FB

FB


Ads

Jumat, 20 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 064

Sejenak Ceng Ceng termangu, kemudian secara tiba-tiba dia menggerakkan pedangnya menyerang. Serangan kilat ini dilakukan dengan dahsyat karena mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak dekat.

Ban-tok-kiam meluncur kearah dada orang tinggi besar itu dan agaknya tidak ada jalan lagi bagi orang tinggi besar untuk dapat meinghindarkan diri dari bahaya maut ini, apalagi karena tangan kiri Ceng Ceng yang mengerahkan tenaga beracun mencengkeram kearah perut dan kepalanya digerakkan sedemikian rupa sehingga rambutnya juga menyambar kearah kedua mata lawan. Benar-benar serangan tiba-tiba yang amat berbahaya.

“Ahhh....!”

Laki-laki bermuka buruk mengeluarkan seruan kaget, dan hanya mengangkat tangan kirinya ke depan dan menyambar pedang itu dari samping dan membiarkan rambut dan tangan kiri Ceng Ceng mengenai sasaran.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati dara ini ketika tangan kirinya bertemu dengan perut yang keras seperti baja, membuat jari-jari tangannya tidak dapat mencengkeram bahkan terasa nyeri, sedangkan rambutnya yang menyambar mata itu tiba-tiba membuyar ditiup oleh mulut Si Buruk Rupa, dan pedangnya ditangkap oleh tangan lawan!

Pedangnya, Ban-tok-kiam yang ampuh, yang mengandung racun mujijat, ditangkap oleh tangan begitu saja seolah-olah hanya sebatang pedang kayu yang tidak berbahaya! Dia mengerahkan tenaga membetot, namun sia-sia, bahkan ketika laki-laki itu menggerakkan tangan, dia tidak mampu mempertahankan dan pedangnya terlepas, lalu dilempar diatas genteng oleh laki-laki itu.

“Apakah kau sudah gila?” laki-laki itu menegur.

Ceng Ceng segera menjatuhkan dirinya berlutut dan laki-laki itu mendengus heran.
“Memang kusengaja untuk menguji kepandaianmu In-kong, aku mohon kepadamu agar kau suka menerimaku sebagai murid!”

Mata yang besar sebelah itu berkedip-kedip penuh keheranan.
“Kau.... kau seorang yang aneh, Nona. Selamat tinggal....” Dia membalikkan tubuh membelakangi Ceng Ceng yang masih berlutut.

“In-kong...., jangan pergi dulu.”

Ceng Ceng berseru dan laki-laki itu berdiri di wuwungan, membelakangi Ceng Ceng dan bersedakap.

“Mau bicara apalagi?” terdengar suaranya yang halus.

“In-kong, aku ingin sekali menjadi muridmu, belajar ilmu yang tinggi untuk kupergunakan membalas dendamku kepada seorang pemuda laknat yang amat lihai dan selamanya aku tidak akan melupakan budimu.... In-kong....!”

Namun Ceng Ceng hanya dapat bangkit berdiri dengan muka pucat dan hati kecewa sekali karena selagi dia bicara tadi, laki-laki bermuka buruk itu telah berkelebat dan lenyap, meninggalkannya tanpa menjawab sedikitpun juga. Dengan kekecewaan hebat Ceng Ceng memungut pedangnya, lalu melayang turun setelah melihat bahwa tujuh orang itu masih rebah malang melintang dengan pingsan diatas genteng.

Ketika dia memasuki rumah dan menghampiri pintu ruangan dimana Pangeran Yung Hwa dan sekeluarga Perwira Chi bersembunyi, tiba-tiba pintu itu terbuka dan Pangeran Yung Hwa muncul, memandang kepadanya dengan wajah girang sekali sambil berkata,

“Ah, syukur kepada Thian bahwa kau selamat, Nona....!”

“Haiii, jangan keluar....!”

Ceng Ceng berteriak kaget melihat Pangeran itu hendak melangkah keluar. Seruannya terlambat, maka dia cepat meloncat seperti seekor burung walet, langsung menubruk dan merangkul tubuh Pangeran itu yang sudah melangkahkan kakinya sehingga mereka berdua terlempar kembali ke dalam ruangan, bergulingan seperti saling berpelukan!

Dengan kedua lengan masih memeluknya, Pangeran Yung Hwa membuka matanya, memandang terheran-heran. Ketika Ceng Ceng meronta, dia melepaskan kedua lengannya.

“Ah maaf....!”

Muka Pangeran itu menjadi merah sekali. Bersama Ceng Ceng dia bangkit berdiri, melihat dara itu mengebut-ngebutkan pakaiannya.

“Akan tetapi, mengapa Nona....?”

“Pangeran, diluar pintu itu tadi kusebarkan racun untuk menghalangi orang luar memasuki ruangan ini, dan hampir saja kau yang menjadi korban!”

Ceng Ceng mengomel, lupa bahwa dia bicara dengan seorang putera Kaisar sehingga dia seenaknya saja menyebut “kau”!

Sepasang mata yang indah dari pangeran itu terbelalak.
“Aihh.... kiranya baru saja kau kembali setelah menyelamatkan nyawaku, Nona Lu!” Dia memandang ke atas lalu bertanya, “Bagaimana dengan mereka?”

“Semua pingsan,” jawab Ceng Ceng sederhana.

“Ah, sungguh hebat! Bagaimana aku dapat membalas budimu, Nona Lu?” Yung Hwa berkata lagi sambil menjura.

“Lihiap, bagaimana baiknya sekarang?” Perwira Chi yang masih pucat, wajahnya itu tiba-tiba bertanya.

“Kalian semua harus cepat pergi dari sini, kalau tidak, berbahaya sekali,” jawab Ceng Ceng.

“Mari kalian semua ikut dengan aku!” Yung Hwa berkata. “Kita harus malam ini juga masuk ke istana, barulah aman.”

“Akan tetapi....” perwira itu meragu.






“Beliau berkata benar,” Ceng Ceng memotong. “Memang sebaiknya kalau sekarang juga kalian semua menyelamatkan diri ke dalam istana. Kiranya tidak akan sukar bagi Pangeran Yung Hwa untuk memasuki istana.”

“Akan tetapi kalau ada pencegatan di tengah jalan?” Perwira Chi masih meragu.

“Aku akan mengawal,” Ceng Ceng menjawab.

“Ah, budimu makin bertumpuk, Nona Lu!”

Pangeran Yung Hwa berseru terharu, akan tetapi Ceng Ceng cepat membuka pintu dan membersihkan racun dari lantai depan pintu.

“Aku tidak yakin apakah sudah bersih betul, sebaiknya kau bawa keluargamu meloncat sampai dua meter lebih dari pintu, Chi-ciangkun (Perwira Chi)!” Ceng Ceng berkata.

Perwira itu mengangguk, memondong isteri dan anak-anaknya bergantian dan membawa mereka meloncat.

“Maukah engkau membantu aku, Nona?” Yung Hwa berkata, matanya memandang tajam penuh harapan dan penuh selidik.

Wajah Ceng Ceng menjadi merah, akan tetapi dengan sederhana dia mengangguk dan mengeluarkan tangannya.

“Kau berpeganganlah pada tanganku, Pangeran!”

Setelah mereka saling berpegang tangan, Ceng Ceng meloncat dan menarik tubuh pangeran itu ke atas bersamanya.

“Ahhh....!”

Pangeran Yung Hwa memuji dengan kagum dan agaknya dia lupa bahwa dia masih memegang tangan yang berkulit halus itu, sampai Ceng Ceng dengan halus menarik tangannya.

“Mari kita berangkat dan kalau ada pencegatan di jalan, biarkan aku menghadapi mereka akan tetapi lanjutkan perjalanan kalian ke istana,”

Ceng Ceng memesan dan berangkatlah mereka semua meninggalkan rumah Perwira Chi menuju ke istana. Di sepanjang jalan, Pangeran Yung Hwa yang kelihatan tenang saja tidak seperti Perwira Chi sekeluarganya yang nampak gugup dan tegang, tiada hentinya memuji-muji kelihaian Ceng Ceng.

Tidak ada halangan sesuatu di jalan sampai mereka tiba di pintu gerbang istana yang terjaga ketat oleh sepasukan pengawal istana. Ketika mereka melihat Pangeran Yung Hwa yang mengepalai rombongan kecil itu, tentu saja mereka mengenalnya dan cepat memberi hormat kepada pangeran yang mereka kenal sebagai seorang pangeran yang baik budi dan halus itu.

“Mereka ini adalah tamuku dan malam ini kami perlu sekali menghadap ibuku di istana,” kata Pangeran Yung Hwa kepada para penjaga yang tidak berani melarang.

“Kalau begitu, kita berpisah di sini,” kata Ceng Ceng. “Selamat berpisah, Pangeran dan Chi-ciangkun.”

“Eh, eh.... kau harus ikut dengan kami memasuki istana, Lu-siocia!” pangeran itu berseru.

“Harus....?”

Ceng Ceng memandang dengan sikap angkuh dan matanya seolah-olah hendak mengatakan bahwa tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang mengharuskannya berbuat sesuatu!

“Eh, maksudku....” Pangeran Yung Hwa mendekati nona itu dan berbisik, “Harap Nona mengawal kami sampai kami aman berada di tempat tinggal ibuku. Di dalam istana itu banyak kaki tangan pemberontak.”

Mendengar ini, Ceng Ceng mengerutkan alisnya. Memang kalau dia lepaskan mereka di situ kemudian mereka itu tetap saja terjatuh ke tangan musuh yang tentu menyebar anak buahnya di dalam lingkungan istana, akan sia-sialah semua pertolongannya.

“Baiklah....!” katanya dan wajah pangeran itu menjadi berseri, jelas bahwa dia merasa girang sekali.

Karena pangeran itu merupakan seorang tokoh istana yang amat dikenal dan disuka oleh para penjaga, maka mereka tidak menemui halangan. Bahkan semua penjaga yang melihat pangeran ini menjadi girang sekali.

Tersiar luas bahwa Pangeran Yung Hwa melarikan diri karena kecewa tidak diperkenankan menikah dengan Puteri Bhutan, dan kini agaknya pangeran itu sudah dingin hatinya dan mau pulang, maka tentu saja para penjaga ikut merasa girang.

Agaknya biarpun di lingkungan bangunan istana itu terdapat banyak kaki tangan Liong Bin Ong, namun pangeran ini belum begitu gila untuk berani turun tangan di lingkungan istana, karena hal ini akan berbahaya sekali bagi dirinya sendiri. Maka Pangeran Yung Hwa dan rombongannya dapat tiba di tempat ibunya dengan selamat tanpa halangan.

Ibu pangeran itu, seorang wanita setengah tua, selir Kaisar yang masih kelihatan cantik jelita, menyambut puteranya dengan cucuran air mata saking girangnya. Pertemuan mengharukan antara ibu dan anak mendatangkan rasa haru pula di hati Ceng Ceng.

“Ah, Ibu, saya sampai lupa. Ini adalah Nona Lu Ceng, seorang pendekar wanita yang telah berkali-kali menyelamatkan nyawa puteramu.”

Selir kaisar itu mengangkat muka memandang dan tersenyum ramah sambil menghapus air matanya. Ceng Ceng cepat menjura dengan hormat, lalu berkata,

“Saya tidak berani mengganggu lebih lama lagi, perkenankan saya pergi.”

“Eh, nanti dulu, Nona Lu. Mana mungkin malam-malam begini membiarkan aku pergi? Kau bermalam di sini, besok pagi masih belum terlambat untuk pergi.”

Pangeran itu berkata dan ibunya juga menahan sambil melangkah maju dan memegang tangan Ceng Ceng.

Dara ini merasa bingung dan sungkan, akan tetapi sikap selir kaisar yang halus dan ramah itu membuat dia tidak berani menolak lagi. Dia lalu diantar ke sebuah kamar dan dipersilakan mengaso, dilayani oleh seorang pelayan wanita. Juga perwira Chi dan keluarganya sudah diberi tempat untuk mengaso dan tidur, sedangkan Pangeran Yung Hwa dan ibunya bercakap-cakap sampai jauh malam.

Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali Ceng Ceng sudah bangun dan mandi di dalam kamar mandi yang serba mewah dan indah. Kemudian dia memasuki taman di samping kamarnya untuk menanti munculnya Pangeran Yung Hwa karena dia ingin segera pergi dari tempat itu. Akan tetapi baru saja dia memasuki taman, tampak pangeran itu sudah bangkit dari sebuah bangku menyambutnya.

“Selamat pagi, Lu-siocia. Kuharap Nona dapat beristirahat dengan cukup semalam.”

“Ah, terima kasih, Pangeran. Kebetulan sekali karena memang saya ingin mohon diri dari sini.”

“Duduklah dulu, Nona Lu Ceng, duduklah di bangku sini. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu.”

Terpaksa Ceng Ceng duduk di bangku berhadapan dengan pangeran itu karena melihat sikap pangeran itu sungguh-sungguh.

“Biarpun baru saja aku berjumpa denganmu, Nona, akan tetapi ada perasaan aneh di hatiku bahwa kita telah menjadi sahabat yang tidak perlu menyimpan rahasia lagi. Karena itu aku ingin menceritakan kepadamu mengapa aku sebagai seorang pangeran kau dapatkan bersembunyi di dalam rumah perwira Chi dan mengapa pula ada usaha-usaha dari luar untuk menangkap atau membunuh aku.”

Ceng Ceng selanjutnya tidak ingin mencampuri urusan pangeran itu, juga tidak ingin mendengarkan ceritanya, akan tetapi mengingat akan sikap halus ibu pangeran ini dan akan keramahan Si Pangeran sendiri, juga karena dia merasa kagum dan tertarik kepada pangeran yang tampan dan halus bersikap sederhana, tidak angkuh seperti biasanya kaum bangsawan, merasa tidak tega untuk menolak dan dia hanya mengangguk.

“Mula-mula adalah kesalahanku sendiri. Aku tergila-gila kepada Syanti Dewi, Puteri Bhutan.... eh, kau kenapa?”

Pangeran yang sambil bercerita selalu menatap wajah Ceng Ceng melihat betapa tiba-tiba dara itu membelalakkan matanya dan wajah yang tadinya diam dan dingin itu seperti mengeluarkan cahaya dan kedua pipinya kemerahan.

Namun Ceng Ceng segera dapat menguasai hatinya yang tadi terkejut mendengar pangeran itu terang-terangan menyatakan tergila-gila kepada kakak angkatnya, Syanti Dewi.

“Tidak apa-apa, lanjutkanlah....” jawabnya.

“Akan tetapi ayahku, Sri Baginda Kaisar menolak permintaanku untuk dilamarkan puteri itu, bahkan menjodohkan puteri Bhutan itu dengan Paman Pangeran Liong Khi Ong yang sudah setengah abad usianya demi politik. Hatiku sakit dan aku lalu lolos dari istana, melarikan diri. Sikapku membikin marah Paman Pangeran Liong Khi Ong dan Liong Bin Ong, aku dikejar-kejar dan nyaris tewas. Aku dilindungi dan disembunyikan oleh pamanku, saudara ibuku diluar kota raja dan di situ aku mendengar akan rencana pemberontakan yang diatur oleh kedua orang paman Pangeran Liong itu. Bahkan pencegatan rombongan Puteri Syanti Dewi yang diboyong itupun kabarnya dilakukan oleh sekutu para pemberontak. Maka aku lalu kembali ke Istana, akan tetapi di tengah jalan aku terlihat oleh kaki tangan pemberontak dan tentu aku sekarang telah tewas kalau tidak ada engkau yang muncul dan menyelamatkan nyawaku, Nona Lu Ceng!”

“Sudahlah, Pangeran. Hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Kakek adalah seorang bekas pengawal dahulu, maka sudah sepatutnya kalau aku melindungi seorang pangeran yang terancam bahaya oleh orang-orang jahat yang memberontak. Sekarang ijinkan aku memohon diri untuk melanjutkan perjalananku.” Ceng Ceng bangkit berdiri.

“Engkau hendak ke manakah, Nona Lu?”

Ceng Ceng termenung. Dia sendiri tidak tahu akan pergi kemana. Akan tetapi segera terbayang olehnya pemuda tingi besar yang memperkosanya, pemuda laknat yang menjadi musuh besarnya,

“Aku.... aku mencari seseorang....”

“Keluargamu?”

“Bukan....”

“Sahabatmu....?”

“Bukan!”

“Habis siapa dia? Biar aku akan membantumu dan menyuruh para pengawal mencarinya.”

“Terima kasih, Pangeran. Ini urusan pribadi. Aku akan pergi sekarang....”

Ceng Ceng sudah melangkah hendak pergi, akan tetapi pangeran itu bangkit berdiri dan berkata,

“Nanti dulu, Nona Lu!”

Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan membalikkan tubuhnya, memandang penuh selidik.
“Ada urusan apa lagi?”

“Tadi sudah kukatakan bahwa ada sesuatu yang akan kusampaikan kepadamu.”

“Engkau sudah menceritakan semua.”

“Bukan.... bukan itu.... akan tetapi, ahh, maafkan aku karena engkau begitu tergesa hendak pergi, terpaksa aku terus terang saja. Nona Lu Ceng, aku.... begitu bertemu denganmu.... aku.... aku cinta padamu, Nona!”

Ceng Ceng benar-benar terkejut bukan main, matanya terbelalak memandang dengan mulutnya agak terbuka karena dia sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari mulut pangeran yang amat tampan itu!

“Maaf, Nona. Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Aku bahkan telah membicarakan dengan ibu, dan beliau sudah setuju. Nona Lu, aku cinta padamu dan kalau Nona setuju, aku ingin meminangmu sebagai isteriku....”

“Ahhh....!”

Ceng Ceng menundukkan mukanya yang tiba-tiba menjadi merah sekali. Selama hidupnya, baru satu kali ini ada pria mengaku cinta secara demikian terang-terangan, bahkan sekaligus melamarnya sebagai isterinya.

“Maafkan, Nona Lu Ceng. Memang ini tidak semestinya, memang sepatutnya aku mengajukan pelamaran kepada orang tuamu, akan tetapi karena aku tidak tahu dimana kau tinggal, siapa orang tuamu, dan karena kau begitu tergesa-gesa hendak pergi, aku takut kalau-kalau kita tidak akan saling bertemu kembali, maka aku memberanikan diri....”

Tiba-tiba Lu Ceng menangis terisak-isak menutupi mukanya dan dia menjatuhkan diri duduk diatas bangku. Disebutnya orang tuanya oleh pangeran itu membuat hatinya seperti ditusuk, mengingatkan dia akan semua nasibnya dan betapa tidak ada orang tua maupun kakeknya yang dapat dia sandari, yang dapat menghiburnya.

“Ahh, ampunkan aku, Nona Lu. Agaknya aku telah melukai hatimu.... akan tetapi percayalah, aku tidak bermaksud menghinamu.... semua pernyataanku keluar dari hatiku yang murni....”

Ceng Ceng mengusap air matanya, lalu memandang. Dilihatnya pangeran itu telah menjatuhkan diri berlutut di depannya! Seorang pangeran putera kaisar, telah berlutut di depannya! Berlutut kepadanya! Dara ini terlalu muda untuk mengerti bahwa cinta asmara memang dapat membuat seorang pria melakukan apa saja sehingga kalau seorang pangeran sampai berlutut di depan dara yang dicintanya, hal itu sama sekali tidaklah aneh! Maka dia segera meloncat berdiri dan membalikkan tubuhnya.

“Pangeran, harap jangan berlutut!”

Pangeran Yung Hwa bangkit berdiri dan wajahnya berseri.
“Engkau tidak marah kepadaku?”

Ceng Ceng kembali menghadapi pangeran itu, kini memandang dengan sinar mata penuh selidik karena masih sukar baginya untuk dapat percaya bahwa pangeran yang amat tampan ini, putera kaisar, benar-benar jatuh cinta padanya dan meminangnya untuk menjadi isterinya!

“Tidak, aku tidak marah, hanya aku merasa heran sekali, Pangeran.”

“Heran? Ha-ha-ha, Nona Lu! Seorang dara seperti engkau ini, biar dewa sekalipun pantas untuk jatuh cinta, apalagi hanya seorang pangeran puteri selir macam aku!”

Ucapan ini benar-benar mengelus rasa hati Ceng Ceng, mengangkat harga dirinya setinggi langit.
“Pangeran Yung Hwa, apakah engkau sudah lupa lagi kepada Puteri Syanti Dewi yang kau katakan sendiri telah membuat engkau tergila-gila tadi?”

“Ah, dia? Aku telah insyaf setelah aku melarikan diri keluar dari istana, Nona. Aku hanya tergila-gila kepada bayangan, kepada gambaran belaka. Selamanya aku belum pernah bertemu dengan Syanti Dewi, hanya tergila-gila mendengar berita orang tentang kecantikannya, tentang kebaikannya. Akan tetapi engkau.... engkau adalah seorang dara dari darah daging, yang hidup, bukan bayangan mati. Dan setelah aku berjumpa denganmu, tidak ada lagi bayangan Syanti Dewi didalam hatiku, yang ada hanya engkau, Nona.”

Makin nyaman rasa hati Ceng Ceng mendengarkan semua kata-kata itu. Dia seperti merasa dalam mimpi yang amat indah dan dia memejamkan matanya karena hampir tidak percaya bahwa ini mimpi. Pangeran yang tampan dan halus itu, yang di balik kehalusan dan kelemahannya memiliki keberanian dan kegagahan luar biasa pula ketika menghadapi bahaya, telah jatuh cinta padanya, meminangnya sebagai isteri!

Tubuhnya gemetar semua ketika tahu-tahu dia merasa ada dua lengan yang memeluknya. Dari balik bulu matanya, dia melihat bahwa Pangeran Yung Hwa telah merangkulnya dengan mesra, betapa dekat muka yang halus tampan itu, yang kini menjadi kemerahan dan mata yang indah itu memandang kepadanya penuh cinta kasih mesra, membuat Ceng Ceng hampir pingsan! Ketika merasa betapa napas yang panas dari hidung pangeran itu meniup pipinya, dia mengelak sedikit dan berbisik,

“Akan tetapi, Pangeran.... aku.... aku hanya seorang gadis perantau....”

Ceng Ceng tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini pangeran itu telah mempererat dekapannya dan telah mencium pipinya dengan hidung sambil membisikkan kata-kata indah di dekat telinganya,

“Ceng-moi.... bagiku engkau adalah seorang bidadari.... engkau mulia seperti Kwan Im Pouwsat sendiri.... engkau gagah perkasa seperti pendekar wanita Hoan Lee Hwa (dalam cerita Sie Jin Kwi) dan aku.... aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku, Moi-moi....”

“Ahhh.... tapi.... tapi aku....”

Kembali Ceng Ceng tak mampu melanjutkan karena kini bibir pangeran itu telah menutup mulutnya dengan ciuman yang hangat dan mesra, yang dilakukan dengan penuh getaran batinnya.

Sejenak Ceng Ceng terlena seperti pingsan dalam pelukan pangeran itu, menerima ciuman yang melupakan segala hal itu. Tiba-tiba terbayang wajah pemuda laknat dan teringatlah dia akan keadaan dirinya. Dia meronta dan pangeran itu berseru kaget, tentu saja pelukannya terlepas dan dia tidak mampu menahan gerakan Ceng Ceng yang meronta tadi.

Wajah Ceng Ceng pucat sekali, matanya menjadi liar.
“Tidak....! Tidak....! Tidak....!” Gadis itu setengah menjerit.

“Aih, Moi-moi.... kekasihku.... ada apakah....?”

Pangeran itu berseru kaget dan melangkah dekat, akan tetapi Ceng Ceng melangkah mundur menjauhi.

“Jangan sentuh aku! Jangan....!” jeritnya.

“Aduh, Ceng-moi, kenapakah? Apakah salahku? Aku cinta padamu....”

“Tidak boleh begitu!”

“Mengapa? Terasa olehku betapa engkau pun membalas cintaku, Ceng-moi. Kenapa tidak boleh?”

Sepasang mata itu kembali mencucurkan air mata karena dia teringat kembali akan keadaan dirinya yang telah ternoda, yang telah diperkosa oleh Si Pemuda Laknat. Akan tetapi betapa mungkin dia menceritakan hal itu kepada orang lain, apalagi kepada pangeran ini? Lebih baik mati!

“Pangeran, ketahuilah bahwa Enci Syanti Dewi adalah kakak angkatku. Karena itu, engkau tidak boleh cinta padaku. Nah, selamat tinggal!” Dengan isak tertahan Ceng Ceng meloncat keatas genteng dan melarikan diri.

“Ceng-moi....!”

Pangeran itu berseru memanggil, namun Ceng Ceng tidak mau menoleh lagi, bahkan mempercepat loncatannya sehingga sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Pangeran Yung Hwa yang menjadi bengong dan pucat, sinar matanya layu kehilangan gairah hidup.

**** 064 ****





Tidak ada komentar:

Posting Komentar