Ads

Kamis, 31 Juli 2008

Pendekar Super Sakti 241 - 250

Bu Kek Sian Su (7) - Episode 241
Pendekar Super Sakti
Nirahai tersenyum, menyimpan suling dan payung, menyambar tubuh Lulu dan dipanggulnya, kemudian memandang Sin Kiat yang duduk sambil memegangi pundak kirinya yang patah.
“Wan Sin Kiat, karena melihat kau dan Lulu saling mencinta, aku meng­ampuni dan takkan membunuhmu. Akan tetapi pada pertemuan ke dua, kalau engkau masih menjadi pemberontak, ten­tu mengakibatkan kematianmu di tangan­ku.” Sambil berkata demikian, Nirahai membalikkan tubuh, tidak mempedulikan pemuda yang memandangnya dengan mata mendelik itu.
“Nirahai! Aku bersumpah, kalau engkau mengganggu Lulu, kelak aku akan mencarimu dan akan membunuhmu!”
Nirahai menoleh, tersenyum mengejek lalu tubuhnya berkelebat pergi dari tem­pat itu bersama Lulu yang terkulai lemas di atas pundaknya. Sin Kiat mengerutkan keningnya, masih terheran-heran mengapa Lulu menjadi sumoi puteri itu, dan heran pula mengapa keduanya saling serang mati-matian. Ia menggeleng-geleng ke­pala, menghela napas panjang penuh sesal mengapa dia tidak mampu melindungi Lulu dari tangan puteri yang luar biasa lihainya itu. Akan tetapi diam-diam masih terngiang di telinganya suara Lulu ketika membantunya tadi. “Biar aku mati bersamamu, twako!” Betapa merdunya suara ini. Bukankah kata-kata itu me­rupakan pencerminan hati yang mencinta? Secara kebetulan saja ia bertemu dengan Lulu di tempat ini. Dia bersusah payah mencari dan mengikuti jejak Han Han semenjak pemuda buntung itu meninggal­kannya. Dan di tempat sunyi ini, bukan Han Han yang ia temukan, melainkan Lulu! Ke manakah perginya Han Han? Tentu tidak jauh dari tempat ini karena jejaknya menuju ke tempat ini. Dia harus mencari Han Han! Kiranya hanya Han Han seorang yang akan mampu menan­dingi Nirahai yang begitu lihai!
Setelah tiga hari tiga malam berke­liaran di dalam hutan-hutan sambil meng­obati sendiri pundaknya yang patah tu­langnya, akhirnya pada suatu pagi Sin Kiat melihat sesosok tubuh yang duduk bagaikan arca di bawah pohon, di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Dan orang itu bukan lain adalah Han Han!
“Han Han....!” Sin Kiat berteriak girang.
Akan tetapi Han Han tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan siu­lian dan matanya terpejam. Tongkat bu­tut melintang di depan lututnya. Luka di pahanya sudah mengering, dan luka di dalam dadanya pun sudah sembuh, akan tetapi pemuda ini terus saja bersamadhi seolah-olah sudah berubah menjadi arca dan tidak ada nafsu untuk sadar kembali. Han Han mengalami pukulan batin yang amat hebat secara bertubi-tubi sehingga membuat dia seolah-olah sudah bosan hidup. Pertama-tama urusan de­ngan Kim Cu sudah merupakan tekanan batin yang berat, disusul lagi dengan kematian Lu Soan Li yang juga menjadi korban cinta kasihnya kepadanya. Per­temuannya dengan Tan Hian Ceng yang mencintanya membuat hatinya makin terhimpit dan satu-satunya harapan hati­nya untuk dapat keluar dari himpitan dan mendapatkan hiburan batin adalah pertemuannya kembali dengan Lulu. Akan tetapi, begitu berjumpa dengan adiknya yang tercinta itu, ia malah menerima hantaman batin yang lebih berat lagi, yaitu dengan kenyataan bahwa Lulu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Man­cu! Lebih celaka lagi, dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya yang tim­bul karena baru saja ia dikeroyok dan hampir celaka di tangan para pemimpin Mancu sehingga dia menampar adiknya itu, membuat Lulu sakit hati dan gadis itu melarikan diri dengan kebencian ter­kandung di hati adiknya yang merupakan satu-satunya manusia yang ia harapkan akan dapat menghibur hatinya yang sakit!
“Han Han, mengapa engkau menjadi begini? Apa yang telah terjadi dengan­mu? Sadarlah, aku telah berjumpa de­ngan Lulu!”
Han Han membuka matanya, meman­dang Sin Kiat dan bertanya dengan suara lesu, “Di manakah dia? Mana Lulu?”
“Han Han, celaka sekali! Aku ber­temu dengan Lulu, akan tetapi dia dan aku tidak dapat melawan Puteri Nirahai. Aku dirobohkan dan terluka, sedangkan Lulu dia dilarikan Nirahai. Anehnya Lulu menyebutnya suci, dan....” Akan tetapi Sin Kiat melongo ketika tiba-tiba tubuh Han Han mencelat dan lenyap dari tempat itu!
“Han Han....!” Sin Kiat berteriak, akan tetapi tubuh Han Han sudah berloncatan jauh sekali. Sin Kiat meng­geleng-geleng kepala mengerti bahwa tidak mungkin ia dapat mengejar pemuda buntung itu, terpaksa ia pun meninggal­kan tempat itu. Dengan hati berat Sin Kiat lalu kembali ke Se-cuan, minta diri dari Raja Muda Bu Sam Kwi dan me­letakkan jabatan untuk pergi mencari Han Han dan terutama sekali Lulu.
***
Begitu mendengar dari Sin Kiat bah­wa adiknya ditawan Puteri Nirahai, ke­marahan Han Han memuncak dan tanpa pamit ia meninggalkan Sin Kiat, meng­gunakan kepandaiannya pergi menuju ke kota raja untuk mengejar dan menolong adiknya.
Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pemuda berkaki buntung yang berjalan terpincang-pincang memasuki kota raja itu mengandung perasaan marah dan sakit hati yang akan menggegerkan kota raja! Han Han berjalan perlahan memasuki kota raja, suara tongkatnya yang membantunya terpincang-pincang itu mengeluarkan bunyi “tak-tok-tak-tok!” mengetuk jalan berbatu yang keras. Beberapa orang menoleh dan memandangnya dengan perasaan kasihan. Juga banyak yang menjadi heran melihat pemuda tam­pan yang wajahnya menyinarkan sesuatu yang aneh menyeramkan, yang pakaian­nya amat sederhana dan rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai di ates kedua pundak dan punggungnya, rambut yang kusut.
Han Han tidak tahu ke mana adiknya dibawa oleh Puteri Nirahai, akan tetapi ia teringat betapa dahulu adiknya itu diculik oleh Ouwyang Seng, maka ia dapat menduga bahwa antara Puteri Ni­rahai dan keluarga Pangeran Ouwyang tentu ada hubungan erat. Karena itu dengan perasaan marah memenuhi dada, dengan hati panas oleh dendam, ia lalu menujukan langkahnya yang terpincang-pincang itu ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok!
Lima orang penjaga pintu gerbang di luar pekarangan gedung besar Pangeran Ouwyang Cin Kok cepat menghadang dan memandang heran ketika melihat pemuda buntung itu seenaknya saja memasuki pintu gerbang.
“Haiii! Berhenti! Tidak boleh mengemis di sini!” Seorang di antara mereka membentak, kemudian menodongkan tom­baknya ke depan dada Han Han. “Pergi!”
Han Han tidak marah mendengar makian ini. Baginya, dikatakan pengemis bukan merupakan makian atau penghina­an. “Minggirlah, aku hendak mencari Ouwyang Seng!”
Lima orang penjaga itu tercengang. Mendengar seorang pemuda kaki buntung yang mereka anggap pengemis itu me­nyebut nama Ouwyang-kongcu begitu saja, timbul dugaan bahwa tentu penge­mis buntung ini miring otaknya.
“Eh, orang gila. Pergilah kalau tidak mau kami pukul!” bentak penjaga ke dua.
“Kalian minggirlah jangan halangi aku!” Han Han berkata dengan suara dingin dan tanpa mempedulikan mereka, dia jalan terus memasuki pekarangan gedung besar. Lima orang penjaga itu menjadi marah dan berkelebatlah tombak-tombak mereka ke arah Han Han.
“Trang-trang-krek-krek-krekkk!” Lima batang tombak patah-patah dan beter­bangan disusul tubuh lima orang penjaga itu yang terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin! Han Han tidak mempedulikan mereka lagi dan terus dia berloncatan menuju gedung.
Teriakan-teriakan para penjaga ini menarik perhatian para penjaga di ge­dung dan mereka ini dua belas orang banyaknya datang berlari-lari. Mereka terkejut melihat para penjaga pintu ger­bang roboh semua dan melihat pemuda buntung itu berloncatan ke ruangan de­pan. Cepat mereka mengurung, akan tetapi Han Han yang tidak sabar sudah meloncat tinggi ke atas kepala mereka, kedua tangan didorong ke bawah dan dua belas orang itu roboh terbanting tung­gang-langgang.
“Ouwyang Seng! Keluarlah! Kalau tidak, kuhancurkan tempat ini!” Han Han berteriak-teriak dan sekali sambar ia mengangkat singa-singaan batu yang be­lum tentu dapat terangkat oleh sepuluh orang biasa, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan melontarkan singa-singaw batu itu ke dalam.
“Braaaaakkkkk!” Pecahlah pintu ruangan depan itu dan Han Han meloncat ke dalam ruangan itu, suaranya lantang berteriak, “Ouwyang Seng! Puteri Nirahai! Keluarlah dan serahkan kembali adikku Lulu! Kalau tidak, akan kuhancurkan kota raja!”
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 242
Pendekar Super Sakti
Tiba-tiba dari sebelah dalam menyambar senjata rahasia yang berupa gelang-gelang kecil. Cepat dan kuat sekali sam­baran ini, akan tetapi dengan tenang Han Han menggerakkan tubuh meloncat tinggi sehingga sambaran senjata-senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Di udara, tubuh Han Han berjungkir balik dan ia sudah meloncat keluar karena kalau ada lawan tangguh menghadapinya, lebih baik ia berada di luar gedung.
Benar saja dugaannya, dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tahu-tahu seorang pemuda yang me­megang sebatang golok telah berdiri di depannya. Pemuda itu bukan lain adalah Gu Lai Kwan! Ketika Lai Kwan melihat Han Han, ia pun terkejut dan marah.
“Keparat! Kiranya engkau setan bun­tung!” Lai Kwan memaki dan goloknya sudah menyambar, menjadi sinar putih yang menyilaukan dan mengeluarkan su­ara berdesing ketika golok itu membelah angin.
“Singggg....!”
Lai Kwan terkejut karena tiba-tiba lawannya lenyap. Cepat ia memutar tu­buh dan mengelebatkan goloknya ke bela­kang, akan tetapi Han Han yang sudah berada di sebelah belakangnya, mudah saja mengelak sambil berkata.
“Gu Lai Kwan, aku menjadi setan buntung karena engkau! Sekarang bukan maksudku datang untuk membalas dendam, aku tidak mendendam kepadamu. Akan tetapi suruhlah Nirahai dan Ouw­yang Seng keluar membawa adikku Lulu, kalau tidak.... hemmm.... siapa pun yang menghalangiku akan kubunuh, termasuk engkau!”
“Buntung sombong!” Lai Kwan malah menyerang lagi. Han Han yang memang sedang berduka dan marah sekali melihat betapa pemuda bekas suhengnya ini nekat, menjadi gemas, akan tetapi ia masih tidak bergerak, hanya mengelebat­kan tongkat bututnya menangkis sambil mengerahkan tenaga memutar tongkat yang menangkis itu.
“Trakkk! Aihhhhhh....!” Lai Kwan terkejut bukan main dan betapapun ia mempertahankan diri sambil mengerahkan tenaga, tetap saja ia terpelanting dan cepat ia bergulingan karena takut kalau-kalau Han Han menyerangnya. Akan tetapi Han Han masih berdiri tegak dan tenang. Melihat ini, sambil meloncat bangun Lai Kwan berteriak keras.
“Suhu....! Sian-kouw....! Harap bantu....!” Setelah berteriak demikian Lai Kwan sudah menerjang lagi sambil me­ngerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi ia berhati-hati sekali ini, maklum bahwa lawannya yang buntung ini biarpun dahulu hanyalah seorang sutenya, namun kini telah memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa.
“Syuuuttt.... syuuuttt.... singgggg!” Sinar berkilauan dari golok Lai Kwan menyambar ganas bertubi-tubi.
“Wuuuttttt!” Tubuh Han Han sudah melayang lagi keluar dari ruangan depan menuju ke pekarangan. Lai Kwan menge­jar dan Han Han berhenti di atas anak tangga depan ruangan. Lai Kwan yang memang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak memberi kesempatan kepadanya, sudah membacok lagi dengan goloknya mengarah kepala Han Han. Pemuda bun­tung ini tidak begitu mempedulikan Lai Kwan, hanya menundukkan muka meng­elak sambil siap menghadapi lawan yang lebih tangguh, yang ia duga tentu akan muncul mendengar teriakan Lai Kwan.
Dan pada saat itu, terdengar suara lengkingan dahsyat dibarengi suara ringkik kuda dan muncullah Ma-bin Lo-mo Si­angkoan Lee dari pintu samping, langsung ia memukul ke arah Han Han dengan ilmu pu­kulan dahsyat Swat-im Sin-ciang! Juga tam­pak berkelebatnya bayangan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat nenek lihai itu melayang turun dari atas dengan jari tangan mencengkeram ke arah kepala Han Han meng­gunakan ilmu sakti Toat-beng Tok-ciang! Dan berbareng di saat itu juga, Lai Kwan sudah membabat ke arah kaki Han Han!
“Desss!” Pukulan Ma-bin Lo-mo te­lah ditangkis oleh Han Han dengan tela­pak tangan kanannya, sambaran golok Lai Kwan didiamkannya saja karena dalam gugupnya Lai Kwan menyerang ke bawah untuk membabat kaki Han Han, lupa bahwa kaki kiri Han Han telah tidak ada lagi sehingga goloknya menyerang angin kosong! Han Han lebih memperhatikan cengkeraman si nenek ke arah kepalanya. Ia tidak mengelak, melainkan memapaki tubuh nenek yang menyerang dari atas itu dengan tongkatnya, gerakan pertama menotok telapak tangan kiri nenek itu dan ketika Toat-beng Ciu-sian-li terkejut menarik kembali tangannya, Han Han melanjutkan serangan tongkatnya dengan totokan pada pinggang nenek itu.
“Aiiihhhhh!” Toat-beng Ciu-sian-li me­mutar tubuh di udara, berjungkir balik dan dari kedua tangannya menyambar dua buah gelang, yaitu senjata rahasia yang amat ampuh!
Han Han telah memutar tongkat me­nangkis bacokan susulan Lai Kwan dari belakang, dan kembali tangan kanannya menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo. Melihat datangnya sambaran dua buah sen­jata rahasia ini, teringatlah ia akan Kim Cu yang dahulu hampir tewas akibat senjata rahasia ini, maka ia menjadi ge­mas sekali. Kepalanya bergerak, rambut­nya yang panjang menyambar ke depan dan.... dua gumpal ujung rambutnya berhasil melibat dua buah gelang yang menyambar, kemudian secara kontan dan keras gelang-gelang itu ia retour kem­bali ke arah pemiliknya, menyambar dahi dan tenggorokan Ciu-sian-li yang menjadi terkejut dan cepat mengelak sambil te­rus menubruk maju mengirim pukulan sakti dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya kembali mengarah ubun-ubun kepala Han Han dengan cengkeram­an maut. Juga Ma-bin Lo-mo yang men­jadi kagum dan terkejut menyaksikan gerakan Han Han yang mendapat kemaju­an secara aneh dan hebat, kini telah membarengi menyerang dengan pengerah­an tenaga Swat-im Sin-ciang sekuatnya. Bukan main hebatnya serangan yang di­lakukan secara berbareng oleh Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo ini, dahsyat dan mengingat bahwa keduanya merupakan datuk-datuk golongan hitam yang sudah mencapai tingkat di puncak, tentu saja amat sukar bagi lawan yang dikeroyok dua orang ini untuk dapat menyelamat­kan diri dari serangan mereka yang di­lakukan berbareng.
Namun, betapa kaget dan heran hati kedua orang tokoh hitam ini ketika secara tiba-tiba tubuh Han Han lenyap dari tengah-tengah antara mereka, telah menghindarkan diri dengan sebuah loncatan yang luar biasa sekali, secepat kilat menyambar sehingga mereka berdua hampir tak dapat mengikuti dengan pandang mata mereka! Akan tetapi, Lai Kwan yang berada di luar gelanggang, dapat melihat gerakan Han Han yang mengguna­kan ilmunya Soan-hong-lui-kun, gerakan kilat yang membuat tubuhnya seperti mencelat dan keluar dari kepungan dua orang datuk hitam itu. Gu Lai Kwan adalah murid Toat-beng Ciu-sian-li yang paling setia dan paling disayang oleh nenek itu dan oleh Ma-bin Lo-mo dan pemuda ini amat benci kepada Han Han karena sesungguhnya pemuda ini men­cinta Kim Cu. Peristiwa yang menimpa diri Kim Cu sebagai akibat gadis itu membela Han Han, membuat Gu Lai Kwan menaruh dendam kebencian kepada Han Han. Maka kini melihat Han Han meloncat keluar dari kepungan kedua orang gurunya, Lai Kwan mengeluarkan bentakan nyaring dan menggunakan go­loknya menyambut tubuh Han Han yang masih melayang di udara.
“Mampuslah engkau, manusia buntung keparat!” bentaknya, goloknya menyam­bar seperti naga mengamuk.
Han Han dapat melihat sinar maut terpancar dari pandang mata Gu Lai Kwan, maka ia pun membentak, “Begitu kejamkah hatimu?” Biarpun tubuh Han Han baru meloncat dan kini disambut dengan serangan golok yang ganas, na­mun loncatannya itu memang merupakan keampuhan ilmunya yang mujijat yang ia pelajari dari nenek Khu Siauw Bwee, maka sambil meloncat, ia melihat menyambarnya golok, Han Han lalu meng­gerakkan tongkatnya, dengan tenaga sin-kang yang dahsyat tongkatnya menempel pada golok dengan sepenuhnya mengan­dung daya melekat! Betapapun Lai Kwan berusaha menarik kembali goloknya, sia-sia saja karena goloknya telah melekat pada tongkat seperti berakar di situ! Tiba-tiba Han Han melepas golok itu sambil mendorong, pada saat Lai Kwan menarik golok. Tak dapat ditahan lagi golok itu menyambar ke arah Gu Lai Kwan sendiri. Gu Lai Kwan terkejut, matanya terbelalak dan ia berusaha meng­gulingkan tubuhnya, namun golok di tangannya itu lebih cepat, tahu-tahu sudah membacok lehernya. Teriakan mengeri­kan seperti leher tercekik keluar dari mulut Lai Kwan dan tubuhnya yang tadi bergulingan itu rebah menelungkup, kepalanya miring secara aneh, golok masih di tangan dan tanah di bawah lehernya perlahan-lahan menjadi basah dan merah. Pemuda ini tewas oleh goloknya sendiri, lehernya hampir putus!
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 243
Pendekar Super Sakti
Peristiwa ini terjadi cepat sekali, hanya beberapa detik selagi tubuh Han Han masih mengapung di udara. Kini Han Han mencelat ke depan, tidak mempe­dulikan lagi kepada Gu Lai Kwan yang seolah-olah telah melakukan “bunuh diri” dengan golok sendiri itu.
“Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, mundurlah, aku tidak ingin ber­musuhan denganmu atau dengan siapa pun juga!” bentak Han Han dan suaranya mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya sehingga dua orang datuk hitam itu sampai tercengang dan sejenak mere­ka itu memandang Han Han dengan mata terbelalak. Akhirnya Toat-beng Ciu-sian-li memaki.
“Bocah setan, murid murtad! Begini sikapmu terhadap bekas guru?”
Han Han mengerutkan keningnya. “Aku bukan muridmu lagi, Nenek yang bewatak ganas. Aku datang untuk mencari adikku, dan siapapun dia yang meng­halangi aku mencari adikku, akan ku­hancurkan!” Teringat akan Lulu, kembali Han Han menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. “Di mana Puteri Nirahai? Hayo keluarlah dan serahkan Lulu kepadaku.”
Teriakannya ini amat nyaring sehingga bergema sampai jauh. Kembali Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li bergidik.
Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini telah menjadi ahli waris Pulau Es dan memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, akan tetapi melihat pemuda ini setelah buntung kakinya menjadi makin lihai dan gerakan-gerakannya seperti orang yang pandai menghilang, benar-benar membuat mereka berdua menjadi ngeri! Betapapun juga, tentu saja dua orang yang menjadi tokoh dunia hitam itu tidak merasa takut dan mendengar tantangan Han Han terhadap Puteri Ni­rahai, mereka marah dan cepat mener­jang lagi dengan hebatnya. Nenek itu selain menggerakkan kedua tangannya yang mengandung tenaga sakti Toat-beng Tok-ciang, juga menggerakkan rantai gelang yang tergantung di kedua telinga­nya sebagai senjata yang ampuh dan aneh, tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, persis seperti keganasan se­orang kuntilanak dalam dongeng dunia setan. Adapun Ma-bin Lo-mo yang sudah mengerti bahwa lawannya biarpun bun­tung dan masih amat muda, memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah ma­nusia, juga telah menerjang maju dengan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang sekuat tenaga.
Han Han tidak ingin berkelahi dan tidak ingin pula bermusuh dengan mereka, akan tetapi karena mereka berdua meng­halangi usahanya mencari Lulu, ia menjadi marah dan cepat mainkan ilmu silat­nya yang membuat tubuhnya mencelat ke sana ke mari dengan gerakan yang tak terduga-duga dan cepat bukan main. Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo menjadi pening kepala mereka karena harus mengikuti gerakan-gerakan kilat pemuda buntung itu dan setiap serangan mereka selalu mengenai tempat kosong. Dengan pena­saran kedua orang itu menubruk dengan pukulan-pukulan sakti.
“Wuuuttt!” Pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung hawa dingin menyambar dari kiri.
“Singggg.... syuuuttttt!” Serangan tangan ampuh beracun dari Ciu-sian-li dibarengi sambaran rantai gelang di teli­nganya tidak kalah ampuh dan berbahayanya. Dua serangan ini menyambar dari kanan kiri ketika kaki buntung Han Han baru saja turun menyentuh tanah. Akan tetapi tiba-tiba saja Han Han kembali mencelat ke atas dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya, mengatasi kece­patan serangan kedua lawannya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menukik dari atas dan tongkatnya melakukan dua kali totokan ke arah ubun-ubun kepala dua orang pengeroyoknya.
“Hayaaa....!” Ma-bin Lo-mo berseru kaget dan cepat menggulingkan tubuhnya yang ia lempar ke atas tanah sambil berteriak.
“Aiiihhhhh....!” Toat-beng Ciu-sian-li juga mengelak, melempar tubuh bagian atas ke belakang lalu berjungkir balik sampai lima kali sehingga rambutnya menjadi awut-awutan dan saling belit dengan kedua rantai gelang yang ter­gantung di kedua telinganya.
Pada saat itu, serombongan pasukan pengawal datang berlari dan mengurung Han Han. Jumlah mereka lebih tiga pu­luh orang, semua bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat dan bertubuh kuat. Pada waktu itu, yang berada di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok hanyalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan muridnya yang terkasih, Gu Lai Kwan. Adapun tokoh-tokoh lain telah ikut membantu penyerbuan ke Se-cuan. Ketika melihat pemuda buntung mengamuk, semua pasukan pengawal dikerahkan dan Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri yang bersembunyi sambil mengintai menjadi gelisah bukan main.
Betapapun juga, pembesar ini masih mengharapkan kemenangan karena di situ terdapat dua orang tokoh sakti dan di lubuk hatinya ia tidak percaya apakah seorang pemuda yang buntung kakinya akan mampu melawan Ciu-sian-li serta Ma-bin Lo-mo dan puluhan orang pasukan pengawal.
Akan tetapi, Han Han sudah marah sekali dan pemuda ini mengamuk secara menggiriskan hati. Tubuhnya berkelebat, lebih banyak di udara daripada di darat, karena setiap kali ujung tongkat atau ujung kaki tunggalnya menyentuh sesuatu, baik tanah, pundak atau kepala lawan, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, seperti capung bermain di atas bunga-bunga di permukaan air, cepatnya seperti kilat sehingga setiap kali tubuhnya me­nukik ke bawah tentulah roboh dua tiga orang pengawal secara berbareng, men­jadi korban ujung tongkat atau kedua ta­ngannya!
Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li marah dan penasaran sekali, juga mereka berdua merasa malu mengapa mereka tidak mampu merobohkan pemuda buntung itu, padahal dibantu puluhan orang pengawal. Ma-bin Lo-mo meringkik keras dan kedua tangannya mendorong ke arah Han Han ketika pemuda itu turun ke atas tanah.
“Wuuusssss!” Angin yang mengandung hawa dingin sekali menyambar. Han Han sudah menangkap seorang pengawal dan melemparkan ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh pengawal itu ter­banting kaku, darahnya membeku muka biru! Dan seorang pengawal lain roboh pula karena oleh Han Han dipergunakan untuk menangkis pukulan beracun Ciu-sian-li, roboh dengan tubuh menghitam terkena hantaman pukulan Toat-beng Tok-ciang! Ketika para pengawal me­nubruk dengan senjata mereka, Han Han sudah mencelat ke atas lagi, meloncat sambil menyambar dua orang pengawal, kemudian ketika tubuhnya membalik, dua orang itu ia lemparkan ke arah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, disusul tubuhnya yang meluncur dengan serangan kilat.
Dua orang kakek dan nenek itu ter­kejut. Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda buntung yang lihai itu menyusul dengan serangan, maka apa boleh buat mereka menangkis keras se­hingga dua orang pengawal itu terbanting roboh dengan tulang-tulang iga remuk. Benar saja seperti yang mereka duga, tubuh Han Han menyambar seperti se­ekor burung garuda, dan saking cepatnya hanya tampak bayangan berkelebat. Dua orang datuk hitam ini cepat meloncat untuk mengelak, namun masih kurang cepat sehingga pukulan tangan Han Han yang amat panas karena mengandung inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang itu telah mampir di dada Ma-bin Lo-mo sedangkan ujung tongkatnya telah menotok pundak Toat-beng Ciu-sian-li.
“Hyaaaaahhhhh....!”
“Haiiikkkkk....!”
Ma-bin Lo-mo terjengkang dan ber­gulingan, mukanya menjadi pucat sekali dan dadanya sesak, terasa panas seperti dibakar. Adapun nenek sakti itu juga ter­banting ke belakang, cepat duduk bersila untuk menyelamatkan nyawanya karena dia telah terkena totokan yang hebat. Kalau saja Han Han tidak ingat bahwa kedua orang itu pernah menjadi gurunya, biarpun pada saat itu ada puluhan orang pengawal yang menerjangnya, tentu ia akan mudah saja melanjutkan serangan membunuh kedua orang datuk hitam itu. Akan tetapi Han Han tidak ingin membunuh mereka dan dia hanya meng­gerakkan tangan dan tongkatnya, me­lempar-lemparkan para pengawal seperti orang melempar-lemparkan rumput saja.
Gegeriah para pengawal dan mereka mundur-mundur dengan muka ketakutan. Pemuda buntung itu terlalu kuat bagi mereka, seperti sekumpulan nyamuk me­lawan api saja. Melanjutkan pengeroyok­an sama artinya dengan membunuh diri bagi mereka. Adapun Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah men­derita luka, tidak berani melanjutkan pertandingan sebelum mengobati luka mereka, maka mereka berdua pun sudah lenyap memasuki gedung itu, menyelinap di antara sisa para pengawal yang hanya berani mengurung dari jauh sambil bersiap-siap untuk melarikan diri apabila Han Han mengejar. Namun pemuda itu tidak mengejar, hanya berdiri tegak, ber­sandar pada tongkatnya, menengadah dan mengeluarkan suara nyaring memekakkan telinga.
“Puteri Nirahai! Kembalikan adikku....!”
Setelah beberapa kali berteriak tanpa ada jawaban, Han Han lalu meloncat ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Melihat ini, biarpun hati mereka dicekam rasa gentar dan ngeri, namun para pengawal tentu saja segera menghadang dan berusaha mencegah pemuda buntung itu memasuki gedung. Han Han mengeluarkan seruan keras dan begitu tongkatnya berkelebat, para pengawal itu roboh terpelanting ke kanan kiri seperti disambar kilat dan mereka tidak mungkin da­pat menghalang lagi ketika pemuda itu berloncatan cepat melesat ke dalam ge­dung. Sambil berteriak-teriak para pengawal ini kalang kabut mengejar ke dalam.
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 244
Pendekar Super Sakti
Han Han sudah marah sekali. Dia mengamuk seperti gila, menggeledah seluruh kamar gedung itu, mencari Ouwyang Seng dan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Setiap orang pengawal yang ber­usaha menerjangnya dirobohkan dengan sekali gerakan saja. Namun hasil peng­geledahannya sia-sia. Tidak tampak ba­tang hidung Ouwyang Seng yang dicari­nya. Ketika ada lima orang perwira pe­ngawal dengan nekat menerjangnya, ia melompat ke atas dan dari atas sinar tongkatnya bergulung-gulung, empat orang perwira roboh dan seorang lagi ia jambak rambutnya dan ia seret ke sudut ruangan. Dengan ujung tongkat ditedong­kan di leher perwira itu ia membentak.
“Di mana Ouwyang Seng? Hayo jawab!”
Wajah perwira itu pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia dipaksa jatuh berlutut. Dengan napas sengal-sengal ia menjawab.
“Ham.... hamba.... tidak tahu. Sudah lama tidak berada di sini....”
“Mana Ouwyang Cin Kok?”
“Tadi.... ketika ribut-ribut.... beliau lari.... mungkin ke istana....”
“Dan di mana kakek dan nenek tadi? Mana Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li?”
“Lari.... mereka lari.... ke istana....”
Han Han menjadi sebal dan marah. tubuhnya bergerak dan perwira itu sudah ia lemparkan ke sudut, tubuh perwira itu menabrak dinding dan tak dapat bangun lagi karena pingsan saking takutnya. Han Han meloncat keluar dan kini ia melesat amat cepatnya meninggalkan gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah diobrak-abriknya itu, menuju ke istana!
Kemarahan membuat manusia menjadi mata gelap dan lupa diri, lupa akan ba­haya dan demikian pula dengan Han Han. Dia sedang marah sekali. Penderitaan batin yang ia alami bertubi-tubi ditam­bah kemarahannya mendengar bahwa adiknya ditawan membuat Han Han men­jadi nekat dan tidak memakai perhitungan lagi, lupa bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang, betapapun saktinya, untuk menyerbu seorang diri ke istana kaisar!
Tentu saja penjagaan di istana tidak dapat dibandingkan dengan penjagaan para pengawal di gedung Pangeran Ouw­yang Cin Kok. Pasukan pengawal yang dipusatkan menjaga istana amat besar jumlahnya, dan di situ pun banyak ter­dapat pengawal yang berilmu tinggi di samping keadaan istana sendiri yang me­rupakan semacam benteng yang amat kuat! Maka, begitu Han Han tiba di de­pan pintu gerbang, ia sudah dikurung oleh puluhan bahkan lebih dari seratus orang pengawal mengepung ketat, dan ia sudah dikeroyok secara hebat!
“Tangkap pemberontak!”
“Bunuh pemberontak!”
Para pengawal berteriak-teriak biarpun dalam beberapa gebrakan saja Han Han telah merobohkan tujuh orang pe­ngeroyok, namun mereka tetap maju menerjang sehingga Han Han terpaksa memutar tongkat melindungi dirinya sam­bil berteriak.
“Aku bukan pemberontak! Aku hanya ingin bertemu dengan Puteri Nirahai dan minta supaya adikku dibebaskan!”
Tentu saja teriakannya sia-sia karena para pengawal sudah mendengar betapa hebatnya pemuda buntung ini mengacau gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok, kini pemuda itu akan mencelakakan keluarga kaisar ditambah pula, Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri, dengan dikawal oleh Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sudah lari mengungsi ke istana karena itu di situ pun diadakan penjagaan yang ketat.
Biarpun para pengawal tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap ada yang roboh tentu tempatnya digantikan yang lain, namun dengan ilmunya yang mujijat, yaitu gerakan kilat Soan-hong-lui-kun, Han Han dapat menembus pintu gerbang dan memasuki halaman istana. Betapapun juga, dia tidak pernah dapat membebaskan diri dari kepungan yang makin lama makin ketat. Setelah dia memasuki pekarangan istana yang luas, pintu gerbang itu ditutup oleh para pe­ngawal sehingga Han Han kini kehilangan jalan keluar!
“Bebaskan Lulu....! Lepaskan adikku!” Han Han berteriak-teriak dan mengamuk seperti seekor harimau terjebak. Betapa­pun juga, pemuda ini masih ingat bahwa kedatangannya bukan untuk menyebar kematian di antara para pengawal yang ia tahu hanya menjalankan kewajiban mereka menjaga keamanan istana. Oleh karena itu, dia hanya merobohkan mere­ka tanpa membunuh dan hal ini tentu saja amat mudah ia lakukan karena pasu­kan pengawal itu bukan tandingannya. Hanya dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan dan tongkatnya saja sudah cukup baginya untuk membuat ko­car-kacir seperti serombongan semut mengeroyok seekor jengkerik. Kalau ha­nya pasukan pengawal yang mengepung­nya, biar ditambah sampai seribu orang, kiranya akan mudah baginya untuk menyelamatkan diri dan keluar dari tempat itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras, aba-aba dari komandan penjaga yang menyuruh semua pasukan mundur dan mengepung dari jarah jauh. Para pengawal yang tadinya mengeroyok secara mati-matian, kini mundur dengan hati lega dan tampaklah oleh Han Han munculnya orang-orane sakti yang kini menghadapinya.
Mereka itu bukan lain adalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Kang-thouw-kwi Gak Liat. Lima orang tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian hebat!
Han Han maklum bahwa lima orang lawan ini merupakan lawan yang amat berat, terutama sekali dua orang hwesio Tibet itu merupakan wakil dari Pangeran Kiu yang mengkhianati perjuangan Bu Sam Kwi dan para orang gagah dengan mengadakan persekutuan gelap dengan pemerintah Mancu! Ia tersenyum dingin dan berkata.
“Ji-wi Losuhu, aku tidak mau men­campuri urusan kalian, tidak mau me­libatkan diri dengan segala kepalsuan orang-orang yang mencari kedudukan melalui perang, fitnah, pengkhianatan dan lain-lain kekotoran lagi. Aku datang ha­nya untuk menuntut agar adikku Lulu yang ditawan Puteri Nirahai dibebaskan. Biarlah Puteri Nirahai sendiri keluar me­nemuiku! Aku datang bukan untuk me­ngacau, bukan untuk mencari musuh, melainkan semata-mata untuk menolong adikku. Bebaskan adikku, dan aku ber­sama adikku akan mengangkat kaki dari sini dan selamanya tidak akan mencam­puri urusan perang yang terkutuk!”
“Murid murtad! Engkau masih harus menerima hukuman dariku!” Toat-beng Ciu-sian-li berteriak, penuh kemarahan karena nenek ini masih penasaran dan malu mengingat akan kematian muridnya terkasih, yaitu Gu Lai Kwan.
“Han Han, engkau bekas murid yang selain menydeweng juga sudah banyak melakukan penghinaan kepadaku, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” Kata Ma-bin Lo-mo, sengaja mengeluar­kan kata-kata besar untuk menutupi rasa malunya dan untuk berlagak di depan begitu banyak pengawal yang mengurung tempat itu.
“Ha-ha-ha, engkau bekas kacungku, kiranya engkau benar cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat yang menyembunyikan she Suma menjadi she Sie! Ha-ha-ha, meng­ingat bahwa engkau adalah Suma Han cucu Suma Hoat, biarlah aku akan meng­ampunimu asal engkau suka bertekuk lutut dan menyerah, Han Han!” kata Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Sepasang mata Han Han mendelik. Dia memang tidak akan menyembunyikan nenek moyangnya, akan tetapi disebutnya nama kakeknya yang diam-diam amat dibencinya karena dianggapnya sebagai biang keladi keburukan nasibnya itu mem­buat hatinya mengkal sekali, namun ia tetap membungkam.
“Omitohud....! Suma-taihiap biarpun masih muda memiliki kepandaian hebat sekali, benar-benar mengagumkan hati pinceng. Perlu apa menyia-nyiakan usia muda dan berkepandaian tinggi? Menyerahlah, Suma-taihiap!” kata Thian Tok Lama.
“Benar ucapan suheng. Suma-taihiap, lebih baik menyerah dan kalau taihiap berjanji akan membantu menumpas pengkhianat Bu Sam Kwi, tentu yang mulia kaisar akan suka memberi ampun, bahkan menganugerahkan kedudukan kepada­mu.” Thai Li Lama membujuk.
Namun semua ucapan keras menghina dan lembut membujuk itu sama sekali saja, mendatangkan kemarahan di hati Han Han. Ia berdiri tegak di atas kaki tunggalnya, memegang tongkal butut di ta­ngan kiri dan menyilangkan lengan kanan di depan dada, kemudian berkata.
“Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan pemerintah maupun dengan Ngo-wi Locianpwe yang merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Aku datang hanya untuk minta kebebaskan adikku!”
“Hiye-heh-heh! Bocah sombong! Kalau tidak diserahkan, kau mau apa?”
“Akan kurebut dengan paksa dan kuusahakan sampai aku mati.”
“Pemuda buntung sombong!” Toat-beng Ciu-sian-li sudah menggerakan rantai gelang di kedua telinganya sehingga terdengar suara berdencingan nyaring dan menggetarkan hati para pe­ngawal yang mengurung tempat itu sam­bil berjaga-jaga, menutup jalan keluar pemuda buntung itu.
“Omitohud, betapa tabahnya!” Thian Tok Lama yang gendut itu berseru me­muji karena benar-benar pendeta dari Tibet ini merasa kagum sekali. “Apakah taihiap berani melawan kami sedangkan tempat ini telah dikurung oleh ribuan orang pengawal?”
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 245
Pendekar Super Sakti
Han Han menoleh ke sekelilingnya dan melihat bahwa pasukan pengawal kini bertambah banyak, tentu ada dua tiga ribu orang banyaknya. Ketika ia menyapu keadaan di seluruh halaman istana de­ngan pandang matanya yang tajam, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di puncak genteng istana, akan tetapi lenyap lagi, entah bayangan manusia ataukah bukan.
“Thian Tok Lama, bagiku, persoalannya bukan berani atau takut, melainkan benar atau salah. Kalau aku berpijak pada kebenaran, tidak ada lagi kata-kata takut, karena mati dalam kebenaran adalah mati yang terhormat. Kalau aku benar, biar menghadapi iblis sekalipun aku tidak takut, sebaliknya kalau aku salah, biar menghadapi seorang anak kecil pun aku tidak berani. Aku datang untuk membebaskan adikku, dan hal ini benar, maka aku tidak takut. Ter­serah kepada Ngo-wi, apakah aku me­nonjolkan kegagahan dengan cara mengeroyok aku dibantu pula oleh ribuan orang pasukan pengawal!” Ucapan terakhir Han Han ini mengandung ejekan yang amat tajam sehingga wajah kelima orang tokoh beser itu menjadi merah.
Memang harus diakui bahwa peristiwa yang kini mereka hadapi merupakan pe­ristiwa yang ajaib dan amat memalukan. Biasanya, setiap orang di antara mereka berlima yang telah memiliki kesaktian tinggi, tidak pernah atau jarang sekali menemui tanding sehingga mereka ber­angkuh dan menganggap diri sen­diri sebagai tokoh tingkat tinggi yang tidak mau sembarangan bergerak, apalagi hendak mengeroyok lawan. Dan sekarang, mereka berlima menghadapi seorang pe­muda yang selain masih amat muda pa­tut menjadi cucu mereka, juga yang ha­nya memegang sebatang tongkat butut dan yang kakinya tinggal satu! Meng­hadapi seorang lawan muda penderita cacad dengan masih mengandalkan peng­urungan ribuan orang pengawal! Benar-benar merupakan peristiwa yang tak pernah mereka mimpikan dan amatlah merendahkan nama besar mereka!
“Omitohud, orang muda yang som­bong. Kaukira pinceng tidak berani meng­hadapimu seorang diri?” Thai Li Lama menjadi tersinggung sekali dan ia sudah meloncat maju menghadapi Han Han. Empat orang tokoh yang lain juga me­rasa jengah dan tersinggung, maka mere­ka ini hanya menonton, ingin melihat apakah pendeta Tibet yang kurus itu akan dapat mengatasi Han Han si pe­muda buntung yang benar-benar merupa­kan lawan aneh yang baru pertama kali mereka jumpai selama hidup mereka yang sudah setengah abad lebih.
Han Han mengerti bahwa Thai Li Lama adalah seorang yang selain pandai ilmu silat aneh dari barat, juga memiliki kepandaian ilmu hitam dan ilmu sihir, maka ia bersikap waspada dan sudah bersiap dengan tongkat dilintangkan di depan dada, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka berada di atas kepala, telapak tangannya menghadap ke langit, diam-diam ia telah mengerahkan sin-kang di tubuhnya, yang berputaran dan siap disalurkan untuk menghadapi lawan yang kuat ini.
Akan tetapi aneh, pendeta Tibet itu tidak segera bergerak menyerangnya, melainkan berdiri tegak dan kaku, kepala lurus, kedua lengan lurus di kanan kiri tubuhnya, kemudian terdengar suaranya, halus seperti membujuk.
“Suma-taihiap, kauturutilah permintaanku, tundukkan kepalamu....”
Han Han merasa ada getaran aneh terbawa oleh suara ini, begitu lembut mengelus perasaannya, mendatangkan rasa terharu dan tidak tega untuk me­nolak permintaan itu. Akan tetapi kesadarannya membisikkan bahwa kakek ini tentu menggunakan ilmu sihir, maka se­baliknya dari menundukkan kepala, ia malah menengadah, memandang ke ang­kasa! Benar-benar merupakan gerakan kebalikan daripada apa yang diminta hwesio Tibet itu! Merupakan tantangan!
“Omitohud, agaknya taihiap hendak menggunakan kekerasan. Baiklah. Suma Han, kaupandang mataku kalau berani!”
Andaikata ucapan yang dikeluarkan merupakan perintah nyaring dan berwi­bawa ini tidak diembel-embeli “kalau berani”, tentu Han Han tidak sudi me­nurut, sungguhpun di dalam suara itu terkandung wibawa dan tenaga mujijat yang seolah-olah memaksanya dan menguasai perasaan dan pikirannya. Akan tetapi kata “kalau berani” membuat Han Han penasaran. Mengapa tidak berani? Ia lalu memandang ke depan, menentang pandang mata hwesio itu. Dua pasang sinar mata bertemu! Semua orang me­nahan seruan saking kaget dan seram melihat dua pasang pandang mata yang luar biasa itu. Sepasang mata Thai Li Lama yang sipit itu berubah bundar dan seolah-olah ada sinar terang keluar dari sepasang matanya, sedangkan sepasang mata Han Han menjadi tajam seperti mengandung api!
Thai Li Lama berkemak-kemik dan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguasai kemauan dan pikiran Han Han melalui pandang matanya, me­nyerang pemuda itu dengan ilmu i-hun-to-hoat untuk membetot semangat (hyp­notism), akan tetapi Han Han yang me­rasa betapa sinar mata itu seolah-olah menembus jantungnya, cepat membulat­kan tekadnya untuk tidak tunduk dan dia malah membalas dengan pandang mata berapi-api. Di luar kehendak manusia, memang terjadi keanehan yang mujiiat di dalam diri pemuda buntung ini. Kekuatan gaib telah dimilikinya semenjak mala­petaka menimpa keluarganya dan kekuat­an kemauannya menjadi luar biasa sekali. Kemauan yang mujijat ini tidak saja membuat dia tidak mungkin dapat di­tembusi oleh ilmu hitam yang hendak menguasainya, bahkan kemauannya yang amat kuat ini dapat memancar keluar dan masih cukup kuat untuk menguasai orang lain!
Kini Han Han yang maklum apa yang sedang dilakukan lawannya, membulatkan tekadnya untuk melawan dan menolak­ getaran halus yang keluar dari sinat mata Thai Li Lama. Ketika ia disuruh memandang, dia memang melakukannya, akan tetapi sama sekali bukan berdasar­kan tunduk akan perintah itu, melain­kan karena memang timbul atas kehendaknya sendiri hendak “mengadu kekuatam pandang mata” dengan hwesio Tibet itu. Maka terjadilah “pertandingan” yang luar biasa, lebih hebat daripada pertandingan adu kekuatan sin-kang karena yang diadu kini adalah kekuatan batin yang getaran­nya bergelombang terasa oleh semua orang yang hadir sehingga mereka itu terpesona seperti kemasukan pengaruh mujijat.
Dua pedang sinar mata itu masih saling dorong, saling banting dan berusaha sekuatnya untuk menundukkan la­wan, kalau kelihatan tentu amat seru seperti dua ekor naga saling serang. Keduanya tak pernah berkedip, bahkan mata mereka makin lama makin lebar, dengan sinar yang berapi-api. Diam-diam Thai Li Lama terkejut bukan main. Dia tadinya hanya menganggap bahwa pemuda buntung itu amat lihai ilmu silatnya, dan siapa mengira bahwa ternyata pemuda ini pun agaknya seorang ahli hoat-sut, ahli sihir yang memiliki kekuatan batin luar biasa sekali! Biasanya, betapapun pandai silat lawannya, sekali ia meng­gunakan ilmu membetot semangat ini, lawannya tentu akan mudah ia tunduk­kan. Kini melihat kenyataan betapa sama sekali ia tidak dapat menundukkan pe­muda buntung ini, bahkan, seolah-olah sinar matanya melekat pada sinar mata pemuda itu, sukar dilepaskan lagi, Thai Li Lama menjadi kaget dan penasaran. Mulutnya berkemak-kemik membaca man­tram dan ia menggunakan seluruh kepan­daian sihirnya yang dahulu ia pelajari dari guru-guru besar dari India di lereng Pegunungan Himalaya. Tiba-tiba ia me­ngeluarkan gerengan seperti suara seekor biruang dan membentak.
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 246
Pendekar Super Sakti
“Suma Han, lihat baik-baik siapa aku? Akulah manusia naga dari Himalaya, berkepala tiga berlengan delapan! Lekas kauberlutut dan menyerah!” Dari kepala pendeta Tibet itu mengepul uap putih kebiruan dan terdengarlah suara berisik ketika pasukan itu berseru dan berbisik penuh ketakutan sambil memandang ke arah Thai Li Lama dengan mata terbelalak dan muka pucat, tangan menuding dan kaki gemetar. Siapa orangnya yang tidak akan akan merasa ngeri dan takut? Pendeta Tibet yang tadinya bertubuh kurus kecil dan wajahnya sama sekali tidak menimbulkan rasa gentar itu kini telah berubah menjadi mahluk yang luar biasa. Tubuhnya masih tidak berubah, akan tetapi kepalanya berubah menjadi kepala naga, yang hidungnya menghembuskan uap biru, dan bukan hanya sebuah kepala naga yang mengerikan itu, melainkan ada tiga buah! Dan lengannya bukan dua lagi, melainkan bertumbuh enam buah lengan tangan lain di pundaknya, sehingga lengannya ber­jumlah delapan!
Bagi Han Han, karena penglihatannya dilindungi oleh perisai kemauan yang membaja, perubahan pada diri Thai Li Lama itu hanya tampak suram-suram saja. Pemuda ini mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya. Pemuda ini tidak pernah mempelajari hoat-sut, tidak tahu bagaimana untuk mempergunakan kekuatan batinnya dalam ilmu ini, akan tetapi ia mengerti bahwa kalau ia mengerahkan kemauannya, maka ia tidak akan dapat terpengaruh orang lain bahkan dapat menguasai kemauan orang. Kini ia mengerti bahwa lawannya menggunakan ilmu sihir yang aneh, maka setelah mengerahkan seluruh tenaga kemauannya, ia tertawa dan berkata.
“Hemmm, Thai Li Lama, engkau ini seorang pendeta yang sudah tua, meng­apa bersikap seperti anak kecil? Permainanmu ini hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, akan tetapi bagiku, engkau tetap Thai Li Lama yang biasa, berke­pala hanya sebuah yang penuh dengan akal muslihat kotor dan berlengan dua yang tidak segan-segan melakukan per­buatan jahat!”
Semua pasukan yang mendengar ucapan Han Han yang keras dan berwibawa ini melihat perubahan aneh pada diri Thai Li Lama. Sekarang pendeta itu berubah menjadi biasa kembali dan kedua orang lawan itu masih melanjutkan mengadu kekuatan melalui sinar mata yang berapi-api! Akhirnya Thai Li Lama tidak kuat menahan, kepalanya berdenyut-denyut amat peningnya dan dari kedua matanya keluar air mata karena saking panas dan pedas rasa kedua matanya. Ia terhuyung dua langkah, dan tiba-tiba memekik sambil memukulkan sebelah tangannya ke arah dada Han Han, se­dangkan tangan yang lain membuat ge­rakan seperti orang menulis huruf.
Han Han sudah siap sedia, ia melengking nyaring dan kedua tangannya juga mendorong ke depan, sebelah kiri dengan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan yang kanan dengan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang! Dilanda dua macam tenaga yang berhawa amat dingin dan amat panas ini, Thai Li Lama terlempar ke belakang dan roboh terguling-guling. Ia dapat meloncat bangun lagi, akan tetapi napasnya terengah-engah dan mukanya pucat!
Melihat keadaan sutenya, Thian Tok Lama sudah merendahkan tubuhnya yang gendut, perutnya mengeluarkan suara berkokok, seperti ayam biang, dan kedua tangannya menyerang dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang ampuhnya menggila itu. Tangan kanannya berubah biru dan dari kedua telapak tangan itu menyambar uap hitam ke arah Han Han. Pada saat yang hampir sama, tiga orang tokoh sakti yang lain, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menerjang dengan pukulan-pukulan sakti mereka ke arah Han Han.
Namun semua pukulan sakti yang membawa maut itu luput karena pada saat yang tepat, tubuh Han Han telah lenyap dan pemuda buntung yang amat sakti ini telah melesat ke atas, kemudi­an menukik turun dengan tongkatnya diputar menjadi sinar kehijauan melingkar-lingkar yang menyambar ke arah kepala lima orang pengeroyoknya! Lima orang tokoh besar itu yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang sudah mencapai puncaknya, cepat mengelak dan melakukan pengurungan ketat dari lima penjuru, seolah-olah secara otomatis membentuk ngo-heng-tin (barisan lima anasir).
Terjadilah pertandingan yang amat seru dan luar biasa. Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak melancarkan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang berhawa panas sekali. Juga Ma-bin Lo-mo Siang­koan Lee Si Iblis Muka Kuda menghujan­kan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin seperti salju. Toat-beng Ciu-sian-li dengan penuh amarah menggerakkan sepasang rantai gelang di kedua telinganya yang merupakan sepasang senjata ampuh, dibantu sambaran rambutnya dan serangan kedua, tangan penuh kuku runcing dengan pukulan Toat-beng Tok-ciang yang beracun. Kedua orang pendeta Lama dari Tibet juga tan­pa segan-segan lagi karena maklum akan kelihaian pemuda buntung itu, menyerang dengan pukulan-pukulan sakti mereka.
Han Han mengerti sepenuhnya bahwa dia terancam maut. Dia mengenal ke­hebatan lima orang lawannya. Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, dia yakin akan dapat mengalahkan mere­ka. Akan tetapi, dikeroyok lima orang yang memiliki kepandaian setinggi itu, benar-benar amat berbahaya dan selama hidupnya, baru sekali ini ia benar-benar dihadapkan dengan pengeroyokan lawan yang menggiriskan! Terpaksa pemuda buntung yang amat sakti ini mengerahkan seluruh kepandaiannya yang pernah di­pelajarinya dan mengerahkan seluruh tenaga sin-kang yang berada di tubuhnya untuk melindungi diri dan juga untuk balas menyerang.
Pada saat itu, senja telah mendatang dan keadaan cuaca mulai menggelap. Di atas wuwungan istana, jauh tinggi di puncaknya, terdapat dua orang yang me­nonton pertandingan itu penuh takjub. Mereka ini bukan lain adalah Puteri Nirahai dan gurunya, Puteri Maya. Tadi mereka keluar dari istana ketika men­dengar akan kekacauan di depan istana, akan tetapi melihat bahwa yang datang mengacau hanya seorang pemuda buntung dan yang menghadapi pemuda buntung itu sudah amat banyak, hati Maya menjadi tertarik maka ia memegang tangan muridnya diajak meloncat naik ke atas wu­wungan dan menonton. Bagi Puteri Maya, benar-benar merupakan pantangan besar dan amat memalukan kalau harus ikut-ikutan mengeroyok seorang lawan yang masih begitu muda, buntung kakinya dan sudah dikeroyok begitu banyak orang. Juga Puteri Nirahai merasa segan untuk turun tangan karena hal ini akan me­rendahkan derajatnya sebagai seorang puteri kaisar terutama sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi.
Begitu mendengar teriakan-teriakan Han Han yang minta dibebaskannya Lulu, Nirahai dapat menduga bahwa tentulah pemuda buntung ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu. Ia merasa heran dan terkejut melihat bahwa pemuda itu buntung sebelah kakinya, padahal Lulu tidak pernah mengatakan bahwa kakaknya itu buntung! Dan dia terpesona, takjub menyaksikan gerakan dan sepak-terjang pemuda buntung itu, kagum menyaksikan betapa pemuda itu sanggup menghadapi Ilmu I-hun-to-hoat dari Thai Li Lama, dan hatinya berdebar aneh menyaksikan wajah tampan dilingkari rambut riap-riapan itu, terutama sekali melihat se­pasang sinar mata yang begitu tajam dan mengandung sesuatu yang aneh.
“Ihhhhh....! Kedua tangannya mengandung pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang digunakan secara berbareng! Memecah sin-kang menjadi berlawanan ini dari mana dia mempelajarinya? Siapa bocah setan itu....?” terdengar Nenek Maya mengomel dan mata­nya memandang terbelalak penuh kaget dan heran menyaksikan Han Han menggunakan kedua tangannya untuk mengha­dapi lima orang pengeroyoknya.
“Subo, dia itulah yang selalu dicerita­kan Lulu-sumoi. Dia kakak angkatnva yang bernama Han Han,” jawab Nirahai tanpa mengalihkan pandang matanya dari medan pertandingan di bawah.
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 247
Pendekar Super Sakti
Akan tetapi Nenek Maya biarpun mendengar ucapan muridnya itu, agaknya tidak mengacuhkan karena dia mengalami kekagetan demi kekagetan ketika me­nyaksikan pertempuran itu, mulutnya mengeluarkan seruan-seruan heran, “Lihat pukulannya itu....! Tendangan dengan satu kaki....! Aihhh, bukankah itu jurus-jurus simpanan yang hanya dikenal kami bertiga di Pulau Es? Dan itu heiiiii....! Itu gerakan tongkatnya.... bukankah bagian dari Siang-mo Kiam-sut! Dan loncatan-loncatan itu.... hemmm.... seperti telah mengenalnya akan tetapi demikian aneh! Bukan main! Siapa bocah ini?”
“Subo, dia Han Han dan seperti subo ketahui, dengan Lulu dia telah berhasil mewarisi kitab-kitab di Pulau Es.”
“Aihhh....! Benar! Tapi loncatan-loncatan itu! Ilmu silat iblis manakah itu? Benar-benar hebat dan mengerikan!” Ternyata Nenek Maya ini merasa terkejut dan kagum sekali karena sebagai seorang ahli dia sampai tidak mengenal ilmu silat dengan gerakan kilat itu. Memang itu adalah Ilmu Soan-hong-lui-kun yang diciptakan oleh sumoinya sendiri, Khu Siauw Bwee, dalam pertapaannya! Tentu saja dia tidak mengenalnya sungguhpun ia merasa kenal akan dasar-dasarnya.
Memang, untuk menghadapi pengero­yokan lima orang sakti itu, terpaksa Han Han mengerahkan seluruh kepandaiannya. Gerakan Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun yang ia pelajari dari Khu Siauw Bwee, tongkatnya dimainkan seperti pedang de­ngan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, dan tangan kanannya melakukan serangan bergantian dengan hawa sin-kang Im dan Yang, juga ia mencampurkan gerakan-gerakan silat dari kitab-kitab yang telah !a pelajari dari Pulau Es, disesualkan untuk menghadapi hujan serangan kelima orang lawannya! Benar-benar hebat pe­muda ini dan barulah terbukti kesaktiannya yang jarang dapat ditemui tanding­nya, karena setelah bertempur selama ratusan jurus, mengandalkan kelincahan ilmu gerak kilat, ia sama sekali tidak terdesak, bahkan berhasil membuat pengepungan lima orang sakti itu kocar-kacir. Tentu saja lima orang pengeroyok­nya menjadi penasaran sekali, terutama Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li karena pemuda itu bekas murid mere­ka, dan Gak Liat karena bocah itu da­hulu bekas kacungnya!
Cuaca semakin gelap dan para pe­mimpin pasukan pengawal yang melihat betapa pemuda buntung itu masih juga belum dapat ditundukkan oleh lima orang sakti itu, menjadi khawatir kalau pe­muda itu akan berhasil menyerbu ke is­tana, maka mereka lalu mulai menge­luarkan aba-aba dan pengurungan pasukan dipersempit dan diperketat, siap untuk menerjang pemuda itu seperti air bah mengamuk.
Han Han melihat ancaman ini. Tidak mungkin baginya untuk menghadapi pe­ngeroyokan begitu banyak orang, sedang­kan pengeroyokan lima orang sakti itu saja sudah amat melelahkannya. “Lebih baik aku menerobos ke dalam istana menangkap Puteri Nirahai atau mencari di mana ditahannya Lulu agar aku dapat membebaskan adikku dan mengajaknya lari dari situ,” pikirnya. Ia mulai men­cari kesempatan untuk lolos dan mener­jang ke dalam istana. Akan tetapi lima orang pengeroyoknya makin lama makin penasaran dan marah sekali. Dari depan, sepasang pendeta Lama sudah menerjang­nya dengan pukulan-pukulan sin-kang yang lihai, sedangkan dari kanan kiri Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi sudah mener­jang pula. Han Han menggunakan tangan kanannya mendorong ke depan, sekaligus menolak pukulan kedua orang Lama. Hebat bukan main pengerahan tenaganya ini sehingga kedua orang Lama itu ter­huyung ke belakang. Pada saat itu pu­kulan Kang-thouw-kwi Gak Liat dengan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang sudah menerjang datang, didahului oleh si nenek Toat-beng Ciu-sian-li yang menye­rangnya dari belakang dengan sambaran rantai gelang!
Han Han mengeluarkan suara meleng­king, tubuhnya cepat melesat ke bela­kang, tinggi dan berjungkir balik, tangan kanannya cepat menyambar dan ia ber­hasil menangkap ujung rantai gelang nenek itu yang menyambarnya. Dengan sepenuh tenaga disentakkannya kuat-kuat hingga tubuh nenek itu melayang ke atas. Nenek itu menjerit, kalau bukan dia tentu daun telinganya akan putus. Han Han melontarkan tubuh nenek itu dengan melepaskan rantai gelang ke arah Kang-thouw-kwi yang memukulnya tadi! Kini tubuh nenek itu melayang dan akan bertemu dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang ampuh!
Melihat ini, Ma-bin Lo-mo berseru kaget, cepat ia pun mengerahkan tenaga­nya mendorong ke depan untuk menyambut pukulan Gak Liat dalam usahanya menolong nenek itu.
“Desssss....!” Ma-bin Lo-mo terjengkang sedangkan Gak Liat terdorong mundur sambil terbatuk-batuk dan sedikit darah keluar dari mulutnya. Nenek itu sendiri terbanting roboh ke atas tanah, amat kerasnya sehingga nenek ini menge­luh dan merasa seolah-olah pantatnya yang tiada dagingnya lagi terbanting peyok!
Ketika lima orang sakti yang dalam gebrakan hebat ini terdesak cepat me­nguasai diri dan hendak menerjang, tiba-tiba tubuh Han Han melesat ke atas, melampaui kepala para anak buah pasu­kan yang mengurung dan telah melayang ke atas genteng istana. Ramailah pasukan itu lari mengejar, ada pula yang me­masang obor karena cuaca sudah mulai remang-remang.
“Kejar ke atas....!”
“Awas, kepung istana agar dia tidak lari!”
“Heiii, lekas jaga sebelah dalam istana, hadang semua jalan!”
“Paling perlu lindungi kamar-kamar Sri Baginda dan keluarganya!”
Ramailah pasukan pengawal itu berteriak-teriak dan bergerak kacau-balau seperti serombongan semut diganggu sa­rangnya. Adapun lima orang sakti itu, biar sudah amat tertinggal jauh, segera meloncat pula naik ke atas genteng me­lakukan pengejaran.
Cara Han Han meloncat amat luar biasa karena dia menggunakan ilmunya gerak kilat, tubuhnya mencelat-celat ke atas sampai ke wuwungan. Tiba-tiba ia berhenti di atas wuwungan memandang terbelalak kepada seorang nenek dan se­orang gadis cantik jelita yang berdiri tenang di situ. Melihat gadis itu dalam cuaca yang remang-remang, Han Han memekik girang.
“Lulu....!” Tubuhnya mencelat dan ia telah berada di depan gadis itu, terus dirangkulnya sambil mengeluh karena kelelahan, “Lulu adikku.... ah, Lulu.... syukur kau selamat.... kauampunkanlah aku, Lulu....!” Saking girang hatinya, seperti dahulu, ia mencium pipi adiknya itu, tidak tahu betapa gadis itu terbela­lak dan mukanya menjadi merah sekali. Dapat dibayangkan betapa malu dan je­ngah rasa hati gadis ini yang bukan lain adalah Puteri Nirahai sendiri yang di­sangka Lulu oleh Han Han. Memang ada persamaan pada wajah kedua orang gadis itu dan juga bentuk tubuh mereka sama, maka tidak mengherankan apabila Han Han yang dalam keadaan lelah salah duga melihat Nirahai dalam cuaca re­mang-remang itu.
Han Han berada dalam kegirangan luar biasa melihat “adiknya” selamat, maka ketika merangkul dan menciumnya, kegirangan membuat ia kehilangan kewaspadaannya dan tiba-tiba ia mengeluh, tubuhnya menjadi lemas karena jalan darah di punggungnya telah tertotok se­cara hebat bukan main. Totokan biasa saja kiranya tidak akan mempengaruhi tubuhnya yang dialiri sin-kang amat kuat, akan tetapi sekali ini yang menotoknya adalah Nenek Maya serdiri! Maka ia ter­guling dan tahu-tahu telah dikempit oleh lengan kiri Nenek Maya.
Pada saat itu, lima orang sakti telah menyusul ke atas wuwungan. Nenek Maya yang mengempit tubuh Han Han, ter­senyum mengejek dan berkata, “Dia sudah kutangkap, kalian mau apa?”
Lima orang sakti itu telah mendengar bahwa di istana terdapat guru Puteri Nirahai yang amat lihai, akan tetapi karena belum pernah melihat nenek ini yang kehadirannya dirahasiakan, Toat-beng Ciu-sian-li yang berwatak angkuh segera menegur, “Engkau siapakah?”
Nirahai khawatir kalau-kalau gurunya yang memiliki watak aneh luar biasa itu menjadi marah, maka ia cepat maju dan berkata halus. “Harap Ngo-wi Locianpwe suka mundur dan beristirahat karena pe­ngacau telah dapat ditangkap oleh guru saya dan akan kami periksa sendiri.”
Mendengar ini, Toat-beng Ciu-sian-li terkejut dan memandang tajam penuh perhatian kepada Nenek Maya. Ia merasa sudah pernah melihat nenek itu, akan tetapi tidak ingat lagi kapan dan di ma­na. Juga tokoh-tokoh lain ketika men­dengar bahwa nenek yang agaknya de­ngan amat mudahnya menangkap Han Han yang tadi membuat mereka berlima kewalahan itu adalah guru Nirahai, cepat menjura dengan hormat. Mereka semua tahu akan kelihaian puteri cantik itu, kalau muridnya saja sudah demikian li­hainya, apa lagi gurunya!
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 248
Pendekar Super Sakti
demikian li­hainya, apa lagi gurunya!
Nenek Maya sudah membalikkan tu­buhnya dan tanpa mengeluarkan ucapan sedikit pun ia telah meloncat turun me­ngempit tubuh Han Han, diikuti oleh Nirahai, memasuki istana kembali melalui pintu belakang. Lima orang tokoh itupun cepat turun dan kini pasukan pe­ngawal sibuk merawat teman-teman yang terluka dalam pengeroyokan mereka ter­hadap Han Han tadi.
Malam itu, suasana di sekeliling is­tana sunyi sepi, akan tetapi di dalam kesunyian ini, penjagaan para pengawal diperkuat karena para komandan pengawal merasa khawatir kalau-kalau datang lagi pengacau yang berilmu tinggi seperti di pemuda buntung yang kini telah menjadi tawanan Puteri Nirahai di dalam istana.
Setelah tertotok lemas dan dibawa oleh nenek sakti itu ke dalam istana, barulah Han Han dapat melihat wajah Puteri Nirahai di bawah sinar lampu yang terang dan ia terkejut setengah mati ketika mendapat kenyataan bahwa gadis yang disangkanya Lulu, dirangkul dan dicium pipinya tadi ternyata sama sekali bukanlah Lulu, melainkan seorang gadis yang mirip Lulu dan cantik jelita sekali. Kekagetannya bertambah ketika ia melirik dan mengamati wajah nenek yang mengempitnya. Ia mengenal wajah ini yang biarpun sudah tua namun masih membayangkan kecantikan, membayang­kan raut muka yang mirip benar dengan puteri jelita ini, mirip pula dengan Lulu, dan.... mirip dengan patung wanita di Pulau Es. Han Han terbelalak, kini ia kembali memandang Nirahai. Bukan main! Sekarang terasa benar olehnya kemiripan wajah gadis jelita ini dengan patung Puteri Maya di Pulau Es! Han Han me­longo, terpesona, dan biarpun tubuhnya dikempit, pandang matanya seperti lekat pada wajah Puteri Nirahai.
Puteri Maya membawa tubuh Han Han memasuki ruangan dalam yang luas di depan kamarnya, kemudian sekali tangannya bergerak, Han Han telah di­bebaskan totokannya dan tubuhnya telah dilempar ke atas lantai. Kemudian nenek sakti itu duduk di atas kursi, menyambar guci arak dan minum arak dari sebuah cawan perak. Adapun Puteri Nirahai masih berdiri. Gadis ini memandang wa­jah Han Han penuh perhatian, meman­dang ke arah kaki dan alisnya yang ba­gus itu berkerut dalam kesangsian dan pertanyaan apakah pemuda ini benar-benar kakak Lulu yang bernama Han Han!
Han Han meloncat bangun dan ter­huyung karena tubuhnya masih terasa lemas, bukan oleh bekas totokan yang telah dibebaskan, karena sin-kangnya membuat ia dapat menguasai kembali jalan darahnya, melainkan karena lelah­nya setelah melakukan pertempuran yang berat tadi. Tiba-tiba Nenek Maya meng­gerakkan tangan dan tongkat butut Han Han yang tadi dia bawa pula melayang ke arah Han Han, melayang seperti lun­curan anak panah menuju ke dada pe­muda buntung itu. Han Han cepat me­nyambarnya dan nenek itu kagum bukan main. Pemuda buntung ini benar-benar tidak mengecewakan menjadi murid atau ahli waris Istana Pulau Es! Dengan tong­kat di tangannya, Han Han dapat berdiri tegak dan ketika ia memandang Nirahai, puteri inipun sedang memandangnya pe­nuh perhatian. Dua pasang mata bertemu pandang dan wajah Han Han menjadi merah sekali. Ia teringat betapa tadi ia merangkul dan mencium pipi yang halus kemerahan itu. Tak terasa lagi ia lalu berkata lirih menggagap.
“Maaf.... maafkan kekurangajaranku tadi.... kukira engkau adikku Lulu.”
Wajah puteri yang berkulit halus putih kemerahan itu menjadi makin merah, akan tetapi ia hanya mengangkat pundak­nya lalu bertanya, suaranya dingin seolah-olah hal yang dihadapi dan ditanya­kannya adalah urusan kecil. “Apakah engkau ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu?”
Han Han mengangguk dan bertanya, “Di manakah adikku? Dan engkau.... eh, tentu engkau inilah Puteri Nirahai, bu­kan? Mengapa engkau menangkap adikku itu dan di mana dia? Kuharap kau suka membebaskannya. Kedatanganku ini bukan untuk mengacau, hanya untuk membebas­kan adikku.”
Nirahai tersenyum mengejek. “Tidak membikin kacau akan tetapi membunuh dan melukai banyak pengawal istana, menggegerkan istana. Bahkan pernah menjadi pembantu pemberontak di Se-cuan! Hemmm, tentang urusan Lulu, dia adalah sumoiku, karena dia menyeleweng maka kutangkap. Subo yang menangkap­mu, maka terserah kepada subo untuk mengadilimu. Subo, teecu akan pergi sekarang mempersiapkan pertemuan pen­ting itu. Mengenai orang buntung ini, terserah kepada subo.”
Nenek Maya mengangguk, sejak tadi nenek ini memandang Han Han penuh perhatian, lalu menggerakkan tangan menyuruh Puteri Nirahai pergi. Setelah melontarkan kerling mata terakhir ke­pada Han Han, mulut yang manis itu me­nyimpulkan senyum, Nirahai lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Han Han kini menghadapi Nenek Ma­ya, mereka saling pandang dan Han Han menjadi makin yakin di dalam hatinya bahwa nenek ini tentulah wanita yang patungnya berada di Pulau Es, suci dari gurunya yang telah membuntungi kaki gurunya itu. Dan betapa hebat persamaan puteri cantik tadi dengan patung itu pula!
“Orang muda, engkaukah pemuda yang bersama muridku Lulu tinggal bertahun-tahun di Pulau Es?” Nenek Maya ber­tanya sambil memandang tajam.
Karena kini tidak ragu lagi, Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut dan ber­kata, “Benar, subo, harap subo memaaf­kan kelancangan teecu yang telah membikin ribut di tempat ini. Teecu tidak tahu bahwa adik teecu telah menjadi murid subo, dan sesungguhnya teecu hanya mengkhawatirkan keselamatan Lulu.”
“Hemmm...., kau menyebut aku subo (Ibu Guru), atas dasar apakah? Tahukah engkau, siapa aku?”
Han Han teringat bahwa seperti juga Khu Siauw Bwee, nenek buntung yang menjadi gurunya, Nenek Maya ini pun telah mengasingkan diri dan tidak pernah ­muncul di dunia ramai, maka tentu saja nenek itu ingin sekaii tahu bagaimana Han Han dapat mengenalnya.
“Maafkan teecu kalau keliru. Subo adalah Puteri Maya yang arcanya pernah teecu lihat di dalam Istana Pulau Es, bersama arca Subo Khu Siauw Bwee dan Suhu Kam Han Ki.”
“Aihhhhh....!” Nenek itu terbelalak dan sepasang matanya berkilat-kilat, “Di antara kami bertiga tidak mungkin ada yang meninggalkan nama di Pulau Es. Bagaimana engkau bisa mengenal nama-nama kami? Awas, sekali engkau ber­bohong, aku akan membunuhmu!”
Pandang mata, suara dan sikap nenek ini benar-benar membuat Han Han meng­kirik. Betapa jauh bedanya nenek ini dengan gurunya Si Nenek Buntung. Nenek ini memiliki kecantikan yang amat luar biasa, seperti bukan manusia, akan tetapi di samping kecantikannya, juga memiliki watak yang mengerikan. Dan tentang ke­pandaian, tentu saja nenek ini memiliki kesaktian hebat, hal ini dia tidak ragu-ragu lagi mengingat akan hebatnya kepandaian Khu Siauw Bwee, nenek yang menjadi gurunya, yang kakinya dibuntungi oleh Nenek Maya ini.
“Teecu tidak berani membohong. Ten­tu subo telah mendengar penuturan adik teecu tentang pengalaman kami berdua di Pulau Es. Teecu bersama Lulu me­mang tadinya tidak tahu sama sekali siapa adanya tiga arca yang berada di Istana Pulau Es itu. Akan tetapi, teecu telah berjumpa dengan Subo Khu Siauw Bwee....” Tiba-tiba Han Han menghentikan kata-katanya. Seluruh urat syaraf di tubuhnya menggetar dan hanya dengan kemauannya yang amat keras saja ia dapat memaksa dirinya untuk tinggal diam berlutut dan tidak melawan, meng­elak maupun menangkis. Nenek itu telah mencelat ke dekatnya dan tahu-tahu jari tangan nenek itu telah menyentuh ubun-ubun kepalanya, siap untuk mencengke­ram! Sedikit saja nenek itu menggunakan tenaganya mencengkeram, tentu kepalanya akan pecah!
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 249
Pendekar Super Sakti
“Orang muda.... hati-hati kau.... kalau bohong....!” Suara itu terdengar gemetar, agaknya Nenek Maya ini ter­haru dan terkejut mendengar bahwa su­moinya itu masih hidup!
“Teecu bersumpah tidak bohong, subo. Teecu ditangkap dan kaki teecu dibun­tungi aleh Toat-beng Ciu-sian-li sebagai hukuman, teecu terjerumus ke dalam jurang, hanyut di sungai dan ketika teecu berhasil mendarat, teecu bertemu dengan Subo Khu Siauw Bwee. Maka teecu lalu memberi kantung surat, yaitu peninggalan Suhu Kam Han Ki yang teecu ba­wa dari Pulau Es untuk teecu sampaikan kepada orang yang berhak. Dan ternyata surat-surat itu memang ditujukan oleh suhu kepada Subo Khu Siauw Bwee....”
Kembali Han Han menghentikan kata-katanya karena nenek itu mengeluh lalu terhuyung-huyung ke belakang dan men­jatuhkan lagi dirinya di atas kursi. Wa­jahnya yang dahulu di waktu mudanya tentu amat cantik itu pucat sekarang.
“Teruskan.... teruskan.... apa isi surat-suratnya itu....”
Diam-diam Han Han berpikir. Biarpun nenek buntung Khu Siauw Bwee tidak mau menceritakan pengalaman-pengelaman mereka bertiga di waktu muda ketika mereka berada di Pulau Es, namun ia dapat menduga bahwa tentu terjadi perebutan cinta antara Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee, dan kemudian, melihat sikap Nerek Khu Siauw Bwee ketika membaca surat-surat itu, jelaslah bahwa sesungguhnya Koai-lojin hanya mencinta Khu Siauw Bwee seorang. Akan tetapi, kalau ia kemukakan hal ini, bukankah berarti ia akan menyakiti hati Nenek Maya ini? Dia menjadi tidak tega, bahkan diam-diam Han Han merasa ka­sihan kepada nenek ini. Dia sendiri da­hulu terpesona oleh arca nenek ini di waktu muda, demikian cantik jelitanya, seperti bidadari, dan baru melihat arca­nya saja jantung sudah berdebar dan gairahnya terangsang. Tadi pun ketika ia melihat puteri Nirahai yang mirip dengan arca itu, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Betapa mungkin ia dapat menyakiti hati nenek itu? Akan tetapi, kalau dia tidak berterus terang, nenek ini yang berwatak luar biasa tentu akan menjadi marah dan akibatnya tak dapat ia kira-kirakan, yang jelas ia tentu terancam bahaya maut.
“Teecu tidak berani membuka surat-surat itu, subo. Biarpun teecu hanya mengetahui subo bertiga dari arca-arca yang berada di Pulau Es, namun tentu saja subo bertiga telah teecu anggap sebagai penghuni-penghuni Istana Pulau Es, dengan demikian menjadi pula guru-guru teecu. Mana berani teecu mem­baca surat Suhu Koai-lojin? Teecu hanya membawanya untuk diserahkan kepada orang yang berhak, dan ternyata memang surat-surat itu ditujukan kepada Subo Khu Siauw Bwee.”
Kembali terdengar keluhan dari dada nenek itu, keluhan yang membayangkan kehancuran hati. Kemudian Nenek Maya dapat menguasai dirinya kembali dan bertanya, suaranya menggetar, “Cerita­kan, bagaimana sikap sumoi setelah membaca surat dari suheng itu....!”
Di dalam lubuk hatinya, Han Han sudah dapat menduga apakah yang dahulu terjadi antara tiga orang gurunya, peng­huni-penghuni Pulau Es yang aneh itu. Sebaliknya bagi yang berkepentingan sendiri harus mengetahui hal sebenarnya, baik manis maupun pahit, agar tidak selalu menjadi keraguan dan menimbulkan pertikaian. Nenek Maya ini tentu selalu menyangka bahwa Koai-lojin men­cintanya maka dahulu telah terjadi pertentangan antara dia dan sumoinya.
“Subo Khu Siauw Bwee setelah mem­baca surat-surat itu lalu menangis dan mengatakan mengapa dahulu suhu tidak berterus terang menyatakan mencinta subo seorang sehingga tidak terjadi pem­buntungan kakinya. Surat-surat itu ada­lah surat-surat pernyataan cinta....”
Tiba-tiba Nenek Maya menjerit lirih dan menangis tersedu-sedu. Melihat ini, Han Han menjadi kasihan sekali. Betapa mungkin seorang wanita yang dahulunya tentu amat cantik jelita seperti bidadari mengalami penderitaan karena cinta! Pemuda itu teringat akan syair yang diukir di dinding Istana Pulau Es, dan dalam keadaan penuh haru dan setengah sadar itu Han Han lalu mengucapkan syair dengan suara penuh perasaan:
“Betapa ingin mata memandang mesra
betapa ingin jari tangan membelai sayang
betapa ingin hati menjeritkan cinta
namun Siansu berkata: bebaskan dirimu dari ikatan nafsu!
Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang dunia takkan pernah tercipta!
Betapapun juga,
cinta segi tiga tak membahagiakan
menyenangkan yang satu
menyusahkan yang lain
akibatnya hanya perpecahan dan per­musuhan
ikatan persaudaraan dilupakan
akhirnya yang ada
hanyalah duka dan sengsara.
Kesimpulan, benarlah pesan Siansu
bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!”
Nenek Maya yang tadinya membela­lakkan matanya yang basah itu, meman­dang dengan bengis dan penuh nafsu membunuh, ketika mendengarkan syair ini, makin lama makin terbelalak dan wajahnya tidak bengis lagi melainkan penuh keheranan dan keharuan, kemudian dengan suara serak ia berkata.
“Orang muda, apa.... apa maksudmu dengan syair itu....?”
“Maaf, subo. Saking terharu hati teecu, maka teecu teringat akan syair yang diukir pada dinding Istana Pulau Es, dan menurut Subo Khu Siauw Bwee, agak­nya syair itu diukir oleh Suhu Koai-lojin.”
Kembali Nenek Maya mengeluh dan menutupkan kedua telapak tangannya pada mukanya. “Ahhh, kasihan.... kasihan sekali suheng....! Biarpun mencinta sumoi, ternyata tidak mau mengaku karena tidak suka menghancurkan hatiku! Orang muda, engkau tentu telah digembleng oleh Khu-sumoi, bukan? Cara engkau meloncat-loncat itu....”
“Benar, subo. Sesungguhnyalah karena mengingat bahwa teecu memang sudah menjadi murid suhu dan subo berdua, dan agaknya melihat kaki teecu yang buntung, maka Subo Khu Siauw Bwee lalu mengajar teecu beberapa lamanya.”
“Bagus, karena itu maka engkau tidak kubunuh sekarang! Dalam cinta mungkin aku telah kalah oleh sumoi, akan tetapi dalam ilmu silat, aku tidak mau kalah! Sumoi telah menurunkan ilmu silat cipta­annya yang baru kepadamu, dan aku akan menurunkan kepandaianku kepada murid­ku Nirahai. Kita sama lihat saja kelak siapa yang lebih unggul. Aku menitipkan nyawa kepadamu, bocah, dan kelak Nira­hai muridkulah yang akan mengambil nyawamu sekalian membuktikan bahwa ilmuku masih lebih tinggi daripada ilmu sumoi. Nah, pergilah sebelum aku me­nyesal akan keputusanku ini!”
Bu Kek Sian Su (7) - Episode 250
Pendekar Super Sakti
Han Han bukan seorang penakut. Kalau hanya menghadapi ancaman maut saja, dia sudah berkali-kali mengalami­nya. Kedatangannya untuk mencari Lulu adiknya, tentu saja ia tidak akan mudah diusir pergi dengan ancaman sebelum ia berhasil mendapatkan adiknya atau setidaknya mengetahui apa yang terjadi dengan adiknya.
“Maaf, subo. Tentu saja teecu akan mentaati semua perintah subo, akan tetapi terlebih dahulu teecu harus dapat menemukan Lulu, adik teecu dan membebaskannya....”
Nenek Maya menyusut air matanya dan memandang pemuda berkaki buntung itu. Biarpun hatinya masih merasa panas terhadap sumoinya, namun diam-diam ia merasa kagum kepada pemuda ini. Me­mang hanya muridnya Nirahai itulah yang agaknya merupakan satu-satunya orang yang akan dapat menandingi pemuda hebat ini. Muridnya itu mempunyai ke­cerdikan luar biasa, bakat yang amat hebat dan kekerasan hati yang sukar dicari keduanya. Betapapun juga, timbul keraguan hatinya apakah Nirahai akan mampu menandingi pemuda ini dan ia berjanji di dalam hati untuk menurunkan semua ilmunya yang paling ampuh kepada muridnya itu. Pendeknya, Nirahai tidak boleh kalah oleh murid Khu Siauw Bwee!
“Bocah keras kepala, Lulu adalah muridku, siapakah yang akan mengganggu­nya? Dia memang ditangkap oleh sucinya karena dia menyeleweng, akan tetapi kini dia telah melarikan diri ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan. Entah ke mana perginya bocah yang suka menimbulkan kekacauan itu, aku tidak tahu.”
Han Han terkejut bukan main. “Murid-murid Ma-bin Lo-mo....? Bagaimana.... apa maksud subo?”
Nenek itu tersenyum dingin dan Han Han kagum melihat betapa nenek itu ternyata masih mempunyai gigi yang berderet lengkap dan kuat. “Siapa tahu dan siapa peduli? Murid-murid Si Muka Kuda itu memberontak terhadap guru mereka, dan melihat macamnya Ma-bin Lo-mo, jelas bahwa murid-muridnya ten­tu lebih baik daripada dia! Kalau aku turun tangan, apa yang dapat dilakukan mereka? Aku tidak peduli, dan karena Lulu hanya akan mereka bebaskan dan tidak diganggu, aku tidak peduli. Bocah itu sudah banyak bikin pusing, sekarang pergi entah ke mana, kau cari sendiri. Nah, sekarang pergilah dan kalau kau masih tidak taat, kuanggap kau menantangku!”
Han Han menjadi girang akan tetapi juga bingung. Dia percaya penuh kepada nenek ini, seorang berkepandaian tinggi luar biasa dan berwatak angkuh, tentu tidak sudi membohong. Yang penting baginya, Lulu sudah bebas dan perkara mencarinya adalah urusannya sendiri. Maka ia cepat memberi hormat, kemudi­an tubuhnya mencelat pergi dari tempat itu. Sengaja ia mengerahkan tenaga meng­gunakan kepandaiannya yang ia dapat dari Khu Siauw Bwee, maka gerakannya pun cepat seolah-olah ia pandai meng­hilang dan lenyap dalam sekejap mata dari depan Nenek Maya. Melihat ini, Ne­nek Maya menghela napas panjang penuh kagum.
***
Biarpun Han Han dapat mempercayai keterangan Nenek Maya bahwa adiknya telah terbebas dari dalam tahanan ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan, namun ia masih tidak tergesa-gesa meninggalkan kota raja dan melaku­kan penyelidikan dengan bertanya-tanya tentang peristiwa itu. Tentu saja berita penyerbuan itu menggegerkan kota raja dan hampir setiap orang yang ditanyainya dapat menceritakannya. Akan tetapi, seperti biasa berita yang merupakan berita angin dari mulut ke mulut, setiap orang mempunyai cerita yang berbeda, dan tidak seorang pun di antara mereka dapat memberitahukan secara jelas, juga tidak ada yang tahu ke mana perginya Lulu yang ikut pula melarikan diri dari tahanan bersama para tahanan lain ke­tika murid-murid In-kok-san (Lembah Awan) itu datang menyerbu.
Han Han menjadi bingung dan tidak mengerti kalau ia teringat akan adiknya. Bukankah menurut keterangan Lauw Sin Lian, adiknya itu telah menjadi anak angkat mendiang Lauw-pangcu dan telah memihak para pejuang? Akan tetapi dia berjumpa dengan Lulu di Se-cuan sebagai seorang pemimpin pasukan Mancu! Kemu­dian mendengar Lulu ditangkap oleh Pu­teri Nirahai dan menjadi tawanan, sekarang ditolong oleh murid-murid In-kok-san. Sebenarnya, di fihak manakah Lulu berdiri? Benar-benar membingungkan dan mau tidak mau Han Han tersenyum sendiri kalau mengingat ucapan Nenek Maya bahwa Lulu sudah banyak membikin pu­sing! Benar-benar anak nakal adiknya itu! Akan tetapi senyumnya lenyap terganti awan duka kalau ia teringat akan per­temuannya yang terakhir dengan Lulu. Adiknya itu tentu membencinya! Lulu, aku harus dapat menemukanmu dan mem­beri penjelasan, minta maaf, demikian jerit hatinya dan pemuda ini mengambil keputusan untuk pergi menyelidik ke In-kok-san, di Pegunungan Tai-hang-san. Adiknya dibebaskan oleh murid-murid Ma-bin Lo-mo dan dia sendiri tidak tahu mengapa murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu istana sedangkan guru mereka sendiri berada di istana membantu Kera­jaan Mancu. Satu-satunya jalan untuk membongkar rahasia ini dan bertanya kepada bekas suheng-suheng dan suci-sucinya itu di mana adanya Lulu, hanya pergi mengunjungi mereka! Selain hendak mencari Lulu atau kalau adiknya tidak berada di sana, bertanya kepada mereka ke mana perginya adiknya, juga Han Han ingin mengunjungi kuburan kakeknya, yaitu Jai-hwa-sian Suma Hoat dan ingin menyelidik tentang riwayat nenek moyangnya. Hidupnya selalu dirundung ma­lang, dimusuhi sana-sini, selalu sengsara dan menderita tekanan batin, agaknya hal ini semua terjadi karena darah keturunannya. Hidupnya seperti hukuman, dan agaknya memang hukuman karena dosa-dosa nenek moyangnya!
Di sepanjang perjalanannya yang jauh itu, Han Han selalu merasa hatinya ter­tindih kedukaan. Kalau ia renungkan dan ingat-ingat, apalagi di waktu ia menghentikan perjalanan karena malam gelap dan ia duduk mengaso di bawah pohon, terbayanglah di depan matanya wajah Kim Cu yang berkepala gundul dan sinar matanya penuh duka, terganti wajah Lu Soan Li yang telah mengorbankan nyawa untuknya, kemudian bermunculan wajah Lauw Sin Lian, Tan Hian Ceng, di antara bayangan wajah Lulu dan yang terakhir Puteri Nirahai! Diam-diam ia mengeluh! Mengapa Kim Cu dan Soan Li berkorban untuknya? Mengapa mencintanya? Dan Hian Ceng....! Ah, dia, seorang yang buntung, yang tidak patut mendampingi gadis-gadis cantik jelita itu, mengapa justeru dia yang mereka cinta? Bukankah hal ini merupakan hukuman baginya, hukuman karena dosa-dosa nenek mo­yangnya, terutama sekali kakeknya, Jai-hwa-sian Suma Hoat?
Han Han mengeluh di dalam hatinya. Mengapa dia, yang sudah terang merupa­kan seorang pemuda berkaki buntung, bercacad sehingga tidak patut mendam­pingi seorang wanita, apalagi gadis-gadis cantik seperti mereka itu, kini selalu mengenangkan mereka? Tidak, tidak bo­leh sama sekali! Apakah hal inipun me­rupakan penyakit baginya, penyakit tu­runan sehingga ia tidak pernah mampu mengusir bayangan wanita-wanita cantik itu? Apakah dia pun termasuk seorang yang memiliki darah kakeknya, darah seorang pria yang mata keranjang? Kem­bali Han Han mengeluh panjang dan me­nyandarkan tubuhnya pada batang pohon, berusaha untuk melupakan semua itu dan untuk tidur. Dia harus menggunakan kekuatan kemauannya untuk melupakan bayangan-bayangan wajah ayu itu, kecuali bayangan wajah Lulu, adiknya!
Tentu saja pemuda yang bernasih malang ini tidak tahu bahwa dia sama sekali bukan menderita penyakit, bukan pula mata keranjang, melainkan dia pun seorang manusia biasa. Karena usianya sudah dewasa, tentu saja daya tarik la­wan kelamin makin kuat dan tanpa disadarinya, berahinya terhadap wanita pun makin menguat. Hal ini adalah wajar dan bahkan sudah semestinya demikian. Ha­nya karena pemuda ini telah mengalami hal-hal yang melukai hatinyai melihat pengorbanan Kim Cu dan Soan Li untuk dirinya, ditambah pengetahuan bahwa kakeknya seorang penjahat cabul pemer­kosa wanita, maka ia mengekang rasa tertarik terhadap wanita ini yang diang­gapnya sebagai semacam penyakit dan ia menyalahkan darah keturunannya!
Ketika ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, Han Han memandang se­keliling dan menghirup hawa segar, hati­nya agak terharu mengingat betapa da­hulu, sepuluh tahun lebih yang lalu, ia tinggal di daerah ini sebagai murid In­-kok-san! Teringatlah ia akan Kim Cu yang semenjak menjadi saudara seper­guruan, selalu bersikap amat baik ter­hadapnya. Memang belum lama ini dia kembali ke In-kok-san, akan tetapi se­bagai tawanan Toat-beng Ciu-sian-li sam­pai kakinya dibuntungi, dan dalam ke­adaan seperti itu ia tidak dapat menik­mati keindahan alam dan tidak terkenang akan masa kanak-kanak dahulu. Kini ia berdiri termenung dan barulah ia sadar kembali ketika ia mendengar gerakan kaki manusia. Ketika ia menengok, ia melihat dua orang laki-laki menggotong sebuah joli yang tertutup tirai sutera. Cepat Han Han menyelinap ke belakang pohon karena ia melihat berkelebatnya bayangan empat orang yang bergerak cepat sekali, seolah-olah mempunyai niat buruk terhadap joli yang digotong oleh dua orang itu.

Cerita selanjutnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar