjata. Maka diapun hanya memukul dan menendang dengan tenaga terbatas agar tidak kesalahan tangan membunuh mereka.

Para pengeroyok itu terkejut sekali ketika mendapat kenyataan betapa lihai-nya gadis muda itu. Beberapa orang yang maju lebih dulu terpelanting ke kanan kiri dan mengaduh-aduh, ada yang patah tulang lengan atau kakinya. Pada saat itu Milana melihat munculnya rombongan orang yang jumlahnya lebih banyak lagi, datang berlari-larian ke tempat itu. Hati-nya menjadi gemas, dan dia sudah siap untuk mengamuk dan merobohkan mereka semua!

Tiba-tiba beberapa orang di antara rombongan yang baru datang itu berseru.
“Berhenti semua....! Dia adalah Nona Milana, puteri Ketua Thian-liong-pang!”

Mendengar seruan ini, para pengeroyok terkejut dan mundur. Milana juga berhenti mengamuk dan memandang mereka yang baru datang itu. Di antara orang-orang ini dia mengenal beberapa orang anggauta Thian-liong-pang! Lima orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Milana sambil berkata,

“Harap Nona suka memaafkan kami dan teman-teman kami, karena tidak tahu maka berani bersikap kurang ajar kepada Nona.”

“Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian menjadi anggauta gerombolan ini?” tanya Milana dengan alis berkerut.

“Harap Nona tidak salah duga. Perkumpulan Tiong-gi-pang bukanlah gerombolan perampok.... dan perkumpulan ini didirikan oleh Bhok Toan Kok Pangcu (Ketua).”

“Haii....? Sai-cu Lo-mo....?”

“Marilah Nona, kuantar menjumpai Pangcu. Ceritanya panjang dan sebaiknya Nona mendengar dari Pangcu sendiri.”

Berdebar jantung Milana. Semua pembantu ibunya telah tewas ketika Thian-liong-pang diserbu kaki tangan Koksu. Kiranya Sai-cu Lo-mo dapat menyelamatkan diri dan sekarang kakek ini selain masih hidup, juga telah menjadi ketua sebuah perkumpulan. Dia mengangguk lalu mengikuti rombongan itu memasuki hutan, dipandang penuh kagum oleh anggauta-anggauta perkumpulan Tiong-gi-pang yang bukan bekas anggauta Thian-liong¬pang.

Di dalam hutan di lereng bukit itu terdapat bangunan pondok-pondok sederhana dan inilah pusat perkumpulan Tiong-gi-pang yang jumlahnya kurang lebih lima puluh orang itu. Ketika Milana berhadapan dengan Sai-cu Lo-mo, gadis ini tidak dapat menahan kesedihan dan keharuannya. Dia menubruk Sai-cu Lo-mo sambil menangis.

“Bhok-kongkong (Kakek Bhok)....!” Dia menangis di pundak itu yang mengelus-elus kepalanya.

Kakek itu duduk di kursi, kedua kakinya telah lumpuh akibat luka-lukanya ketika Thian¬liong-pang diserbu oleh anak buah Koksu.

“Nona Milana.... aihhh, Nona....”

Sai-cu Lo-mo juga mengejap-ngejapkan mata-nya menahan air matanya. Akan tetapi kakek ini dapat menekan perasaannya, lalu menuntun nona itu memasuki pondok.

“Mari kita duduk dan bicara, Nona. Kita harus masih bersukur bahwa para pemberontak itu dapat dihancurkan oleh ibumu, dan biarpun Thian-liong-pang sudah hancur lebur, namun namanya masih tetap baik sebagai pembela negara, Mari duduk dan ceritakanlah. Saya mendengar bahwa Nona terculik. Saya telah mengerahkan semua anak buah perkumpulan ini untuk membantu dan menyelidiki keadaanmu, namun sia-¬sia. Apalagi terdengar berita bahwa engkau diculik orang Pulau Neraka, betulkah ini? Di antara kami tidak ada seorang pun yang tahu di mana letaknya Pulau Neraka itu.”

Milana menghapus air matanya, kemudian dia menceritakan kepada pembantu ibunya yang setia itu tentang semua pengalamannya. Betapa dia diculik oleh Wan Keng In, akan tetapi berhasil mempertahankan kehormatannya sungguhpun dia tidak berdaya untuk keluar dari Pulau Neraka. Betapa kemudian muncul Giam Kwi Hong dan bersama keponakan dan murid ayahnya itu dia berhasil mendesak Keng In sehingga pemuda itu melarikan diri, sedangkan guru pemuda itu dilawan oleh kakek pendek yang menjadi guru Kwi Hong. Kemudian, kembali dia terisak menangis ketika menceritakan kelakuan Gak Bun Beng kepadanya.

“Menurut kata Enci Kwi Hong, oleh ayahku telah dijodohkan dengan dia, Kek. Akan tetapi.... aku tidak sudi menjadi isteri manusia rendah itu! Dia tidak saja berusaha untuk menyeret aku ke dalam perjinaan yang kotor, akan tetapi dia juga berjina dengan Giam Kwi Hong....” Milana menangis lagi.

Dapat dibayangkan betapa marah, duka dan kecewa hati kakek itu. Gak Bun Beng adalah cucu keponakannya, karena ibu pemuda itu, Bhok Khim, yang dahulu diperkosa oleh Gak Liat Si Iblis Botak sehingga melahirkan Bun Beng (baca cerita Pendekar Super Sakti) adalah keponakannya. Dan dia pernah melamar Milana untuk Bun Beng, yang ditolak oleh ibu Milana dan yang membuat dia mundur teratur ketika mendengar bahwa ibu Milana bukan saja puteri Kaisar, akan tetapi ayah Milana adalah Pendekar Super Sakti! Dan sekarang, Pendekar Super Sakti bahkan telah menjodohkan puterinya itu dengan Gak Bun Beng, akan tetapi agaknya Bun Beng telah berubah, telah menjadi seorang pemuda berwatak kotor!

“Nona, benar-benar terjadikah apa yang kau ceritakan itu kepadaku? Menurut penglihatanku, Bun Beng bukanlah seorang berwatak bejat....”

“Kalau aku tidak mengalami sendiri dibujuk rayu olehnya, kalau aku tidak melihat sendiri dia berjina dengan Kwi Hong, aku sendiri tentu tidak percaya, Kek. Akan tetapi aku mengalami sendiri dan melihat sendiri....” Kembali dia terisak dan menutupi mukanya.

“Sudahlah, Nona. Aku sendiri kalau kelak bertemu dengannya, akan menegur dan menghajarnya. Biarpun dia lihai, dia adalah cucu keponakanku, dan biarlah aku mati dalam tangannya kalau dia tidak dapat disadarkan. Sekarang, Nona hendak pergi ke mana?”

“Aku hendak mencari ibu....”

“Beliau tidak lagi berada di kota raja, Nona. Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu ikut bersama ayahmu ke Pulau Es.”

Milana menghela napas dan menghapus sisa air matanya,
“Aku pun menduga demikian ketika Enci Kwi Hong muncul di Pulau Neraka. Akan tetapi.... aku sendiri tidak ingin ke Pulau Es setelah apa yang terjadi semua itu, setelah ayah menjodohkan aku dengan orang yang demikian rendah. Aku girang bahwa ibu akhirnya telah bersatu dengan ayah. Aku.... aku.... agaknya tidak ada jalan lain, aku akan ke kota raja menghadap Kaisar....” Dia ragu-ragu.

“Nona Milana, biarpun Kaisar adalah kakekmu sendiri dan tentu kau akan diterima di istana, akan tetapi dapatkah engkau menyesuaikan diri dengan kehidupan di istana? Nona sudah biasa hidup bebas, mungkinkah Nona hidup terkurung dan terbatas di dalam istana?”

Milana menarik napas panjang.
“Aku pun meragukan hal itu, Bhok-kongkong. Tentu aku tidak kerasan di sana....”

“Kalau begitu, mengapa Nona tidak tinggal saja bersama kami? Ketika aku berhasil menyelamatkan diri dari serbuan anak buah Koksu pemberontak itu, aku bertemu dengan sisa para anggauta Thian-liong-pang, dan bertemu dengan sisa anggauta Pek-eng-pang yang sudah kehilangan pimpinan. Maka kukumpulkan mereka, kusatukan dan karena aku tidak berani menggunakan nama Thian-liong-pang, juga tidak sudi memakai nama Pek-eng¬pang, aku lalu mendirikan perkumpulan baru bernama Tiong-gi-pang untuk menolong mereka, dan untuk mencegah mereka terperosok ke dalam lembah kejahatan. Kami sedang memperbaiki sebuah kuil besar dan kuno di hutan sebelah, Nona. Tempat itu akan menjadi pusat Tiong-gi--pang, dan kalau Nona suka tinggal bersama kami, hatiku akan menjadi lega dan girang, juga kehadiran Nona sebagai puteri Ketua Thian-liong-pang tentu akan mempengaruhi para anak buah Tiong-gi-pang dan mencegah mereka dari penyelewengan.”

Demikianlah mulai hari itu, Milana tinggal bersama Kakek Sai-cu Lo-mo, bekas pembantu utama ibunya di Thian-liong-pang yang kini telah menjadi pangcu dari perkumpulan Tiong¬gi-pang.

**** 111 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar