FB

FB

Ads

Jumat, 13 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 050

Han Wi Kong yang pundaknya sudah dibalut dan sejak tadi memandang kagum, kini hendak bangkit dari tempat duduknya.

“Si keparat tak tahu malu!” desisnya. Akan tetapi tiba-tiba tangan Milana menyentuh lengannya.

“Biarkan saja....”

“Apa....? Kedua orang anak muda itu terancam....”

Milana menggeleng kepala, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar, wajahnya berseri-seri.

“Apakah kau tidak dapat menduga siapa mereka? Apakah kau tidak mengenal Sin-coa-kun, kemudian loncatan Soan-hong-lui-kun dan dorongan pukulan Swat-im Sin-ciang yang dilakukan Kian Bu tadi?”

“Kian Bu.... ahh dan yang satu itu....?”

“Kian Lee, siapa lagi?”

Han Wi Kong memandang terbelalak dan dengan penuh kekaguman dia melihat betapa Kian Lee menghadapi dua orang lawan bersenjata itu dengan sikap tenang sekali. Dua gulungan sinar senjata itu menyambar-nyambar ke depan. Kian Lee berkelebat mengelak diantara dua gulungan sinar senjata itu, gerakannya cepat sekali sehingga tidak dapat dilihat lagi bentuk tubuhnya, hanya bayangannya saja berkelebatan dan tiba-tiba terdengar dua kali teriakan keras, dua batang senjata itu terlempar dan dua orang jagoan itu terlempar dan roboh terbanting!

Kian Lee telah berdiri dengan sikap penuh wibawa, kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bersedakap dan dia menghardik,

“Kalian masih berani menjual lagak lagi di sini?”

Dua orang jagoan itu merangkak bangun, muka mereka menjadi pucat sekali, lalu mereka saling pandang dan membalikkan tubuhnya.




“Tunggu....!” Klan Bu mencelat dari tempat dia berdiri, tahu-tahu telah berada di depan kedua orang itu. “Tadi kalian melukai orang, terlalu enak kalau kalian dibiarkan pergi begitu saja tanpa dihukum!”

Kedua tangannya bergerak cepat menyambar ke depan. Kedua orang jagoan yang masih merasa nanar itu berusaha membela diri, akan tetapi mereka jauh kalah cepat.

“Krek-krek! Krek-krek!”

Dua orang itu jatuh berlutut, kedua tulang pundak mereka telah dipatahkan oleh jari tangan Kian Bu yang hendak membalaskan orang gagah yang tadi patah tulang pundaknya.

“Nah, pergilah kalian!” bentaknya.

Dua orang itu mengeluh, menggigit bibir, memandang dengan mata melotot, kemudian bangkit berdiri dan pergi cepat meninggalkan tempat itu melalui pintu gerbang dengan gerak langkah yang amat lucu. Kaki mereka melangkah cepat setengah berlari, akan tetapi kedua lengan mereka tidak dapat berlenggang, hanya tergantung lumpuh di kanan kiri tubuh.

“Tangkap dua orang pengacau itu....!”

Tiba-tiba Pangeran Liong Bin Ong berteriak memerintah sambil menudingkan telunjuknya ke arah Kian Lee dan Kian Bu. Belasan orang pengawal bergerak maju mengepung dengan senjata di tangan.

“Eh, eh, kenapa kami hendak ditangkap?” Kian Bu berseru heran sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Kaliah mengacau!”

Pangeran itu membentak pula karena dia pun melihat betapa banyak diantara para tamu menggelengkan kepala tidak setuju kalau dua orang muda itu ditangkap.

“Ah! Ah! Jadi kami yang mengacau?” Kian Bu berteriak pula tanpa takut sedikit pun. “Dua orang jagoan kampungan tadi telah mengeluarkan tantangan dan penghinaan terhadap Pulau Es, dan siapa pun tahu bahwa Majikan Pulau Es adalah Pendekar Super Sakti! Pendekar itu adalah mantu dari Yang Mulia Kaisar dan ayah dari Puteri Milana yang hadir di sini sebagai tamu kehormatan! Kami berdua maju menghajar orang yang menghina mantu Kaisar malah dituduh pengacau! Kalau begini, siapa yang mengacau?”

Mendengar ucapan ini, Liong Bin Ong menjadi merah mukanya. Apa yang diucapkan dua orang pemuda remaja itu terdengar oleh semua orang dan hampir semua orang mengangguk-angguk membenarkan.

“Siapa kalian?” bentaknya.

“Sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja kami tidak membiarkan orang-orang macam mereka itu menghina Pulau Es.”

“Kian Bu....! Kian Lee....!”

Milana tak dapat menahan lagi kegirangan hatinya. Dia sudah bangkit berdiri dan menghampiri dua orang pemuda itu yang serta merta berlutut di depan Milana.

“Enci Milana....!” Mereka berkata hampir berbareng.

Milana tertawa dan sekaligus mengusap air matanya, menyuruh bangun mereka dan memeluk mereka, menarik mereka ke ruangan tamu kehormatan dan memperkenalkan mereka kepada Pangeran Liong berdua dan para tamu.

“Mereka adalah adik-adikku Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee dari Pulau Es!”

Melihat keluarga yang saling bertemu itu bergembira dan disambut oleh para tamu dengan girang, dua orang Pangeran Liong saling pandang dengan muka pucat. Tentu saja mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadap adik-adik Puteri Milana, yaitu cucu Kaisar sendiri, apalagi karena semua tamu tadi jelas menyaksikan betapa dua orang pemuda itu mengalahkan dua orang jagoan yang dianggap menghina Pulau Es. Berbondong para tamu datang dan menghaturkan selamat kepada Puteri Milana yang telah bertemu dengan dua orang adiknya yang gagah perkasa.

Dengan alasan kedatangan dua orang adiknya, Puteri Milana dan suaminya yang terluka pundaknya itu bergegas meninggalkan tempat pesta, pulang ke istana mereka sendiri.

Setelah Han Wi Kong yang patah tulang pundaknya itu memperoleh perawatan dari seorang tabib dan mengundurkan diri untuk beristirahat di kamarnya sendiri, Milana mengajak dua orang adiknya bercakap-cakap sampai semalam suntuk. Tidak ada habis-habisnya mereka saling menceritakan keadaan masing-masing, dan terutama sekali dengan penuh kerinduan hati Milana ingin mendengarkan segala hal mengenai Pulau Es. Ketika dia mendengar tentang Siang Lo-mo, dua orang kakek kembar yang pernah dilawannya di rumah penginapan itu ternyata pernah pula menyerbu Pulau Es dengan kawan-kawannya, puteri ini mengerutkan alisnya dan dengan penuh kekhawatiran dia dapat menduga bahwa Pangeran Liong ternyata dibantu oleh orang-orang pandai.

Beberapa hari kemudian, setelah membawa dua orang adiknya menghadap kepada Kaisar, Milana lalu memberi tugas kepada kedua orang adiknya yang dia tahu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk menjaga diri dan untuk menunaikan tugas rahasia itu. Dia menyuruh Kian Lee dan Kian Bu pergi ke utara, menemui Jenderal Kao Liang dan menceritakan semua keadaan di kota raja, mengajak Jenderal Kao yang amat setia dan yang menguasai sebagian besar pasukan itu untuk mengerahkan pasukan menumpas pemberontak-pemberontak tanpa menanti perintah Kaisar lagi karena Kaisar tentu saja terpengaruh oleh para pangeran yang menjadi saudaranya sendiri itu, dan tidak percaya bahwa mereka merencanakan pemberontakan. Pendeknya Milana mengajak Jenderal Kao untuk mendahului gerakan pemberontakan dan sekaligus membasmi pemberontak yang belum sempat bergerak itu.

**** 050 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar