FB

FB

Ads

Sabtu, 07 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 011

Si gundul tertawa.
“Jangan khawatir, kongcu. Sudah saya simpan baik-baik. Ah, sayang sekali, saya buta huruf dan tidak dapat mempelajari kitab-kitab itu. Padahal, baru melihat-lihat gambar-gambarnya dan meniru dari gambar-gambar itu saja sudah membuat saya memperoleh kemajuan yang hebat ini, kongcu!”

Si gundul menghampiri pohon sebesar dua kali tubuh orang. Dia memekik dan menubruk pohon itu dengan kepalanya, dengan loncatan yang kuat sekali.

“Heiii....!” Tek Hoat berseru kaget.

“Desss! Brakkkkk....!”

Pohon itu patah dan tumbang, sedangkan si gundul sudah tertawa-tawa lagi di depan Tek Hoat. Pemuda ini terkejut setengah mati, akan tetapi diam-diam menjadi girang bukan main. Wajahnya tenang saja, bahkan dia mengejek,

“Hem, Kong-lopek, apakah engkau hendak menyombongkan diri di depanku?”

Tiba-tiba si gundul berlutut.
“Sama sekali tidak, Kongcu. Ampunkan saya. Saya hanya ingin membuktikan betapa hanya dengan mempelajari gambar-gambarnya saja, kepandaian saya sudah meningkat hebat.”

“Hayo cepat serahkan kitab-kitab dan pedang dari suhu kepadaku!”

“Baik, baik.... mari, kongcu. Benda pusaka itu kusembunyikan di dalam guha yang selama ini menjadi tempat tinggal saya.”

Keduanya berlari-larian. Tek Hoat mengerahkan gin-kangnya dan berlari secepat mungkin, akan tetapi kakek gundul itu sambil tertawa-tawa masih dapat mengimbangi kecepatan larinya. Hebat!




Guha itu berada di daerah berbatu-batu di lereng gunung yang dikelilingi hutan lebat. Sunyi dan tak pernah dikunjungi manusia. Guha yang cukup besar, dalamnya ada lima meter dan gelap. Ketika akhirnya kakek itu menyerahkan dua buah kitab dan sebatang pedang kepadanya, Tek Hoat menjadi girang sekali dan dengan jantung berdebar dia membawa benda-benda pusaka itu keluar, ke tempat terang.

Dicabutnya pedang itu dan matanya menjadi silau. Sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya kebiruan dan mengandung wibawa yang kuat mengerikan, dan begitu tercabut terciumlah bau amis bercampur harum yang memuakkan. Ukiran huruf kecil-kecil di dekat gagang memperkenalkan nama pedang itu. Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Nyawa)!

Disarungkannya kembali pedang itu dan diselipkan di pinggangnya. Kemudian dia membalik-balik lembaran dua buah kitab itu. Ternyata itu adalah dua kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat yang mujijat, inti dari semua ilmu silat yang dikuasai oleh Cui-beng Koai-ong dan yang sebuah lagi adalah hasil ciptaan Bu-tek Siauw-jin.

Dahulu, sebelum kedua orang manusia sakti itu saling bertanding sampai mati keduanya, Cui-beng Koai-ong yang agak jerih terhadap sutenya telah berlaku curang, mencuri kitab ke dua dari sutenya. Akan tetapi sebelum dia sempat mempelajari kitab sutenya, keburu mereka bertanding karena masing-masing membela murid (baca cerita Sepasang Pedang Iblis).

“Heh-heh-heh, apakah engkau tidak girang, kongcu?”

Tek Hoat memandang kakek gundul itu dan mengangguk.
“Terima kasih, Kong-lopek. Kau baik sekali. Memang kau seorang yang paling setia di Pulau Neraka. Kau berjasa sekali dan aku tentu tidak akan melupakan jasamu ini.”

“Heh-heh-heh, betapa banyak kesengsaraan kuderita selama mencarimu, kongcu. Akan tetapi akhirnya berhasil juga, ha-ha, sekarang aku tidak takut lagi kelak harus bertanggung jawab di depan suhumu. Aku ngeri membayangkan betapa aku harus mempertanggung-jawabkan kelak kalau aku tidak berhasil menyerahkan semua ini kepadamu.”

Diam-diam Tek Hoat heran sekali. Kakek yang amat lihai ini ternyata takut luar biasa kepada “gurunya” yang bernama Cui-beng Koai-ong! Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pikiran dan bertanya,

“Kong-lopek, menurut pendapatmu, siapakah yang lebih lihai antara guruku dan Pendekar Siluman Majikan Pulau Es?”

Mendadak tubuh kakek itu gemetar dan kepalanya digeleng-gelengkan.
“Jangan.... jangan.... sebut-sebut nama dia.... bisa datang secara tiba-tiba dia nanti.... ihhh.... aku takut, kongcu.”

Kembali Tek Hoat terkejut. Kiranya Pendekar Siluman sedemikian hebatnya sampai kakek inipun ketakutan, padahal baru menyebut namanya saja.

“Jangan khawatir, lopek. Dia tidak akan muncul, tapi katakan, siapa yang lebih lihai di antara mereka?”

“Entahlah, seorang bodoh seperti saya mana bisa menilai? Kepandaian beliau itu terlalu hebat, mengerikan.... tapi kalau suhumu dan susiokmu (paman guru) maju berdua, kiranya akan menang.”

Tek Hoat kagum bukan main. Begitu hebatnya Pendekar Siluman! Akan tetapi kini dia memperoleh kitab wasiat suhu dan susioknya, berarti dia dididik oleh dua orang manusia sakti itu. Kelak tentu dia akan dapat menandingi Pendekar Siluman!

Demikianlah, sejak hari itu, Tek Hoat tinggal di dalam guha bersama Kong To Tek yang melayaninya dan yang selalu menjaga di luar guha di waktu Tek Hoat sedang berlatih ilmu silat. Untuk kedua kalinya, pemuda ini berganti nama, kini namanya Wan Keng In, biarpun hanya terhadap kakek gundul itu!

Dengan penuh ketekunan dia mempelajari semua ilmu yang berada di dalam dua kitab itu, dan melatih diri siang malam, kalau siang berlatih gerakan silatnya, kalau malam berlatih sin-kang dan bersamadhi menurut petunjuk di dalam kitab-kitab itu. Dia melarang Kong To Tek untuk menimbulkan ribut di luaran, dan semua hartanya digunakan untuk persedian makan dan pakaian mereka berdua.

**** 011 ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar