FB

FB

Ads

Senin, 09 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 023

“Kalau begitu, biar kulempar mukanya dengan batu supaya si pemalas itu bangun!”

“Sttt, jangan begitu, Ceng-moi. Kasihan dia, lihat tidurnya begitu nyenyak, siapa tahu semalam dia tidak tidur! Orang yang terlalu lelah, orang yang terlalu sedih, tentu dapat tidur seperti pingsan saja. Pula, kita berdua tidak pandai mengemudikan perahu, tanpa dia, bagaimana kita bisa menyeberang? Siapa tahu, dia bisa mengantarkan kita sampai ke kota yang berdekatan. Tentu dia lebih mengenal daerah ini.”

Ceng Ceng menahan kemarahannya dan kembali dia berteriak,
“Tukang perahu malas dan tolol! Lekas bangun, kita hendak menyewa perahumu!”

Kini tukang perahu itu menghentikan suara dengkurnya dan sepasang matanya bergerak-gerak lalu kelopak matanya terbuka. Dua orang dara itu kaget melihat sepasang mata yang bersinar tajam sekali, akan tetapi tukang perahu itu mengejapkan matanya beberapa kali seperti belum sadar benar.

“Paman, bangunlah. Kami hendak menyewa perahumu itu!” kata Sian Cu sambil menuding ke arah perahu.

Suaranya lunak dan halus dan memang puteri ini memiliki watak yang jauh lebih halus daripada Ceng Ceng yang keras hati dan jujur. Tukang perahu itu mengeluh dan bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan ketika dia menurunkan kedua tangan memandang dua orang gadis itu, tiba-tiba dia melompat berdiri, matanya terbelalak, tubuhnya menggigil dan dia menudingkan telunjuknya kepada Ceng Ceng dan Sian Cu sambil berteriak ketakutan.

“Siluman.... eh, siluman.... jangan ganggu aku....!”

“Monyet tua....!”

Ceng Ceng sudah bergerak hendak memukul, akan tetapi lengannya dipegang oleh Sian Cu yang tersenyum melihat kemarahan Ceng Ceng. Dengan sabar dia menghadapi tukang perahu yang masih ketakutan itu.

“Paman, tenanglah. Kami bukan siluman, melainkan dua orang gadis yang ingin menyewa perahumu.”

Tukang perahu itu mengangkat kedua tangan di depan dada dan mulutnya masih komat-kamit, terdengar suaranya.




“Aduhhh.... selamat.... selamat.... selamat...., Tuhan masih melindungi aku....! Maafkan, ji-wi kouwnio (kedua nona), tadinya aku mengira bahwa ji-wi adalah siluman-siluman yang semalam kudengar suaranya yang amat mengerikan! Hiiiihhh....!”

Tukang perahu itu menggerakkan kedua pundaknya dan otomatis Ceng Ceng dan Sian Cu juga bergidik, teringat akan pengalamannya semalam.

“Engkau mendengar apakah, paman?” Sian Cu bertanya.

“Semalam.... hihhh, aku tak dapat tidur sama sekali. Tadinya aku mengira bahwa aku akan mati dicekiknya, suara aneh-aneh terdengar dari hutan itu, seolah-olah semua penghuninya, siluman dan iblis, sedang berpesta pora. Huh, untung aku masih hidup, aku ingin tidur sampai kenyang. Harap nona berdua jangan menggangguku.” Tukang perahu itu kembali merebahkan diri, siap untuk melanjutkan tidurnya.

“Eh-eh.... jangan tidur lagi, engkau!” Ceng Ceng membentak. “Kami ingin menyewa perahumu!”

Tukang perahu itu bangkit, akan tetapi tidak berdiri, hanya duduk sambil memandang kepada Ceng Ceng.

“Nona, melihat pakaianmu, engkau tentu seorang gadis dusun biasa, akan tetapi sikapmu seperti seorang puteri pembesar tinggi saja!”

“Cerewet kau! Siapa aku, tak perlu kau pedulikan! Kami ingin menyewa perahumu, berapapun akan kami bayar!”

Dia mengeluarkan dua potong uang perak dari saku bajunya dan memperlihatkannya kepada si tukang perahu, dengan keyakinan bahwa sinar perak yang berkilauan itu tentu akan melenyapkan kantuk tukang perahu itu. Akan tetapi, betapa menjengkelkan sikap tukang perahu itu yang memandang tak acuh lalu berkata,

“Aku tidak menyewakan perahuku.” Dan dia sudah hendak merebahkan dirinya lagi.

“Paman, tolonglah kami. Kami ingin menyeberang, tolong seberangkan kami dan kami akan membayar secukupnya kepadamu.”

Tukang perahu itu memandang Sian Cu, lalu melirik kepada Ceng Ceng yang masih mendelik marah.

“Aku tidak menyewakan perahuku, juga aku tidak butuh uang.”

“Kau manusia sombong....!”

Ceng Ceng berteriak, akan tetapi Sian Cu sudah memegang tangan dara itu dan berkatalah dia dengan suara halus kepada si tukang perahu,

“Paman tukang perahu, kalau begitu, kami tidak menyewa perahumu, hanya minta tolong kepadamu. Aku percaya bahwa paman tentu akan suka menolong dua orang gadis yang tidak berdaya. Kami melarikan diri mengungsi dari daerah perang dan kami ingin melanjutkan perjalanan menyeberang sungai.”

Suara yang halus dan sopan dari Sian Cu membuat tukang perahu itu kelihatan sungkan juga. Dengan ogah-ogahan dia bangkit berdiri, menggaruk-garuk kepalanya dan menguap beberapa kali, lalu memandang ke arah seberang sungai.

“Kalian hendak menyeberang? Mau ke mana menyeberang?”

“Kami hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi terhalang sungai ini, maka kami hendak menyeberang,” kata pula Sian Cu mendahului Ceng Ceng yang kelihatannya sudah tidak sabar menyaksikan sikap si tukang perahu.

“Menyeberang ke sana dan melanjutkan perjalanan? Aihh, apakah kalian mencari mati?”

“Apa katamu?” Ceng Ceng sudah membentak lagi.

“Hemm, kau galak sekali, nona. Aku bilang bahwa kalian menyeberang ke sana dan melanjutkan perjalanan mengungsi, berarti kalian mencari mati. Di seberang sana hanya terdapat hutan-hutan yang liar dan tak terbatas luasnya, gurun-gurun pasir yang tak bertepi, dan pegunungan yang sukar sekali dilalui manusia selain penuh dengan binatang-binatang buas dan siluman-siluman jahat! Dan kalian hendak menyeberang ke sana? Eh-eh....!”

Dia lalu memandang tajam kepada dua orang gadis itu, pandang mata penuh selidik.
“Benar-benarkah.... eh.... kalian ini manusia, bukan siluman-siluman?”

“Mulut busuk!” Ceng Ceng membentak marah, tidak membiarkan Sian Cu mencegahnya lagi karena dia sudah marah bukan main. “Kalau kami berdua siluman, maka engkau adalah siluman babi Ti Pat Kai!”

Tukang perahu itu melongo, kemudian tertawa.
“Ha-ha-ha, kau pandai juga membadut, nona! Masa yang begini dikatakan Ti Pat Kai!”

Ti Pat Kai adalah tokoh dalam cerita See-yu-ki, seorang siluman babi yang terkenal, pelahap, dan mata keranjang!

“Paman, harap jangan main-main. Kami berdua sudah melakukan perjalanan jauh yang amat melelahkan, bahkan semalam kami tidak tidur sebentarpun. Kami ingin melanjutkan perjalanan. Terus terang saja, kami berniat pergi ke Kota Raja Kerajaan Ceng“

“Wahhhh....? Mimpikah aku? Ataukah benar-benar kalian dua orang gadis dusun ini hendak pergi ke kota raja? Tahukah kalian berapa jauhnya kota raja itu? Kalian harus melalui sedikitnya enam propinsi dan ratusan kota! Mengapa kalian dua orang gadis dusun di perbatasan hendak pergi ke tempat sejauh itu?”

“Kami berdua hanya ingin menyeberang, dan engkau begini cerewet! Tukang perahu macam apa sih engkau ini?”

Ceng Ceng sudah membentak lagi. Akan tetapi Sian Cu segera berkata, tidak memberi kesempatan kepada si tukang perahu untuk menanggapi kegalakan Ceng Ceng,

“Kami mempunyai seorang bibi di sana. Paman, kalau benar di seberang merupakan daerah yang amat berbahaya dan sukar dilalui maka kami harap kau suka menolong kami dan memberi tahu jalan mana yang harus kami tempuh agar kami dapat sampai ke kota raja dengan selamat.”

Tukang perahu itu menggaruk-garuk belakang telinganya.
“Terus terang saja, aku sendiri belum pernah pergi ke kota raja. Akan tetapi menurut keterangan yang kuperoleh, jalan satu-satunya ke kota raja hanya menggunakan jalan air, menurutkan aliran Sungai Besar Yang-ce-kiang sampai ke kota besar Wu-han, kemudian melalui jalan darat ke utara sampai Sungai Huang-ho dan mengambil jalan air lagi menurutkan aliran Sungai Huang-ho ke timur sampai ke kota besar Cin-an, baru menggunakan jalan darat ke utara menuju ke kota raja. Akan tetapi letaknya amat jauh dan kiranya akan menggunakan waktu berbulan!”

Ceng Ceng sudah mengerutkan alisnya. Turun semangatnya mendengar keterangan yang membentangkan kesukaran perjalan itu, akan tetapi Sian Cu berkata,

“Terima kasih, paman. Kau baik sekali dan kami akan menggunakan petunjuk itu untuk melanjutkan perjalanan. Lalu bagaimana kita dapat mencapai Sungai Yang-ce-kiang?”

“Dari tempat ini dapat berperahu mengikuti aliran sungai sampai ke dusun Kiu-teng, dari sana terdapat jalan menuju ke Sungai Lan-cang (Mekong), menyeberangi Sungai Lan-cang dan melalui jalan darat ke timur akan mencapai Sungai Yang-ce-kiang.”

“Ah, terima kasih. Kuharap paman sudi membawa kami ke dusun Kiu-teng.”

“Hemmm....”

“Kami akan membayar sewanya, berapa saja yang kau minta, paman.”

“Sikapmu halus dan baik sekali, nona. Siapakah namamu?”

“Namaku Lu Sian Cu, paman,” jawab Sian Cu sambil menunduk agar tidak tampak perubahan air mukanya.

“Baiklah, Sian Cu. Aku suka mengantarkan engkau ke Kiu-teng yang jaraknya cukup jauh dari sini, memakan waktu hampir sehari semalam. Akan tetapi dia itu siapa namanya?”

Dia menuding kepada Ceng Ceng. Tentu saja Ceng Ceng sudah marah memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia didahului oleh Sian Cu.

“Dia adalah adikku, namanya Lu Ceng.”

“Aku hanya mau menyeberangkanmu ke Kiu-teng, nona Sian Cu, bahkan tanpa membayar apapun. Akan tetapi dia itu, hemm.... Lu Ceng terlalu galak dan sikapnya tidak menyenangkan, maka....”

“Cerewet! Kalau kau tidak mau akupun tidak membutuhkan bantuanmu, manusia sombong! Kalau aku melemparmu ke dalam sungai dan membawa perahumu, kau mau bisa apa?”

“Ceng-moi, jangan begitu....!” Sian Cu membujuk adik angkatnya, kemudian berkata kepada si tukang perahu. “Paman, kau maafkan adikku yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku pergi, diapun harus ada di sampingku. Harap kau suka memaafkan dan membawa kami berdua ke Kiu-teng.”

Tukang perahu itu bersungut-sungut.
“Baiklah, akan tetapi hanya dengan satu janji.”

“Janji apa?”

Sian Cu bertanya dan Ceng Ceng sudah siap, kalau si tukang perahu minta janji yang kurang ajar, tentu akan dihantamnya dan dilemparkannya ke sungai!

“Bagimu engkau tidak usah melakukan sesuatu, tidak usah membayar sesuatu. Akan tetapi nona Ceng ini, dia harus menurut perintahku, dia harus membantuku kalau aku perlu bantuannya mendayung perahu atau mengatur layar, dan diapun harus menanak nasi, air, atau memanggang ikan untukku setiap kali kukehendaki.”

“Setan.... kau kira aku siapa....?”

“Adik Ceng, mengapa ribut-ribut? Bukankah permintaannya itu sudah semestinya? Dia mau menolong kita, apakah sebaliknya kita tidak mau menolong dia hanya dengan pekerjaan ringan seperti itu?”

Dengan menggigit bibir saking gemasnya, Ceng Ceng berkata singkat.
“Baiklah!”

Tukang perahu itu tertawa.
“Nah, silahkan naik ke perahu. Perahu ini kecil dan tentu saja kurang enak, jangan nanti kalian menyalahkan aku.”

Sambil berkata demikian, tukang perahu mengambil buntalannya dan menaruhnya di kepala perahu agar ruangan tengah yang terlindung anyaman bambu itu dapat dipakai oleh kedua orang gadis itu.

Mereka memasuki perahu dan meluncurlah perahu itu ke tengah sungai didayung oleh si tukang perahu yang mulai dengan gayanya yang terang-terangan hendak menghukum Ceng Ceng yang dianggapnya galak itu.

“Eh, nona Ceng, kau masaklah air, itu cereknya, itu batu api, teh di sana.... dan beras ada di ujung sana, masak nasi untuk kita bertiga. Aku akan memancing ikan untuk lauknya.”

Ceng Ceng mendelik, akan tetapi jawilan jari tangan Syanti Dewi membuat dia tidak membantah dan dengan bersungut-sungut dia mengerjakan perintah tukang perahu itu. Awas saja kau, pikirnya geram. Nanti kalau kami tidak membutuhkan lagi perahumu, akan kutampar mukamu dan kucabuti kumis dan jenggotmu. Biarlah sekarang dia mengalah. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan seorang tukang perahu miskin yang kurang ajar. Sialan!

Akan tetapi tukang perahu itu pandai sekali mengail. Sebentar saja dia telah mendapatkan dua ekor ikan yang sebesar betis. Dia melontarkan ikan-ikan itu kepada Ceng Ceng sambil berkata,

“Bersihkan ikan-ikan itu, beri bumbu. Garam dan lain-lain bumbu ada di poci sebelah kiri itu, dekat kakimu, lalu panggang di atas arang membara. Awas, jangan sampai api menyala, nanti hangus dan tidak enak!”

Lagakmu, Ceng Ceng memaki di dalam hatinya. Kau kira aku tidak tahu caranya masak dan memanggang ikan? Akan tetapi karena dia dan encinya membutuhkan perahu itu, bukan hanya perahu itu akan tetapi tukang perahunya karena mereka berdua tidak tahu bagaimana caranya mengemudikan perahu, dia menahan kemarahannya dan melakukan pekerjaan tanpa banyak mengeluarkan suara.

Ceng Ceng adalah seorang dara yang sejak kecil digembleng ilmu silat oleh kakeknya. Wataknya keras, pemberani dan di samping ini, juga harus diakui bahwa dia terlalu dimanja oleh kong-kongnya. Selama dia tinggal bersama kong-kongnya yang merupakan seorang guru terhormat, dia diperlakukan dengan hormat oleh semua orang. Terutama sekali setelah dia menjadi adik angkat Puteri Syanti Dewi, derajatnya naik dan dia makin dihormat. Tidak pernah ada orang berani memandang rendah kepadanya, karena kedudukannya dan juga karena orang maklum akan kelihaiannya. Akan tetapi sekarang, dia bukan saja dipandang rendah, bahkan diperintah oleh si tukang perahu seperti seorang pelayan saja layaknya!

Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan mengkal rasa hatinya sehingga ketika mereka bertiga makan, hanya si tukang perahu dan Sian Cu yang dapat menikmatinya sedangkan Ceng Ceng tidak dapat menikmati makanan itu karena hatinya mendongkol sekali. Sikap tukang perahu itu benar-benar menggemaskan hatinya. Setiap gerak-geriknya seolah-olah mengejeknya, setiap kata-katanya seolah-olah menyindirnya! Mulut yang cengar-cengir itu, dengan kumis yang bergerak-gerak, seperti selalu mentertawakan padanya! Bedebah benar!

Akan tetapi, melihat sikap Sian Cu yang selalu bersabar, Ceng Ceng dapat menahan kemarahannya dan ditambah oleh kelelahan tubuhnya karena malam tadi sama sekali tidak tidur, malam hari itu dia dapat tidur nyenyak bersama Sian Cu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, suara tukang perahu itu sudah berteriak-teriak membangunkan mereka.

“Nona Ceng, bangun! Sudah siang!” teriaknya. Suaranya nyaring dan bukan hanya Ceng Ceng yang bangun, juga Sian Cu.

“Siapa bilang sudah siang?”

Ceng Ceng bersungut-sungut ketika melihat bahwa hari masih pagi sekali, sungguhpun malam memang telah lewat dan sinar matahari mulai mengusir kegelapan.

“Hanya seorang pemalas saja yang mengatakan bahwa sekarang belum siang!” kata tukang perahu. “Aku jelas bukan pemalas karena biasanya pada waktu seperti ini aku sudah bangun tidur dan memasak air dan bubur untuk sarapan pagi.”

Ceng Ceng hendak membantah, akan tetapi Sian Cu berbisik,
“Kemarin kau memaki dia malas.” Teringat akan itu, Ceng Ceng diam saja dan mengerjakan apa yang diperintahkan tukang perahu itu.

Tiba-tiba tukang perahu berkata,
“Harap kalian tenang, ada kesukaran di depan!”

Dengan kaget Ceng Ceng dan Sian Cu melihat bahwa di sebelah depan tampak dua buah perahu hitam yang ditumpangi masing-masing oleh lima orang, di antara mereka tampak dua orang tosu tua yang bersikap keren!

“Siapa mereka? Mau apa?” Ceng Ceng bertanya lirih.

“Stttt.... harap kalian diam dan serahkan saja kepadaku menghadapi mereka.”

Tukang perahu menjawab dan ketenangan sikapnya membuat dua orang dara itu menjadi heran. Andaikata mereka itu adalah bajak-bajak sungai yang banyak mereka dengar, sungguhpun hal itu menyangsikan karena di antara mereka terdapat dua orang tosu maka sikap tukang perahu itu terlampau tenang! Sepantasnya, tukang perahu itu tentu akan menjadi panik dan ketakutan tidak bersikap seolah-olah penuh keyakinan dia akan dapat mengatasi keadaan.

Ceng Ceng memberi tanda dengan kedipan mata kepada Sian Cu, dan puteri ini yang mengerti bahwa dialah yang mungkin menjadi incaran musuh, segera menyembunyikan diri ke dalam perahu. Sedangkan dia melirik penuh perhatian dan kewaspadaan. Hatinya berdebar tegang melihat betapa dua buah perahu itu dipalangkan di tengah sungai, agaknya sengaja menghadang perahu yang ditungganginya.

“Haii, tukang perahu!” Terdengar suara bentakan dari dua buah perahu itu. “Hendak ke mana?”

“Kami hendak ke Kiu-teng!” Terdengar jawaban tukang perahu yang ramah dan tetap gembira.

“Bersama siapa? Membawa apa?”

Kembali terdengar pertanyaan yang keren dan berwibawa itu, dan ternyata yang bertanya adalah seorang di antara dua orang tosu yang duduk di dalam perahu pertama. Tukang perahu itu menoleh ke arah Ceng Ceng yang sedang memasak bubur, lalu berkata,

“Bersama isteriku! Kami tidak membawa apa-apa, hendak mencari ikan dan menjualnya ke Kiu-teng!”

Hampir saja Ceng Ceng meloncat dan memaki-maki! Dia diaku sebagai isteri si tukang perahu jahanam itu! Akan tetapi ketika dia menoleh dan sudah siap untuk meloncat, dia melihat Sian Cu memberi isyarat kepadanya dengan jari tangan di depan mulut menyuruhnya diam, bahkan Sian Cu lalu menyelimuti dirinya dengan tikar yang berada di dalam perahu. Tentu kakak angkatnya itu hendak menolong si tukang perahu yang sudah menyatakan bahwa tukang perahu itu hanya bersama dengan isterinya!

Ketika Ceng Ceng menengok lagi, tentu saja wajahnya nampak oleh orang-orang di dalam kedua perahu itu, dan terdengarlah suara ketawa lalu seorang di antara mereka yang bermata lebar berseru sambil tertawa,

“Haiiiii, isterimu cantik sekali, tukang perahu! Boleh aku menyewanya?”

“Perahuku tidak disewakan!”

“Heh, tolol! Bukan perahumu, akan tetapi isterimu yang kusewa! Berapa sewanya semalam?”

Terdengar suara ketawa dari kedua perahu itu. Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan hati Ceng Ceng, akan tetapi melihat bahwa kakak angkatnya sudah bersembunyi, dia tidak tega mengganggu, diapun ingin sekali mendengar apa yang menjadi jawaban tukang perahu gila itu.

“Hemm, berapa kau berani bayar, kawan?”

Benar gila! Ceng Ceng mengepal tinju dan sudah siap untuk menghajar mereka semua. Kedua telinganya mengeluarkan bunyi mengiang-ngiang saking marahnya.

“Ha-ha-ha! Nah, kau terima uang panjarnya dulu, dan kalau kau menolak, ini tambahnya!”

Dari dalam sebuah di antara dua perahu itu melayang benda ke dalam perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan ternyata sekantung kecil uang tembaga dan sebatang toya baja yang dilontarkan ke depan kaki tukang perahu itu.

Ceng Ceng melirik dengan sudut matanya. Jelas bahwa orang-orang kasar itu memberi uang dan disertai ancaman karena toya itu berarti ancaman kalau permintaan itu ditolak. Si tukang perahu mengambil kantung, membuka untuk melihat isinya yang hanya uang tembaga, juga dia memegang toya dan melihat-lihat benda itu seperti hendak menimbang-nimbang. Kemudian dia berkata,

“Wah, penawarannya masih jauh berkurang, sobat! Bagaimana kalau ditambah nyawamu?” Dia lalu melontarkan kembali kantung uang dan toya.

Ceng Ceng terkejut. Betapa beraninya si tukang perahu! Dan dia melihat betapa semua orang di kedua perahu itu merubung dan melihat toya dan kantung uang, seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua benda itu. Terdengar teriakan lirih dari rombongan itu,

“Si Jari Maut!”

Makin heran lagi hati Ceng Ceng ketika dia melihat dua orang tosu itu bangkit berdiri di perahu mereka dan seorang di antara keduanya menjura dengan membentuk tanda jari-jari tangan depan dada sambil berkata.

“Harap sudi memaafkan kelakar anak buah kami dan persilakan lewat disertai salam persahabatan kami!”

Si tukang perahu hanya tersenyum, lalu menggunakan dayungnya untuk meluncurkan perahunya lewat di antara kedua perahu yang telah minggir itu, melempar senyum mengejek ke arah mereka, kemudian berkata ke dalam perahu,

“Nona Sian Cu, keluarlah, tidak ada bahaya lagi sekarang.”

Ceng Ceng membanting panci terisi bubur panas. Dia meloncat bangun dan menudingkan telunjuknya kepada si tukang perahu.

“Keparat, mulutmu busuk sekali! Berani kau mengatakan aku sebagai isterimu? Phuah, tak tahu diri, tukang perahu jembel busuk!”

Si tukang perahu mengangkat hidungnya.
“Hemm, gadis dusun yang galak! Andaikata benar kau adalah isteriku, maka engkaulah yang untung dan aku yang rugi benar!”

“Jahanam....!”

Ceng Ceng tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan dia sudah menerjang untuk menampar pipi orang itu. Biar kurontokkan giginya, pikirnya dengan marah.

“Wuuuttttt....!”

Tamparan yang dilakukan dengan cepat sekali dan disertai tenaga sin-kang yang kuat itu hanya mengenai angin. Terkejutlah Ceng Ceng karena tidak disangkanya sama sekali bahwa tukang perahu itu memiliki gerakan sedemikian cepatnya, dapat mengelak dari tamparannya. Padahal tamparan itu dilakukan secara tidak terduga dan cepat sekali sehingga jaranglah ada yang dapat mengelakkan begitu mudah! Dia menjadi penasaran sekali dan menerjang lagi, kini tidak lagi menampar, melainkan memukul secara bertubi-tubi dengan kedua tangannya!

“Wuuut-wuuut-wuuut-wuuutt....!”

Semua pukulannya adalah jurus-jurus pilihan dan disertai tenaga sin-kang yang amat kuat, namun semuanya dapat dielakkan secara mudah oleh si tukang perahu!

“Ceng-moi, jangan....!” Sian Cu berseru.

“Biar!” Ceng Ceng membantah marah. “Dia kurang ajar, harus kupukul manusia jahanam ini!”

“Eh-eh-eh, beginikah engkau membalas budi orang?” Tukang perahu itu tersenyum sambil mengejek. “Ditolong balasnya memukul? Ini namanya diberi air susu dibalas dengan air tuba! Benar-benar gadis galak yang tidak mengenal budi!”

“Setan sungai kau!”

Ceng Ceng kini menubruk maju, kakinya menendang dan tangannya menyusul dengan tusukan jari tangannya ke arah perut tukang perahu.

“Wuuutttt.... dukkk!”

Tubuh Ceng Ceng terhuyung ketika orang itu terpaksa menangkis tusukan tangannya. Namun hal itu membuat Ceng Ceng makin marah dan dia menerjang lagi.

“Adik Ceng, jangan....!”

“Biarlah, enci. Dia kurang ajar sekali. Dia tentu manusia busuk!”

Dia meloncat dan mengirim pukulan yang amat berbahaya karena dia telah menggunakan jurus pilihan dari ilmu silat kong-kongnya. Pukulan itu bersiut datang ke arah lambung tukang perahu, akan tetapi tiba-tiba tubuh tukang perahu bergerak dan ternyata dia telah meloncati lewat bilik perahu ke bagian belakang perahu!

“Mau lari ke mana kau!”

Ceng Ceng mengejar, juga meloncati bilik itu dan dari atas dia sudah mencengkeram dengan kedua tangannya. Namun si tukang perahu itu dengan tersenyum-senyum menyelinap ke bawah, menerobos melalui bilik perahu, dikejar dan memutari tiang layar sambil tertawa-tawa. Sementara itu, semua pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh Ceng Ceng dengan kemarahan meluap-luap itu sama sekali tidak ada hasilnya!

“Ceng-moi.... tahan dulu....!” Sian Cu memegang tangan Ceng Ceng dan berusaha menahan gadis yang marah itu mengamuk.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar