FB

FB

Ads

Sabtu, 07 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 019

“Lee-ko, mari kita turun dari sini. Lihat itu sepasang rajawali kita beterbangan di atas permukaan laut, agaknya tentu ada sesuatu terjadi. Mungkin ada ikan besar terdampar ke pulau seperti dahulu!” kata Kian Bu sambil menudingkan telunjuknya ke bawah puncak di mana tampak sepasang rajawali itu terbang rendah di permukaan laut.

“Ahh, Bu-te, sekarang bukan waktunya bermain-main. Ingat, hari ini kita harus melatih sin-kang untuk menghimpun Hui-yang-sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) yang amat sukar.”

“Memang sukar, Lee-ko. Tidak semudah ketika kita melatih Swat-im-sin-kang.”

“Tentu saja, untuk menghimpun Swat-im-sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) kita dibantu oleh hawa dingin dan salju, sedangkan Hui-yang-sin-kang adalah sebaliknya, menyalurkan sin-kang menjadi berhawa panas. Karena sukarnya, maka kita harus giat berlatih, jangan terlalu banyak main-main. Marilah kita berlatih lagi, kurasa di guha itu sudah cukup panas, apinya sudah sejak pagi tadi menyala.”

Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tidak berani membantah kakaknya dan mereka memasuki sebuah guha di puncak itu. Kalau orang lain yang belum terlatih, baru memasuki guha itu saja tentu tidak akan kuat bertahan. Di situ dinyalakan api arang yang amat besar sehingga hawa menjadi panas luar biasa, baru masuk saja terasa kulit seperti dibakar. Namun kedua orang pemuda yang sudah terlatih itu seolah-olah mereka tidak merasakan hal ini. Mereka berjalan masuk dan duduk bersila, mulai berlatih Hui-yang-sin-kang.

Kedua orang muda putera majikan Pulau Es ini memang selalu tekun berlatih silat semenjak mereka dahulu tersesat ke Pulau Neraka dan terancam bahaya maut. Biarpun mereka dapat terhindar dari malapetaka, bahkan pulang ke Pulau Es membawa sepasang rajawali, namun keduanya maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluar merantau hampir celaka, maka di bawah gemblengan dan bimbingan yang amat keras dari ayah mereka, keduanya berlatih setiap hari sehingga memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Akan tetapi belum lama mereka melakukan siulian (samadhi) untuk berlatih sin-kang, tiba-tiba telinga Kian Bu menangkap suara rajawali yang melengking panjang. Dia membuka mata memandang keluar guha. Tentu saja dari dalam guha itu dia tidak melihat sepasang rajawali, akan tetapi kembali telinganya menangkap suara lengking panjang dari sepasang rajawali itu.

“Lee-ko....!”




Kian Lee membuka matanya memandang dengan cemberut.
“Bu-te, mengapa kau belum juga berlatih? Apa kau ingin mendapat marah dari ayah?”

“Lee-ko dengarkan! Sepasang rajawali kita marah-marah, tentu ada sesuatu!”

Terpaksa Kian Lee mencurahkan perhatiannya pada pendengarannya dan tak lama kemudian dia mendengar lengking panjang dari sepasang rajawali mereka. Tak salah lagi, memang sepasang rajawali itu sedang marah-marah. Hal ini amat mengherankan karena kalau tidak terjadi sesuatu di Pulau Es, mengapa sepasang rajawali itu marah-marah?

“Hemm, mereka marah sekali. Entah apa yang sedang terjadi....” kata pemuda yang bersikap tenang ini.

“Mendengar suara mereka, kalau tidak melihat dulu, mana bisa aku menyatukan tenaga untuk berlatih? Aku mau melihatnya dulu, Lee-ko!”

Berkata demikian, Kian Bu sudah menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat keluar dari guha itu. Gerakannya memang hebat sekali karena pemuda ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

“Tunggu, Bu-te....!”

Kian Lee juga meloncat dengan kecepatan yang sama. Kedua orang kakak beradik itu berlari cepat menuruni puncak dan ketika mereka tiba di pantai tampaklah oleh mereka apa yang menyebabkan sepasang rajawali itu beterbangan rendah dan mengeluarkan suara pekik kemarahan. Kiranya Pulau Es kedatangan tamu! Hal yang luar biasa sekali karena selama mereka hidup di Pulau Es, satu kali ini ada orang-orang asing datang di Pulau Es, menggunakan sebuah perahu besar yang berlabuh di tepi pantai.

Kakak beradik itu merasa heran sekali, apalagi ketika melihat bahwa yang datang adalah orang banyak. Ada dua puluh orang yang kini sudah mendarat dan mereka itu berdiri di pantai, berhadapan dengan Suma Han dan kedua orang isterinya!

Karena ayah dan ibu mereka telah hadir, kakak beradik ini tidak berani bersuara, hanya melangkah maju dan mendengarkan percakapan. yang baru berlangsung. Agaknya orang tua mereka juga baru saja datang ke tempat itu menyambut para pendatang ini. Dua puluh orang itu rata-rata telah berusia lanjut, paling muda empat puluh lima tahun sampai ada yang sudah tua sekali. Akan tetapi yang paling menarik adalah dua orang kakek yang berdiri di depan, karena mereka ini adalah yang paling aneh di antara mereka semua.

Dua orang kakek ini menarik karena wajah mereka serupa benar. Sukarlah membedakan dua wajah itu yang bentuk dan garis-garisnya sama, bahkan rambut mereka yang panjang terurai sampai ke leher juga sama. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat menyolok pada pakaian mereka dan warna muka mereka. Yang seorang bermuka putih, bukan pucat melainkan putih seperti dicat! Kakek ini memakai baju tebal dari bulu, akan tetapi masih kelihatan seperti orang kedinginan, bahkan mukanya yang lebar bulat itu, yang berwarna putih, agak kebiruan seperti orang menderita dingin hampir beku. Adapun kakek ke dua merupakan kebalikan dari kakek pertama ini. Kakek kedua bermuka merah, muka yang seperti orang kepanasan, dan orang kedua ini hanya memakai celana sebatas lutut dan sepatu, sama sekali tidak memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kurus dengan tulang iga menonjol itu kelihatan. Anehnya, biarpun berada di Pulau Es yang dingin sekali, kakek ini masih kelihatan seperti orang kegerahan, mengipas-ngipas tubuhnya yang atas dan telanjang itu dengan sehelai saputangan yang sudah basah oleh keringatnya. Dan ini bukan hanya aksi belaka karena memang lehernya selalu basah oleh keringat!

Delapan belas orang yang lain terdiri dari empat belas orang kakek yang rata-rata kelihatan aneh dan membayangkan ilmu kepandaian tinggi, dan empat orang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun yang masing-masing membawa pedang di punggung mereka. Empat orang wanita ini kepalanya dibalut dengan kain putih seperti orang berkabung dan wajah mereka angker, penuh kebencian ketika mereka memandang kepada Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya. Melihat dari bentuk pakaian mereka, jelas bahwa empat orang wanita ini bukanlah wanita Han, sungguhpun wajah mereka seperti wanita Han biasa, akan tetapi pakaian mereka agak lain. Dan memang mereka itu adalah wanita-wanita dari Korea, dan tergolong tokoh-tokoh orang gagah di negeri itu.

Siapakah kedua orang kakek kembar yang agaknya menjadi pimpinan rombongan yang secara tidak terduga-duga datang mendarat di Pulau Es ini? Nama mereka tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw, karena memang kedua kakek kembar ini selama puluhan tahun pergi meninggalkan dunia kang-ouw dan merantau di luar negeri. Mereka adalah kakak beradik kembar, berasal dari Taiwan (Formosa) dan pernah mereka menjelajah ke daratan besar dan membuat nama dengan ilmu kepandaian mereka. Akan tetapi, mereka berbeda haluan dengan suheng mereka yang mencari kedudukan dengan menghambakan diri kepada Bangsa Mancu yang menduduki Tiongkok. Suheng mereka kemudian terkenal sebagai Koksu (Guru Negara), yaitu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun (baca Sepasang Pedang Iblis).

Mereka berdua merasa kecewa melihat kakak seperguruan yang mereka anggap sebagai pengganti suhu itu menghambakan diri kepada musuh, maka keduanya lalu pergi meninggalkan daratan besar dan mereka berpencar untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu mereka. Yang tua pergi ke utara dan selama puluhan tahun bermukim di daerah Kutub Utara yang amat dingin. Adapun yang muda merantau ke selatan, ke daerah panas di mana matahari lewat tepat di atas kepala.

Beberapa tahun yang lalu, kedua orang ini kembali ke daratan besar sebagai dua orang lihai bukan main. Setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kutub Utara, kakek tertua menjadi putih mukanya dan selalu berpakaian tebal seperti yang biasa dipakai orang-orang Eskimo di daerah Kutub Utara. Kakek ini kemudian terkenal dengan sebutan Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Utara). Adapun adik kembarnya, sekembalinya dari daerah panas, menjadi merah mukanya dan selalu merasa kegerahan dan tidak pernah berbaju. Dia kini dijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Selatan).

Biarpun baru datang beberapa tahun saja, kelihaian mereka membuat nama Siang Lo-mo (Sepasang Iblis) ini terkenal sekali, terutama pada golongan yang menentang Pemerintah Mancu karena kedua orang inipun terkenal anti kepada Kerajaan Mancu. Memang aneh sekali keadaan kedua orang itu. Lajimnya, orang yang selamanya tinggal di daerah dingin seperti Kutub Utara, kalau datang ke tempat yang lebih panas tentu akan kegerahan, akan tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, terus-menerus kedinginan! Demikian pula dengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun dia tinggal di daerah panas, semestinya kini dia akan merasa kedinginan, akan tetapi biarpun berada di Pulau Es, dia masih terus merasa panas!

Sebetulnya mereka tidak pura-pura dan yang menyebabkannya demikian adalah sin-kang mereka. Di Kutub Utara, Pak-thian Lo-mo melatih diri secara liar sehingga dia dapat menghimpun inti tenaga yang mengandung hawa dingin. Memang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya karena dilatih secara liar, dia selalu merasa kedinginan dan harus memakai jubah tebal berbulu dan seringkali minum arak tanpa takaran untuk menghangatkan tubuhnya, demikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih dan menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu terasa terlalu panas!

Ketika kakek kembar ini mendengar betapa suheng mereka telah digagalkan semua usahanya memberontak oleh Pendekar Super Sakti, bahkan kabarnya suheng mereka itu tewas di Pulau Es, tentu saja menjadi marah sekali dan menaruh hati dendam kepada Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es. Apalagi ketika mendengar pendekar yang menjadi musuh besar mendiang suheng mereka itu adalah mantu Kaisar Mancu, kebencian mereka makin meluap-luap. Mereka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu mereka yang menentang Pemerintah Mancu. Di antaranya adalah keempat wanita dari Korea itu. Mereka itu adalah kakak beradik dari Jepang yang telah menikah dengan perwira-perwira Korea. Ketika suami mereka semua gugur dalam perang melawan pasukan Mancu, mereka bersumpah untuk membalas dendam dan menggabung dengan mereka yang anti Pemerintah Mancu sehingga akhirnya mereka dapat bekerja sama dengan Siang Lo-mo. Mendengar bahwa Siang Lo-mo hendak mencari Pulau Es dan menyerang Majikan Pulau Es yang menjadi mantu Kaisar Mancu, tentu saja mereka berempat menjadi girang dan segera menyatakan hendak ikut membantu.

Empat belas kakek yang lainnya sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang merasa dirugikan oleh Pemerintah Mancu, ada pula yang ikut menyerbu Pulau Es semata-mata untuk membalas dendam kepada Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti karena sahabat atau saudara seperguruan mereka pernah roboh di tangan pendekar ini.

Suma Han dan dua orang isterinya yang juga mendengar pekik sepasang rajawali dan melihat sebuah perahu besar mendarat, sudah cepat menyambut dan kini mereka bertiga menanti keluarnya dua puluh orang itu dari perahu. Sikap Suma Han dan dua orang isterinya tenang-tenang saja sungguhpun mereka juga merasa heran sekali melihat rombongan orang asing datang ke pulau mereka dan mereka bertiga sudah dapat menduga bahwa rombongan itu tentulah bukan datang dengan iktikad baik.

Namun, sesuai dengan wataknya yang tenang dan sopan, Suma Han mengangkat kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda penghormatan, lalu bertanya dengan suara halus,

“Siapakah cu-wi (anda sekalian) yang telah mendarat di Pulau Es dan apa gerangan keperluan cu-wi?”

Sejenak kedua orang kakek kembar itu tak dapat menjawab, hanya mata mereka memandang Suma Han penuh perhatian dan penuh selidik, memandang pendekar itu dari rambutnya yang putih semua dan panjang sampai ke pundak sampai kakinya yang tinggal sebelah. Akhirnya Pak-thian Lo-mo menghela napas panjang. Dia merasa heran sekali dan hampir tidak percaya bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kelihatannya lemah, tubuhnya sedang, kakinya tinggal yang kanan dan rambutnya sudah putih semua, bersikap halus dan lemah lembut ini adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang demikian tersohor! Dia tersenyum dan dengan sikap tak acuh tanpa membalas penghormatan tuan rumah, dia bertanya,

“Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Super Sakti, to-cu dari Pulau Es?”

“Kalau benar demikian, kau mau apakah?”

Tiba-tiba Lulu tidak dapat menahan kemarahannya melihat sikap orang yang sama sekali tidak menghormat suaminya, padahal suaminya telah bersikap sopan dan ramah.

Pak-thian Lo-mo memandang Lulu dan mengangguk-angguk.
“Hebat, aku sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti mempunyai dua orang isteri yang kabarnya lihai bukan main dan bahwa yang seorang adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri! Apakah engkau puteri kaisar itu?”

“Kakek tua bangka yang tidak mengenal orang!” Nirahai membentak. “Akulah puteri kaisar yang kau tanyakan. Engkau siapakah dan mau apa berlagak di tempat ini dengan membawa banyak anak buah?”

Pak-thian Lo-mo saling pandang dengan adik kembarnya, kemudian mereka berdua tertawa bergelak. Kini Lam-thian Lo-mo yang menjawab, suaranya kering namun nyaring sekali,

“Eh, Pendekar Siluman! Kami hendak bertanya, apakah benar suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di Pulau Es ini?”

Suma Han dan kedua orang isterinya terkejut. Kiranya dua orang kakek kembar yang aneh itu adalah sute-sute dari mendiang Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun (baca Sepasang Pedang Iblis)! Jelas bahwa kedatangan mereka ini mengandung niat yang tidak baik. Namun suara Suma Han masih tetap tenang ketika dia menjawab,

“Benar, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di tempat ini karena perbuatannya sendiri yang menyalahi kebenaran.

“Kaukah yang membunuhnya?” Pak-thian Lo-mo bertanya, suaranya penuh ancaman.

Sebetulnya, seperti diceritakan dalam cerita SEPASANG PEDANG IBLIS, Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun ketika bertanding dengan Gak Bun Beng, terjungkal dari tebing yang amat curam. Akan tetapi bukanlah watak Suma Han untuk menyebutkan kesalahan orang lain hanya untuk melindungi dirinya sendiri, maka jawabnya,

“Yang membunuhnya adalah tingkah lakunya sendiri yang tidak benar.”

Pak-thian Lo-mo mengangkat tangannya ke pinggang, bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali.

“Pendekar Siluman, dengarlah baik-baik! Kami berdua adalah Siang Lo-mo, aku disebut Pak-thian Lo-mo dan dia ini adikku Lam-thian Lo-mo. Kami datang untuk menuntut kematian suheng kami! Bukan itu saja, karena engkau adalah mantu kaisar penjajah dan isterimu itu puteri kaisar, maka kami para patriot bergabung untuk membasmi kalian dan mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah markas baru!”

“Iblis tua bangka bosan hidup!”

Nirahai sudah membentak marah sekali dan hampir berbareng dengan Lulu yang juga marah, kedua orang wanita sakti ini sudah melompat ke depan. Terjangan mereka disambut oleh Pak-thian Lomo dan Lam-thian Lo-mo yang tertawa-tawa menghina dan memandang rendah kedua wanita itu.

“Dessss! Desssss!”

Empat pasang lengan saling bertemu dengan hebatnya, dan akibatnya, Nirahai dan Lulu terlempar ke belakang sedangkan kedua kakek inipun terhuyung! Melihat ketangguhan kedua orang kakek Siang Lo-mo itu, Suma Han berkata kepada kedua orang isterinya yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh mereka,

“Biarlah aku menghadapi mereka.”

“Pendekar Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!”

Lam-thian Lo-mo berteriak keras dan bersama saudara kembarnya dia menubruk ke depan dan dari kedua tangannya menyambar hawa yang panas seperti api menyala, sedangkan dari kedua tangan Pak-thian Lo-mo menyambar hawa yang dingin sekali. Namun Suma Han dengan gerakan tenang sudah menggerakkan tongkatnya ke depan, dengan gerakan aneh, tongkatnya berputar seperti mencoret-coret huruf di udara.

“Plak-plak....!”

Secara aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat mengenai punggung kedua kakek itu yang cepat melompat ke belakang, saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka kaget bukan main! Sama sekali mereka tidak mengerti bagaimana tongkat di tangan si kaki buntung itu dapat memukul punggung mereka! Namun mereka tidak menjadi jerih dan cepat tangan mereka meraba pinggang dan mereka melolos sabuk mereka, yang ternyata merupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!

Suma Han merasa khawatir sekali di dalam hatinya. Kalau kedua orang kakek itu menggunakan senjata yang dia dapat menduga tentu ampuh dan lihai sekali, maka pertandingan akan menjadi sungguh-sungguh dan ada kemungkinan dia kesalahan tangan dan terpaksa membunuh mereka untuk menyelamatkan diri. Biarpun dia tidak merasa takut, namun betapapun juga dia tidak menghendaki dia sekeluarga terpaksa membunuh orang dan mengotori Pulau Es yang sudah beberapa kali dikotori darah manusia yang terbunuh di situ akibat kejahatan-kejahatan mereka. Selama puluhan tahun dia hidup damai, tenteram, dan aman bersama dua orang isterinya dan kedua orang puteranya. Kini dia tidak ingin terjadi pembunuhan.

“Jiwi harap bersabar. Apakah urusan ini tidak dapat diselesaikan dengan damai?” tanyanya tenang.

“Pendekar Siluman, jangan kau kira bahwa kami gentar menghadapi tongkatmu! Kami datang untuk menantang engkau berkelahi!” bentak Pak-thian Lo-mo.

Suma Han menahan napas.
“Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?”

Sambil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin mereka lebih erat daripada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang, kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.

“Engkau hendak mengadu tenaga sin-kang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kau terima pukulan kami ini!”

Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lam-thian Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap dingin!

Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sin-kang istimewa masing-masing, menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.

Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam diapun telah mengerahkan tenaga sin-kangnya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali dengan sin-kangnya, karena dia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sin-kang yang berlawanan, yaitu Hwi-yang-sin-kang (Tenaga Inti Api) dan Swat-im-sin-kang (Tenaga Inti Salju).

Kini, menghadapi dua serangan yang datang mengandalkan sin-kang yang berlawanan, tentu saja dia sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sin-kangnya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi serangan dari dua tenaga sin-kang yang berlawanan itu, namun Pendekar Super Sakti dapat dalam satu saat menyalurkan dua tenaga bertentangan itu, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sin-kang menyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanannya juga mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.

“Dess! Dess....!”

Pertemuan tenaga mujijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di situ dapat merasakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Baru pertama kali itu selama hidup mereka yang puluhan tahun berkecimpung di dunia kang-ouw, mereka menyaksikan beradunya tenaga mujijat sehebat itu.

Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih. Mereka seperti daun kering tertiup angin, terhuyung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguhpun tidak terlalu berat karena mereka telah membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya.

Akan tetapi, di lain fihak, biarpun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser selangkahpun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biarpun pendekar ini dapat mempertahankan, namun tanah di bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!

Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan, hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik daripada keadaan mereka. Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua orang itu sudah mencabut cambuk masing-masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menerjang maju.

“Tar-tar-tar-tarrr....!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala Suma Han.

“Trak-trak-trak-trakkk!”

Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan kakek Pendekar Siluman, kini telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biarpun kaki tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan tenangnya dapat menangkis semua sambaran sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke manapun ujung cambuk menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu api!

Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mereka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samurai model Jepang, berada di kedua tangan mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk memegang gagang pedang, seperti orang memegang toya dan kini mereka memekik sambil berlari ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.

“Haaaiiiiikkkk....!”

“Trang-cring-cring-cring....!”

Empat orang wanita itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah menghadang mereka dan menangkis samurai-samurai itu dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung.

Merasakan tangkisan yang membuat tangan mereka tergetar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum akan kelihaian dua orang wanita isteri Pendekar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.

“Lee-ko, mari....!”

Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.

“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu ke depan. “Haiiiitt!”

“Hyaaaahhh!”

Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biarpun mereka hanya bertangan kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke belakang. Biarpun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membuat mereka menjadi kaget dan panik. Apalagi ketika terdengar lengking memanjang dari atas dan dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu kedua orang majikan mereka! Keadaan makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!

Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tiba-tiba sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu lawan itu telah menyerangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang!

Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti mengeluarkan ilmu silatnya yang mujijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang merupakan ilmu kesaktian paling cepat gerakannya di dunia ini!

Diam-diam Suma Han harus mengakui bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek kembar itu hebat sekali, sin-kang mereka kuat dan tubuh mereka kebal, juga mereka merupakan ahli-ahli silat yang sudah berhasil mengumpulkan intisari segala gerakan ilmu silat, diringkas dan dimainkan dasarnya saja sehingga mereka berdua merupakan lawan yang amat ulet dan kuat.

Namun, andaikata dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun yang membingungkan mereka, tentu saja dia dapat merobohkan mereka dengan tongkatnya, membunuh atau sedikitnya melukai mereka. Dia tidak menghendaki hal ini. Dia maklum bahwa jalan kekerasan hanya akan berakhir dengan kekerasan pula, dengan dendam dan kebencian yang tak kunjung henti. Maka dia bersikap sabar dan mengalah.

Ketika Suma Han mendengar bentakan kedua orang isterinya dan kedua orang puteranya dia menengok dan terkejutlah hati Pendekar Super Sakti ini. Dua orang isterinya dan dua orang pemuda itu mengamuk seperti naga-naga marah. Dua orang wanita Korea telah roboh dan tak dapat bertanding lagi karena terluka parah, sedangkan di antara empat belas orang itu, sudah ada delapan orang yang roboh, entah tewas atau pingsan!

Celaka, dia sendiri tidak mau turun tangan keras, isteri-isteri dan anak-anaknya malah mengamuk seperti itu!

“Heiii, tahan dan mundur kalian semua!” Teriaknya sambil mencelat ke arah kedua isteri dan anaknya. “Kian Bu, Kian Lee, hayo panggil burung-burung setan itu!” teriaknya pula melihat betapa dua ekor rajawali itupun mengamuk hebat, membuat para lawan menjadi panik dan sibuk mempertahankan diri dari paruh dan cakar yang kuat.

Kedua isterinya mengerutkan alis, namun mereka mengenal suami mereka dan tidak mau membantah. Mereka maklum bahwa suami mereka akan berduka sekali kalau sampai keluarganya menggunakan kekerasan. Juga Kian Lee dan Kian Bu meloncat mundur dan berusaha memanggil sepasang rajawali yang sedang marah dan mengamuk itu. Akan tetapi, pekerjaan itu tidaklah mudah karena sepasang rajawali itu agaknya telah datang kembali sifat liar mereka dan sekali mencium darah, mereka menjadi buas!

Akan tetapi, sama sekali tidak disangka-sangka oleh Suma Han. Dia sendiri mundur dan menyuruh anak isterinya untuk berhenti bertanding, akan tetapi sepasang kakek itu, dua orang wanita Korea, dan enam orang teman mereka yang masih belum roboh, sudah datang lagi menerjang dengan kemarahan meluap. Suma Han menghela napas panjang. Sedih dia melihat betapa begitu banyak orang ternyata amat membencinya sehingga mereka itu siap mempertaruhkan nyawa untuk membunuh dia!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar