FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 119 (TAMAT)

Lulu menggigit bibirnya, menelan semua kata-kata yang tak terucapkan, lalu ia hanya menangis dan menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Dia maklum bahwa puteranya telah menyeleweng daripada jalan benar, dan dialah yang bersalah, dia yang terlalu memanjakannya dan puteranya menjadi rusak karena berada di Pulau Neraka!

“Milana, bangkitlah!” Suma Han berkata kepada puterinya.

Milana bangun dan menghapus air matanya.
“Milana, engkau tentu telah merasa akan kesalahanmu. Akan tetapi kesalahanmu itu bukan kau sengaja, maka tidak perlu lagi disesalkan. Engkau harus kembali ke kota raja, engkau harus belajar menjadi seorang keturunan bangsawan yang baik, tinggal di istana Kaisar seperti yang lalu.”

“Tapi, Ayah....”

“Diam, dan jangan membantah!” Suma Han membentak, “Kehidupan sebagai seorang perawan kang-ouw sudah banyak menyeretmu ke dalam kekacauan dan kesengsaraan. Aku akan mencoba mengobati Sai-cu Lo-mo, kemudian setelah dia sembuh, engkau bersama dia harus meninggalkan Pulau Es, dan kau hidup sebagai seorang puteri cucu Kaisar di kota raja. Tentang perjodohanmu, biar kuserahkan kepada kebijaksanaan Kaisar.”

“Ayah....! Ibu....!”

Dengan mengeraskan hatinya Nirahai berkata,
“Ayahmu benar, Milana. Lihat ibumu. Betapa banyak penderitaan yang telah kualami setelah aku meninggalkan istana kakekmu Kaisar. Baru sekarang ibumu mendapatkan kebahagiaan bersama ayahmu dan bibimu. Engkau harus menjadi penggantiku, membantu kakekmu dan berjasa bagi negara dan kerajaan. Tentu saja sewaktu-waktu engkau boleh datang menjenguk orang tuamu di Pulau Es.”




Tanpa bertanya, Milana maklum bahwa ikatan jodoh antara dia dan Bun Beng telah dibatalkan. Hal ini agak melegakan hatinya. Dia memang mencinta Bun Beng, akan tetapi setelah terjadi semua itu, bagaimana mungkin dia akan dapat memandang muka Bun Beng lagi? Apalagi sebagai suaminya? Maka dia hanya dapat menangis dan mengangguk¬-angguk.

Setelah jenazah Kwi Hong dan Keng In dimakamkan di Pulau Es, Suma Han dan kedua orang isterinya berusaha mengobati kelumpuhan kedua kaki Sai-cu Lo-mo. Akan tetapi ternyata tidak berhasil karena kakek itu sudah tua, sukar sekali menyambung tulang-¬tulangnya dan membetulkan urat-uratnya.

Terpaksa Suma Han menghentikan usahanya mengobati dan sebagai gantinya dia menurunkan ilmu-ilmu tinggi yang sesuai untuk dikuasai seorang yang lumpuh kedua kakinya seperti Sai-cu Lo-mo!

Sampai hampir enam bulan kakek itu berlatih dengan tekun dan akhirnya dia meninggalkan Pulau Es bersama Milana yang menangis tersedu-sedu. Pedang Hok-mo-kiam diberikan kepada Milana oleh Pendekar Super Sakti, sedangkan Sepasang Pedang Iblis tetap berada di Pulau Es karena pendekar itu khawatir kalau-kalau sepasang pedang itu akan terjatuh ke tangan orang lain dan menimbulkan peristiwa-peristiwa hebat lagi.

Sampai di sini selesailah sudah cerita “Sepasang Pedang Iblis” ini, dan apabila tiada aral melintang, para penggemar akan dapat berjumpa pula dengan pengarang dalam karangan mendatang. Mudah-mudahan saja ada bagian-bagian tertentu dalam karangan Sepasang Pedang Iblis ini yang bermanfaat bagi para penggemar di samping tugasnya sebagai bacaan menghibur yang sederhana.
T A M A T


3 komentar:

  1. Luar biasa karya2 Alm. Bpk. Asmaraman S Khoo Ping Ho .. Beliau adalah Legenda Komik Indonesia sepanjang Masa.. Terima kasih banyak Pak, Anda sudah bersusah-payah menuliskannya lagi untuk kami nikmati kembali Mahakarya Beliau. Kiranya Tuhan memberkati hidup dan karya baik Anda ini.
    Salam hormat,
    Bon Dil

    BalasHapus
  2. hampir semua karya asmaraman kho ping ho telah saya baca 55 tahun yg silam ternyata sekarang bisa bertemu kembali lewat IT ini sungguh menggembirakan. terima kasih. (et.simatupang/67 thn).

    BalasHapus