Ads

Amazon

Jumat, 23 Januari 2009

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 11

“Dia adalah jahanam Kao Cin Liong!”
Terdengar suara menggeram seperti seekor harimau dan sepasang mata Suma Kian Lee seperti mengeluarkan api ketika dia memandang kepada kedua orang tamunya.
“Hemmmm, pantas Louw-kauwsu menuduhnya jai-hwa-cat dan menyerangnya sampai tewas di tangan keparat itu. Penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa!”
Wan Ceng melangkah maju menghadapi Suma Kian Lee. Semangatnya timbul seketika mendengar puteranya diancam dan mukanya menjadi merah, sikapnya penuh tantangan ketika ia berhadapan dengan Suma Kian Lee.
“Bohong! Aku tidak percaya! Tidak mungkin puteraku melakukan perbuatan hina seperti itu.”
Menghadapi seorang wanita yang nampaknya juga marah sekali itu Suma Kian Lee agak tercengang. Kalau saja yang menentangnya itu Kao Kok Cu, tentu sudah diserangnya, akan tetapi dia tidak mungkin mau menyerang seorang wanita, apalagi wanita itu Wan Ceng yang pernah menghuni dalam hatinya. Akan tetapi Kim Hwee Li yang tadi merangkul anaknya, mendengar ucapan Wan Ceng itu, meloncat dan menghadapi wanita itu.
“Keterangan anakku kau katakan bohong?” bentaknya marah.
“Kalau tidak bohong ia tentu salah lihat!” Wan Ceng membantah “Suma Hui, apakah engkau benar-benar berani sumpah melihat sendiri bahwa yang melakukan perbuatan terkutuk itu adalah Cin Liong?”
“Kamar gelap, aku tidak dapat melihat wajahnya, akan tetapi suaranya.... dan bicaranya.... dia adalah Kao Cin Liong, tak salah lagi.”
“Fitnah....!” Wan Ceng membentak.
“Wan Ceng! Kao Kok Cu! Kalian dua orang tua yang tak tahu malu, tidak becus mendidik anak, sehingga melakukan perbuatan hina terhadap anak kami yang malang dan sekarang kalian malah hendak menuduh anakku membohong? Untuk apa anakku membohong? Sungguh tak tahu malu!” Kim Hwee Li marah sekali dan ia sudah menerjang maju untuk menampar muka Wan Ceng. Akan tetapi, wanita ini tentu saja tidak mau ditampar dan cepat iapun sudah menangkis dan membalas dengan menampar pula.
“Dukkk....! Wuiiitttt!” Balasan tamparan itu luput karena dielakkan oleh Kim Hwee Li dan tumbukan kedua lengan mereka itu membuat keduanya terdorong ke belakang. Kim Hwee Li sudah menerjang lagi, kini mengirim pukulan-pukulan berantai yang dahsyat.
Namun lawannya bukanlah seorang wanita biasa. Isteri dari Naga Sakti Gurun Pasir itu dapat mengelak, menangkis bahkan membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Kim Hwee Li kehilangan lawannya.
Kiranya tubuh Wan Ceng telah disambar oleh suaminya dan dibawa keluar lapangan perkelahian itu dan kini pendekar lengan satu itu menjura dengan sikap tenang.
“Segala urusan dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah. Mempergunakan kekerasan bukanlah jalan baik untuk mengatasi persoalan. Kami berdua datang karena tidak mengetahui adanya persoalan itu, kalau kami tahu tak mungkin kami berani datang sebelum membikin terang persoalan ini. Juga agaknya kedua paman dan bibi baru tahu sekarang. Tidak mungkin putera kami melakukan perbuatan tidak senonoh itu, juga agaknya tidak mungkin kalau puteri paman berdua bicara bohong. Oleh karena itu, tentu ada apa-apa di balik semua ini, rahasia inilah yang harus diselidiki dan dipecahkan.”
Melihat sikap pendekar sakti itu yang mengalah, sabar dan tenang, Suma Kian Lee juga menahan dirinya, walaupun hatinya sudah terbakar oleh pengakuan puterinya bahwa puterinya telah diperkosa oleh Cin Liong.
“Kalian sebagai orang tua tentu dapat merasakan bagaimana hebatnya penderitaan kami mendengar pengakuan puteri kami. Tepat seperti dikatakan puteri kami tadi, penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa, aib ini harus dicuci dengan darah!”
“Hemm, paman Suma Kian Lee. Kao Cin Liong masih mempunyai ayah ibu, dan kami sebagai orang tuanya berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Akan tetapi benarkah dia melakukan perhuatan itu? Hal ini yang harus kami selidiki lebih dahulu. Kalau memang benar putera kami yang melakukan perbuatan biadab itu, kami berani mempertanggungjawabkannya dan kami yang akan menghukumnya.” Berkata demikian, pendekar berlengan satu ini saling pandang dengan isterinya dan wajah keduanya menjadi merah. Teringatlah oleh pendekar ini betapa dahulu, di waktu mudanya, karena rangsangan racun, dia sendiripun melakukan pemerkosaan atas diri Wan Ceng yang kini menjadi isterinya. Apakah ada sesuatu yang mendorong putera mereka melakukan perbuatan yang sama? Apakah ini hukum karma? Ataukah ada hal-hal yang serba rahasia di balik ini? Bagaimanapun juga, mereka menjadi prihatin sekali.
Setelah menjura ke arah fihak tuan rumah tanpa dibalas, Kao Kok Cu lalu menarik lengan isterinya yang masih marah-marah itu dan meninggalkan rumah keluarga Suma. Betapa jauh bedanya dengan ketika mereka datang tadi. Tadi mereka datang dengan gembira dan dengan hati mengandung penuh harapan. Kini mereka pergi dengan hati sedih, penasaran dan juga marah.
Setelah kedua orang itu pergi, Suma Hui lalu menangis dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
“Aku akan membunuhnya.... aku akan membunuhnya....!” Hatinya hancur berkeping-keping. Ia mencinta Cin Liong, bahkan sampai saat itupun ia tidak dapat melupakan pemuda itu. Akan tetapi, pemuda itu telah menghancurkan semua harapan dan kebahagiaannya dengan perbuatan yang keji itu! Kim Hwee Li dapat merasakan kehancuran hati anaknya, maka ibu inipun merangkulnya sambil menangis pula.
Suma Kian Lee terduduk dengan muka pucat dan tubuh lemas. Tak disangkanya telah terjadi malapetaka seperti itu! Kini jelas tak mungkin puterinya menjadi jodoh Cin Liong yang masih keponakan puterinya sendiri itu. Akan tetapi, bagaimana mungkin pula puterinya dapat melanjutkan perjodohannya dengan Tek Ciang setelah dirinya ternoda?
Bagaimana dia dapat menyampaikan hal itu kepada pemuda itu? Dan bagaimana pula kalau Tek Ciang menolak? Dia merasa pening memikirkan hal ini dan hatinya semakin jengkel melihat isteri dan puterinya bertangisan.
“Kalau kalian hendak bertangisan, ajaklah ia ke kamarnya dan biarkan aku sendiri di sini. Ciang Bun, keluarlah engkau!” kata pendekar itu dengan wajah lesu.
Kim Hwee Li mengerti bahwa suaminya sedang menahan nafsu amarah yang menggelora, maka iapun lalu menuntun puterinya masuk ke kamar Suma Hui di mana gadis itu melempar diri di atas pembaringan dan menangis sesenggukan, dipeluk oleh ibunya. Sedangkan Ciang Bun, dengan tubuh terasa lesu, pergi ke taman belakang di mana dia melihat Tek Ciang duduk termenung seorang diri. Dia menahan langkahnya dan memandang pemuda itu dari belakang. Sampai sejauh manakah pengetahuan Tek Ciang tentang encinya itu? Bukankah ketika ayah ibunya pergi mencarinya, di rumah ini hanya ada encinya, pelayan dan Tek Ciang? Tentu pemuda yang menjadi suhengnya itu tahu, atau setidaknya mengetahui hal-hal yang ada hubungannya dengan peristiwa itu. Dia sendiri masih belum dapat percaya begitu saja bahwa Cin Liong telah melakukan hal yang sedemikian rendahnya. Memperkosa encinya! Dia mengenal betul jenderal muda itu, seorang pendekar yang gagah perkasa, yang telah membela Pulau Es mati-matian, bahkan telah menyelamatkan encinya dari malapetaka ketika encinya dilarikan oleh penjahat keji Jai-hwa Siauw-ok. Mana mungkin kemudian Cin Liong sendiri yang memperkosa encinya? Akan tetapi, diapun tahu bahwa encinya adalah seorang yang keras hati dan jujur, yang sampai mati rasanya tidak akan mau membohong. Kalau encinya mengatakan dengan yakin bahwa pemerkosanya adalah Cin Liong, maka hal itupun sukar untuk diragukan lagi. Sungguh membingungkan!
Tek Ciang agaknya merasa akan kedatangannya, karena pemuda itu menoleh dan begitu melihat Suma Ciang Bun, dia bangkit dari bangku taman.
“Ah, sute, apakah tamunya sudah pulang?”
Ciang Bun masih termenung dan hanya mengangguk.
“Siapakah tamunya, sute?”
“Tamunya adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya dan mereka datang untuk meminang enci Hui!” Suma Ciang Bun berkata dengan tegas sambil menatap wajah suhengnya itu dengan tajam. “Mereka meminang enci Hui untuk dijodohkan dengan Cin Liong.”
“Ahhh....!” Pemuda itu nampak terkejut akan tetapi tidak berkata apa-apa, hanya alisnya berkerut tanda bahwa hatinya tidak senang. Ciang Bun mengerti bahwa tentu suhengnya ini tidak suka kepada Cin Liong karena Cin Liong telah menyebabkan kematian ayahnya.Ciang Bun lalu menghampiri suhengnya.
“Suheng, mari kita duduk, aku ingin bicara denganmu.”
Tek Ciang duduk kembali. Mereka duduk berdampingan dan Tek Ciang memandang wajah sutenya dengan heran.
“Bicara apakah, sute?”
”Tentang.... Cin Liong!”
“Ada apa dengan.... dengan Kao-taihiap?”
“Dia telah membunuh ayahmu, bukan? Apakah engkau telah bicara dengan dia setelah peristiwa matinya ayahmu?”
Pemuda itu menarik napas panjang, nampak bersedih.
“Sudah, dan Kao-taihiap mengakui telah berkelahi dengan mendiang ayah. Dia diserang oleh ayah dan dia hanya membela diri saja. Tentu saja ayah bukan tandingannya dan.... dan menurut keterangan Kao-taihiap, ayah.... membunuh diri setelah kalah.”
“Engkau percaya akan keterangan itu?”
“Bagaimana tidak? Dia adalah seorang pendekar sakti, seorang jenderal malah.”
“Engkau tidak mendendam?”
Tek Ciang nampak bingung.
“Tentu saja aku berduka sekali karena kematian ayah, akan tetapi akupun tidak dapat menyalahkan Kao-taihiap karena dia lebih dahulu diserang oleh ayah, yang menyangkanya seorang jai-hwa-cat yang berkeliaran di kota ini.
“Apakah engkau percaya bahwa Cin Liong pantas menjadi jai-hwa-cat, suheng?”
“Apa....? Ah, entahlah, sute, aku menjadi bingung....”
Hening sejenak. Suma Ciang Bun memutar otaknya bagaimana untuk dapat membongkar rahasia terpendam yang mungkin diketahui oleh suhengnya ini, sedangkan Tek Ciang bersikap waspada, kini tidak gugup lagi dan dia sudah bersiap-siap untuk menghadapi semua pertanyaan sutenya.
“Louw-suheng, dahulu sebelum kami pulang, engkau seoranglah yang menemani enci Hui di rumah. Maukah engkau menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya?”
Diam-diam Tek Ciang terkejut dan dia memandang kepada sutenya yang masih remaja dan yang sikapnya halus itu dengan curiga di hati. Akan tetapi dia mengangguk tanpa menjawab.
“Suheng, apakah engkau melihat terjadinya sesuatu yang aneh antara enci Hui dan Cin Liong?”
“Sesuatu yang aneh? Apakah yang kaumaksudkan, sute?”
“Ketika Cin Liong datang berkunjung ke sini, bagaimanakah hubungan antara mereka?”
“Baik sekali! Mereka kelihatan akrab sekali, dan sikap Kao-taihiap amat manis.”
“Suheng, kenana engkau menyebutnya Kao-taihiap? Tidak tahukah engkau bahwa dia adalah keponakanku? Jadi dapat disebut murid keponakanmu juga!”
Wajah Tek Ciang menjadi merah dan dia tersenyum.
“Ah, bagaimana mungkin aku berani menyebutnya sebagai keponakan apalagi murid keponakan? Usianya lebih tua dariku dan ilmu kepandaiannya jauh melebihi aku.”
“Dan dia sendiri menyebut apa padamu, suheng?”
“Itulah yang membuat hatiku tidak enak sekali, sute. Dia menyebut susiok kepadaku!”
Tek Ciang tersenyum malu-malu dan Ciang Bun terpaksa tertawa juga. Memang aneh kalau seorang pendekar sakti seperti Cin Liong itu menyebut susiok (paman guru) kepada Tek Ciang. Sungguh merupakan keadaan yang terbalik, melihat usianya maupun tingkat kepandaiannya.
“Sekarang harap kaujawab sebenarnya, suheng. Pernahkah engkau melihat mereka bertengkar?”
Ditanya demikian, Tek Ciang menjadi ragu-ragu dan agaknya merasa sungkan sekali untuk menjawab. Hal ini memang disengaja sehingga dia nampak seolah-olah merasa tidak enak hati kalau harus menceritakan sesuatu yang hendak dirahasiakan. Ciang Bun yang masih hijau dalam hal menilai sikap orang tentu saja menjadi tertarik.
“Suheng, katakanlah. Engkau sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Kalau ada terjadi sesuatu, sepatutnya kalau suheng berterus terang kepada kami. Kalau suheng tidak berani bicara kepada ayah, katakanlah saja kepadaku dan aku yang akan menyampaikan kepada ayah. Apakah pernah terjadi pertengkaran antara enci Hui dan Cin Liong?”
Tek Ciang menarik napas panjang sebelum menjawab, seolah-olah dia terpaksa untuk bicara.
“Apa boleh buat, mungkin engkau benar, sute, bahwa aku harus menceritakan segala yang kuketahui. Sesungguhnyalah, aku pernah melihat mereka berkelahi!”
“Berkelahi?”
“Sehenarnya bukan berkelahi, melainkan sumoi yang menyerang Kao-taihiap mati-matian dengan pedangnya, dan Kao-taihiap hanya menghindarkan semua serangan itu. Terjadi pada pagi hari dan akhirnya Kao-taihiap melarikan diri dan dikejar oleh sumoi. Aku mencoba melerai akan tetapi dengan kepandaianku yang tidak seberapa, aku dapat berbuat apa? Tak lama kemudian sumoi kembali dan agaknya ia tidak berhasil menyusul Kao-taihiap yang amat lihai itu.”
“Hemm, begitukah? Apakah enci Hui menyerang sungguh-sungguh? Ataukah hanya main-main saja ataukah hanya untuk menguji?”
“Kurasa sungguh-sungguh, sute, karena aku melihat sumoi marah sekali dan benar-benar ia bermaksud hendak membunuh Kao-taihiap.”
“Hemm, sungguh aneh. Apa sebabnya enci Hui marah-marah dan hendak membunuhnya?”
Tek Ciang menggeleng kepala dan wajahnya kelihatan seperti orang menyesal dan ikut bersedih.
“Aku tidak tahu mengapa, sute. Ketika kutanya, sumoi juga tidak mau menceritakan.”
“Apakah tidak terjadi sesuatu di rumah ini pada malam hari sebelumnya?” Tek Ciang menggeleng kepala.
“Malam itu engkau berada di mana, suheng?”
“Aku? Ah, aku meronda keliling kota. Aku hendak menyelidiki jai-hwa-cat yang tadinya dicari-cari oleh mendiang ayah. Dan aku melihat Kao-taihiap berkelahi melawan seorang yang amat lihai. Mereka sama-sama lihai sehingga aku yang menonton dari tempat persembunyian tidak dapat membedakan mana Kao-taihiap dan mana lawannya.
Akhirnya mereka berkejaran dengan amat cepat. Aku ikut mengejar akan tetapi tertinggal jauh dan malam itu aku mencari-cari tanpa hasil. Menjelang pagi baru aku pulang. Hanya itulah yang kuketahui, sute. Akan tetapi, sute bertanya-tanya ini, sebenarnya ada terjadi apakah? Aku sendiri bertanya-tanya dalam hati mengapa sumoi begitu membenci Kao-taihiap dan hendak membunuhnya, padahal tadinya hubungan mereka sedemikian akrabnya?”
Kini Ciang Bun yang menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.
“Tidak tahulah, suheng, tidak tahulah....” dan pemuda remaja inipun meninggalkan suhengnya dengan hati yang tidak puas karena semua keterangan Tek Ciang itu tidak membuat terang persoalannya. Benarkah Cin Liong melakukan perbuatan yang demikian keji, memperkosa encinya, kemudian setelah mereka bertemu pagi itu, encinya lalu mati-matian menyerangnya? Dia menjadi bingung sendiri dan mengepal tinju kalau mengingat akan nasib encinya yang malang.

***
“Sudahlah, Hui-ji. Tahan air matamu dan bersikaplah gagah....” Kim Hwee Li mencoba untuk menghibur hati puterinya.
Suma Hui mengangkat muka memandang kepada ibunya. Wajahnya pucat dan basah air mata, sepasang matanya merah membendul karena tangis. Hati ibu ini hancur rasanya.
Belum pernah puterinya yang keras hati ini menangis seperti ini. Ciang Bun lebih sering menangis daripada encinya di waktu kecil. Bahkan diam-diam ia sering merasa heran mengapa puterinya berhati baja seperti seorang jantan sedangkan puteranya bahkan berhati lembut.
“Ibu.... ibu.... rasanya aku ingin mati saja....”
Mendengar ini, Kim Hwee Li merangkul puterinya dan mereka bertangisan. Baru sekarang Hwee Li benar-benar menangis karena iapun dapat merasakan betapa hancur hati puterinya karena kehilangan keperawanannya, apalagi kalau diingat bahwa yang menodainya itu adalah pria yang dicintanya!
“Aku tahu betapa hancur hatimu, anakku. Akan tetapi engkau adalah seorang wanita gagah, tidak semestinya kalau orang-orang seperti kita ini menghadapi sesuatu dengan tangis. Betapapun besar malapetaka itu, harus kita hadapi dengan gagah! Masih ada pedang kita untuk dapat menebus semua penghinaan yang dilakukan orang atas diri kita, bukan?”
Ucapan ini membangkitkan semangat Suma Hui. Ia bangkit duduk dan menyusut air matanya. Hwee Li membereskan rambut kepala anaknya yang kacau dan kusut. Setelah kedukaan dan keharuan hati mereka mereda, dengan halus Hwee Li lalu berkata,
“Sekarang coba kauceritakan kepadaku apa yang sebenarnya telah terjadi, agar aku dapat ikut memikirkan.”
Suma Hui lalu menceritakan semua yang telah dialaminya pada malam jahanam itu. Karena kini yang mendengarkannya hanya ibunya, ia lebih berani bercerita dengan jelas.
Tentu saja Hwee Li mendengarkan dengan muka merah karena marahnya, dan beberapa kali wanita ini mengepal kedua tinju tangannya dan mengeluarkan suara kutukan perlahan. Setelah puterinya selesai bercerita, ia bertanya.
“Begitu gelapkah cuaca malam itu dalam kamar sehingga engkau tidak mengenali wajahnya?”
“Selain gelap sekali, juga kepalaku masih pening oleh pengaruh obat bius itu, ibu.”
“Asap yang berbau harum seperti hio?”
“Benar.”
“Itulah dupa harum pembius yang biasa dipergunakan kaum jai-hwa-cat! Sungguh heran sekali bagaimana seorang jenderal muda seperti Cin Liong itu dapat berobah menjadi seorang jai-hwa-cat! Padahal, kalau dia menghendaki, wanita manapun kiranya akan bisa dia dapatkan!”
“Mungkin itu suatu penyakit, ibu! Jahanam itu bukan hanya menodai tubuhku, akan tetapi juga menodai cintaku, menghancurkan kebahagiaan hidupku!”
“Tapi, bagaimana engkau bisa begitu yakin bahwa orang itu adalah Cin Liong?”
“Mana aku bisa salah, ibu. Suaranya sudah kukenal baik, dan bisikan-bisikannya ketika merayu.... ah, ibu.... sungguh dia bukan manusia....” Gadis itu mengusap kedua matanya yang menjadi basah kembali. “Aku.... aku mencintanya, dan diapun kelihatan begitu cinta padaku...., akan tetapi, mengapa dia melakukan perbuatan keji itu terhadapku? Mengapa....? Mengapa, ibu....?” Gadis itu menangis lagi.
Kim Hwee Li hanya duduk bengong terlongong, bingung tak tahu harus menjawab bagaimana. Akan tetapi otaknya bekerja mencari jalan keluar yang baik bagi puterinya yang tertimpa malapetaka itu. Ia tahu bahwa kalau tidak dicarikan jalan yang terbaik, peristiwa ini akan menjadi luka batin yang takkan dapat disembuhkan lagi.
Tiba-tiba ia mendapatkan akal yang dianggapnya cukup baik. Ia sendiri pernah menjadi puteri seorang datuk sesat, biarpun hanya puteri angkat dan iapun pernah menjadi seorang tokoh sesat yang kejam dan liar, bahkan tidak memperdulikan sama sekali apa artinya kegagahan atau jiwa pendekar. Ia baru berobah betul-betul setelah bertemu dengan Suma Kian Lee yang kini menjadi suaminya (bacaKISAH JODOH SEPASANG RAJAWALI ). Apa yang dilakukan oleh Cin Liong itu memang jahat sekali, akan tetapi, bukankah perbuatan itu mungkin mempunyai suatu dasar yang ia tidak mengerti? Apakah dengan perbuatannya itu lalu Cin Liong dianggap seorang manusia yang tidak dapat menjadi baik kembali? Dan mereka saling mencinta! Setelah kini Cin Liong menggauli puterinya dengan paksa, maka jalan satu-satunya hanyalah merangkapkan mereka berdua menjadi suami isteri!
“Anakku, dengarkan baik-baik. Hanya satu jalan untuk menebus penghinaan dan aib yang menimpa dirimu dan keluarga kita, Hui-ji.”
“Aku tahu, ibu! Hanya darah keparat itulah yang mampu mencuci bersih noda ini dan hanya nyawanya sajalah yang mampu menebus penghinaan ini!”
“Bukan, ada jalan yang lebih baik lagi, anakku. Dengar, bukankah engkau amat mencintanya?”
“Itu dulu sebelum....”
“Dan diapun mencintamu....?”
“Aku tidak percaya lagi! Kalau dia mencinta, tak mungkin dia melakukan....”
“Perbuatannya itu tentu terdorong oleh sesuatu, anakku. Akan tetapi, apapun yang mendorongnya, hal itu sudah terjadi dan satu-satunya jalan untuk membersihkan namamu dan nama keluarga kita hanyalah kalau engkau menjadi isteri Cin Liong....”
“Tidak....! Tidak....!”
“Mengapa tidak? Dengar, aku akan memaksa pihak keluarga Kao untuk menerimamu sebagai mantunya. Kalau mereka menolak, aku akan mengamuk dan menganggap mereka semua sehagai musuh besar dan aku akan menyatakan perang antara keluarga Suma dan keluarga Kao! Cin Liong hanya dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahimu....”
“Tidak....! Sekali lagi tidak, ibu. Lebih baik mati bagiku daripada harus menjadi isteri seorang jahanam keparat yang telah memperkosaku! Tanggung jawab jahanam itu hanyalah kematiannya. Cintaku sudah hancur dan berobah benci oleh perbuatannya yang keji itu!”
“Tapi, ini demi membersihkan noda dan aib yang menimpa dirimu! Demi membersihkan nama keluarga kita.”
“Tidak, aku harus mencarinya dan aku akan membunuhnya. Setelah itu, akupun tidak mau lagi hidup lebih lama di dunia ini.”
“Jangan bodoh. Kepandaiannya amat tinggi, engkau bukan lawannya!”
“Kalau begitu, biar aku mati di tangannya. Diapun sudah membunuhku sekarang ini, membunuh cintaku, membunuh kebahagiaanku, membunuh harapanku....!”
“Hui-ji! Yangan putus asa seperti itu, anakku....!” Kim Hwee Li merangkul dan hatinya berduka sekali. Akan tetapi ia maklum bahwa dalam keadaan yang masih panas ini, akan sukarlah membujuk hati Suma Hui. Ia harus bersabar menanti sampai beberapa lama.
Mungkin kalau kemarahan anak itu sudah mereda dan kepalanya sudah agak dingin, ia akan mau mengerti dan dapat diajak berunding mengenai masalah yang mereka hadapi.
Manusia telah kehilangan cinta kasih di dalam hidupnya. Seperti cinta Suma Hui terhadap Cin Liong, dalam seketika dapat saja berobah menjadi kebencian yang amat mendalam, kebencian yang hanya akan terpuaskan kalau ia dapat membunuh orang yang dibencinya. Tanpa kita sadari, kita sekarangpun hanya memiliki cinta yang macam ini saja. Kita mencinta seseorang, tanpa kita sadari bahwa cinta kita itu sesungguhnya hanya merupakan jual beli saja. Kita mencinta seseorang karena ada sesuatu pada orang itu yang menyenangkan hati kita. Karena wajahnya mungkin. Karena hartanya. Karena sikapnya yang manis. Karena pandainya. Karena namanya, kedudukannya atau lain hal lagi.
Pendeknya, kita mencinta karena sesuatu yang ada pada dirinya, sesuatu yang menyenangkan kita. Jadi, bukan ORANGNYA yang kita cinta, melainkan sesuatu pada dirinya yang menyenangkan kita itulah. Karena itu, apabila sesuatu yang menyenangkan itu berobah atau hilang, cinta kitapun luntur dan berobah menjadi benci! Karena kalau tadinya kita DISENANGKAN, kini kita merasa DISUSAHKAN. Suma Hui tadinya cinta setengah mati kepada Cin Liong karena di samping segala segi baiknya, juga kebaikan pemuda itu menyenangkan hatinya. Kemudian, karena merasa bahwa pemuda itu memperkosanya, menghinanya, kebaikan itu baginya berobah menjadi keburukan dan kalau tadinya disenangkan, kini ia merasa disusahkan dan karena itu, cintanya yang setengah mati itupun berobah menjadi benci setengah mati!
Yang beginikah cinta kasih? Ataukah ini bukan hanya sekedar cinta berahi saja, atau keinginan memiliki sesuatu yang menyenangkan? Di luar kesadaran kita, kita sendiripun menjadi pencinta-pencinta seperti ini! Kalau kita mau mendiamkan pikiran yang sibuk ini dan merenung, mengamati “cinta” kita terhadap orang-orang yang kita cinta, isteri, suami, pacar, sahabat dan sebagainya, maka akan nampak nyata betapa “mengerikan” wajah dari cinta kita itu.
Sesungguhnyalah, kalau yang kita cinta itu orangnya, maka kita tentu akan mampu menerima orang itu dengan segala baik buruknya, segala cacat celanya, segala kelebihan dan kekurangannya, bukan? Cinta kasih itu sesuatu yang indah, tanpa ukuran, tidak membandingkan, tanpa pamrih, wajar, tanpa hari kemarin atau hari esok. Cinta kasih itu sekarang, saat ini, karenanya langgeng.
Ketika Kim Hwee Li mengajukan pendapatnya agar Suma Hui dijodohkan saja dengan Cin Liong untuk menebus aib yang menimpa keluarga mereka itu, Suma Kian Lee termenung dan mukanya menjadi merah, alisnya berkerut. Sampai lama dia tidak bicara dan dia memikirkan pendapat isterinya itu dengan hati yang tidak karuan rasanya.
Kenyataan bahwa Cin Liong adalah keponakan dari Suma Hui saja sudah membuatnya tidak setuju dan menentang perjodohan itu, apalagi setelah Cin Liong melakukan perbuatan yang demikian keji terhadap Suma Hui. Akan tetapi, pendapat isterinya itu harus diakuinya sebagai jalan keluar yang satu-satunya dan yang terbaik. Kalau Suma Hui menjadi isteri Cin Liong, berarti penghinaan itupun tertebus dan aibpun terhapus.
Hanya satu hal saja yang memberatkan, yaitu bahwa Suma Hui menikah dengan keponakan sendiri. Akan tetapi kalau tidak begitu, puterinya itu akan menderita selama hidupnya sebagai seorang gadis yang ternoda, dan nama keluarga mereka akan tercemar, sedangkan keluarganya sudah pasti akan berhadapan dengan keluarga Kao sebagai musuh besar yang dia sendiri merasa ngeri membayangkan akibatnya kelak. Akan tetapi, masih ada satu jalan lain lagi. Kalau Tek Ciang mau menerima Suma Hui, biarpun gadis itu sudah ternoda! Tentu lebih baik lagi kalau begitu. Aib itu terhapus dan diapun tidak usah malu mendapatkan seorang cucu keponakan sebagai mantu! Dan tentang dendam itu, tentu saja tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa balas.
“Pendapatmu itu baik sekali, akan tetapi hanya merupakan jalan ke dua. Aku masih mempunyai jalan pertama yang lebih baik, yaitu mengawinkan anak kita dengan Tek Ciang. Ingat, dialah tunangan anak kita yang sebenarnya.”
“Tapi....!” Isterinya membantah dengan kaget. “Mana mungkin itu terjadi setelah....?
Apakah dia perlu diberitahu tentang aib itu? Ah, dia tentu menolak dan sebaiknya kalau hal itu tidak diketahui orang lain kecuali keluarga kita sendiri. Kita bisa saja membatalkan pertalian jodoh itu setelah kini ayahnya meninggal.”
Akan tetapi, dengan alis berkerut Suma Kian Lee menggeleng kepalanya.
“Aku tahu bahwa Tek Ciang mempunyai hati yang baik. Dia pasti akan mau mengerti dan akan mau melanjutkan perjodohan itu, apalagi dia telah menjadi muridku yang akan mewarisi ilmu-ilmuku kelak.”
“Apa? Ilmu keluarga kita akan kauwariskan kepada orang lain? Bagaimana dengan Ciang Bun dan Hui-ji?” isterinya bertanya, penasaran.
“Ingat, isteriku. Kalau dia sudah menjadi mantu kita, dia bukan orang lain lagi namanya! Kulihat Ciang Bun tidak memiliki kekerasan hati, dia terlalu lembut bagi seorang pria, dan Hui-ji.... biarlah dia belajar dari suaminya kelak.”
Kim Hwee Li tidak dapat membantah lagi. Dianggapnya percuma saja berbantahan dengan suaminya mengenai persoalan ini, karena iapun mengerti betapa kukuh suaminya memegang peraturan keluarga. Suaminya ini berbeda sekali dengan Suma Kian Bu, yang lebih bebas dan liar, seperti dirinya sendiri dahulu. Akan tetapi ia tidak mengeluh, bahkan watak suaminya itulah yang mampu menundukkannya, mampu menjinakkan keliarannya.
“Terserah kepadamu. Akan tetapi kalau dia menolak?”
“Kalau dia menolak, dia tidak akan mewarisi ilmu-ilmuku, hanya belajar sekedarnya saja, dan barulah kita memperbincangkan usul dan pendapatmu tadi.” Jawaban ini melegakan hati Hwee Li yang mengharapkan pemuda yang tidak begitu disukanya itu tentu menolak dan suaminya akan terpaksa menerima Cin Liong sebagai mantu. Hal ini bukan berarti bahwa ia sendiri lebih senang memilih Cin Liong sebagai mantu, melainkan karena ia tahu bahwa puterinya tidak mencinta Tek Ciang, melainkan mencinta Cin Liong.
Andaikata puterinya mencinta Tek Ciang, ia sendiri tentu tidak keberatan karena yang tidak disukainya akan diri Tek Ciang hanya sikapnya yang terlalu sopan, terlalu merendah dan terlalu kelihatan baik itulah.
“Sekarang juga kita hadapi dia,” kata pula Kian Lee dan dia memanggil Tek Ciang untuk datang menghadap. Suami isteri ini sengaja memilih ruangan dalam untuk mengadakan pembicaraan dengan pemuda itu dan ketika Tek Ciang datang bersama Ciang Bun, Kian Lee segera minta kepada puteranya untuk keluar dari dalam ruangan itu.
“Bun-ji, ayah dan ibumu ingin bicara sesuatu yang penting dengan Tek Ciang, maka biarkanlah kami bertiga sendiri dan larang siapapun juga memasuki ruangan ini tanpa ijin kami,” demikian katanya dengan sikap tegas.
Ciang Bun menoleh sejenak kepada suhengnya, kemudian keluar dari ruangan itu dan segera menemui encinya, yang berada di ruangan belakang.
Dengan jantung berdebar-debar akan tetapi muka tetap tenang dan hormat, Tek Ciang memasuki ruangan itu dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan suhu dan suhonya.
“Bangkitlah dan duduklah di atas kursi itu, Tek Ciang,” kata Kian Lee sambil menunjuk sebuah kursi di seberang meja.
“Teecu tidak berani....”
“Diperintah guru berani membantah masih mengatakan tidak berani?” Kim Hwee Li membentak dan pemuda itu terkejut, lalu bangkit dan duduk di atas kursi itu, berhadapan dengan guru-gurunya terhalang meja. Kikuk sekali rasanya duduk semeja dengan gurunya, apalagi dengan ibu gurunya yang galak, yang sekarang menatap wajahnya dengan penuh perhatian dan seperti orang menyelidik. Kalau saja Hwee Li tahu betapa jantung pemuda tu berdegup keras, tentu ia sendiri akan merasa heran mengapa pemuda ini menjadi begitu gelisah dipanggil menghadap gurunya. Akan tetapi, Tek Ciang memang memiliki keahlian menyembunyikan perasaan hatinya. Wajahnya yang tampan itu nampak tenang saja, penuh rasa hormat.
“Tek Ciang, kami ada urusan penting sekali untuk dibicarakan denganmu.” Kian Lee mulai bicara.
“Teecu siap mendengarkan dan mentaati, suhu,” jawab Tek Ciang dengan sikapnya yang selalu teramat baik itu. Hwee Li mengerutkan alisnya. Kalau ia yang mempunyai murid seperti ini, tentu sudah dijewernya dan dilarangnya bersikap demikian terlalu amat baik yang berbau kepalsuan itu.
“Beginilah, Tek Ciang. Sebelum ayahmu meninggal dunia, antara dia dan aku telah ada suatu perjanjian mengenai dirimu. Apakah ayahmu pernah bercerita tentang hal itu kepadamu?”
Tek Ciang tahu betapa kedua orang itu, terutama sekali subonya, memandang kepada wajahnya dengan sinar mata penuh selidik, maka dia menarik muka bodoh seperti orang yang benar-benar tidak tahu-menahu apa-apa dan dia menggeleng kepala.
“Teecu tidak pernah diceritakan apa-apa oleh mendiang ayah, suhu.”
“Bagus! Sudah kuduga bahwa ayahmu tentu akan memegang dan memenuhi janjinya kepadaku. Karena ayahmu meninggal tanpa kita duga sama sekali, sekarang aku terpaksa yang memberitahu kepadamu tentang janji kami itu. Ayahmu dan aku telah mengikatkan perjodohan antara anakku Suma Hui dan engkau, Tek Ciang.” Berkata demikian, Suma Kian Lee menatap wajah yang tampan itu dan di sampingnya, Kim Hwee Li juga memandang dengan penuh perhatian. Demikian pandainya Tek Ciang bersandiwara sehingga dia mampu membuat wajahnya nampak kaget sekali, agak pucat, kemudian berobah merah dan dia menundukkan mukanya, tidak berani memandang kepada suhunya atau subonya! Sungguh seperti seorang perjaka tulen yang masih hijau mendengar dirinya akan dikawinkan!
Melihat ini, Suma Kian Lee bertanya.
“Bagaimana tanggapanmu tentang janji ikatan kami itu, Tek Ciang?”
“Apa.... apa yang dapat teecu katakan, suhu? Apa lagi selain rasa terima kasih dan keharuan yang sedalamnya bahwa suhu dan subo sudah begitu baik terhadap diri teecu? Teecu tidak mungkin dapat membalas kebaikan ini dan biarlah kelak pada lain penjelmaan teecu akan menjadi anjing atau kuda peliharaan suhu berdua....”
Kalau tidak ada suaminya di situ, tentu Kim Hwee Li akan tertawa geli mendengar ucapan pemuda ini yang mengingatkan ia akan adegan sandiwara wayang saja!
Betapapun juga, diam-diam ia mengagumi pemuda ini yang amat pandai membawa diri dan pandai pula mengatur kata-kata menyenangkan hati orang.
“Jadi engkau setuju menjadi calon jodoh Suma Hui?” tanya pula Kian Lee menegaskan.
Tiba-tiba Tek Ciang menjatuhkan diri berlutut terhadap mereka dan menangis! Kim Hwee Li tadinya sudah hendak menggunakan kepandaian untuk melempar kembali pemuda yang berlutut itu ke atas kursinya, akan tetapi melihat pemuda itu menangis dan bercucuran air mata, iapun tercengang.
“EH, kenapa engkau menangis?” bentaknya heran sedangkan Suma Kian Lee juga memandang dengan heran.
“Teecu.... teecu adalah seorang anak yatim piatu yang tak berguna.... akan tetapi di dunia ini muncul ji-wi suhu dan subo yang begini baik terhadap diri teecu.... ah, teecu tidak dapat menahan keharuan hati teecu....”
Agak terharu juga hati Hwee Li. Apakah selama ini ia terlalu memandang ringan kepada anak ini? Apakah benar-benar anak ini memang merupakan seorang pemuda yang pandai membawa diri, sopan santun, mengenal budi orang dan berhati lembut dan berbudi luhur?
“Tek Ciang, engkau duduklah kembali dan dengarkan kata-kataku lebih lanjut. Belum habis aku bicara dan ada hal-hal yang lebih penting lagi untuk kaudengar selanjutnya.”
Suara Kian Lee terdengar penuh kegelisahan dan pemuda itu menyusut air matanya dan duduk kembali, sambil menundukkan muka. Pipinya masih basah dan matanya agak merah.
“Jadi engkau setuju menjadi calon suami anak kami?” tanya Kian Lee.
“Teecu berterima kasih sekali dan merasa terhormat sekali tentu saja teecu setuju dengan sepenuh hati teecu.”
“Baik, sekarang dengarkan hal yang amat penting. Kami bukanlah orang-orang curang seperti pedagang yang menjual kucing dalam karung. Kami akan bicara sejujurnya dan kemudian terserah kepadamu untuk mengambil keputusan. Kami hanya menghendaki kepastian bahwa kalau engkau menjadi mantu kami, engkau bukannya karena terpaksa melainkan karena suka rela. Mengertikah engkau, Tek Ciang?”
“Teecu mengerti dan siap mendengarkan.”
“Tek Ciang, menurut penuturan Ciang Bun, engkau tahu bahwa sumoimu, atau juga tunanganmu itu, pernah menyerang dan hendak membunuh Cin Liong. Benarkah itu?”
“Benar, suhu. Teecu mencoba melerai namun tidak berhasil.”
“Tahukah engkau mengapa tunanganmu itu menjadi marah, membenci dan hendak membunuh Cin Liong pada pagi hari itu?” tanya pula Kian Lee, suaranya lirih.
“Teecu tidak tahu dan sudah lama teecu bertanya-tanya di hati. Sumoi juga tidak mau memberitahu kepada teecu.”
Suara Suma Kian Lee semakin lirih dan agak gemetar ketika dia bicara lagi,
“Malam itu ada seorang jai-hwa-cat memasuki kamar sumoimu dan jai-hwa-cat itu ternyata adalah Kao Cin Liong dan....”
“Ahhh....!” Pemuda itu terbelalak, mukanya pucat.
“....dan.... dan sumoimu terkena asap pembius dan.... sumoimu diperkosa olehnya....”
“Tidak....! Jahanam itu....! Keparat keji itu....! Teecu bersumpah akan membunuhnya kalau teecu ada kemampuan!” Kini Tek Ciang bangkit berdiri, mukanya merah sekali penuh geram, matanya mengeluarkan sinar berapi dan kedua tangannya dikepal kuat-kuat. Kim Hwee Li melihat ini semua dan Suma Kian Lee juga.
“Tenang dan duduklah, Tek Ciang. Bukan itu yang penting bagi kami,” kata pendekar sakti itu.
“Maaf, suhu....” Tek Ciang lemas kembali dan duduk, mukanya masih keruh dan bengis membayangkan kebencian yang mendalam.
“Tek Ciang, setelah engkau mengetahui bahwa sumoimu, tunanganmu itu kini telah ternoda, apakah.... apakah engkau masih mau untuk melanjutkan ikatan perjodohan ini? Apakah engkau masih mau menerima Suma Hui menjadi calon isterimu?” Di dalam suara pendekar itu terkandung kegelisahan yang membuat hati isterinya terharu. Hwee Li tahu bahwa kalau pemuda ini menolak, suaminya tidak akan dapat berbuat sesuatu dan tentu suaminya akan mengalami kehancuran hati yang hebat. Maka, biarpun tadinya ia ingin pemuda ini menolak saja agar ia dapat mengusahakan perjodohan antara putrinya dan Cin Liong, kini hatinya bercabang. Kalau pemuda ini nenolak, perasaan suaminya akan hancur dan ia sendiri akan ikut merasa berduka. Sebaliknya kalau pemuda ini menerima, ia akan ikut membujuk Suma Hui agar mau menjadi calon isteri Tek Ciang. Tidak ada jalan lain yang lebih baik!
Hening sejenak, kemudian terdengar suara Tek Ciang, lantang dan tegas,
“Kenapa teecu tidak mau, suhu? Kejadian terkutuk itu bukanlah kesalahan sumoi, melainkan kesalahan manusia terkutuk itu. Tentu saja teecu mau melanjutkan ikatan perjodohan ini dan mau menerima sumoi sebagai calon isteri teecu.”
Wajah Suma Kian Lee yang tadinya keruh itu seketika menjadi berseri dan diam-diam Hwee Li juga merasa terharu. Pemuda ini memang benar-benar tidak mengecewakan!
Pemuda yang berhati lapang, berpemandangan luas dan bijaksana. Ya, bijaksana! Jarang ada pemuda seperti ini.
“Terima kasih, Tek Ciang! Engkaulah yang telah dapat menerangkan persoalan yang mengeruhkan hati kami sekeluarga. Engkaulah yang telah menjadi penolong kami dan menghapuskan aib dari nama kami. Engkau tidak akan menyesal, Tek Ciang, karena dengan demikian, aku telah menentukan sejak saat ini bahwa kelak engkau yang akan mewarisi ilmu keluarga kami!” Ucapan Suma Kian Lee keluar dari hati yang setulusnya dan Tek Ciang kelihatan gembira sekali, lalu pemuda ini kembali menjatuhkan dirinya berlutut.
“Terima kasih, suhu, terima kasih!”
Hwee Li kini tidak lagi ingin melempar pemuda itu ke kursinya. Ia malah bangkit dan menyentuh pundak pemuda itu.
“Anak bodoh, apakah engkau masih juga menyebut suhu kepada ayah mertuamu?”
“Tek Ciang, bangkit dan duduklah kembali,” kata Suma Kan Lee.
Tek Ciang bangkit dan duduk, mukanya merah karena malu mendengar ucapan subonya tadi, malu akan tetapi girang. Subonya yang biasanya bersikap galak itupun kini bersikap manis kepadanya!
“Suhu dan subo, teecu belum berani lancang merobah sebutan sebelum teecu yakin betul bahwa sumoi akan.... akan mau.... menjadi....” Dia tidak melanjutkan dan menundukkan mukanya kembali.
Hwee Li saling pandang dengan suaminya dan ucapan pemuda itu seperti mengingatkan dan menyadarkan mereka! Sungguh mereka hampir lupa bahwa orang yang bersangkutan bahkan belum tahu. Bagaimana mereka dapat memastikan kalau Suma Hui belum diberi tahu dan belum ditanya pendapatnya? Membayangkan kemungkinan puterinya menolak, Suma Kian Lee sudah marah. Anak perempuan itu sungguh mendatangkan banyak pusing saja. Petama jatuh cinta kepada keponakan sendiri, ke dua peristiwa perkosaan itu, dan kalau sampai sekarang menggagalkan segala-galanya dengan menolak perjodohannya dengan Tek Ciang, dia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
“Panggil dia ke sini sekarang juga!” katanya memerintah kepada Tek Ciang.
“Baik, suhu.” Pemuda itu lalu keluar dengan cepat mencari Suma Hui. Dia mendapatkan sumoinya itu sedang duduk di ruangan belakang bercakap-cakap dengan Ciang Bun.
“Sumoi, suhu memanggilmu agar menghadap sekarang juga,” katanya dengan sikap halus seperti biasa, sama sekali tidak memperlihatkan perobahan sehingga Suma Hui tidak mencurigai sesuatu.
“Ada urusan apakah ayah memanggilku, suheng?”
“Suhu tidak memberitahu, hanya minta sumoi datang menghadap sekarang juga. Suhu dan subo menanti di ruangan dalam,” jawab Tek Ciang dengan suara biasa.
Suma Hui saling bertukar pandang dengan adiknya, mengerutkan alisnya, menarik napas panjang lalu bersama Tek Ciang masuk ke dalam. Tadi ia sudah mendengar dari Ciang Bun bahwa ayah ibunya berada di dalam ruangan dalam bertiga saja dengan Tek Ciang, agaknya membicarakan sesuatu yang amat penting sehingga ayahnya memerintahkan Ciang Bun untuk keluar dan tidak memperkenankan siapapun juga masuk tanpa ijin.
Selain itu, Ciang Bun juga menceritakan kepadanya tentang cerita Tek Ciang kepada adiknya itu dan ia dapat melihat bahwa suhengnya itu memang baik sekali. Dan kini suhengnya disuruh memanggilnya menghadap orang tuanya!
Agak berdebar jugalah hati Suma Hui melihat wajah ayah bundanya yang serius, bahkan ibunya kini juga nampak serius dan pendiam sekali, tidak seperti biasa terhadap dirinya.
Ia dapat menduga bahwa yang akan dibicarakan tentulah hal yang teramat penting.
“Duduklah di situ, Hui-ji,” kata Suma Kian Lee menunjuk ke kursi di samping kiri Tek Ciang.
Suma Hui duduk tanpa mengeluarkan kata-kata.
“Hui-ji, ketahuilah engkau bahwa lama sebelum Tek Ciang kuterima menjadi muridku, diantara ayahnya, yaitu mendiang Louw-kauwsu dan aku telah ada perjanjian untuk mengikat keluarga kami berdua dengan perjodohan antara engkau dan Tek Ciang....”
“Ayah....!”
“Dengar dulu!” Ayahnya memotong dan Suma Hui menunduk sebentar, lalu mengangkat muka lagi, dengan muka pucat akan tetapi sepasang mata menentang ia memandang ayahnya.
“Hal itu hanya kami berdua yang mengetahui, bahkan Tek Ciang pun baru tadi kuberitahu tentang perjodohan itu. Memang belum kami resmikan karena tadinya aku hendak menanyakan lebih dulu pendapatmu.”
Legalah hati Suma Hui. Kiranya ayahnya tidaklah begitu lancang mengikatkan dirinya menjadi calon isteri orang tanpa bertanya kepadanya.
“Perlu apa dibicarakan lagi, ayah? Hal itu sudah berlalu dan kini tidak mungkin dilanjutkan!” katanya singkat, dengan maksud agar ayahnya mengerti bahwa setelah dirinya ternoda, mana mungkin ia dijodohkan dengan orang? Hal itu berarti akan mencemarkan nama sendiri karena akhirnya akan ketahuan bahwa ia bukanlah perawan lagi dan tentu akan menimbulkan keributan dan mengakibatkan tercemarnya nama dan kehormatan keluarga Suma. Sama dengan membongkar dan memperlihatkan aib sendiri.
“Hui-ji, dengarkan baik-baik. Tek Ciang bukanlah orang lain. Selain dia calon suamimu, juga dia adalah muridku yang akan mewarisi semua ilmu keluarga kita. Oleh karena itu, akupun telah terang-terangan menceritakan kepadanya tentang malapetaka....”
“Ayah....!” Kembali Suma Hui menjerit dan sekali ini mukanya menjadi pucat sekali.
Akan tetapi Suma Kian Lee mengangkat tangan kanan ke atas menyuruhnya tenang.
“Tenang dan lapangkan dadamu, anakku. Tek Ciang bukanlah seorang manusia busuk. Dia adalah seorang gagah yang dapat menghadapi kenyataan yang betapa pahitpun juga. Dia tidak menyalahkanmu, Hui-ji. Manusia keparat itulah yang terkutuk dan dia memaklumi keadaanmu, dan dia dengan suka rela hati suka menerimamu menjadi calon isterinya dan melupakan hal yang telah terjadi.”
“Tidak mungkin....!” kata Suma Hui.
“Hui-ji, ingatlah. Urusan itu telah terlanjur diketahui Tek Ciang dan dengan bijaksana dia mau melanjutkan perjodohan itu. Seharusnya engkau berterima kasih. Bukankah itu merupakan jalan terbaik untuk menghapus noda dan aib dari nama keluarga kita? Bukankah engkau sendiri menolak jalan lain yang kutawarkan kepadamu? Nah, hanya inilah jalannya, bahwa engkau harus menjadi isteri Louw Tek Ciang, seorang isteri yang terhormat.”
Suma Hui menjadi bengong, tidak tahu harus berkata bagaimana. Tentu saja ia dapat melihat kebenaran kata-kata ibunya. Noda dan aib pada dirinya akan terhapus kalau ia menjadi isteri terhormat dari seorang pemuda, dan pemuda seperti Louw Tek Ciang bukan pilihan yang buruk. Apalagi bagi seorang yang telah kehilangan kehormatannya sepertinya itu! Tapi.... tapi.... ia mencinta Cin Liong! Bahkan setelah apa yang terjadi, biarpun ia sudah membenci Cin Liong, rasanya tidak mungkin ada pria lain yang menggantikan Cin Liong di dalam hatinya menjadi teman hidup di sisinya.
“Ohh, ibuuuu....!” Ia menubruk pangkuan ibunya dan menangis. Ibunya merangkulnya, ikut menangis dan membiarkan saja puterinya menangis terisak-isak sampai akhirnya Suma Hui dapat menguasai dirinya. Ia menyusut air matanya, lalu bangkit dan duduk kembali.
“Ayah, ibu.... sebenarnya ada satu saja cita-cita di dalam sisa hidupku, yaitu membunuh Kao Cin Liong.”
“Aku akan membantumu, sumoi!” tiba-tiba Tek Ciang berkata penuh semangat.
Suma Hui menoleh dan memandang kepada suhengnya atau tunangannya yang duduk di sebelah kanannya itu, lalu mendengus. “Engkau jangan ikut campur urusanku ini!”
Ucapannya keluar dengan jengkel mengingat bahwa kepandaian suhengnya amatrendah.
Iasendiri saja bukan tandingan Cin Liong, apalagi suhengnya yang belum ada seperempatnya.
“Hui-ji, jangan bersikap keterlaluan terhadap kemauan baik Tek Ciang,” kata Suma Kian Lee menegur puterinya.
“Ayah, dia ini mau bisa apa terhadap Kao Cin Liong? Ayah, dengarkan baik-baik. Ayah dan ibu, pendeknya, aku baru mau menikah dengan Louw-suheng kalau dia bisa mengalahkan aku dalam ilmu silat!”
“Hui-ji....!” ibunya menegur.
“Habis, apakah lebih baik kalau kukatakan bahwa aku hanya mau menikah dengan orang yang dapat mengalahkan aku?” balas puterinya menantang.
“Baiklah!” kata Suma Kian Lee. “Akan tetapi ingat, seorang gagah takkan menjilat kembali ludahnya sendiri. Engkau sudah berjanji!”
“Saya tidak akan mengingkari janji!” bantah Suma Hui. “Sewaktu-waktu suheng boleh mencoba kepandaiannya kepadaku!”
“Lihat saja nanti. Tek Ciang bukan saja akan dapat mengalahkanmu, bahkan dialah yang kelak akan dapat membalas dendammu terhadap jahanam Kao Cin Liong!” Akan tetapi Suma Hui sudah lari meninggalkan ruangan itu dan memasuki kamarnya di mana ia menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menyembunyikan mukanya pada bantal.
Hati Suma Kian Lee marah melihat sikap puterinya itu, akan tetapi dia hanya berkata kepada Tek Ciang,
“Mulai hari ini, engkau harus mempersiapkan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu silat dengan tekun agar dalam waktu singkat engkau akan sudah dapat melampaui Hui-ji!”
Pada saat Suma Kian Lee mengeluarkan kata-kata itu, muncul Suma Ciang Bun yang tadi melihat encinya berlari keluar dari ruangan itu sambil menutupi muka seperti orang menangis. Karena khawatir akan keadaan encinya, pemuda ini nekat memasuki ruangan dan dia masih sempat mendengar ucapan ayahnya kepada suhengnya itu. Hatinya merasa tak senang mendengar ayahnya hendak mengajarkan ilmu kepada suhengnya agar dapat melampaui encinya dalam waktu singkat. Apa artinya itu?
“Ayah, apakah yang telah terjadi? Kenapa enci Hui keluar dari sini sambil menangis?”
“Ciang Bun, mulai hari ini, encimu telah menjadi tunangan suhengmu,” Suma Kian Lee berkata tanpa menjawab pertanyaan tadi secara langsung.
“Ahhh....?” Suma Ciang Bun tertegun dan bengong karena tidak disangkanya bahwa suhengnyalah yang akan menjadi suami encinya, padahal encinya sudah mengalami aib.
Melihat puteranya bengong saja sambil memandang Tek Ciang, Suma Kian Lee menegur.
“Bun-ji, di mana sopan santunmu? Sepatutnya engkau menghaturkan selamat kepada calon ci-humu (kakak iparmu)!”
Ditegur demikian, Ciang Bun terkejut dan diapun cepat memberi hormat kepada Tek Ciang sambil berkata,
“Suheng, kionghi (selamat)!”
“Terima kasih, sute,” jawab Tek Ciang dengan sikap malu-malu.
Malam itu Suma Hui tidak keluar dari kamarnya dan ketika ibunya datang menjenguknya, iapun tidak mau menemui ibunya, mengunci pintu dari dalam. Ibunya mengerti bahwa hati puterinya itu sedang dalam gundah, dan ia sendiripun tahu harus bagaimana untuk menghibur hati puterinya. Maka iapun membiarkannya saja dengan harapan bahwa pada keesokan harinya, setelah kedukaan hati puterinya mereda, ia akan bicara dan menghiburnya.
Akan tetapi, betapa kaget rasa hati Kim Hwee Li dan juga Suma Kian Lee ketika melihat bahwa kamar Suma Hui sudah kosong dan dara itu telah pergi membawa buntalan pakaian, meninggalkan sesampul surat di atas meja. Hanya sedikit tulisan yang ditinggalkan oleh dara itu di dalam suratnya, yaitu bahwa ia pergi untuk mencari dan membunuh Kao Cin Liong. Itu saja!
Suma Kian Lee menjadi marah. “Anak yang tak tahu diri! Sudah ada bintang penolong berupa Tek Ciang dan ia masihbertingkah. Iamencari Cin Liong mau apa? Apa yang akan dapat dilakukannya?”
“Biar aku menyusul dan membujuknya pulang,” kata isterinya.
“Hemm, kaukira mudah mencari anak keras hati itu kalau ia sudah mengambil suatu keputusan untuk melarikan diri? Ke jurusan mana engkau hendak mengejar dan mencarinya? Biarkanlah, ia tentu akan gagal dan akan pulang juga,” bantah suaminya dan Hwee Li tak dapat membantah. Memang iapun tahu akan kekerasan hati puterinya itu dan seandainya ia dapat mencarinya, hal yang tentu saja amat sukar karena puterinya sudah pergi sejak semalam, belum tentu puterinya mau dibujuknya untuk pulang.Kekecewaan demi kekecewaan menimpa suami isteri pendekar itu ketika tiga hari kemudian, Ciang Bun juga pergi meninggalkan rumah tanpa pamit dan seperti juga encinya, pemuda remaja ini meninggalkan sepotong surat singkat yang menyatakan bahwa dia pergi untuk mencari encinya! Sungguhpun benar Ciang Bun pergi untuk mencari encinya, akan tetapi yang mendorongnya pergi bukanlah semata untuk mencari Suma Hui, melainkan karena pemuda ini merasa menyesal dan kecewa bahwa ayahnya telah mencurahkan perhatian sepenuhnya hanya kepada Tek Ciang saja, dan agaknya ayahnya sudah mengambil keputusan bulat untuk mengangkat Tek Ciang menjadi ahli waris ilmu silat keluarga mereka. Hal ini menyakitkan hati Ciang Bun, apalagi ditambah dengan kegelisahan hatinya melihat encinya pergi mencari Cin Liong, maka akhirnya pemuda inipun pergi tanpa pamit, karena kalau pamit tentu tidak akan diperkenankan.
Hati Kim Hwee Li yang merasa kecewa dan berduka ditinggalkan kedua orang anaknya itu dihiburnya sendiri dengan pendapat bahwa memang sudah sepatutnya kalau mereka itu, sebagai pendekar-pendekar muda, meluaskan pengalamannya dengan perantauan.
Bukankah ia sendiri di waktu mudanya juga suka merantau dan hidup di alam bebas tanpa pengekangan segala peraturan rumah tangga dan keluarga?
Sedangkan Suma Kian Lee yang merasa kecewa dan marah itu menghibur hatinya dengan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menggembleng Tek Ciang, calon mantu dan juga pewaris ilmu-ilmunya. Dia menggembleng Tek Ciang mati-matian sehingga pemuda yang memang amat cerdik dan berbakat itu memperoleh kemajuan yang amat cepat.

***
Malam itu gelap sekali dan hawa udara amat dinginnya. Semenjak lewat tengah hari hujan lebat turun menyiram bumi dan setelah malam tiba, hujan berhenti akan tetapi angin malam menghembus kuat mendatangkan hawa dingin yang membuat orang malas untuk keluar dari dalam rumahnya. Apalagi malam itu gelap. Awan masih memenuhi udara menghalang sinar bintang dan menyelimuti kota Thian-cin dengan kehitaman.
Sunyi dan dingin.
Akan tetapi Tek Ciang tidak memperdulikan kegelapan dan kedinginan malam itu. Dia harus pergi ke kuil kecil tua di luar kota itu. Dia telah berjanji kepada Jai-hwa Siauw-ok untuk datang ke kuil itu setiap minggu sekali. Selama beberapa bulan ini, Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng tidak pernah muncul. Akan tetapi Tek Ciang tetap datang tiap pekan sekali dan biarpun malam hari ini amat sunyi, gelap dan dingin, dia tetap memegang janjinya.
Pemuda ini maklum bahwa menghadapi seorang datuk seperti Jai-hwa Siauw-ok, dia harus memegang janji. Apalagi mengingat bahwa datuk sesat itu telah berjasa besar dalam hidupnya, bahkan juga yang memegang kunci rahasia pribadinya. Dia tahu bahwa berhubungan dengan datuk itu amatlah menguntungkan, baik sebagai sekutu ataupun sebagai guru. Sebaliknya, mempunyai seorang lawan seperti Jai-hwa Siauw-ok yang demikian sakti dan juga amat cerdiknya, amatlah berbahaya.
Setelah tiba di dalam kuil, Tek Ciang memasuki ruangan satu-satunya yang masih terlindung di kuil itu dan atapnya juga masih rapat. Dinyalakannya dua batang lilin seperti sudah mereka sepakati berdua. Dua batang lilin itu sebagai tanda rahasia mereka agar masing-masing dapat mengenal teman. Setelah dua batang lilin itu bernyala dan diletakkannya di atas lantai, diapun lalu duduk bersila menanti. Dia akan menanti sampai dua jam di tempat itu, seperti biasa. Kalau selama itu jai -hwa Siauw-ok tidak muncul, dia akan memadamkan lilin dan meninggalkan kuil, kembali ke rumah keluarga Suma dengan diam-diam tanpa diketahui oleh suhu atau subonya. Bahkan pelayan hanya tahu bahwa dia pergi berjalan-jalan. Sekarang, menanti munculnya Jai-hwa Siauw-ok dilakukannya sambil berlatih samadhi seperti yang diajarkan oleh suhunya kepadanya.
Selama kurang lebih enam bulan ini, dia telah digembleng secara hebat sekali oleh gurunya. bukan saja dalam gerakan ilmu silat tinggi, akan tetapi juga dalam latihan menghimpun tenaga sin-kang. Bahkan kini dia mulai dapat mempergunakan Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api) yang merupakan satu di antara ilmu-ilmu sakti dari Pulau Es! Maka dalam menanti munculnya Jai-hwa Siauw-ok, diapun tidak mau menyia-nyiakan waktu. Apalagi di kuil itu merupakan tempat yang amat baik untuk bersamadhi menghimpun tenaga dalam, selain tempatnya sunyi, juga malam itu dingin sekali, cocok untuk berlatih.
Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara yang amat lembut. Selama digembleng ini, panca inderanya menjadi peka sekali. Munculnya orang secara halus itupun dapat didengarnya dan diapun siap waspada karena tidak tahu siapa yang muncul. Tiba-tiba ada desir angin lembut. Dia terkejut dan sudah mengerahkan tenaga untuk menjaga diri dan semua urat syaraf di tubuhnya sudah menegang. Akan tetapi, desir angin yang tajam itu tidak menyerangnya, melainkan menyambar ke arah dua api lilin sehingga padam!
Melihat kenyataan ini, Tek Ciang terkejut sekali. Itulah serangan jarak jauh yang amat ampuh. Akan tetapi karena ditujukan untuk memadamkan lilin, diapun tahu bahwa yang datang itu tidak berniat jahat kepadanya.
“Siapa....?” bentaknya sambil meloncat berdiri.
“Sssttt.... Tek Ciang, aku sengaja memadamkan lilin-lilin itu!”
“Locianpwe....!” teriak Tek Ciang dengan girang ketika mengenal suara Jai-hwa Siauw-ok.
“Ssttt, jangan berisik. Cepat ke sini....” Suara itu berbisik.
Tek Ciang merasa heran karena jelas terdengar dari suara datuk itu bahwa dia sedang dalam keadaan bingung atau ketakutan. Diapun cepat ke luar melalui pintu belakang dan dalam cuaca yang hanya remang-remang karena kini sebagian awan telah disapu angin dan ada sekelompok bintang berkesempatan memuntahkan sinarnya ke bumi, dia melihat sesosok bayangan yang bukan lain adalah Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng. Tek Ciang cepat memberi hormat.
“Locianpwe, ada apakah....?” tanyanya heran.
“Aku berada dalam kesulitan. Aku dikejar oleh jenderal Kao Cin Liong....”
“Apa....? Di.... di mana dia....?” Tek Ciang terkejut bukan main mendengar ini.
“Sementara aku dapat terlepas dari bayangannya, akan tetapi dia tentu akan muncul juga.”
“Kenapa tidak dilawan saja, locianpwe?” tanya Tek Ciang penasaran.
“Ah, kau tidak tahu. Dia lihai sekali dan biarpun belum tentu aku kalah, aku sedang lelah dan aku telah terluka.... engkau harus dapat menolongku menghindarkan diri dari kejarannya, Tek Ciang.”
Otak pemuda itu bekerja dengan cepat.
“Jangan khawatir, locianpwe. Locianpwe bersembunyi saja di dalam hutan dan aku akan memancingnya agar dia mengejarku. Kebetulan kita menggunakan mantel yang hampir bersamaan. Karena hari hujan sayapun memakai mantel hitam ini. Nah, cepatlah locianpwe bersembunyi. Dari jurusan manakah dia datang mengejar?”
“Dari sana.... nah, aku pergi. Kau harus dapat menyelamatkan aku sekali ini!” Bayangan Jai-hwa Siauw-ok itu berkelebat dan lenyap di dalam kegelapan. Tek Ciang tidak membuang waktu lagi, terus dia menuju keluar kuil dan mengintai dari balik sebatang pohon besar ke arah dari mana mungkin munculnya Cin Liong.
Ada satu jam dia menanti dan akhirnya di bawah penerangan bintang-bintang yang makin banyak bertebaran di angkasa, dia melihat bayangan berkelebatan datang. Dia tidak dapat melihat jelas wajah bayangan itu, akan tetapi bentuk tubuh itu masih dikenalnya. Tidak salah lagi agaknya, orang itu tentulah Kao Cin Liong. Di depan kuil tua itu, dia melihat bayangan itu berhenti dan seperti ragu-ragu, menoleh ke kanan kiri. Tek Ciang tahu bahwa itulah saat baginya untuk memancing pengejar Jai-hwa Siauw-ok itu meninggalkan tempat itu, maka diapun cepat meloncat ke depan dan lari secepatnya.
“Engkau hendak lari ke mana?” Kini tak salah lagi karena Tek Ciang mengenal suara Cin Liong. Dia melarikan diri dengan cepat dan karena dia sering datang ke hutan ini, dia mengenal jalan dan dia berloncatan sambil menyelinap diantara pohon-pohon dan semak-semak. Bayangan itu terus mengejarnya. Akan tetapi Tek Ciang dapat memancingnya sampai jauh meninggalkan kuil itu, ke arah yang lain dari tempat Jai-hwa Siauw-ok bersembunyi.
Sambil berlari, diam-diam timbul suatu niat di hati Tek Ciang. Dia sudah berlatih setengah tahun dan menurut suhunya, dia memperoleh kemajuan pesat yang hanya dapat dicapai orang lain setelah berlatih sedikitnya tiga tahun! Bagaimana kalau dia mencoba kepandaiannya terhadap Cin Liong? Dalam keadaan seperti ini, mudah saja baginya untuk menggunakan alasan karena dikejar-kejar dan tidak mengenal siapa pengejarnya.
Maka dia lalu menyelinap di balik semak-semak belukar dan menanti. Tak lama kemudian munculah bayangan Cin Liong yang mengejarnya. Tek Ciang membentak keras dan meloncat ke depan, menyerang Cin Liong dan langsung saja dia menggunakan Ilmu Hwi-yang Sin-Ciang. Pukulannya menyambar ganas dan mendatangkan hawa yang amat panas!
Cin Liong yang mengira bahwa lawannya adalah Jai-hwa Siauw-ok yang dikejarnya dan dibayanginya, karena sudah maklum akan kelihaian datuk ini, cepat mengelak dan balas menyerang. Akan tetapi lawannya ini dapat menangkis dan dia merasakan hawa panas menjalar melalui lengannya ketika tertangkis itu, juga ketika lawan itu membalas, dia merasa betapa dalam pukulan itu terkandung hawa amat panas. Ilmu seperti ini hanyalah dimiliki keluarga Pulau Es. Dia meragu, lalu menangkis lagi untuk mencoba.
“Dukk!” Lawannya terpental dan terhuyung, akan tetapi dia merasa lengannya panas.
“Hwi-yang Sin-ciang....!” serunya kaget akan tetapi lawannya sudah menyerang lagi bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan dahsyat dari Hwi-yang Sin-ciang! Cin Liong yang menjadi terheran-heran itu cepat mengelak beberapa kali, lalu meloncat ke belakang.
“Tahan....!” katanya.
Tek Ciang juga berhenti bergerak dan mendekat. Kini, di bawah cahaya redup bintang-bintang di angkasa, mereka saling mengenal.
“Louw-susiok....!”
“Kao-taihiap....!” Tek Ciang berseru dan mendahului. “Kukira tadinya penjahat cabul itu....!”
“Ehh? Justeru aku mengira bahwa susiok adalah Jai-hwa Siauw-ok yang kukejar dan kubayangi selama beberapa hari ini! Mantelnya mirip dan munculnya di tempat yang sama, jadi aku telah keliru sangka. Aih, Louw-susiok, bagaimana engkau dapat muncul di sini....?”
“Aku sore tadi berburu kelinci ke hutan ini seperti yang sering kulakukan dan aku kehujanan, meneduh di dalam kuil tua itu. Karena keenakan di situ dan hawanya dingin sehabis hujan, aku tertidur dan baru setelah gelap aku terbangun. Ketika hendak pulang, baru keluar dari kuil aku bertemu dengan seorang pria yang kukenal adalah penjahat cabul yang dulu pernah kulihat berkelahi denganmu itu....”
“Nah, dia itu Jai-hwa Siauw-ok!” kata Cin Liong. “Lalu bagaimana? Ke manakah dia?”
“Aku melupakan kelemahan sendiri. Mengenali dia sebagai orang yang pernah berkelahi denganmu, aku menduga bahwa tentu dia itu penjahat cabul, maka akupun menyerangnya. Akan tetapi, dia lihai sekali. Dalam beberapa jurus saja aku sudah terdesak, bahkan nyaris celaka kalau aku tidak cepat-cepat meloncat ke dalam gelap dan bersembunyi di balik pohon. Aku mendengar dia menggerutu,
“Huh, tidak ada tempat aman, lebih baik sembunyi di kota raja” dan diapun lenyap. Eh, tak lama kemudian dia muncul lagi maka aku melarikan diri. Kiranya yang muncul adalah engkau yang kukira penjahat itu. Setelah aku lari terus dan akhinya tidak kuat lagi, aku nekat dan menyerangmu yang kukira dia!”
“Dan kusangka engkau adalah Jai-hwa Siauw-ok! Hemm, dia memang cerdik. Kiranya dia hendak bersembunyi di kota raja? Kalau tidak kebetulan engkau mendengarnya, siapa akan mengira dia bersembunyi di kota raja? Bagus, aku akan menangkapnya di sana!”
“Kao-taihiap, bagaimana engkau dapat mengejarnya sampai ke sini?” Tek Ciang bertanya, suaranya mengandung kekaguman.
“Ah, sudah lama kucari-cari dia. Ingin aku bertanya dia tentang peristiwa malam itu di Thian-cin. Akan tetapi dia tidak pernah mau bicara, bahkan melawanku atau lari. Aku membayangi terus sampai ke sini. Susiok, bagaimana keadaan.... eh, keadaan.... bibi Hui dan keluarganya?”
“Apakah engkau tidak mendengarnya, Kao-taihiap?”
Cin Liong menarik napas panjang, menggeleng kepala.
“Aku tidak berani mendekati keluarga Suma, bahkan aku belum pernah kembali ke kota raja, berkeliaran saja mencari Jai-hwa Siauw-ok dan hanya kebetulan saja aku bertemu dengan dia beberapa hari yang lalu. Selain itu, juga banyak urusan mengenai pemberontakan yang harus kutangani.”
“Ah, banyak hal terjadi di dalam keluarga Suma, taihiap, dan aku sendiri sungguh menjadi tidak enak dan berada dalam kedudukan yang serba salah.”
“Apakah yang telah terjadi, susiok?” Cin Liong mendesak. “Apakah paman kakek Suma Kian Lee belum pulang?”
“Sudah, suhu dan subo sudah pulang bersama sute Suma Ciang Bun.”
“Hemm, syukurlah kalau paman Ciang Bun sudah pulang dengan selamat. Lalu peristiwa apa yang membuatmu tidak enak?”
“Aku melihat suami isteri yang gagah perkasa datang bertamu. Aku sendiri tidak berani ikut menyambut. Akan tetapi mendengar bahwa mereka adalah ayah ibumu, taihiap, yaitu Kao Kok Cu-locianpwe dan isterinya.”
“Benarkah?” Jantung Cin Liong berdebar tegang. “Lalu bagaimana?”
“Mereka hanya sebentar saja bertamu, lalu keluar lagi dan baru kemudian aku dengar bahwa mereka datang untuk meminang sumoi untukmu.”
“Lalu....?”
“Agaknya pinangan itu oleh suhu ditolak, taihiap. Maklumlah, mungkin karena masih ada hubungan keluarga.”
Tentu saja Cin Liong merasa terpukul, walaupun dia sudah dapat menduga akan hal itu.
Pula, setelah kini Suma Hui membencinya dan bahkan berkeras hendak membunuhnya, apa lagi artinya andaikata pinangan diterima juga?
“Kemudian bagaimana?”
“Kemudian.... kemudian pada suatu hari suhu memanggilku. Suhu dan subo memberi tahu bahwa sebetulnya antara suhu dan mendiang ayah telah ada perjanjian untuk.... menjodohkan sumoi dan aku....”
“Hemm, begitukah? Lalu....?”
“Lalu suhu dan subo minta agar perjodohan itu dilanjutkan....”
“Dan engkau....?”
“Itulah, taihiap, yang membuat aku merasa tidak enak dan serba salah. Aku adalah seorang yatim piatu yang tidak berharga dan tidak berguna. Kemudian keluarga suhu dan subo sudah melimpahkan kebaikan kepadaku dan sudi mengambil aku sebagai murid. Bagaimana mungkin aku dapat menolak kalau mereka mengajukan permintaan agar perjodohan itu dilanjutkan?”
“Hemmm....”
“Di lain fihak, hatiku juga merasa berat sekali karena aku tahu betul bahwa antara taihiap dan sumoi....”
“Ya....?”
“Terdapat pertalian cinta kasih yang mendalam! Mana mungkin aku merusak hubungan baik kalian itu?”
Tentu saja diam-diam Cin Liong merasa berterima kasih sekali kepada pemuda ini yang dianggapnya benar-benar seorang yang bijaksana dan baik.
“Ah, terima kasih, susiok. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu itu, walaupun sekarang baru dalam taraf pernyataan. Akan tetapi, sekarang, lalu bagaimana baiknya?”
“Kita harus bersabar, taihiap. Aku juga sedang mencari jalan bagaimana untuk dapat keluar dari kesulitan ini dengan baik. Sementara itu, kurasa sebaiknya kalau taihiap tidak memperlihatkan diri lebih dulu kepada keluarga Suma.”
Cin Liong mergangguk-angguk dan menganggap bahwa pendapat itu memang tepat.
Muncul dalam keadaan sekarang ini sungguh tidak menguntungkan. Bukan hanya Suma Hui yang tiba-tiba membencinya, akan tetapi juga keluarga Suma agaknya telah menolak pinangan ayah ibunya.
“Baiklah, aku akan melanjutkan pengejaranku terhadap Jai-hwa Siauw-ok. Aku yakin bahwa dia ada sangkut-pautnya dengan sikap Suma Hui terhadap diriku. Sampai jumpa, Louw-susiok!”
“Selamat jalan, taihiap!”
Cin Liong berkelebat lenyap dari depan pemuda itu. Sampai lama dia termenung dan berusaha menenteramkan perasaanya yang tadinya terguncang. Jelaslah bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi Cin Liong!
“Bagus.... bagus sekali! Engkau telah memperoleh kemajuan hebat dalam kecerdikan. Ha-ha-ha, engkau sungguh membuat aku kagum dan bangga, Tek Ciang!”
Pemuda itu terkejut bukan main melihat munculnya Jai-hwa Siauw-ok secara tiba-tiba itu.
“Ssshhh, locianpwe, jangan ke sini dulu. Bagaimana kalau dia datang kembali?”
“Ha-ha-ha, jangan bodoh. Aku tidak akan sesembrono itu. Sudah kulihat bahwa dia pergi jauh menuju ke kota raja. Ha-ha-ha!”
Legalah hati Tek Ciang dan diapun tertawa.
“Yang belum kuat harus menggunakan kecerdikannya, locianpwe.”
“Tepat. Yang belum kuat, bukan tidak kuat. Engkau akan menjadi orang yang kuat, jauh lebih hebat daripada aku. Aku suka sekali kepandainmu, dan malam ini engkau telah menyelamatkan nyawaku. Ketahuilah, aku bertemu dengan jendral muda itu selagi aku terluka dalam sebuah pertempuran. Maka, aku tidak mungkin dapat melawannya sepenuh tenagaku. Untung engkau mendapat akal yang sebaik itu, mengatakan aku ke kota raja. Mari kita kembali ke dalam kuil dan bicara.”
NEXT --->

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar