FB

FB

Ads

Jumat, 13 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 045

Bagaimanakah keadaan Ceng Ceng? Benarkah seperti dugaan Jenderal Kao, Gak Bun Beng dan Syanti Dewi bahwa dara perkasa itu tewas di dalam sumur yang mengandung gas beracun dan sukar diukur dalamnya itu? Untuk mengetahui keadaan Ceng Ceng, sebaiknya kita mengikuti semua pengalamannya.

Dara perkasa itu terkejut bukan main dan merasa ngeri ketika dia menyelamatkan Jenderal Kao Liang dengan menendang tubuh pembesar itu sehingga terpental keluar dari lubang sumur, dia sendiri terdorong dan terjerumus ke dalam lubang tanpa dapat dicegah lagi! Dia merasa ngeri dan ketika tubuhnya melewati bagian yang ada gasnya, dia tak dapat bernapas dan pingsan. Kalau saja dia lebih lama berada di bagian itu, tentu dia akan tewas oleh gas beracun.

Akan tetapi, ternyata bahwa gas itu keluar dari dinding sumur, bukan dari dasar sumur, maka setelah tubuhnya yang melayang ke bawah itu melewati sumber gas, di sebelah bawah tidak ada gas beracun ini dan dia selamat, biarpun masih dalam keadaan pingsan dan masih terus melayang ke bawah, ke dalam sumur yang seperti tidak ada dasarnya itu.

Dalam keadaan pingsan meluncur ke bawah, tentu tubuhnya akan hancur lebur kalau terbanting ke dasar sumur itu. Akan tetapi, tidak jauh dari dasar sumur yang merupakan lantai batu keras, tiba-tiba tubuh Ceng Ceng terhenti dan tertahan oleh sesuatu. Kiranya dia telah ditangkap oleh seekor ular besar! Ular ini besarnya melebihi paha seorang dewasa dan panjangnya lima meter lebih! Dengan ekornya, ular itu telah “menangkap” tubuh Ceng Ceng, membelit pinggang dara itu dengan ekornya sehingga Ceng Ceng tidak sampai terbanting mati di dasar sumur.

Memang sudah menjadi kebiasaan ular besar ini untuk menangkap binatang apa saja yang kebetulan jatuh dari atas, yang kemudian menjadi mangsanya. Kini, memperoleh korban seorang manusia, ular itu mulai mendekatkan kepalanya kepada Ceng Ceng, dan tubuhnya melingkari batu dinding yang menonjol. Matanya berkilat-kilat, lidahnya keluar masuk dan agaknya dia sudah mengilar sekali melihat calon mangsanya.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis tajam dari bawah, suara mendesis yang membuat ular itu tampak terkejut dan menoleh ke bawah. Kembali terdengar suara mendesis-desis penuh kemarahan dari mulut seorang nenek yang duduk mendeprok di atas lantai sumur itu. Mula-mula ular besar itu meragu, akan tetapi kemudian dengan perlahan dia merayap turun setelah menggigit punggung baju Ceng Ceng yang masih pingsan, membawa gadis ini turun menghampiri nenek yang duduk di bawah itu. Setelah tiba di depannya, nenek itu berkata,




“Lepaskan dia!”

Ular itu melepaskan gigitannya sehingga tubuh Ceng Ceng menggeletak di atas lantai batu, kemudian mengangkat kepalanya dan mendesis-desis seperti ragu-ragu.

“Pergi....!”

Nenek itu menjerit lagi, tangan kirinya diangkat ke atas dan seperti seekor anjing jinak yang dibentak majikannya, ular besar itu mengeluarkan suara berkokok lalu merayap pergi, naik lagi ke atas.

Ceng Ceng mengeluh, membuka matanya dan cepat meloncat bangun, berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan. Cahaya dari atas mendatangkan penerangan yang cukup dan ketika dia menengok ke atas, dia seperti melihat benda bulat yang bercahaya di dalam tempat gelap ini. Kemudian dia teringat dan tahu bahwa benda bulat bercahaya itu adalah mulut sumur yang demikian tingginya seperti sebuah matahari yang aneh.

Matanya mulai terbiasa dengan keadaan remang-remang itu dan dia menggigil teringat betapa tubuhnya terjatuh dari tempat yang sedemikian tingginya. Akan tetapi mengapa dia tidak mati? Mengapa tubuhnya tidak hancur, bahkan luka pun tidak, hanya terasa agak sakit di pinggangnya? Mendadak ia meloncat mundur ketika melihat gerakan di depannya. Ketika dia memandang, hampir dia menjerit saking ngerinya. Tadi dia tidak melihat apa-apa karena memang tempat itu agak gelap dan di lantai dasar sumur itu yang kelihatan hanya warna hitam belaka. Kini baru terlihat olehnya bahwa di depannya, duduk di atas lantai, terdapat seorang manusia yang keadaannya amat aneh dan mengerikan!

Ceng Ceng mengerahkan kekuatan pandang matanya agar dapat melihat lebih jelas lagi. Jantungnya berdebar penuh ketegangan karena dia tidak tahu apakah mahluk yang berada di depannya ini. Manusia ataukah setan? Muka yang amat pucat dan kurus, hanya tengkorak terbungkus kulit, rambutnya panjang riap-riapan, tubuhnya kurus kering terbungkus kain lapuk, kedua kakinya ditekuk di bawah dan kini dia memandang kepada Ceng Ceng dengan sepasang mata yang berkilauan dalam gelap seperti mata kucing dan mulut yang tak bergigi lagi itu menyeringai aneh, amat mengerikan hati Ceng Ceng, apalagi ketika dia melihat betapa nenek itu merangkak mendekatinya dengan menggunakan kedua siku lengannya, mengesot karena kedua kaki itu ternyata lumpuh. Mahluk ini lebih menyerupai binatang aneh atau setan daripada seorang manusia.

“Heh-heh-heh, kau cantik, cantik dan muda....!”

Nenek itu berkata, suaranya melengking tinggi mengejutkan hati dan Ceng Ceng merasa betapa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin.

“Kau.... siapakah....?” Akhirnya dara itu dapat juga mengeluarkan suara melalui kerongkongannya yang terasa kering. “Dan.... bagaimanakah aku dapat.... selamat tiba di sini....?”

Dia memandang ke atas, ke arah “matahari” yang tinggi itu dan bergidik. Tak mungkin manusia dapat hidup setelah terjatuh dari tempat setinggi itu, pikirnya.

“Heh-heh, kalau tidak ada Siauw-liong (Naga Kecil) itu, tubuhmu tentu sudah hancur di lantai batu ini, heh-heh!” Nenek itu berkata sambil menudingkan telunjuk kirinya ke atas.

Ceng Ceng memandang ke arah yang ditunjuk dan hampir dia menjerit. Otomatis dia meloncat ke belakang ketika dia melihat ular besar yang tadinya tak tampak olehnya itu, melingkar di dinding sumur dan memandang ke bawah dengan mata berkilat-kilat. Seekor ular yang besar dan panjang sekali, yang disebut Naga Kecil oleh nenek itu! Bagaimana ular besar itu dapat menolongnya? Pinggangnya terasa sakit, tentu pernah dililit oleh tubuh ular itu. Ceng Ceng bergidik ngeri.

“Dan sekarang engkau tentu sudah aman di dalam perutnya kalau saja tidak ada Ban-tok Mo-li, heh-heh-heh!”

“Ban-tok Mo-li....?”

Ceng Ceng bertanya heran. Dia tidak pernah mendengar nama julukan Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun).

“Ya, Ban-tok Mo-li Ciang Si, aku sendiri, heh-heh. Ular Siauw-liong itu menyambarmu ketika tubuhmu melayang turun, sebelum dia mengirimmu ke dalam perutnya, aku mencegahnya.”

Mengertilah kini Ceng Ceng apa yang telah terjadi dengan dirinya. Betapa pun menjijikkan dan menakutkan keadaannya, dia menduga bahwa nenek yang bernama Ban-tok Mo-li ini tentulah seorang yang memiliki kepandaian hebat dan telah menolongnya tadi, maka dia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.

“Banyak terima kasih teecu haturkan kepada Locianpwe yang telah menolong teecu dari cengkeraman maut.”

“Heh-heh, aku senang menolongmu, aku senang bertemu denganmu. Siapakah namamu?”

“Nama teecu (murid) adalah Lu Ceng.”

“Kau dapat tiba di sini dengan selamat, ini namanya jodoh! Lu Ceng, mari pergi ke tempat tinggalku. Kau lihat, aku tidak bisa jalan. Maukah engkau menggendongku kalau memang benar kau berterima kasih kepadaku?”

Ceng Ceng bergidik, akan tetapi dia menekan perasaannya dan mengangguk. Akan tetapi ketika dia hendak membungkuk untuk mengangkat tubuh nenek yang kedua kakinya lumpuh itu tiba-tiba tubuh itu melesat ke atas dan tahu-tahu telah berada di punggungnya! Dia terkejut bukan main menyaksikan kelincahan luar biasa ini.

“Heh-heh, kau gendonglah aku lewat terowongan itu.”

Nenek itu menuding ke depan. Ceng Ceng lalu menggendong nenek itu melalui terowongan yang gelap sekali. Kalau tidak ada nenek itu yang memberi petunjuk, tentu dia akan menabrak dinding. Untungnya nenek itu sudah hafal benar akan jalan terowongan gelap ini karena dia selalu memperingatkan Ceng Ceng, membelok ke kiri, ke kanan, merendahkan tubuh agar tidak terbentur kepalanya dan sebagainya. Setelah melalui terowongan yang berliku-liku dan gelap itu sepanjang ratusan meter, akhirnya tampak cahaya terang dan keluarlah Ceng Ceng dari terowongan, memasuki sebuah guha yang menghadapi jurang amat curamnya.

“Heh-heh-heh, di guha sinilah aku tinggal,” kata nenek itu, masih tetap duduk di atas punggung Ceng Ceng.

Dara ini melangkah ke depan, ke pinggir jurang di depan guha, menengok ke bawah dan bergidik ngeri. Jurang itu selain curam tak mungkin dituruni, juga tidak nampak dasarnya karena terhalang oleh uap halimun saking dalamnya! Menengok ke kanan kiri guha, juga merupakan dinding batu yang curam dan tegak lurus, licin dan tidak mungkin dijadikan jalan untuk meninggalkan tempat itu. Dia benar-benar telah terjebak ke dalam tempat yang benar-benar terputus hubungannya dengan dunia ramai!

“Heh-heh-heh, kau mencari jalan keluar? Tidak mungkin, Lu Ceng. Aku sendiri sudah dua puluh tahun lebih berada di sini, tidak menemukan jalan keluar. Jalan satu-satunya hanyalah melalui mulut sumur itu, dan tidak mungkin ada manusia dapat naik melalui jalan itu karena dinding sumur itu banyak mengeluarkan gas beracun. Dan menuruni tebing-tebing jurang di sini, sama dengan membunuh diri. Engkau sudah berjodoh denganku untuk menemaniku selama hidupmu di tempat ini, anak manis.”

“Tidak! Tidak mungkin....!” Ceng Ceng menjerit. “Harap Locianpwe turun, teecu hendak mencari jalan keluar.”

Melihat dara itu hendak menurunkannya, tiba-tiba nenek itu berkata,
“Tidak, aku tidak mau turun lagi selamanya dari punggungmu, heh-heh-heh!”

Ceng Ceng menjadi terkejut sekali, terkejut dan marah. Kedua tangannya sudah bergerak hendak menangkap tubuh nenek itu dan memaksanya turun, akan tetapi tiba-tiba dia merasa betapa jari-jari tangan nenek itu menyentuh ubun-ubun kepalanya.

“Jangan bergerak! Kalau bergerak, kepalamu akan kuhancurkan!” Nenek itu membentak, suaranya mendesis-desis seperti ular marah. “Aku sudah terlalu lama hidup tanpa kaki, merayap seperti ular. Aku ingin hidup wajar, ingin melihat dunia ramai dan tak mungkin kulakukan tanpa kaki. Sekarang aku sudah mendapatkan kedua kaki, kakimu, dan aku tidak akan melepaskannya lagi!”

“Locianpwe.... gila....!”

Ceng Ceng berseru, matanya terbelalak dan ngeri dia membayangkan bahwa untuk selamanya nenek itu tidak mau turun dari punggungnya!

“Heh-heh, aku ahli racun yang nomor satu di dunia ini. Ingat, julukanku adalah Ban-tok (Selaksa Racun) dan memang aku mengenal selaksa racun yang terdapat di dunia ini. Aku bisa menggunakan ilmuku untuk menanam tubuhku ini di punggungmu, melekat untuk selamanya dan kedua kakimu menjadi pengganti kedua kakiku yang lumpuh, ha-ha-ha!”

Bukan main ngeri dan jijiknya rasa hati Ceng Ceng. Dia telah diselamatkan oleh seorang nenek gila, seorang nenek yang berwatak seperti iblis. Kiranya masih lebih baik mati daripada harus hidup seperti itu, selamanya menggendong nenek ini, siang malam, di waktu dia makan, di waktu tidur, mandi dan lain-lain. Selamanya! Mana mungkin? Lebih baik mati! Dia tidak takut mati, akan tetapi agaknya nenek tua renta ini masih sayang akan hidupnya, masih suka hidup. Dara itu tersenyum dan dengan langkah seenaknya dia mendekati tebing jurang lalu berkata,

“Baiklah, Locianpwe. Kalau begitu mari kita mampus bersama!”

“Heiii....! Apa.... apa maksudmu....?”

Nenek itu menjerit sambil memandang ke bawah, ke dalam jurang yang tertutup kabut tebal itu.

“Locianpwe lebih suka hidup, akan tetapi aku lebih suka mati. Kita meloncat ke bawah, mungkin di bawah sana terdapat air yang akan menelan dan membuat kita mati tenggelam, mungkin juga batu-batu runcing tajam seperti pedang yang akan menerima tubuh kita sampai hancur berkeping-keping, atau batu keras yang menerima tubuh kita sampai gepeng. Mari kita mampus bersama!”

“Heiii, jangan....! Gila kau....! Dua puluh tahun aku bersusah-payah mempertahankan hidupku, masa sekarang akan kau akhiri begitu saja. Biarkan aku turun....!”

Akan tetapi kini Ceng Ceng menggunakan kedua tangannya memegang erat-erat dua kaki yang lumpuh itu.

“Tidak, aku tidak akan menurunkanmu, aku akan mengajakmu mampus bersama, untuk menjadi temanku pergi ke neraka menerima siksaan di sana!”

“Lepaskan.... aihh.... aku tidak mau mati.... belum mau mati....!” Kini nenek itu merengek dan hampir menangis.

Ceng Ceng tersenyum geli. Biarpun dia telah terjebak ke tempat mengerikan itu, namun pada saat itu dia lupa akan kesengsaraannya dan dia gembira dapat mempermainkan nenek yang seperti iblis ini.

“Aku hanya mau menurunkan Locianpwe dan tidak akan meloncat ke bawah kalau Locianpwe suka berjanji untuk mengangkat murid kepada teecu dan menurunkan semua ilmu kepandaian Locianpwe kepada teecu.”

“Baik, aku berjanji.... lekas mundur jauhi tebing ini.... hihhh....!”

Ceng Ceng melompat mundur, melepaskan kedua kaki nenek itu dan Ban-tok Mo-li meloncat turun. Mereka berhadapan dan kembali Ceng Ceng merasa ngeri dan jijik, akan tetapi juga kasihan menyaksikan nenek itu menelungkup seperti seekor kadal.

“Kau.... kau bocah nakal dan cerdlk, hi-hik! Kau memang pantas menjadi muridku, Lu Ceng. Aku memang membutuhkan teman di sini, dan kalau kau menjadi muridku, berarti kita tidak akan saling berpisah pula, Nah, mulai saat ini kau menjadi muridku.”

Karena tidak ada pilihan lain dan agaknya dia harus pula mengandalkan kepandaian nenek ini untuk dapat keluar, selain itu juga dia ingin memperdalam ilmunya agar dia kelak dapat mencari sendiri jalan keluar kalau nenek itu tidak mau membantunya, Ceng Ceng lalu menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,

“Teecu Lu Ceng menghaturkan terima kasih kepada Subo (Ibu Guru).”

“Heh-heh-heh, engkau tidak tahu betapa beruntungnya kau hari ini, Lu Ceng. Engkau tidak tahu siapakah Ban-tok Mo-li Ciang Si yang kau angkat menjadi guru ini. Aku sendiri mungkin tidak terkenal, akan tetapi suhengku adalah seorang di antara tokoh-tokoh nomor satu dari Pulau Neraka. Suhengku Bu-tek Siauw-jin (Manusia Hina Tanpa Tanding) adalah seorang tokoh Pulau Neraka yang suka merantau dan dari Suheng itu aku memperoleh banyak ilmu mujijat. Hi-hik, kau beruntung sekali.”

Mulai hari itu Ceng Ceng berdiam di tempat terasing ini bersama gurunya dan di dalam penyelidikannya, tempat itu benar-benar terputus dari dunia luar. Untung bahwa di dalam terowongan terdapat sumber air yang terus menetes dari dinding batu, dan untuk menyambung hidup, selama puluhan tahun gurunya hanya makan daun-daun dari tanaman yang merambat di tepi jurang di luar guha, jamur-jamur yang banyak tumbuh di dalam terowongan, ribuan macam banyaknya, dan akar-akar tetumbuhan yang terpendam di dalam tanah di guha dan di luar guha.

Akan tetapi Ceng Ceng tidak mau meniru gurunya yang kadang-kadang makan cacing dan binatang dalam tanah lainnya. Dia merasa jijik dan karena dia tidak lumpuh seperti gurunya, akhirnya dia berhasil juga menyambit jatuh burung-burung yang kebetulan terbang di tempat tinggi itu.

Setelah berhari-hari tinggal dengan Ban-tok Mo-li Ciang Si, dia mendengar penuturan gurunya dan memperoleh kenyataan bahwa gurunya itu memang memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Tidak saja ilmu silatnya luar biasa, akan tetapi terutama sekali gurunya adalah seorang ahli besar dalam soal racun. Berkat latihannya yang tekun selama beberapa puluh tahun, gurunya telah menguasai semua racun, bahkan seluruh tubuh gurunya mengandung racun yang dapat dipergunakan untuk membunuh lawan. Dari tamparan tangannya, sampai jari kukunya, sabetan rambutnya, gigitan mulut yang tak bergigi lagi, sampai ludahnya mengandung racun yang cukup berbahaya dan dapat membunuh lawan!

Biarpun pada waktu itu dia belum melihat kemungkinan untuk dapat terbebas dari neraka itu, namun Ceng Ceng tidak putus asa dan tidak mau membenamkan dirinya dalam kedukaan atau keputusasaan yang menggelisahkan. Dia tetap gembira, merasa yakin bahwa pada suatu saat kalau ilmu kepandaiannya sudah tinggi, dia pasti akan dapat keluar dari tempat itu. Pikiran inilah yang membuatnya tetap gembira dan bahkan membuatnya makin tekun mempelajari ilmu dari nenek luar biasa itu.

Pada suatu hari, kurang lebih sebulan semenjak Ceng Ceng berada di tempat itu, sehabis latihan pagi, Ceng Ceng memberanikan dirinya bertanya kepada gurunya,

“Subo, bagaimanakah Subo sampai dapat berada di tempat ini, dan bagaimana pula Subo yang berilmu tinggi sampai dapat menderita penyakit lumpuh kedua kaki Subo?”

Pada saat itu, Ban-tok Mo-li Ciang Si sedang menggelung rambutnya. Semenjak Ceng Ceng berada di situ, melihat kebersihan muridnya yang setiap hari mandi dan mencuci pakaian, dia terbawa oleh kebiasaan ini dan mulailah dia mau mengurus tubuh dan pakaiannya. Pakaiannya kini bersih, dicucikan oleh muridnya dan rambutnya pun bersih dan disanggul, tidak seperti biasanya terurai dan kotor, membuatnya kelihatan seperti kuntilanak. Mendengar pertanyaan muridnya itu, mukanya yang pucat menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar marah.

“Kalau yang mengajukan pertanyaan itu orang lain, tentu akan kubunuh seketika juga karena pertanyaan itu mengingatkan aku akan hal-hal yang tidak menyenangkan. Akan tetapi karena kau muridku, sebaiknya kau tahu karena hanya engkaulah yang kuharapkan kelak akan dapat membalaskan penderitaanku ini kepada mereka itu.”

“Mereka siapakah, Subo? Dan apa yang mereka lakukan kepadamu?”

“Ahhh....” Nenek itu menarik napas panjang. “Mungkin hari ini atau besok mereka akan datang ke sini untuk menagih janji, mengambil kitab catatanku tentang racun....”

Ceng Ceng menekan jantungnya yang berdebar-debar keras penuh ketegangan. Mereka akan datang ke tempat itu? Hal ini membuktikan bahwa terdapat jalan untuk memasuki tempat ini dan berarti ada pula jalan keluarnya!

Biarpun dia tidak mengatakan sesuatu, gurunya dapat menduga jalan pikirannya dan gurunya berkata,

“Percuma saja, Lu Ceng. Sudah hampir dua puluh tahun aku berada di sini dan apakah kau kira aku selama itu tidak berusaha menemukan jalan keluar itu? Akan tetapi aku tidak berhasil. Jalan rahasia itu hanyalah diketahui oleh mereka berdua, karena memang tempat ini adalah milik mereka, dahulu adalah tempat pertapaan mereka.”

“Siapakah mereka?”

“Dua orang iblis berwajah manusia yang terkenal dengan julukan Siang Lo-mo (Sepasang Iblis Tua), dua orang kembar yang amat jahat.”

“Mengapa mereka menganiaya Subo?”

Nenek itu kembali menarik napas panjang.
“Dua puluh tahun yang lalu mereka bertemu denganku dan hanya setelah mereka maju mengeroyok saja aku terpaksa kalah. Mengetahui bahwa aku memiliki ilmu yang tinggi tentang racun, mereka memaksaku untuk membuatkan kitab cacatan tentang selaksa racun. Aku tidak sudi, biarpun mereka memaksaku. Mereka amat keji, dengan marah mereka lalu menghancurkan tulang-tulang kedua kakiku.”

“Aihhh....!” Ceng Ceng menjerit ngeri.

“Kemudian mereka membawa aku yang pingsan ke dalam tempat ini. Ketika aku sadar, mereka mengancam akan datang membunuhku kalau aku tidak mau memenuhi permintaan mereka. Aku tetap menolak dan sampai sekarang mereka belum juga membunuhku. Karena aku tahu bahwa tidak dapat keluar dari sini, aku memperdalam ilmuku teniang racun dan aku siap untuk membunuh mereka. Paling akhir mereka mengancam bahwa mereka akan datang untuk yang terakhir, kalau aku tidak memberikan catatan racun, mereka tentu benar-benar akan membunuhku. Hari yang dijanjikan itu adalah hari ini atau besok pagi. Akan tetapi, aku sudah siap menghadapi mereka dan mereka akan mampus, hi-hi-hi....!”

“Maksud Subo, Subo hendak melawan dan akan dapat mengalahkan mereka?”

“Tidak, kalau melawan berterang, tidak mungkin dapat menangkan dua orang kembar itu. Akan tetapi sudah bertahun-tahun aku merencanakan akal, mari kau lihat saja dan bantu aku membuat persiapan!”

Ceng Ceng mengikuti subonya memasuki guha dan sesampainya di mulut terowongan yang berada di sebelah dalam guha, nenek itu berhenti dan mengeluarkan bunyi mendesis-desis dan diseling suara melengking.

“Subo memanggil Siauw-liong (Naga Kecil)?”

Ceng Ceng yang sudah pernah mendengar subonya memanggil ular besar itu bertanya. Selama sebulan di tempat itu baru pagi hari ini dia merasakan ketegangan hebat setelah mendengar bahwa tempat itu akan kedatangan musuh yang lihai, bukan hanya tegang karena musuh itu melainkan karena harapannya bahwa dia akan dapat menemukan jalan keluar yang dirahasiakan oleh sepasang kakek iblis itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara mendesis-desis dan muncullah ular besar yang merayap dari dalam terowongan. Nenek itu juga merayap dekat, lalu memegang leher dan perut ular dengan kedua tangan, kemudian dengan gerakan tiba-tiba dia melemparkan ular itu ke atas, ke arah batu menonjol di atas guha. Ular itu menggunakan ekornya melibat batu dan berdiam di situ tak berani bergerak lagi, melingkari batu.

Setelah melihat ular itu di tempat seperti yang dikehendakinya, Ban-tok Mo-li tertawa, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya, membuka bungkusan yang ternyata berisi bubuk berwarna hitam. Ditaburkannya bubuk itu di sepanjang jalan terowongan di mulut guha sebelah dalam. Tidak ada tampak bekasnya namun lantai yang ditaburi bubuk sambil mengesot mundur itu, dari mulut terowongan sampai ke dalam sejauh tiga meter lebih telah terlapis dengan bubuk hitam.

“Ha-ha-ha, kau akan melihat mereka bergelimpangan, Lu Ceng.” Nenek itu tertawa sambil mengantongi lagi kertas pembungkus racun hitam tadi.

“Apakah Subo akan berhasil?” Ceng Ceng bertanya ragu, mengingat akan cerita gurunya betapa lihai kedua orang kakek itu.

“Hi-hi-hik, tentu saja! Racun itu tidak tampak sama sekali, akan tetapi sekali menyentuhnya, biar memakai sepatu sekalipun, yang menginjaknya akan roboh dan tewas. Andaikata kakek kembar iblls busuk itu mampu melewatinya, tentu Siauw-liong yang girang melihat kedatangan korban akan menyerang mereka. Serangan ini tentu akan membuat mereka meloncat mundur lagi dan mau tidak mau akan menginjak racun hitam. Heh-heh-heh!”

“Kalau gagal bagaimana, Subo?”

“Hemm, gagal? Aku sudah siap dengan jarum-jarumku yang akan kusebar dari sebelah luar guha. Dan engkau selama ini sudah berlatih melempar jarum beracun dan pasir beracun, kau bantu aku menyerang dari samping kiri.”

“Baik, Subo.”

“Nah, kita siap sekarang.”

Nenek itu lalu mengesot ke sebelah kanan mulut guha, bersembunyi di balik batu besar. Ceng Ceng juga melompat ke samping kiri mulut guha, siap dengan jarum merah beracun dan pasir yang dikantonginya. Jantungnya berdebar tegang. Yang menjadi perhatian sepenuhnya adalah kemungkinan baginya untuk menemukan jalan rahasia keluar dari tempat itu!

Kalau selama sebulan ini dia kurang giat mencari jalan keluar adalah karena dia sudah putus harapan untuk dapat menemukan jalan keluar, karena dia tidak tahu bahwa memang terdapat jalan rahasia. Kini, setelah mendengar cerita gurunya, timbul semangatnya. Kalau orang lain mampu keluar masuk tempat ini, mengapa dia tidak?

Menanti merupakan pekerjaan yang paling melelahkan. Apalagi dalam suasana di mana ketegangan mencekam hati seperti saat itu. Sejak pagi Ceng Ceng menanti bersama subonya, di kanan kiri mulut guha, bersembunyi sambil mengintai ke sebelah dalam terowongan yang hitam pekat. Apalagi dia sebagai manusia yang dipermainkan pikiran dan khayal pikirannya sendiri, sedangkan ular besar itu pun mulai kelihatan gelisah akan tetapi tidak berani merayap turun karena takut sekali kepada nenek itu. Hanya kepalanya saja digoyang-goyang ke kanan kiri, matanya melirik-lirik dan lidahnya berkali-kali dijulurkan keluar sambil mengeluarkan suara mendesis-desis. Setiap kali dia mendesis, nenek itu mendesis-desis keras dan ular itu terdiam.

Ceng Ceng sudah hampir tidak kuat lagi menahan. Dia adalah seorang dara yang lincah gembira, mana dia dapat tahan untuk diam saja seperti arca selama berjam-jam? Matahari telah naik tinggi dan sudah lebih dari tiga jam mereka menanti di situ. Akan tetapi baru saja dia hendak membuka mulut mengajak subonya bicara, nenek itu menggerakkan tangan memberi isyarat agar dia tidak mengeluarkan suara. Ceng Ceng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya. Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main. Dengan amat jelas terdengarlah suara orang tertawa, jauh dari sebelah dalam terowongan itu!

“Ha-ha-ha-ha! Ban-tok Mo-1i nenek ular yang buruk! Keluarlah kau...., kami datang menagih janji! Ha-ha-ha-ha!”

Ceng Ceng merasa ngeri. Baru suaranya saja sudah membayangkan bahwa orang yang tertawa itu mempunyai kekejaman luar biasa! Keadaan menjadi sunyi sekali dan amat menyeramkan setelah suara tertawa dan kata-kata itu habis gemanya. Dara itu melirik ke arah subonya dan melihat betapa nenek itu juga tegang, memandang ke dalam guha sambil mengintai dari balik batu besar, jarum-jarum hitam di kedua tangannya.

Ceng Ceng juga mempersiapkan jarum merah di tangan kanan dan pasir di tangan kiri. Pasir yang digenggamnya itu bukanlah pasir biasa melainkan pasir yang didapat di lantai guha itu dan yang sudah direndam dalam racun oleh subonya. Dia sendiri sudah menggunakan obat pemunahnya sehingga tidak berbahaya baginya, namun lawan yang terkena pasir ini, sedikit saja lecet kulitnya tentu akan terancam bahaya maut karena dari luka itu racun pasir akan meracuni semua jalan darahnya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar