FB

FB


Ads

Kamis, 08 Januari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 039

Tiba-tiba Tan-siucai tertawa aneh dan terdengar suaranya,
“Ha-ha-hi-hi, Nona manis, engkau melawan siapa? Aku sudah lenyap, bayanganku tidak tampak olehmu, siapa yang kau lawan? Apakah kau gila?”

Kwi Hong terkejut bukan main karena benar-benar bayangan lawannya itu lenyap dan tidak tampak olehnya. Yang tampak hanya gulungan sinar pedang Hok-mo-kiam yang terang seperti cahaya sinar matahari. Hampir saja sinar pedang mengenai lehernya kalau ia tidak cepat-cepat menjatuhkan diri karena dalam keadaan kaget dan bingung mencari musuhnya tadi ia bersikap lengah.

Terdengar suara tertawa Tan-siucai dan sukar bagi Kwi Hong untuk menentukan dari mana datangnya suara tertawa ini karena bayangan orangnya tidak kelihatan. Ia teringat bahwa sebagai murid kakek sakti ahli sihir itu Tan-siucai pandai pula main sihir, maka ia mengerahkan sin-kang sekuatnya, sin-kang yang dilatihnya di Pulau Es sehingga ia dapat menggabungkan hawa Im dan Yang di tubuh, menguatkan hatinya dan kini tampaklah olehnya bahwa Tan-siucai masih berada di tempatnya yang tadi, memutar pedang dan mendesaknya.

“Cring-trang-trang.... aihhh....!”

Tan-siucai terkejut dan untung ia masih dapat menangkis sambil terhuyung ke belakang. Ia maklum bahwa gadis itu dapat melihatnya, maka ia mengerahkan seluruh ilmu sihirnya sehingga kini bayangannya kadang-kadang lenyap, kadang-kadang tampak oleh Kwi Hong.

Hal ini membuat Kwi Hong terdesak hebat dan timbul rasa gentar di hatinya. Yang dilawannya memiliki ilmu setan, bagaimana ia dapat melawan orang yang pandai menghilang? Sedikit saja ia mengurangi pengerahan sin-kangnya, bayangan lawan lenyap. Terpaksa ia membagi tenaganya, sebagian untuk melawan pengaruh sihir sehingga kadang-kadang ia dapat melihat bayangan lawan, kadang-kadang tidak.

“Kwi Hong, larilah cepat.... laporkan Pamanmu....!” Kembali ia mendengar teriakan Bun Beng.

“Ha-ha-ha, heh-heh, benar sekali. Kalau kau sudah mati nanti, terbangkan rohmu kepada Si Keparat Suma Han, suruh dia kesini menerima kematian, ha-ha!”

“Iblis busuk!”

Kwi Hong menyerang cepat sekali ketika ia dapat melihat bayangan Tan Ki yang tertawa-tawa. Siucai itu cepat menangkis, akan tetapi Kwi Hong hanya melakukan serangan tusukan sebagai pancingan saja, karena cepat sekali kakinya menendang.

“Desss! Aduhhh.... keparat!”

Tan-siucai terkena tendangan di samping pinggulnya dan terlempar ke belakang. Kwi Hong cepat mengejar, akan tetapi karena tendangan itu tidak tepat kenanya dan hanya melemparkan tubuh Tan-siucai dan mengagetkan saja, maka Tan-siucai sudah dapat memutar pedang melindungi tubuhnya sambil meloncat bangun.

“Siapa yang kau serang? Aku lenyap sama sekali dari penglihatanmu!”

Ucapan ini berulang kali diucapkan Tan-siucai dengan suara menggetar dan kembali Kwi Hong kadang-kadang kehilangan bayangan lawan, membuat ia terdesak lagi.

“Kwi Hong.... larilah.... lekas....!”

Bun Beng yang sudah pening oleh pengaruh sihir Maharya, berteriak sekuat tenaga. Ia mengandalkan ilmu pedang Siauw-lim-pai, mainkan bagian yang bertahan sehingga tubuhnya terlindung gulungan sinar pedang kilat. Dia dapat menahan serangan ular dan tangan bersarung emas, akan tetapi tekanan kekuatan mujijat dari sihir Maharya benar-benar membuat dia pening dan hanya dengan kebulatan tekadnya dan kemauannya saja untuk mempertahankan diri, pedang Lam-mo-kiam dan terutama melindungi Kwi Hong maka ia masih dapat bertahan.

Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan delapan belas orang pemuja Sun-go-kong yang mendengar pertempuran dan teriakan-teriakan Bun Beng kini telah berada disitu. Tanpa diminta dan tanpa komando, delapan belas orang ini sudah menerjang maju membantu Bun Beng dan Kwi Hong!

Akan tetapi, begitu sebagian besar mereka mengeroyok Maharya, kakek itu mengeluarkan gerengan keras yang menggetarkan seluruh urat syaraf, dan terdengarlah teriakan-teriakan mengerikan dan lima orang sudah roboh susul-menyusul terkena hantaman tangan kiri bersarung emas sehingga pecah kepalanya dan sebagian terkena gigitan ular putih di tangan kanan kakek itu!

Mereka yang mengeroyok Tan-siucai juga mengalami hal yang menyedihkan. Mereka menyerbu, tidak tahu akan keampuhan sinar pedang Hok-mo-kiam sehingga begitu kena disambar sinar ini, tiga orang roboh dan tewas seketika! Delapan belas orang maju dan dalam sekejap mata saja delapan orang dari mereka tewas!

Sisanya, yang sepuluh orang, menjadi kaget, berduka dan marah bukan main menyaksikan teman-teman mereka tewas sedemikian mudahnya, maka dengan nekat mereka maju untuk membalas dendam atau untuk tewas sekalian.

“Cu-wi, mundur....!” Bun Beng mencegah, akan tetapi sia-sia, mereka malah makin nekat.

“Ha-ha-ha, kalian yang sudah kehabisan tenaga dan setengah lumpuh, mau melawanku?” Maharya berteriak.

“Jangan dengarkan!”

Bun Beng yang melihat kakek itu membuka mulut lebar memperingatkan, namun terlambat. Sepuluh orang itu tiba-tiba merasa kedua kaki mereka lemas tak bertenaga dan pada saat itu, menyambarlah sinar-sinar hitam dari tangan Tan-siucai dan Maharya.

Itulah jarum-jarum hitam beracun dan tentu saja sepuluh orang yang sudah terpengaruh sihir itu tidak mampu mengelak lagi. Mereka mengeluh dan roboh dengan muka berubah menghitam dan nyawa melayang menyusul delapan orang teman mereka. Dalam sekejap mata saja, seluruh pemuja Sun-go-kong, bekas pejuang yang gigih tewas di tangan Maharya dan Tan-siucai dengan amat mudah dan secara sia-sia!

“Kakek iblis yang kejam!”

Bun Beng berteriak marah, dan tiba-tiba permainan pedangnya berubah, ia telah mainkan ilmu rahasia yang dipelajarinya dari Kitab Sam-po-cin-keng, dan ternyata akibatnya hebat sekali. Maharya berteriak kaget, berusaha menangkis dengan tangan kirinya karena lingkaran-lingkaran aneh yang dibuat oleh sinar pedang Bun Beng membuat dia menjadi bingung.

“Brettt....! Ihhh!”






Kakek Maharya mencelat mundur, wajahnya sebentar pucat sebentar merah, kemarahannya memuncak ketika ia melihat betapa sarung tangannya terobek sedikit dan telapak tangannya berdarah!

“Lihat api....!” Kakek itu membentak.

Karena girang melihat hasil serangannya, Bun Beng menjadi lengah sehingga ia mendengar suara ini, melihat pula betapa kakek itu menggerakkan tangan kiri sambil mendorong ke arahnya dan.... ia melihat pula api berkobar meluncur ke arah tubuhnya.

Bun Beng terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi bola api itu terus mengejarnya dari atas, Bun Beng cepat memutar pedangnya dan pada saat ia sibuk melawan bola api yang seperti hidup itu, tiba-tiba tangan bersarung emas telah menghantam punggungnya dengan sebuah tamparan keras.

“Plakkk!”

Bun Beng berseru kaget dan tubuhnya terguling-guling, napasnya seperti tersumbat. Sadarlah dia bahwa kembali dia menjadi korban sihir, dan bola api itu sebetulnya tidak ada maka dia sampai kena dipukul. Dengan marah ia melompat bangun dan jurus pertahanan dari Sam-po-cin-keng telah menutup tubuhnya sehingga Maharya tidak dapat menyusulkan serangan maut kepada lawan yang telah terluka itu.

“Kwi Hong.... lari....!” teriakan Bun Beng sekali ini terdengar lirih karena dadanya sesak dan napasnya terengah.

Kwi Hong terkejut sekali, menoleh dan melihat betapa pemuda itu makin terdesak hebat. Ia marah bukan main karena belum juga mampu mengalahkan Tan-siucai. Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dari atas disusul menyambarnya bayangan hitam yang besar. Bunyi kelepak sayap bercampur dengan pekik melengking dan tertawa nyaring memenuhi udara ketika bayangan hitam itu menyambar ke arah Bun Beng dan Maharya yang sedang bertempur.

Sinar putih panjang dua buah, seperti dua ekor ular putih yang amat panjang, menyambar ke arah tangan Bun Beng sedangkan paruh besar burung rajawali menyambar ke arah tangan Maharya yang memegang ular putih.

Bun Beng berteriak kaget ketika tiba-tiba tangan kanannya menjadi lemas terkena totokan sinar putih dan selagi dia belum sempat mengembalikan tenaga untuk memegang gagang pedang erat-erat, Pedang Lam-mo-kiam telah terlibat tali putih dan terlepas dari tangannya. Juga Maharya berseru keras ketika tiba-tiba ia diserang oleh pukulan sayap dan selagi ia mengelak, ular putih telah terlempar dari tangannya.

Dua orang yang sedang bertanding ini melompat mundur, memandang ke atas dan tampaklah oleh mereka seorang pemuda tampan menunggang seekor rajawali raksasa sedang tertawa-tawa memegangi pedang Lam-mo-kiam di tangan kanan dan ular putih yang dirampas rajawali di tangan kiri!

“Iblis cilik dari Pulau Neraka!” Bun Beng memaki. “Kembalikan pedangku!”

Pemuda diatas punggung rajawali itu hanya tertawa mengejek dan pada saat itu segumpal asap hitam yang dilepas oleh Maharya secara diam-diam menyerang muka Bun Beng. Pemuda ini gelagapan, menyedot asap hitam dan seketika kepalanya pening, pandang matanya gelap dan ia terhuyung-huyung.

“Desss!”

Kembali punggungnya dihantam tangan kiri Maharya dan ia roboh terguling. Namun ia masih sempat berteriak,

“Kwi Hong, lari....!”

Kemudian ia merangkak bangun duduk bersila memejamkan mata dan berusaha mengusir pengaruh asap beracun yang membuatnya pening dan lemas, apalagi punggungnya yang telah dua kali dihantam oleh tangan kiri Maharya yang lihai membuat napasnya sesak.

Maharya yang tadinya menyangka bahwa pemuda di punggung rajawali yang datang itu mungkin akan mengeroyoknya, telah merobohkan Bun Beng lebih dulu, kemudian kini ia mengacungkan tangannya ke atas.

“Bocah setan, tak peduli engkau dari Pulau Neraka, turunlah sebelum engkau dan rajawalimu mampus di tangan Pendeta Sakti Maharya!”

Pemuda itu bukan lain adalah Wan Keng In, putera To-cu Pulau Neraka. Ia tertawa dan memainkan ular putih di tangan kirinya.

“Heh-heh, setan tua. Ular putihmu ini baik sekali, tentu kau dapatkan di Himalaya, bukan?”

Diam-diam Maharya terkejut juga. Ular putihnya itu adalah seekor binatang yang racunnya ampuh sekali. Jarang ada orang sakti yang akan mampu menahan racun binatang itu dan sudah bertahun-tahun ia memelihara dan melatihnya sehingga ular itu akan menjadi ganas kalau dipegang orang lain.

Mengapa kini di tangan pemuda itu, ularnya menjadi jinak sekali? Namun tidak peduli anak setan dari mana pemuda itu, dia harus merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan ular putih. Ia menggerakkan tangannya dan sinar hitam menyambar ke arah burung rajawali yang terbang rendah.

Pemuda itu memutar pedang Lam-mo-kiam dan burung rajawali mengibaskan sayapnya, namun tetap saja ada sebatang jarum mengenai kaki burung itu sehingga burung itu memekik keras dan terhuyung.

“Crakk!”

Pedang Lam-mo-kiam bergerak dan kaki burung yang terkena jarum hitam itu telah dibuntungi penunggangnya!

“Setan tua itu membikin kakimu putus, hek-tiauw (rajawali hitam), hayo kita bunuh dia!”

Pemuda itu berseru dan rajawali itu sudah menyambar turun dengan penuh kemarahan. Disambar oleh cakar dan paruh, dihantam oleh sayap yang besar ditambah lagi serangan pedang Lam-mo-kiam dan ular putihnya sendiri benar-benar Maharya menjadi kaget bukan main. Ia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan hanya dengan jalan bergulingan ini ia terbebas dari bahaya maut.

Sementara itu, ketika Kwi Hong melihat penunggang burung rajawali, mukanya berubah dan ia merasa gelisah sekali. Tentu saja dia mengenal Wan Keng In dan maklum bahwa pemuda Pulau Neraka itu merupakan musuh besar, sehingga tentu akan menambah lawannya. Saat itu ia melihat Bun Beng terguling dan mendengar pesan terakhir pemuda itu. Tidak baik melawan terus, pikirnya. Melawan berarti akan kalah dan pedang Li-mo-kiam akan terampas pula.

Apa artinya melawan kalau tidak akan dapat menolong Bun Beng dan merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan Pedang Hok-mo-kiam? Lebih baik seperti yang diminta Bun Beng, melarikan diri selagi ada kesempatan, kemudian melapor kepada pamannya karena kalau bukan pamannya sendiri yang turun tangan, bagaimana mungkin pedang-pedang itu dapat dirampas kembali?

Alisnya berkerut dan hatinya terasa sakit sekali ketika mengerling ke arah Bun Beng yang terpaksa harus ia tinggalkan. Ia berseru keras, pedangnya menyerang ganas sehingga Tan-siucai kaget dan meloncat mundur. Ketika ia memandang ke depan, gadis lawannya itu telah meloncat-loncat jauh dan melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar gurunya berteriak,

“Tan Ki.... bantu aku....!”

Ia menengok dan terkejut sekali melihat pemuda yang menunggang burung rajawali itu sambil terkekeh-kekeh menyerang gurunya dari atas, menyambari gurunya seperti seekor burung mempermainkan tikus! Ia menjadi marah dan maju menyerang dengan pedangnya ketika pemuda di atas punggung rajawali itu kembali turun menyambar.

“Tranggg....! Bukk!”

Pemuda di atas punggung rajawali itu berseru kaget dan rajawalinya memekik kesakitan dan terbang tinggi. Pemuda itu kaget karena pedang laki-laki yang menangkisnya itu ternyata dapat membuat Lam-mo-kiam terpental dan tangannya tergetar, sedangkan pukulan tangan kiri bersarung emas Maharya telah mengenai paha rajawali itu.

Wan Keng In yang sudah memeriksa pedangnya dan maklum bahwa secara tidak terduga-duga dia telah mendapatkan sebatang diantara Sepasang Pedang Iblis yang dicari-cari ibunya, tidak mau menempuh bahaya menghadapi dua orang di bawah yang ternyata lihai itu, apalagi kini rajawalinya terluka berat, sebelah kakinya buntung dan bercucuran darah sedangkan pahanya juga terluka oleh hantaman kakek sakti itu. Belum tentu rajawalinya akan kuat membawanya terbang ke Pulau Neraka, maka ia lalu menyuruh rajawalinya terbang tinggi dan kembali ke Pulau Neraka.

Maharya menyumpah-nyumpah.
“Anak Iblis! Keparat jahanam! Dia membawa lari ularku!”

“Dan Lam-mo-kiam juga dirampasnya. Semua ini kesalahan pemuda sialan itu! Kita bunuh saja dia!”

Ia melangkah lebar dan mengayun Hok-mo-kiam ke arah leher Bun Beng yang masih duduk bersila mengatur pernapasan. Karena tidak sanggup membela diri lagi, Bun Beng tetap tidak bergerak, menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.

“Jangan!”

Tiba-tiba Maharya berteriak dan Tan Ki menahan pedangnya, menoleh dan memandang gurunya dengan heran.

“Mengapa? Apakah Guru menaruh kasihan kepada bedebah ini?”

“Ha-ha-ha, hatiku sakit sekali karena gara-gara dia sarung tanganku robek, ularku lenyap dan Lam-mo-kiam juga hilang. Aku senang bukan main melihat dia mampus, akan tetapi amat enaklah kalau kau membunuhnya begitu saja. Kita harus membuat dia mati perlahan-lahan, biar dia menderita sampai empat puluh hari, mati tidak hidup pun bukan, baru benar-benar mampus, ha-ha-ha!”

Tan-siucai tertawa geli.
“Maksudmu bagaimana, Guru?”

“Begini!”

Maharya menghampiri Bun Beng dari belakang dan tangan kirinya yang memakai sarung tangan bergerak, jari-jarinya menusuk. Bun Beng maklum bahwa dirinya diserang, akan tetapi tubuhnya lemas, tenaganya habis sehingga melawan pun hanya akan menyiksa diri, maka dia diam saja menerima hantaman maut.

“Cusss! Cusss!”

Dua kali Maharya menggerakkan jari-jarinya yang menotok di belakang pinggang, kanan kiri tulang punggung. Bun Beng tidak merasakan sesuatu, hanya rasa pegal di tempat yang ditotok.

“Ha-ha-ha, aku mengacaukan jalan darahnya, menindas hawa pusar dan membalikkan hawa kundalini, dia akan keracunan, kedua kakinya akan lumpuh, darahnya perlahan-lahan akan kotor dan menghitam dan dia setiap hari akan menderita hebat, sedikit demi sedikit nyawanya terancam, sampai empat puluh hari. Dia mati sekerat demi sekerat, ha-ha!”

Tan-siucai juga tertawa-tawa, akan tetapi hatinya tidak puas ketika melihat betapa dua kali totokan gurunya itu tidak membuat Bun Beng kesakitan.

“Terlalu enak kalau dia tidak diberi rasa, dan hatiku tidak puas kalau tidak menyiksanya tanpa membunuhnya.”

Gurunya mengangguk.
“Asal jangan kau pergunakan sin-kang agar tidak membunuhnya, sesukamulah.”

“Kalau tidak gara-gara dia, kita tidak kehilangan dan tentu keponakan Pendekar Siluman sudah dapat kubekuk. Biar dia tahu rasa!”

Tan-siucai mengayun kakinya, tanpa menggunakan tenaga sin-kang menendang ke arah ulu hati Bun Beng.

“Ngekkk!”

Biarpun tidak menggunakan sin-kang, namun tendangan yang keras itu membuat Bun Beng terjungkal dan ia muntahkan darah segar.

“Desss!”

Kini pipi kanan Bun Beng yang mukanya rebah miring itu diinjak sepatu. Ketika injakan yang keras ini membuat Bun Beng menggerakkan kepala sehingga bangkit duduk lagi, Tan-siucai menendang yang kiri.

“Desss!”

Tendangan keras sekali ini membuat tubuh Bun Beng terjengkang, kepalanya pening, bibirnya berlepotan darah segar, mukanya bengkak-bengkak dan membiru. Tan-siucai tertawa-tawa girang akan tetapi ia masih belum puas. Dengan langkah lebar ia menghampiri Bun Beng, dua kali kakinya bergerak ke arah kedua lutut Bun Beng, menendang keras sekali.

“Krak! Krak!” Tanpa mengeluh Bun Beng terguling pingsan, sambungan kedua lututnya terlepas!

“Cukup, kalau terlalu berat dia tidak akan menderita sampai empat puluh hari. Mari kita pergi. Sayang sekali Sepasang Pedang Iblis terlepas dari tangan kita. Kita kejar bocah perempuan itu!”

Guru dan murid itu sambil tertawa-tawa puas lalu berlari, bayangan mereka berkelebat dan tempat itu menjadi sunyi sekali.

Tubuh Bun Beng menggeletak menelungkup dalam keadaan pingsan, sedangkan tak jauh dari situ delapan belas buah mayat para pemuja Sun-go-kong malang-melintang! Menyeramkan sekali keadaan disitu, apalagi ketika tampak beberapa ekor burung gagak hitam beterbangan dan berputaran diatas tempat itu, agaknya mereka sudah mencium bau mayat dan darah.

Bun Beng sadar dan membuka matanya ketika ia merasa pipinya sakit seperti ditusuk-tusuk pedang. Betapa mendongkol dan marah hatinya ketika ia melihat dua ekor burung gagak mematuki darah dari pipinya. Sekali mengibas dengan tangan, dua ekor burung itu terpental dan mati seketika.

Gerakan ini membuat burung-burung gagak yang lain terbang ke atas dan Bun Beng bergidik. Burung-burung keparat itu pesta mematuki mayat-mayat, makan daging dan darah dari luka-luka di tubuh mayat-mayat itu.

Dengan hati terharu ia memandang ke sekeliling. Hatinya merasa sengsara sekali menyaksikan delapan belas orang itu telah menjadi mayat, dan lebih sakit lagi hatinya karena dia tidak dapat mengubur jenazah mereka. Kedua kakinya tak dapat ia gerakkan, sambungan lutut kedua kakinya terlepas dan nyeri yang amat hebat menusuk tulang-tulangnya. Ia mengeluh dan bangkit duduk.

Dengan jari tangannya ia menotok jalan darah di paha untuk melenyapkan rasa nyeri di lututnya, kemudian sedapat mungkin ia mengurut lutut-lututnya. Kemudian ia menggerakkan kedua tangannya, mengesot dan setengah merangkak meninggalkan tempat itu. Dia harus pergi dari situ, tidak tega ia menyaksikan mayat-mayat itu dimakan burung. Mereka telah mati dalam membelanya. Ia menoleh sebentar dengan air mata membasahi bulu matanya ia berbisik,

“Sahabat-sahabatku sekalian, aku bersumpah kalau masih dapat sembuh dan hidup, aku akan membalas kematian kalian kepada Maharya dan Tan Ki.”

Kemudian ia merangkak terus meninggalkan tempat itu. Akan tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama sekali dada dan perutnya. Ia maklum bahwa ia telah terluka hebat dan jalan darahnya menjadi kacau-balau, membuat setiap buku tulang terasa seperti ditusuki jarum.

Susah payah Bun Beng merangkak. Bagaimana ia dapat menuruni bukit yang terjal itu? Ah, bagaimana pula nasib Kwi Hong? Mudah-mudahan dia dapat melarikan diri, pikirnya dan ia menjadi agak lega. Biarpun dia mati, tentu Pendekar Super Sakti akan membalaskan sakit hatinya.

Bertambah pula musuh-musuhnya, musuh yang amat sakti. Musuh-musuh pertamanya, Koksu Negara Im-kan Seng-jin dan para pembantunya sudah merupakan lawan yang berat dan belum dapat ia jumpai, kini muncul pula musuh-musuh yang tidak kalah saktinya, yaitu Tan Ki dan gurunya yang pandai ilmu sihir!

Dan dia maklum bahwa guru dan murid itu telah membuat dia menjadi seorang cacad dan tinggal menunggu maut. Pukulan beracun itu takkan dapat ia obati, apalagi dengan kedua kaki tak dapat dipakai berjalan, apa dayanya? Namun dia tidak putus asa, tidak mau putus asa. Selagi ia masih hidup, dia akan berusaha menyembuhkan luka-lukanya, berusaha pergi dari tempat berbahaya ini!

Malam itu Bun Beng mengalami malam yang paling sengsara. Ia berusaha duduk bersila bersiulian, namun tetap saja ia tidak dapat mengerahkan tenaganya. Begitu ia mengerahkan sin-kang, perutnya terasa panas seperti dibakar dan seluruh tubuh terasa gatal-gatal. Ia hanya dapat melatih pernapasan, menghirup udara segar, itupun tidak dapat ia tarik ke pusar seperti biasa karena hal ini juga menimbulkan rasa nyeri yang sama.

Semalam ia tidak tidur dan kalau ia teringat akan malam penuh bahagia bersama Kwi Hong, ia tersenyum pahit. Baru kemarin ia mengalami malam yang paling bahagia selama hidupnya, duduk menghadapi api unggun, menatap wajah gadis itu yang tidur nyenyak dan merasa betapa dunia menjadi amat indah. Kini perubahan itu seperti sorga dan neraka. Ia teringat akan wejangan Siauw Lam Hwesio bahwa memang demikianlah hidup. Sorga dan neraka penghidupan muncul dan lenyap saling berganti!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah terang tanah, Bun Beng melanjutkan usahanya menuruni bukit dengan merangkak perlahan-lahan. Betapa ia dapat melakukan perjalanan cepat kalau ia hanya mengandalkan kedua tangannya untuk menarik tubuhnya secara mengesot?

Tubuhnya terasa makin panas. Darah yang mengalir ke kepalanya seolah-olah membakar kepala dan menjelang tengah hari ia tidak kuat lagi. Ia rebah di bawah sebatang pohon dalam keadaan setengah pingsan. Ketika ia meletakkan pipinya yang masih membengkak dan nyeri berdenyut-denyut itu ke atas tanah berumput yang dingin basah, ia merasa betapa nikmatnya tidur seperti itu. Ingin ia tidak dapat bangun kembali, rebah seperti itu untuk selamanya!

Sebuah kaki bersepatu membalikkan tubuhnya yang menelungkup. Ia terlentang dan pandang matanya berkunang. Dalam keadaan setengah pingsan ia melihat beberapa orang berdiri mengelilinginya dan jantungnya berdebar penuh kemarahan ketika ia mengenal seorang diantara mereka adalah pemuda Pulau Neraka, si penunggang rajawali! Bagaimana pemuda ini bisa muncul kembali?

Pemuda yang datang bersama dua orang anggauta Pulau Neraka bermuka merah tua itu adalah Wan Keng In. Pemuda ini tadinya hendak kembali ke Pulau Neraka menunggang rajawali yang terluka parah. Hatinya girang mendapatkan Lam-mo-kiam, akan tetapi juga kecewa karena dia tidak dapat mengalahkan kakek India dan sasterawan yang menjadi murid kakek itu.

Kecewa karena dia tidak bisa mendapatkan pedang Li-mo-kiam karena ibunya tentu akan girang sekali kalau dia bisa mendapatkan Sepasang Pedang Iblis itu, bukan hanya yang jantan, pula, diapun ingin sekali mendapatkan pedang Si Sasterawan yang mampu menandingi Lam-mo-kiam.

Dengan hati girang Wan Keng In melihat seekor burung rajawalinya terbang di udara. Ia bersuit nyaring dan ketika rajawali itu terbang dekat, ia lalu pindah ke atas punggung rajawali yang sehat.

Ketika ia terbang rendah di pantai, ia melihat sebuah perahu hitam, perahu Pulau Neraka. Cepat ia turun dan ternyata perahu itu adalah perahu yang ditumpangi dua orang anggauta Pulau Neraka bermuka merah. Biarpun ia agak kecewa mendapat kenyataan bahwa yang berada di perahu hanyalah dua orang anggauta rendahan yang tidak dapat banyak diandalkan, namun ia girang juga dan cepat mengajak mereka untuk pergi ke bukit itu. Dia harus menyelidiki bukit itu. Siapa tahu pusaka-pusaka yang lain berada disitu.

Demikianlah, ketika di tengah jalan ia melihat Bun Beng yang menggeletak setengah pingsan, alisnya berkerut.

“Inilah orangnya yang memegang pedang yang kurampas. Kepandaiannya lumayan juga. Eh, orang yang terluka parah, aku akan mengobatimu sampai sembuh, akan tetapi katakanlah, dari mana engkau mendapatkan Siang-mo-kiam? Dan mana yang sebatang lagi?”

Mendengat pertanyaan ini, Bun Beng menggeleng kepala tanpa menjawab. Biarpun benar-benar pemuda Pulau Neraka ini akan dapat menyembuhkannya, dia tetap tidak sudi memberi tahu kepada pemuda yang dibencinya itu tentang sepasang pedang iblis yang kini telah dirampasnya sebatang. Lebih baik dia mati daripada memberi tahu bahwa pedang yang sebuah lagi dipegang Kwi Hong. Kalau pemuda ini naik burung rajawali mengejar dan mencari Kwi Hong dari atas, gadis itu bisa terancam bahaya!

“Apakah engkau mendapatkannya di bukit ini? Apakah ada pusaka lain lagi? Kitab pelajaran kuno? Kulihat engkau menderita pukulan beracun yang amat berbahaya!”

Wan Keng In mendesak lagi, akan tetapi Bun Beng menggeleng kepala dan memejamkan mata, tidak menjawab.

Keng In menggerakkan jari tangannya menotok pundak Bun Beng dan pemuda yang sudah terluka parah ini sama sekali tidak mampu bergerak.

“Kalian bawa dia ke perahu dan bawa ke pulau, tentu ibu akan mendapat akal untuk mengorek rahasia darinya. Dia lihai, akan tetapi dia terluka parah dan sudah kutotok. Akan tetapi, kalian harus tetap berhati-hati membawanya, jangan sampai gagal. Aku akan menyelidiki keadaan bukit ini dulu, cukup mencurigakan.”

“Baik, Kong-cu (Tuan Muda).”

Dua orang anggauta Pulau Neraka yang bermuka merah itu lalu mengangkat tubuh Bun Beng, menggotongnya dan membawanya turun dari bukit. Semetara itu, Wan Keng In lalu mendaki puncak dan mencari-cari.

Akan tetapi dia hanya menemukan mayat delapan belas orang gagah itu dan biarpun dia telah mencari sampai sehari penuh, dia tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah kitab kecil pelajaran Ilmu Silat Sin-kauw-kun-hoat. Biarpun yang ditemukan sama sekali bukan pusaka-pusaka yang diharapkan namun kitab ini ia kantongi dan ia bawa pergi setelah ia bersuit memanggil burung rajawali yang mengikuti perjalannya bersama dua orang anggaunya dari atas.

Sementara itu Bun Beng digotong oleh dua orang Pulau Neraka menuju ke pantai sunyi dimana mereka menyembunyikan perahu mereka, kemudian merebahkan Bun Beng di dekat perahu dan melayarkan ke laut.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar