FB

FB


Ads

Sabtu, 03 Januari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 013

Dia adalah seorang panglima, sudah biasa mengatur siasat-siasat perang, siasat untuk mencari kemenangan dalam pertempuran. Melihat keadaan pihaknya ini, tentu saja Bhe Ti Kong tidak menghendaki pihaknya kalah dan terancam bahaya ikutnya Pendekar Siluman itu dalam pertempuran. Melihat Suma Han termenung seperti orang mimpi, ia menghampiri perlahan-lahan dan mencabut senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang tombak gagang pendek yang bercabang tiga, runcing dan kuat.

Bhe Ti Kong bukanlah seorang yang berwatak curang atau pengecut, dan apa yang hendak dilakukan ini semata-mata dianggap sebagai siasat untuk kemenangan pihaknya. Biasanya dalam pertempuran perang, tidak ada istilah curang atau pengecut, yang ada hanyalah mengadu siasat demi mencapai kemenangan. Sekarang pun, ketika ia berindap-indap menghampiri Suma Han dari belakang dengan senjata di tangan, satu-satunya yang memenuhi hatinya hanyalah ingin melihat pihaknya menang.

Setelah tiba di belakang Suma Han, Bhe Ti Kong mengangkat senjatanya dan menyerang. Panglima tinggi besar ini memiliki tenaga yang amat kuat, senjatanya juga berat dan kuat sekali, maka serangan yang dilakukannya itu menusukkan tombak runcing ke punggung Suma Han, merupakan serangan maut yang mengerikan dan agaknya tidak mungkin dapat dihindarkan lagi!

“Wirrrr....!”

Senjata tombak cabang tiga yang runcing itu meluncur ke arah punggung Suma Han. Akan tetapi, pada waktu itu, ilmu kesaktian yang dimiliki Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es ini, sudah “mendarah daging” sehingga boleh dibilang setiap bagian kulit tubuhnya memiliki kepekaan yang tidak lumrah.

Perasaan di bawah sadarnya seolah-olah telah bangkit bekerja setiap detik sehingga jangankan baru sedang melamun, bahkan biarpun dia sedang tidur nyenyak sekalipun, perasaan ini bekerja melindungi seluruh tubuhnya dari bahaya yang mengancam dari luar.

Pada saat itu, pikirannya sedang melayang-layang, seluruh panca inderanya sedang ikut melayang-layang pula bersama pikirannya sehingga dia seperti tidak tahu sama sekali akan segala yang terjadi di sekelilingnya, tidak tahu betapa garuda tunggangannya dan Im-yang Seng-cu didesak hebat oleh Thian Tok Lama dan Thai Li Lama.

Akan tetapi, ketika ada senjata menyambar punggung mengancam keselamatannya, perasaan di bawah sadar itu mengguncang kesadarannya dengan kecepatan melebihi cahaya!

“Suuuuutttt!”

Bhe Ti Kong berseru kaget dan bulu tengkuknya berdiri karena tiba-tiba orang yang diserangnya itu lenyap. Ketika ia menoleh, yang tampak olehnya hanyalah bayangan berkelebat cepat menyambar ke arah Thian Tok Lama yang mendesak Im-yang Seng-cu, kemudian bayangan itu mencelat ke arah Thai Li Lama yang bertanding dan tahu-tahu tubuh kedua orang pendeta Lama itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka berdiri dengan wajah pucat memandang Suma Han yang sudah berdiri bersandar tongkat dan memandang mereka berdua dengan sinar mata tajam berpengaruh.

Keduanya telah kena didorong oleh hawa yang dinginnya sampai menusuk tulang dan biarpun kedua orang pendeta ini sudah mengerahkan sin-kang, tetap saja mereka itu menggigil dan wajah mereka yang pucat menjadi agak biru, gigi mereka saling beradu mengeluarkan bunyi!

Setelah mengerahkan sin-kang beberapa lamanya, barulah mereka itu dapat mengusir rasa dingin dan tahulah mereka bahwa kalau Si Pendekar Super Sakti menghendaki, serangan tadi tentu akan membuat nyawa mereka melayang!

“Katakan kepada koksu kerajaan Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bahwa To-cu Pulau Es tidak tahu-menahu tentang Sepasang Pedang Iblis! Nah, pergilah dan jangan mengganggu orang-orang yang tidak bersalah!”

Thian Tok Lama menghela napas panjang. Pemuda buntung itu hebat luar biasa dan ucapan seorang yang sakti seperti itu tentu saja tidak membohong. Ia menjura dan berkata,

“Baiklah dan harap To-cu sudi memaafkan kelancangan kami,”

Ia memberi isyarat kepada Thai Li Lama dan Bhe Ti Kong, kemudian mereka bertiga meninggalkan tempat itu. Keadaan menjadi sunyi. Garuda putih kini hinggap di atas cabang pohon, menyisiri bulu-bulunya dengan paruh sambil kadang-kadang memandang ke arah majikannya.

Im-yang Seng-cu yang masih mengatur pernapasannya yang agak terengah karena tadi ia terlampau banyak mempergunakan tenaga untuk melindungi dirinya dari desakan hebat Thian Tok Lama, kini melangkah maju mendekati Suma Han memandang penuh perhatian ke arah wajah yang sudah menunduk kembali itu lalu berkata.

“Suma Han, mari kita lanjutkan urusan di antara kita. Sudah kuceritakan semua tentang sebabnya mengapa hari ini aku harus membunuhmu atau terbunuh olehmu. Karena engkau, kedua orang muridku tewas dan orang-orang yang kucinta di dunia ini habis. Jangan berkepalang tanggung, hayo kau tewaskan aku pula atau engkaulah yang akan mati di tanganku!”

Tanpa mengangkat mukanya yang tunduk, Suma Han membuka pelupuk matanya yang menunduk. Sinar matanya bagaikan kilat menyambar wajah kakek itu, membuat hati Im-yang Seng-cu tergetar. Diam-diam kakek ini kagum bukan main. Manusia berkaki satu yang berdiri di depannya adalah seorang manusia yang amat luar biasa!

“Benarkah Locianpwe begitu bodoh ataukah hanya pura-pura bodoh? Ada kemenangan dalam diri manusia yang melebihi segala makhluk, yaitu perbuatan dengan pamrih demi kebahagiaan orang lain. Bahkan rela berkoban demi kebahagiaan orang lain. Sudah tentu saja akibatnya bermacam-macam sesuai dengan kehendak Tuhan, namun menilai perbuatan bukanlah dilihat akibatnya, melainkan ditinjau pamrihnya.”

Im-yang Seng-cu tersenyum dan menyembunyikan kegembiraannya di balik kata-kata mengejek.

“Suma Han, semua perbuatan memang berakibat dan hanya seorang gagah sajalah yang berani mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya! Kepandaianmu amat tinggi dan aku sudah kehilangan tongkatku, namun jangan mengira bahwa aku akan gentar melawanmu. Jangan bersembunyi di balik kata-kata yang muluk-muluk. Mari kita selesaikan!”

Suma Han menghela napas panjang.
“Kalau sekeras itu kehendak Locianpwe, demi penyesalan hatiku telah mengakibatkan kesengsaraan orang-orang yang kucinta, silakan Locianpwe!”

“Bagus! Nah, sambutlah ini!”






Dengan wajah yang tiba-tiba berubah girang bukan main, Im-yang Seng-cu meloncat maju, tangan kanannya dengan pengerahan sin-kang sekuatnya menghantam dada Suma Han.

“Dessss!”

Tubuh Suma Han terlempar sampai lima meter, tongkat yang dipegangnya terlepas dan ia roboh terguling, mulutnya muntahkan darah segar. Seketika wajah Im-yang Seng-cu menjadi pucat sekali. Kegirangan lenyap dari wajahnya dan ia meloncat mendekati.

“Celaka! Keparat engkau, Suma Han! Engkau telah menipuku....! Ahhhh.... engkau akan membuat aku mati menjadi setan penasaran.... selamanya aku.... belum pernah memukul orang yang tidak melawan. Kenapa engkau tidak melawan? Celaka.... aiiiihhh.... celaka....!”

Tiba-tiba terdengar pekik keras dan bayangan putih menyambar dari atas. Garuda putih telah menyambar dan cakarnya mencengkeram pundak Im-yang Seng-cu, tubuh kakek itu dibawa ke atas lalu dibanting lagi ke bawah.

“Brukkk!”

Im-yang Seng-cu tertawa, pundaknya luka berdarah.
“Bagus....! Bagus sekali, garuda sakti! Hayo lekas serang lagi. Hayo bunuh aku.... ha-ha-ha! Majikanmu yang gila tidak mau membunuhku, mati di tanganmu cukup terhormat. Marilah!” Ia menantang-nantang sambil tertawa dan bangkit berdiri terhuyung-huyung.

Garuda putih menyambar lagi ke bawah dengan penuh kemarahan.
“Pek-eng, berhenti!”

Tiba-tiba Suma Han membentak, suaranya mengandung getaran dahsyat dan burung itu tidak jadi menyerang Im-yang Seng-cu, melainkan hinggap di atas tanah dekat Suma Han dan mendekam, mengeluarkan suara mencicit sedih dan takut.

Im-yang Seng-cu membanting-banting kakinya ke atas tanah.
“Suma Han, engkau benar-benar kejam! Engkau berkali-kali mengecewakan hatiku! Engkau menerima pukulanku tanpa melawan, membuat aku menjadi seorang manusia yang rendah dan hina! Dan sekarang engkau melarang burungmu menyerangku. He, Pendekar Super Sakti! Apakah setelah engkau berjuluk Pendekar Siluman hatimu pun menjadi kejam seperti hati siluman? Apakah engkau akan puas menyaksikan aku hidup merana menanti datangnya maut menjemput nyawaku yang sudah tidak betah tinggal di tubuh sialan ini?”

“Locianpwe,” Suma Han berkata lirih sambil mengusap darah dari bibirnya dengan ujung lengan baju. “Locianpwe datang dengan niat membunuhku. Pukulanmu tadi cukup keras akan tetapi belum cukup untuk melukai aku, apalagi membunuh. Kalau masih belum puas, mari, pukul lagi, Locianpwe.”

“Engkau tidak melawan?”

Suma Han menggeleng kepala.
“Bagaimana harus melawan? Locianpwe hendak membunuhku karena kesalahanku terhadap Lulu dan Sin Kiat, dan biarpun tidak kusengaja, memang aku telah bersalah terhadap mereka. Kalau Locianpwe mau membunuhku, lakukanlah!”

Im-yang Seng-cu membanting-banting kakinya lagi.
“Kau.... kau....!” Dan kakek ini mengusap-usap kedua matanya karena kedua mata itu menitikkan air mata!

“Locianpwe, ketika garuda menyerangmu, Locianpwe tidak melawan pula, menyambut maut dengan tertawa-tawa. Locianpwe rela mati karena merasa bersalah memukul orang yang tidak melawan. Locianpwe rela mati demi membalas kesengsaraan orang-orang yang Lo-cianpwe cinta. Kalau semulia itu hatimu, apakah aku yang muda tidak boleh menirunya?”

“Kau.... kau siluman!”

“Locianpwe, aku mengerti bahwa sesungguhnya Locianpwe tidak ingin membunuhku, melainkan mengharapkan kematian di tanganku. Tak mungkin aku melakukan hal itu, Locianpwe. Sekarang, hanya ada dua pilihan bagi Locianpwe. Membunuhku tanpa kulawan, atau kita sudahi saja urusan ini, biarlah kita berdua melanjutkan hidup dengan kesengsaraan batin menjadi derita. Bukankah hidup ini menderita? Bukankah penderitaan batin merupakan pengalaman hidup yang paling berharga? Bagaimana, Lo-cianpwe? Kalau belum puas memukulku, silakan ulangi kembali!”

Suma Han terpincang-pincang maju mendekati sambil memasang dadanya, Im-yang Seng-cu mundur-mundur seperti ngeri didekati sesuatu yang akan dapat membuat ia menyesal selamanya.

“Tidak.... tidak.... jangan dekati aku....!” Kemudian ia menutup mukanya dengan kedua tangan.

“Kalau begitu, selamat tinggal, Lo-cianpwe. Locianpwe agaknya lebih suka menghukum batinku, karena sesungguhnya kalau Locianpwe membunuhku, berarti membebaskan aku daripada penyesalan dan kesengsaraan batin. Selamat tinggal!”

Suma Han mengambil tongkatnya, meloncat ke atas punggung garuda dan terdengarlah kelepak sayap dibarengi angin bertiup dan Majikan Pulau Es itu sudah membubung tinggi dibawa terbang garuda putih.

Im-yang Seng-cu menurunkan kedua tangannya. Mukanya pucat, alianya berkerut dan sampai lama ia memutar pikirannya. Tiba-tiba ia tertawa,

“Ha-ha-ha! Untuk ke sekian kalinya aku kalah! Ahhh, bagaimana bocah setan itu tahu bahwa aku akan merasa girang mati di tangannya? Aihh, celaka memang nasibku. Keinginan terakhir mati di tangan Pendekar Super Sakti gagal, bahkan aku yang hampir saja membunuhnya sehingga penderitaanku akan bertambah makin berat. Bukan main....! Dia itu.... seorang manusia yang luar biasa.... Ahh, kalau saja Tuhan dapat mengabulkan setiap permintaan manusia, biarlah sekali ini si manusia Im-yang Seng-cu mohon agar Tuhan sudi mengobati penderitaan batin Suma Han dan melimpahkan kebahagiaan kepadanya. Dia manusia sejati, manusia berbudi luhur.... pendekar di antara segala pendekar....!”

“Ha-ha-ha! Kalau dia pendekar di antara segala pendekar, engkau adalah pengecut di antara segala pengecut hina, Im-yang Seng-cu!”

Im-yang Seng-cu terkejut, menoleh dan memandang terbelalak kepada seorang laki-laki muda yang berdiri di depannya. Laki-laki ini usianya masih muda, belum lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan dan gerak-geriknya halus, pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang terpelajar, pakaian pelajar yang bersih dan rapi.

Akan tetapi yang mengejutkan hati Im-yang Seng-cu adalah sepasang mata di wajah tampan itu. Mata itu mempunyai sinar yang mengerikan, seperti mata orang gila, namun juga mempunyai wibawa yang tajam berpengaruh dan aneh. Bukan mata manusia, seperti itulah patutnya mata setan! Biarpun pakaiannya seperti seorang pelajar, namun di punggung orang muda itu tampak gagang sebatang pedang, gagang pedang hitam dengan ronce benang hitam pula.

Biarpun hati Im-yang Seng-cu terkejut dan heran, namun dia marah mendengar orang yang tak dikenalnya ini memakinya sebagai pengecut di antara segala pengecut hina. Bagi seorang kang-ouw, seorang yang menjunjung kegagahan, makian pengecut merupakan makian yang paling rendah menghina.

“Orang muda, kulihat pakaianmu sebagai seorang terpelajar, patutnya engkau tahu akan tata susila dan sopan santun. Kulihat pedangmu di punggung, patutnya engkau tahu akan sikap kegagahan di dunia kang-ouw. Akan tetapi engkau datang-datang memaki orang tua, patutnya engkau seorang biadab yang sombong. Siapakah engkau?”

Pemuda itu tersenyum lebar. Senyum yang manis dan membuat wajahnya makin tampan, akan tetapi seperti yang tersembunyi di balik keindahan matanya, juga di balik senyumnya ini bersembunyi sifat aneh yang mendirikan bulu roma, sifat kejam dan penuh kebencian terhadap sekelilingnya!

“Im-yang Seng-cu, belasan tahun yang lalu seringkali engkau memondong dan menimangku, bahkan yang terakhir engkau mengajarkan Ilmu Pukulan Hoa-san Kun-hoat kepadaku sebagai pembayaran taruhan karena engkau kalah bermain catur melawan Ayahku.”

Terbelalak kedua mata Im-yang Seng-cu dan ia memandang penuh perhatian, kemudian berseru.

“Siancai....! Kiranya engkau Tan-siucai (Sastrawan Tan) dari Nan-king....!”

Pemuda tampan itu mengangguk-angguk dan senyumnya makin kejam,
“Betul, aku adalah Tan Ki atau Tan-siucai dari Nan-king.”

“Tapi.... tapi.... ah, bagaimana Ayahmu?”

“Ayah telah meninggal dunia.”

“Ahhh! Sahabatku yang baik, kiranya engkau lebih bahagia daripada aku, betapa rinduku bermain catur sampai lima hari lima malam melawanmu....!”

“Tak usah khawatir, Im-yang Seng-cu, sebentar lagi pun engkau akan menyusul Ayah akan tetapi tempatmu di neraka, tidak di sorga seperti Ayah!”

Keharuan Im-yang Seng-cu mendengar akan kematian sahabatnya, dan kegirangannya bertemu dengan pemuda itu, lenyap berganti penasaran dan keheranan melihat sikap Tan-siucai.

“Apakah maksudmu dengan ucapan dan sikapmu ini? Engkau dahulu menganggap aku sebagai paman dan bersikap hormat. Sekarang engkau bersikap kurang ajar, bahkan berani memaki-maki aku. Apa artinya ini?”

“Artinya, orang tua pengecut! Aku datang untuk membunuhmu!”

Im-yang Seng-cu memandang terbelalak, kemudian tertawa bergelak, merasa betapa lucunya peristiwa ini. Baru saja dia menemui Suma Han dengan niat untuk membunuhnya dan kini pemuda yang dianggap keponakannya sendiri, yang dijodohkan dengan muridnya, mendiang Lu Soan Li, kini datang-datang berniat membunuhnya!

“Tertawalah selagi engkau masih dapat tertawa, Im-yang Seng-cu,” Tan-siu-cai mengejek.

“Orang muda, aku tidak takut mati. Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau tiba-tiba bersikap seperti ini?”

“Dengarlah agar engkau tidak mati penasaran. Engkau seorang pengecut besar karena engkau tidak dapat membubuh Pendekar Siluman. Akulah yang kelak akan membunuhnya sayang aku datang terlambat, kalau tidak tentu dia sudah kubunuh sekarang. Engkau telah menyia-nyiakan kewajibanmu menjaga tunanganku, membiarkan tunanganku melakukan penyelewengan dari ikatan jodoh denganku. Membiarkan tunanganku yang tercinta itu mengorbankan diri untuk pemuda lain, membiarkannya mencinta pemuda lain. Kemudian, setelah bertemu dengan Pendekar Siluman, engkau tidak berhasil membunuhnya. Engkau pengecut besar dan harus mampus!”

Im-yang Seng-cu menjadi marah sekali.
“Kau sudah gila! Betapa manusia dapat menjaga perasaan hati manusia lain? Kalau muridku, Soan Li yang malang, mencinta Suma Han, itu adalah haknya. Dan sekarang aku tahu bahwa memang seribu kali lebih baik mencinta Suma Han daripada mencinta seorang gila macam engkau. Aku sudah mendengar bahwa kau mendendam atas kematian Soan Li, dan sudah kuperingatkan Suma Han tentang ini. Akan tetapi kalau alasanmu seperti itu, engkau gila dan bagaimana kau akan dapat membunuh aku? Ha-ha-ha, betapa tolol dan sombongnya engkau Tan Ki!”

“Engkau tadi hendak menyerahkan nyawa di tangan burung garuda bahkan engkau sengaja ingin mati di tangan Suma Han. Apakah engkau tidak ingin mati di tanganku?”

“Ha-ha-ha! Gila! Gila engkau! Tentu saja aku tidak sudi mati di tanganmu!”

Kakek itu tertawa-tawa, lupa betapa anehnya sikap ini. Tadi ia ingin mati, sekarang ada orang akan membunuhnya, dia marah-marah!

“Mau atau tidak, tetap saja engkau akan mati di tanganku, Im-yang Seng-cu!”

Sambil berkata demikian, Tan-siucai sudah menerjang maju dengan tangan kirinya. Tangan ini menampar, kelihatan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan tamparan itu membuat Im-yang Seng-cu terkejut dan cepat mengelak. Dia terheran bukan main karena tamparan itu adalah tamparan yang mengandung tenaga dalam amat kuat!

Akan tetapi Tan-siucai tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berheran karena kini sudah mendesak lagi dengan dua pukulan beruntun, tangan kiri mencengkeram ubun-ubun disusul tangan kanan yang menyodok ke ulu hati. Serangan yang dahsyat, serangan maut yang berbau ilmu silat tinggi dan lihai sekali.

“Aihhh!”

Im-yang Seng-cu meloncat ke belakang, timbul rasa penasaran karena dia tidak mengenal jurus yang dilakukan bekas pelajar yang dahulu lemah itu. Maka ia pun balas menerjang dengan pukulan-pukulan dahsyat yang dapat dielakkan secara mudah oleh Tan-siucai.

Pertandingan seru terjadi dan biarpun agaknya Tan-siucai telah digembleng orang sakti dengan ilmu silat aneh dan telah memiliki tenaga sin-kang yang kuat, namun menghadapi seorang kakek seperti Im-yang Seng-cu, pemuda itu kewalahan juga.

“Ha-ha-ha, bagaimana engkau akan dapat membunuhku, pemuda gila?”

Im-yang Seng-cu mengejek. Biarpun diam-diam ia terkejut dan terheran-heran karena mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda ini benar-benar tinggi dan aneh, namun dia merasa yakin bahwa untuk dapat membunuhnya, tidaklah begitu mudah.

“Begini, Im-yang Seng-cu!” Tan-siucai menjawab dan tiba-tiba tangan kirinya dibuka dan didorongkan ke arah muka kakek itu sambil mulutnya membentak, “Diam!”

Hebat bukan main bentakan dan gerakan tangan itu karena secara aneh sekali, tiba-tiba Im-yang Seng-cu tak dapat menggerakkan kaki tangannya seolah-olah tubuhnya telah berubah menjadi batu. Dan pada saat itu, tangan kanan Tan-siucai telah bergerak ke belakang, tampak sinar hitam berkelebat dan pedang hitam di tangannya telah meluncur dan ambles ke dalam perut Im-yang Seng-cu, tepat di bawah ulu hati.

Ketika pemuda itu mencabut pedangnya, darah menyembur keluar dari perut dan karena ketika mencabut pedangnya digerakkan ke bawah, perut itu robek dan isi perutnya keluar.

Barulah Im-yang Seng-cu dapat bergerak, kedua tangannya otomatis bergerak ke depan, yang kiri mendekap luka, yang kanan memukul ke depan. Angin pukulan kuat membuat pemuda itu terhuyung ke belakang. Baju depannya merah terkena percikan darah yang menyembur dari perut kakek itu. Im-yang Seng-cu terhuyung-huyung, matanya terbelalak, mulutnya berkata,

“Celaka.... ingin mati di tangan pendekar.... kini mampus di tangan setan.... benar-benar tubuh sial....!”

Ia berusaha menubruk maju dengan loncatan cepat ke arah Tan-siucai, untuk memberi serangan terakhir. Akan tetapi Tan-siucai mengelak dan tubuh kakek itu terjerembab ke atas tanah tanpa nyawa lagi.

“Heh-heh-heh!”

Dari balik sebatang pohon muncul dengan cara seperti setan seorang yang berkulit hitam. Orang ini bertubuh tinggi sekali, tinggi dan kurus. Kulitnya hitam mengkilap, kedua kakinya telanjang. Usianya sukar ditaksir, akan tetapi tentu tidak kurang dari enam puluh tahun. Dahinya lebar, hidungnya panjang melengkung, sepasang matanya lebar dan bersinar-sinar aneh, mulutnya hampir tak tampak tertutup jenggot dan kumis yang putih. Kedua telinganya memakai anting-anting perak berbentuk cincin. Rambutnya yang sudah lebih banyak putihnya itu tertutup sorban berwarna kuning. Tubuhnya hanya dibalut kain kuning pula yang menutup tubuh seperti cawat dan setengah dada.

“Cukup baik gerak tangan kirimu dan bentakanmu cukup berhasil. Sayang gerakan pedangmu tidak tepat. Lihat, pakaianmu terkena darah. Sungguh memalukan aku yang menjadi gurumu, heh-heh!”

Kata orang itu yang dapat diduga tentu datang dari barat karena bentuk muka, warna kulit, dan gaya bicaranya.

“Mohon petunjuk Guru,” kata Tan-siucai, alisnya berkerut tanda tidak senang hati dicela gurunya.

“Membunuh lawan terkena percikan darahnya, amatlah tidak baik dan engkau tadi membuka kesempatan lawan untuk menyerang sehingga kau terhuyung. Untung kepandaian orang ini tidak amat hebat. Kalau lebih hebat, apakah kau tidak akan celaka karena pukulan terakhir orang yang sudah menghadapi maut? Serahkan pedangmu, dan lihat baik-baik!”

Tan-siucai menyerahkan pedangnya. Pedang hitam itu oleh kakek ini lalu diselipkan di bawah kain yang membelit pundaknya. Kemudian ia mengampiri mayat Im-yang Seng-cu, dipandangnya sejenak kemudian tiba-tiba tangan kirinya dengan telapak menghadap ke arah mayat digerakkan, mulutnya mengeluarkan pekik aneh dan.... mayat itu tiba-tiba berdiri di depannya. Darah masih mengucur dari perut mayat Im-yang Seng-cu yang terbuka dan ususnya terurai keluar.

“Diam....!”

Kakek itu membentak seperti yang dilakukan oleh muridnya tadi, tampak sinar hitam berkelebat menjadi gulungan sinar yang mengitari tubuh mayat itu. Kakek itu sudah meloncat ke belakang mayat dan.... tubuh Im-yang Seng-cu yang sudah tak bernyawa lagi itu kini roboh menjadi enam potong! Kedua lengan dan kedua kakinya terpisah, dan lehernya juga telah terbabat putus!

“Nah, dengan begini, engkau tidak memberi kesempatan lawan untuk mengirim serangan. Mula-mula kedua lengan lalu kaki dan leher yang harus kau babat putus, bukan menusuk perut seperti tadi. Dan jangan lupa untuk bergerak meloncat ke belakang, berlawanan dengan menyemburnya darah dari tubuhnya! Ah, sampai lupa. Hayo cepat, kita tampung racun kuning!”

Mendengar ini, Tan-siucai lalu menggunakan kakinya, mengungkit bagian-bagian tubuh mayat itu sehingga terlempar ke atas cabang pohon, ditumpuk di situ. Kemudian kakek berkulit hitam itu menuangkan cairan obat dari sebuah botol ke atas tumpukan potongan tubuh mayat yang segera mencair.

Mula-mula seperti terbakar mendidih, kemudian dari tumpukan daging dan tulang itu menetes-netes cairan kuning yang segera ditampung oleh Tan-siucai ke dalam sebuah botol melengkung berwarna merah. Hebat sekali obat itu. Dalam waktu bebeberapa menit saja semua daging, tulang dan pakaian bekas tubuh Im-yang Seng-cu mencair dan hanya menjadi seperempat botol cairan kuning yang kental! Setelah tubuh itu habis sama sekali dan menutup botol dengan sumbat dan menyimpannya, guru dan murid yang aneh itu pergi dari situ.

Tan-siucai atau Tan Ki ini adalah bekas tunangan Hoa-san Kiam-li (Pendekar Pedang Wanita dari Hoa-san) Lu Soan Li murid Im-yang Seng-cu. Dia tinggal di Nan-king. Setelah dia mendengar akan kematian tunangannya yang dicinta dan dibanggakan, pemuda yang sudah tidak berayah ibu ini lalu pergi merantau.

Dendam dan sakit hati membuat dia seperti gila dan akhirnya secara kebetulan dia berjumpa dengan kakek dari Nepal yang bernama Maharya itu yang kemudian mengambilnya sebagai murid. Kakek Maharya, seorang sakti dari Nepal, tidak hanya tertarik kepada Tan-siucai karena melihat bakat pada diri pemuda itu, juga tertarik mendengar kisah pemuda itu yang menaruh dendam kepada Pendekar Siluman.

Di samping ini, sebagai seorang asing yang baru datang ke Tiong-goan, dia membutuhkan seorang pembantu dan pengajar bahasa. Sebagai seorang sastrawan, tentu saja pemuda itu merupakan seorang guru bahasa yang baik.

Demikianlah selama bertahun-tahun Tan Ki atau Tan-siucai merantau bersama gurunya, menerima gemblengan ilmu-ilmu silat yang aneh, juga menerima pelajaran ilmu sihir yang merupakan keistimewaan gurunya. Tujuan mereka hanya dua. Pertama memenuhi kebutuhan Maharya, yaitu mencari Sepasang Pedang Iblis, dan kedua memenuhi kebutuhan Tan-siucai, mencari Im-yang Seng-cu dan Pendekar Siluman untuk membalas dendam kematian tunangannya!

Secara tak tersangka-sangka mereka tiba di hutan itu dan hampir saja sekaligus Tan-siucai dapat bertemu dengan dua orang yang dimusuhinya, akan tetapi dia terlambat karena Pendekar Siluman telah meninggalkan tempat itu. Betapapun juga, dia berhasil membunuh seorang musuhnya, yaitu Im-yang Seng-cu yang dahulunya adalah sahabat ayahnya, bahkan orang yang telah mengikatkan jodoh antara dia dan Lu Soan Li. Akan tetapi, karena jalan pikirannya yang telah gila, Im-yang Seng-cu dianggap biang keladi kematian tunangannya sehingga berhasil dia bunuh secara mengerikan.

**** 013 ****





Tidak ada komentar:

Posting Komentar