FB

FB


Ads

Jumat, 27 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 097

Milana mengerutkan alisnya, akan tetapi dia tidak menjadi marah mendengar tuduhan hebat ini.
“Syanti Dewi, aku yakin bahwa orang seperti engkau tidak mungkin mengeluarkan kata-kata seperti itu tanpa alasan yang kuat. Jelaskanlah tuduhanmu itu dan tidak perlu menyimpan rahasia.”

“Bibi Milana, mengapa Bibi melakukan kehidupan yang palsu ini? Bibi mencinta pria lain, akan tetapi menikah dengan pria lain lagi! Bibi membiarkan pria yang mencinta Bibi dan juga Bibi cinta itu hidup sengsara selamanya, hidup tersiksa dalam duka nestapa setiap saat, padahal pria yang sampai sekarang masih mencinta Bibi dengan seluruh tubuh dan nyawanya itu adalah orang yang sebaik-baiknya orang, dan yang tidak ada keduanya di dunia yang penuh dengan manusia palsu dan jahat ini!”

Syanti Dewi mengeluarkan kata-kata itu dengan cepat karena kata-kata itu sudah lama tersimpan di hatinya, matanya berapi-api dan mukanya kemerahan.

“Bibi Milana sungguh kejam sekali! Nah, puaslah sudah hatiku mengeluarkan umpatan yang sudah lama terkandung ini dan kalau Bibi marah dan hendak membunuhku, silakan!”

Wajah cantik Puteri Milana menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah, dan pucat lagi. Dia memandang Syanti Dewi dengan mata terbelalak dan bibir gemetar, kedua tangan dikepal dan andaikata yang bicara itu bukan Syanti Dewi, agaknya puteri ini tentu sudah menggerakkan tangan untuk melakukan pukulan maut, dan kalau hal itu dilakukan, tentu Syanti Dewi sudah menggeletak tak bernyawa lagi!

“Bibi marah, akan tetapi aku tidak menyesal mengeluarkan semua ucapanku tadi, karena aku menuntut agar Bibi Milana suka mengambil keputusan dan tidak membiarkan hidup seorang pria yang kujunjung tinggi itu dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak.”

“Syanti Dewi....” suara Milana gemetar dan serak, seperti bisikan. “Siapa.... siapa yang kau maksudkan dengan pria itu....?” Dia bangkit perlahan, tidak peduli betapa kedua kakinya menggigil.

“Siapa lagi kalau bukan Paman Gak Bun Beng? Kalian saling mencinta dengan sepenuh jiwa raga, akan tetapi Bibi telah begitu tega untuk meninggalkannya dan menikah dengan orang lain, membiarkan dia merana sepanjang hidupnya.”

“Oohhh....” Tubuh Milana menjadi lemas, dia memejamkan matanya dan jatuh terduduk lagi di atas kursinya. Kemudian dia membuka lagi matanya yang menjadi kemerahan dan basah air, mata. “Syanti Dewi.... dari mana.... engkau mengetahui semua tentang kami....?”

“Paman Gak Bun Beng yang bercerita kepadaku.”

“Ahh....? Tak mungkin....!” Milana meloncat ke depan dan memegang pundak Syanti Dewi, jari-jari tangannya yang kecil lembut halus itu kini mencengkeram seperti cakar harimau dan Syanti Dewi menggigit bibir menahan sakit. “Kau.... kau mencintanya!”

Ucapan Milana yang menuduh ini mendatangkan semangat dan mengusir rasa sakit di pundaknya. Syanti Dewi juga bangkit berdiri dan berkata dengan gagah,

“Memang! Aku pernah mencintanya, Bibi. Dan seandainya di dunia ini tidak ada Puteri Milana, tentu aku akan tetap mencinta Gak Bun Beng sampai aku mati! Akan tetapi aku tahu bahwa cintaku sia-sia dan aku yakin bahwa dia tidak dapat mencintaku. Cinta kasihnya hanya untukmu, Bibi Milana! Karena itu, aku mengubur cintaku, cinta seorang wanita terhadap pria yang semulia-mulianya orang, dan kupaksa menjadi kasih seorang anak terhadap ayah atau seorang murid terhadap guru. Hanya engkaulah wanita pujaan hatinya yang akan dicintanya sampai dia mati, dan dia bahkan berbahagia di dalam kesengsaraannya asalkan engkau hidup bahagia! Betapa kejamnya engkau, Bibi Milana!” Tanpa disadarinya lagi, air mata bercucuran dari kedua pelupuk mata Puteri Bhutan itu.

“Ouhhhh....” Milana terisak, menggigit bibirnya, memejamkan matanya menahan kepedihan hati yang seperti ditusuk-tusuk rasanya. “Aihhh.... Syanti Dewi.... kau tidak tahu.... kau tidak tahu.... betapa selama belasan tahun aku hidup dengan hati remuk-redam.... betapa aku hidup sengsara dan merana.... yang mungkin tidak kalah pahitnya dengan penderitaannya....”

Wanita cantik itu kini menundukkan mukanya dan memejamkan mata, menggoyang-goyang kepala untuk mengusir semua kepedihan yang menghimpitnya.

Kini Syanti Dewi membelalakkan matanya, dan cepat dia menghapus air matanya. Lalu dia maju berlutut di depan Milana, memeluk pinggang puteri itu.

“Syanti....!”

Milana tak dapat menahan keharuan dan kepedihan hatinya, dia memeluk kepala Puteri Bhutan itu sambil menangis sesenggukan. Betapa belasan tahun ini dia menahan kesengsaraannya, tak pernah dikeluarkan sehingga kini bagaikan air bah memecah bendungannya, air matanya mengalir membasahi kepala dan rambut Syanti Dewi.

Puteri Bhutan ini mengejap-ngejapkan matanya menahan tangis, lalu dengan sikap halus dan lemah lembut dia mengeluarkan saputangannya, menghapus air mata dari pipi Puteri Milana seperti orang dewasa menghibur seorang anak kecil yang sedang menangis.

Dia membiarkan Milana menangis sesenggukan sampai beberapa lamanya, kemarahannya berubah menjadi perasaan kasihan sekali terhadap puteri gagah perkasa ini, yang kini oleh kekuatan cinta kembali ke asalnya, seorang wanita yang lemah dan hanya bergantung kepada tangis dan rintihan hatinya.

“Bibi Milana,” suara Syanti Dewi kini penuh kesungguhan, penuh kedewasaan, dan penuh teguran. “Bibi Milana mengapa telah bertindak begitu bodoh? Jelas bahwa sesungguhnya Bibi amat mencinta Paman Gak Bun Beng, sejak dahulu sampai saat ini, akan tetapi mengapa Bibi memaksa diri menikah dengan pria lain? Apa sebabnya tindakan yang amat bodoh ini?”

Milana sudah dapat menekan perasaannya. Tangisnya tadi, yang baru sekali ini dapat dia curahkan keluar, sedikit banyak melegakan hatinya. Dia mengangkat Syanti Dewi bangkit dan mengajak dara itu duduk berdampingan di pinggir pembaringannya.

“Engkau anak baik, pertanyaanmu sungguh tidak tepat! Engkau sendiri tahu akan keadaan wanita-wanita yang tidak kebetulan menjadi puteri-puteri istana seperti kita ini! Apa daya kita menghadapi perintah junjungan kita, dalam hal ini Kaisar yang menjadi kakekku dan Raja Bhutan yang menjadi ayahmu? Engkau sendiri menerima saja ketika dijodohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong yang sudah tua!”






“Aih, Bibi Milana. Keadaan saya lain lagi dengan keadaan Bibi! Andaikata saya seperti Bibi, sudah mempunyai seorang kekasih di Bhutan, sampai mati pun saya tidak akan sudi! Kalau saya mentaati perintah ayah, adalah karena hati saya masih bebas dan betapa pun saya tidak suka dikawinkan dengan orang yang belum pernah saya lihat, namun demi kebaktian terhadap ayah, terutama terhadap negara karena ayah menyerahkan saya demi negara, terpaksa saya menyetujuinya. Jauh bedanya dengan Bibi yang telah mempunyai seorang pujaan hati sehebat Paman Gak! Mengapa Bibi begitu bodoh?”

Demikianlah, percakapannya dengan Puteri Syanti Dewi itulah yang terus menghantui hatinya. Kini Puteri Milana rebah seorang diri di atas pembaringannya di dalam kamarnya yang tertutup, mengenangkan semua percakapannya dengan Syanti Dewi dan baru terbuka matanya betapa dia telah berbuat kesalahan besar terhadap Gak Bun Beng!

Pernikahannya dengan Han Wi Kong juga tidak mempunyai arti apa-apa bagi Kaisar atau kerajaan, dan yang jelas dia telah merusak kehidupan Gak Bun Beng, merusak kebahagiaan hidupnya sendiri! Teringatlah dia akan semua pengalamannya di waktu dahulu, belasan tahun yang lalu dan makin diingat, makin menyesallah dia karena sejak dahulu, Bun Beng selalu bersikap baik dan penuh cinta kasih kepadanya, sebaliknya, telah beberapa kali dia menyakiti hati kekasihnya itu! Bahkan yang terakhir sekali, dia menuduh Gak Bun Beng sebagai seorang pria jahat dan keji, tukang memperkosa wanita!

Dan dia telah bersekutu dengan wanita-wanita lain yang disangkanya menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng untuk membunuh pria itu! Dan hampir saja maksud kejamnya ini terlaksana (baca cerita Sepasang Pedang Iblis). Kemudian barulah dia tahu, baru terbuka matanya bahwa Gak Bun Beng adalah pria yang bersih, gagah perkasa, mulia, karena si jahat itu bukanlah Gak Bun Beng, melainkan Wan keng In!

“Ahhh.... Wan Keng In, benar dia....!”

Tiba-tiba Puteri Milana meloncat turun dari atas pembaringannya, memandang terbelalak ke arah pintu kamarnya. Ketika dia mengenangkan masa lalu dan terbayang wajah Wan Keng In, tiba-tiba saja dia melihat wajah Ang Tek Hoat! Mengapa dia begitu bodoh? Wajah Ang Tek Hoat persis wajah Wan Keng In!

Han Wi Kong dan Kian Bu terkejut sekali ketika melihat Milana memasuki kamar di mana mereka berdua bercakap-cakap itu dengan muka berubah agak pucat.

“Mana dia? Bu-te, lekas kau kejar dia! Ang Tek Hoat itu adalah putera Wan Keng In!”

Kian Bu terkejut. Tentu saja dia telah mendengar siapa adanya Wan Keng In yang disebut oleh encinya itu. Wan Keng In adalah putera ibu tirinya, ibu kandung Kian Lee, anak tiri ayahnya yang telah lama meninggal dunia dan kabarnya dahulu amat lihai akan tetapi juga menyeleweng.

“Bagaimana kau bisa tahu, Enci?”

“Aku bodoh, telah lupa wajah Wan Keng In yang persis benar dengan wajahnya. Lekas, Bu-te, susul dia dan suruh dia kembali, aku akan bicara dengan dia. Kini aku tahu mengapa dia memusuhi Gak Bun Beng.”

Kian Bu cepat berlari keluar dan melakukan pengejaran. Akan tetapi, pengawal tadi menceritakan bahwa pemuda itu telah keluar dari pintu gerbang kota raja dan entah pergi ke mana, Kian Bu menyusul dan mengejar sampai jauh di luar kota raja, keluar dari pintu gerbang selatan, namun hasilnya sia-sia dan terpaksa dia kembali kepada encinya dengan tangan hampa.

Milana merasa menyesal sekali.
“Di dalam kamar tadi, baru aku teringat. Memang tadinya aku merasa mengenal wajah Tek Hoat, hanya sayang aku lupa bahwa wajahnya itu persis wajah Wan Keng In, kakakmu Bu-te. Dia she Ang pula, siapa lagi dia kalau bukan anak Ang Siok Bi yang dahulu diperkosa oleh Wan Keng In yang menyamar sebagai Gak Bun Beng? Ahh, tentu akan terjadi hal-hal hebat kalau mereka saling bertemu!”

“Sebaiknya aku kembali ke Teng-bun atau Koan-bun, mencari Gak-suheng dan memberitahukan hal Tek Hoat itu kepadanya agar dia dapat berjaga-jaga, Enci!” kata Kian Bu.

“Tidak perlulah, Bu-te. Kurasa dia dapat menghadapi pemuda itu, apalagi Tek Hoat masih lemah tubuhnya dan perlu mengumpulkan tenaga sampai belasan hari lamanya. Pula, kita menanti datangnya kakakmu, Kian Lee, dan yang lain-lain. Mengapa mereka belum juga datang?”

Hanya Han Wi Kong yang dapat menduga bahwa yang dimaksudkan “yang lain-lain” oleh isterinya itu, bukan lain adalah Gak Bun Beng yang amat diharap-harapkan kedatangannya.

Dan pada keesokan harinya, benar saja Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee muncul di istana Puteri Milana itu! Han Wi Kong dan Milana bersama Kian Bu menyambut mereka dengan gembira, akan tetapi Milana hanya sekilas saja bertemu pandang mata dengan Bun Beng, kemudian wajahnya berubah merah sedangkan wajah Bun Beng berubah pucat dan mereka tidak bicara apa-apa kecuali menyapa.

“Gak-suheng!”

“Sumoi....!”

Han Wi Kong maklum betapa kedua orang itu merasa sungkan dan tidak enak, maka dia bersikap ramah sekali.

“Gak-taihiap, sudah amat lama saya mendengar nama besar Taihiap dan sungguh merupakan suatu kehormatan besar bagi saya dapat berjumpa dengan Taihiap ini!”

Gak Bun Beng menatap wajah yang tampan dan gagah itu, dan hatinya ikut gembira bahwa Milana ternyata menikah dengan seorang pria yang tidak mengecewakan.

“Terima kasih, Han-ciangkun, dan karena saya adalah suheng dari isterimu, harap kau jangan menyebutku taihiap (pendekar besar).”

Han Wi Kong tertawa dan begitu bertemu saja dia sudah merasa suka kepada pendekar besar yang sederhana sekali ini.

“Kalau begitu, baiklah saya menyebutmu Gak-twako saja. Akan tetapi saya pun bukan lagi menjadi seorang perwira maka jangan menyebut saya ciangkun, Gak-twako (Kakak Gak).”

“Baiklah, Han-laote (Adik Han).”

Karena sikap Han Wi Kong, maka rasa sungkan dan tidak enak di pihak Bun Beng dan Milana perlahan-lahan berkurang dan Han Wi Kong lalu menjamu tamu yang dihormatinya itu dengan pesta kecil. Sambil bercakap-cakap, Han Wi Kong, Milana, Suma Kian Lee, Suma Kian Bu, dan Gak Bun Beng menghadapi meja bundar dan makan minum.

Karena sedang makan, mereka tidak membicarakan urusan penting dan setelah mereka selesai makan dan duduk di ruangan tamu, barulah mereka bicara tentang hal-hal yang lebih penting menyangkut diri mereka.

“Lee-ko, mengapa kau kelihatan pucat dan tidak bersemangat?” Kian Bu bertanya dan Milana juga memandang adik ini dengan penuh perhatian.

“Engkau kelihatan seperti orang sakit, Adik Kian Lee,” dia juga berkata.

“Ah, tidak ada apa-apa,” jawab Kian Lee.

“Jangan-jangan karena kakimu yang terluka dahulu itu, Lee-ko? Sekarang sudah sembuh sama sekali, bukan?”

“Sudah, Bu-te.”

Kian Lee menjawab singkat dan ketika adiknya itu bertanya tentang pengalamannya dan ketika kakinya terluka dan mereka terpisah, Kian Lee hanya menceritakan dengan singkat saja bahwa dia kebetulan bertemu dengan puteri Hek-tiauw Lo-mo dan mendapatkan obat sehingga mudah sembuh.

“Heran...., heran....!” Kian Bu berkata sambil tertawa. “Ayahnya iblis akan tetapi puterinya bidadari agaknya!”

Kini tiba giliran Bun Beng yang bertanya, tidak langsung menghadapi Milana melainkan pertanyaannya ditujukan kepada Han Wi Kong,

“Saya mendengar bahwa ada seorang tahanan bernama Ang Tek Hoat. Apakah benar dia berada di kota raja dan apakah dapat saya bertemu dengan dia?”

“Ahh, Gak-suheng, memang terjadi hal yang hebat sekali dengan pemuda itu!” Milana berkata. “Dia.... dia.... itu.... putera Wan Keng In....!”

“Ehhh....?”

Bun Beng demikian kagetnya sehingga dia bangkit berdiri, lalu duduk kembali. Sementara itu Milana sudah teringat akan peristiwa dahulu, maka dia menjadi pucat dan menunduk, tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Bu-sute, apakah yang terjadi?” tanya Bun Beng, menoleh kepada Kian Bu.

“Gak-suheng, kami tadinya bertanya kepadanya mengapa dia berjuluk Si Jari Maut dan menggunakan nama Suheng untuk melakukan kejahatan. Dia menjawab bahwa Suheng telah membunuh ayahnya dan dia tidak melanjutkan keterangannya, hanya tadinya menyangka bahwa Suheng telah mati maka setelah mendengar bahwa Suheng masih hidup, dia menyatakan ingin bertemu dan ingin membalas dendam kematian ayahnya.”

“Hemm...., sungguh aneh....” Bun Beng berkata.

“Akan tetapi Enci Milana lalu teringat akan wajah Keng In....”

“Bukan mirip lagi, Suheng, melainkan persis seperti pinang dibelah dua! Dan dia she Ang, siapa lagi kalau bukan anak Ang Siok Bi?”

Milana berkata, dan ketika Bun Beng memandangnya, mereka bertemu pandang dan Milana menunduk, karena menyebut nama Siok Bi sama dengan menggali kenangan lama yang membuat dia merasa berdosa sekali.

Bun Beng mengangguk-angguk.
“Hemm, sekarang aku mengerti! Pantas dia memusuhi aku....”

“Enci Milana khawatir sekali kalau sampai terjadi sesuatu yang hebat apabila Suheng bertemu dengan dia,” kata pula Kian Bu.

“Aku dapat mengatasinya. Ahh, sungguh kejadian yang amat luar biasa aneh, dan sekaligus terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan....” Bun Beng menghela napas panjang.

“Gak-suheng, apa maksudmu?”

Milana bertanya, karena dia merasa bahwa ada sesuatu yang penting terkandung dalam ucapan pendekar itu.

Bun Beng memandang kepada Milana, sedikit pun tidak memperlihatkan penyesalan ketika dia bertanya,

“Sumoi tentu masih ingat kepada Lu Kim Bwee, bukan?”

Pertanyaan ini amat mengejutkan hati Milana, karena tidak disangka-sangkanya, padahal dia selalu membayangkan dua orang wanita, Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee, dua orang wanita yang dahulu bersama dia mengeroyok Bun Beng dan hampir saja membunuh pendekar ini (baca cerita Sepasang Pedang Iblis). Milana menelan ludah, memandang kepada Bun Beng tanpa dapat menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk.

“Nah, Lu Kim Bwee itu pun ternyata mempunyai seorang anak dari Wan Keng In, dan anaknya itu adalah Lu Ceng.”

“Ooohhh....!”

“Aihhhh....!”

Kian Bu terbelalak dan menoleh kepada Kian Lee. Melihat Kian Lee menundukkan muka, Kian Bu membungkam mulutnya lagi, tidak berani mengeluarkan suara. Maklumlah dia sekarang mengapa Kian Lee begitu pucat dan muram. Kiranya dara yang dia tahu telah mencuri hati kakaknya itu ternyata adalah anak dari mendiang Wan Keng In, kakak mereka sendiri, yang berarti bahwa Ceng Ceng adalah keponakan mereka sendiri.

Keadaan menjadi sunyi karena semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing. Han Wi Kong yang pernah mendengar cerita tentang Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee, yang tadinya disangka menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng yang kemudian ternyata adalah perbuatan Wan Keng In, memecahkan kesunyian itu sambil berkata,

“Kiranya dua orang yang menggemparkan itu adalah keponakan-keponakan Adik Kian Lee sendiri.”

Kian Lee mengangguk sunyi dan semua orang masih tenggelam ke dalam keanehan yang luar biasa ini, peristiwa yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka. Milana tidak menyangka bahwa peristiwa ketika dia muda dahulu, yang dilakukan oleh Wan Keng In, ternyata berekor demikian panjang sehingga biarpun pelakunya telah tewas, ternyata akibat kelakuannya masih terus menjadi riwayat!

Dan celakanya, kalau dulu Wan Keng In melakukan perbuatan yang mencelakakan diri Gak Bun Beng, sekarang keturunannya juga melakukan hal yang sama, sungguhpun apa yang dilakukan oleh Tek Hoat adalah karena pemuda itu mengira bahwa Gak Bun Beng sudah mati dan menjadi pembunuh ayahnya.

Selagi mereka semua termenung, tiba-tiba datang penjaga pintu yang melaporkan bahwa ada utusan dari Kaisar datang untuk bertemu dengan Puteri Milana! Puteri Milana terkejut dan cepat menyambut. Kiranya yang datang adalah Perdana Menteri Su sendiri, yang tentu saja cepat disambutnya dengan penuh hormat.

Han Wi Kong, Gak Bun Beng, dan kedua orang saudara Suma ikut menyambut, dan karena perdana menteri datang sebagai utusan Kaisar yang berarti wakil Kaisar sendiri, Milana dan yang lain-lain menyambut dan berlutut.

Perdana Menteri Su mengenal semua yang hadir. Dia sudah mendengar akan kedua orang adik Puteri Milana, putera-putera dari Pendekar Super Sakti, dan dia dahulu sudah pernah bertemu dengan Gak Bun Beng. Maka cepat dia menggerakkan tangan minta kepada mereka semua untuk bangkit berdiri.

“Harap Cu-wi bangkit kembali dan penghormatan Cu-wi terhadap Sri Baginda telah saya terima. Sekarang kita bicara sebagai sahabat dan biarlah pesan Sri Baginda saya bicarakan di atas cawan-cawan arak saja karena keputusan beliau perlu dipertimbangkan bersama.”

Puteri Milana dan yang lain-lain segera bangkit berdiri dan mempersilakan tamu agung itu ke ruangan tamu, di mana mereka menjamu Perdana Menteri Su dengan hormat dan ramah.

Perdana Menteri Su yang sudah tua dan setia itu menghela napas panjang dan berkata,
“Aihhh.... betapa girang dapat bertemu dengan orang-orang gagah seperti Cu-wi, dan betapa kecewa hati membawa berita yang tidak menyenangkan. Puteri Milana, Sri Baginda Kaisar menitah saya untuk menyampaikan keputusan beliau tentang Pangeran Liong Bin Ong dan Puteri Syanti Dewi.”

“Bagaimana dengan Paman Pangeran Liong Bin Ong?” Puteri Milana bertanya.

“Sri Baginda menyatakan bahwa menurut penyelidikan beliau, Pangeran Liong Bin Ong tidak bersalah apa-apa, dan pemberontakan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mendiang Pangeran Liong Khi Ong....”

“Ahhh....!” Puteri Milana berseru, mukanya merah dan kelihatan penasaran sekali.

“Puteri Milana, demikianlah keputusan Sri Baginda,”

Perdana Menteri Su berkata keren dan memandang wajah puteri itu penuh arti. Sang Puteri mengangguk dan membungkuk, tidak berani berkata apa-apa lagi sungguhpun dia maklum bahwa keputusan ini bukan hanya membuat dia penasaran, bahkan terutama sekali membuat perdana menteri itu menjadi kecewa dan khawatir. Mereka berdua tahu belaka bahwa Liong Khi Ong hanya merupakan orang ke dua, hanya pembantu dari Pangeran Liong Bin Ong yang menjadi dalang pertama dari pemberontakan itu!

“Adapun mengenai diri Puteri Bhutan itu, Puteri Syanti Dewi yang tadinya akan menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong, menurut keputusan Sri Baginda akan dinikahkan dengan Pangeran Yung Hwa!”

“Heiiiihh....!” Kian Bu berteriak sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Bu-te, duduklah! Ini perintah Sri Baginda Kaisar!”

Puteri Milana membentak adiknya, akan tetapi matanya memandang adiknya dengan penuh duka karena puteri ini maklum bahwa adiknya itu telah jatuh cinta kepada Syanti Dewi.

“.... ya... ya, Enci Milana....” Kian Bu duduk kembali dan menundukkan mukanya yang berubah menjadi pucat.

“Betapapun juga, keputusan ke dua ini adalah cukup adil dan tepat,” Perdana Menteri Su berkata sambil mengelus jenggotnya. “Memang tadinya Pangeran Yung Hwa yang ingin berjodoh dengan Puteri Bhutan, hanya dia terdesak dan kalah oleh mendiang Pangeran Liong Khi ong. Ikatan jodoh ini berarti memperkuat tali hubungan antara Kerajaan Ceng dengan Kerajaan Bhutan.”

Milana tidak menjawab karena dia maklum bahwa perdana menteri itu tidak tahu akan rasa hati Kian Bu. Dia hanya mengangguk saja. Tak lama kemudian, Perdana Menteri Su berpamit dan setelah dia pergi, barulah Milana meremas cawan araknya sampai perak itu menjadi satu gumpalan!

“Sungguh celaka sekali! Pangeran Liong Bin Ong si pemberontak besar itu dibebaskan! Tentu dia akan membuat huru-hara lagi! Ahh, mengapa Sri Baginda tidak dapat melihat kenyataan?” Milana melirik ke arah Kian Bu yang masih menundukkan rnukanya dan tiba-tiba dia bangkit berdiri. “Dan Syanti Dewi.... ah, sungguh membikin orang penasaran....!”

Milana mengerutkan alisnya, sejenak bertukar pandang dengan Gak Bun Beng, lalu dia minta maaf kepada Bun Beng dan meninggalkan ruangan itu memasuki kamarnya.

Kian Bu bangkit berdiri pula, tanpa berkata apa-apa dia pun lalu setengah lari menuju ke kamarnya, diikuti oleh Kian Lee yang kini memandang adiknya itu dengan wajah penuh kecemasan.

Tinggallah Haan Wi Kong duduk berhadapan dengan Gak Bun Beng. Keduanya bengong dan termenung.

“Hemmm...., banyak sekali peristiwa terjadi dalam kehidupan manusia yang berlawanan dengan apa yang dikehendakinya, bukan, Gak-twako?”

“Ehhh....?”

Bun Beng yang melamun sambil tak sadar mengambil cawan yang telah menjadi gumpalan perak karena dicengkeram oleh Milana tadi, membolak-balikkan benda itu di tangannya, terkejut mendengar ucapan itu, lalu mengangkat muka memandang.

“Agaknya begitulah hidup....”

“Mengapa harus begitu, Twako?” Han Wi Kong mendesak.

“Yah, manusia tidak akan dapat melawan nasib....” Bun Beng menarik napas panjang.

“Hemmm...., begitukah? Atau bukan sebaliknya bahwa nasib berada di tangan manusia sendiri? Orang yang menyerah kepada nasib adalah orang lemah, dan orang-orang lemah memang sudah sepatutnya hidup menderita, Twako! Hanya orang yang berani menentang dan menghadapi keadaan dan peristiwa dengan tabah, merubah nasibnya sendiri dan terbebas dari penderitaan kelemahannya!”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar